Rabu, 30 April 2014

SYIAR RAJAB 1435 H












Kita telah memasuki bulan Rajab ... mari persiapkan maknawiyah .....




“Dan Katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku
secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”
(Q.S. Al-Israa (17) ayat 80)

ِ

Memohon kepada Allah agar dapat melaksanakan dan mampu menyelesaikan agenda-agenda
dakwah ini dengan baik dan benar dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan serta bersih dari ria dan
selamat dari segala sesuatu yang dapat merusak pahala adalah bagian penting dari manajemen kerja
kader dakwah. Kerja pemilu 2014 yang telah menguras tenaga, dana dan emosi kader, semoga diterima
Allah –subhanahu wata’ala- sebagai amal shalih yang berpahala besar, karena kerja ini memberikan
pengaruh bagi semakin besar umat Islam dan kemanusiaan secara umum.
Untuk itu, Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera Bidang Kaderisasi mengingatkan
kepada seluruh kader agar senantiasa menjaga maknawiyah dan semangat beramal shalih itu, dengan
melaksanakan agenda tarbiyah dan dakwah yang menjadi perhatian pada bulan ini adalah:
1. Pribadi Kader:
a. Melaksanakan puasa ayyamul bidh bulan Rajab 1435 H, yang jatuh pada: Selasa-Rabu-Kamis,
13-14-15 Mei 2014. dan menjadikannya sebagai usbu’ ruhi/pekan peningkatan ruhiyah
b. Memperbanyak doa:


“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami pada bulan
 (املعجم األوسط للطرباين - )Ramadhan” (139 / 9
c. Agar para naqib memulai kalimat usrahnya dengan membacakan do’a ini
2. Keluarga Kader
a. Memastikan anak sudah mampu berwudhu dan shalat wajib dengan benar melalui melihat
gerakannya dan mendengar bacaannya
b. Memastikan anaknya mengikuti liqo tanpa bolos pada bulan Rajab
c. Membangun suasana penyambutan Ramadhan di rumah


3. Terhadap Masyarakat
a. Membangun hubungan baik dan menghormati hak-hak tetangga
b. Menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan lingkungan tempat tinggal yang bermanfaat
c. Membantu para tetangga yang mengalami kesulitan
4. UPPA dan Struktur
a. DPD/DPC menyelenggarakan buka puasa bersama kader dan masyarakat pada salah satu
ayyamul bidh bulan Rajab 1435 H
b. Melaksanakan daurah murabbi, dan rekruting kader baru sebagai hasil penting dari amaliyah
pemilu 2014
Demikian maklumat dan seruan ini kami sampaikan, agar menjadi perhatian seluruh kader dan struktur
terkait. Mohon kepada seluruh pembina UPPA (Unit Pembinaan dan Pengkaderan Anggota) dan
struktur terkait turut mendukung dan memutaba’ahnya. Semoga Allah –subhanahu wata’ala–
memudahkan kerja kita semua, Syukron lakum wajazakumullah khairan.





Selasa, 29 April 2014

Hidup dan Keimanan





Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata bahwa Rasulullah saw. telah menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang paling benar dan dibenarkan perkataannya, “Sesungguhnya sebagian kalian dikumpulkan bahan ciptaannya di rahim ibunya 40 hari dalam bentuk nuthfah. Kemudian menjadi ‘alaqah dalam masa yang sama (40 hari), kemudian menjadi mudghah dalam masa yang sama (40 hari). Kemudian Allah mengutus malaikat kepada ciptaan itu, lalu malaikat meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat ketetapan; Ketetapan rezki; Amal perbuatannya; Ajal usianya; Dan nasibnya di akhirat, sengsara (penghuni neraka) atau bahagia (penghuni surga). Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada salah seorang dari kalian yang melakukan perbuatan penghuni surga hingga antara jarak antara dia dengan surga sejauh satu hasta, lalu catatan takdirnya yang lebih dulu telah menggariskan hingga ia melakukan perbuatan penghuni neraka dan (akhirnya) ia masuk ke dalam neraka. Dan sesungguhnya ada orang yang melakukan perbuatan penghuni neraka hingga jarak antara dia dengan neraka sejauh satu hasta, lalu catatan takdirnya yang lebih dulu telah menggariskan, hingga ia melakukan perbuatan penghuni surga dan (akhirnya) ia masuk ke dalam surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Tentang Hadits
Hadits ini adalah salah satu hadits yang disepakati keshahihannya oleh Imam hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Al-A’masy telah menceritakan kepada Abu Bakar bin Abu Syaibah, Abu Mu’awiyah, Waki’, Muhammad bin Abdullah bin Numair Al-Hamdani dari Zaid bin Wahab dari Abdullah bin Mas’ud r.a.
Telah diriwayatkan bahwa Muhammad bin Yazid Al-Ashfathi bermimpi bertemu Nabi saw, lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah riwayat Abdullah bin Mas’ud yang ia ceritakan dari Engkau bahwa ia berkata, “Rasulullah telah menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan perkataannya, memang demikian? Rasulullah menjawab, “Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain Dia, sungguh aku telah menceritakan hadits itu kepadanya”. Kalimat itu diulangnya tiga kali, lalu ia berdoa, “Semoga Allah mengampuni Al-A’masy sebagaimana ia menceritakan hadits ini dan semoga Allah mengampuni orang sebelum Al-A’masy yang menceritakan hadits ini dan juga orang yang menceritakan hadits ini setelah Al-A’masy.
Seperti disebutkan dalam hadits bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, maka menyampaikan hadits atau ilmu agama kepada manusia termasuk memberikan manfaat kepada orang lain. Dengan ilmu agama, orang akan mengetahui hal-hal yang ia perlukan dalam mengarungi kehidupan.
Perawi memberikan penekanan dengan ungkapan وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ (Dialah yang benar dan dibenarkan perkataannya) karena memang yang akan disampaikan atau yang akan diriwayatkan ini adalah perkara yang tidak atau belum diketahui manusia, terutama pada masa setelah masa Rasulullah saw, yaitu perihal proses penciptaan manusia.
Dunia kedokteran baru-baru saja mengetahui bahwa proses penciptaan manusia terjadi sama seperti yang diceritakan oleh Rasulullah saw, 15 abad yang lalu ketika manusia atau tabib belum mengetahui pasti proses penciptaan manusia.

Di Antara Pelajaran Dari Hadits
Pelajaran pertama; Matan hadits ini diawali dengan penegasan parsial yang tidak menyeluruh, yaitu إِنَّ أَحَدَكُمْ (Sesungguhnya salah seorang kalian). Ungkapan ini adalah ungkapan yang sangat bijak dari Rasulullah saw, dan ungkapan yang komitmen dengan ilmu yang dimilikinya. Ungkapan ini menegaskan bahwa sebagian manusia diciptakan Allah dengan proses yang disebutkan di dalam hadits dan sebagian lainnya Allah sendiri yang menciptakannya.
Proses penciptaan Adam dan Hawa tidaklah sama dengan proses penciptaan anak keturunannya. Nabi Adam diciptakan langsung oleh Allah seperti yang diceritakan di dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr ayat 28-29:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Juga di dalam surat Shad ayat 71-72, Allah menegaskan:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.
Tidak seperti proses penciptaan anak keturunan Adam, nabi Adam diciptakan Allah dari tanah atau tanah liat atau lumpur hitam seperti disebutkan dalam ayat-ayat di atas dan kemudian Allah menyempurnakannya, lalu Allah juga yang meniupkan ruh ke dalam jasad Adam a.s.
Karena itu ada beberapa ungkapan di dalam Al-Qur’an atau Hadits yang menggunakan bentuk jamak untuk beberapa perbuatan rabb, seperti لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ فِي كَبَدٍatauلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ. Kata خَلَقْنَا (Kami telah menciptakan) mengisyaratkan bentuk jamak subyek suatu perbuatan.
Jika kita teliti dengan seksama, maka secara aqidah pernyataan ini tidak bertentangan dengan aqidah tauhid. Allah menggunakan bentuk jamak dalam beberapa perbuatan-Nya di dalam Al-Qur’an, karena tindakan tersebut secara proses diwakilkan kepada tentara dan pembantu Allah, yaitu malaikat-Nya yang telah diberikan tugas khusus. Malaikat akan melakukan apa saja sesuai perintah Allah, “Wa yaf’aluuna maa yu-maruun”.
Dalam proses penciptaan manusia, seperti disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa tiap fase penciptaan 40 harian itu, Allah mewakilkannya kepada malaikat untuk menyempurnakan proses, hingga pada 40 hari yang ketiga Allah mengutus malaikat yang akan meniupkan ruh ke dalam jasad manusia dan mencatat empat ketetapan Allah dari Lauhil Mahfuzh, ketetapan rezki, amal perbuatan, usia dan nasibnya di akhirat. Dengan demikian, maka ungkapan khalaqnaa sangat tepat untuk menunjukkan bahwa dalam proses penciptaan manusia, Allah kuasa untuk mewakilkannya kepada malaikat-Nya. Itulah kekuasaan Allah. Allah mampu menciptakan manusia tanpa diwakilkan dan mampu pula menciptakan manusia melalui perwakilan-Nya. Sungguh Allah Maha Berkuasa dalam segala sesuatu.
Hadits ini juga membuktikan akan kebenaran ajaran Islam, karena sebelum dunia kedokteran mengetahui proses penciptaan manusia, Allah telah mengabarkan manusia melalui lisan nabi Muhammad saw.
Pelajaran Kedua; Manusia tidak tahu apa-apa dengan nasib orang lain. Ada yang sejak muda hingga dewasa dikenal masyarakat sebagai orang baik, orang shalih, ternyata di sisi Allah dia termasuk penghuni neraka. Ia menutup usianya dengan perbuatan penghuni neraka hingga ia termasuk penghuni neraka.
Ungkapan فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا dan فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا disebutkan dalam riwayat lain dengan ungkapan فَيُختَمُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا (kemudian ia tutup dengan perbuatan penghuni neraka dan ia masuk ke dalam neraka) menunjukkan bahwa kebaikan itu akan kekal dengan keikhlasan, sebagaimana pahala amal shalih akan langgeng, tidak berkurang jika tetap dijaga keikhlasan, sebelum berbuat, saat berbuat dan setelah berbuat.
Jika seseorang hanya ikhlas ketika akan berbuat, maka belum ada jaminan pahala yang ia dapatkan akan sempurna, karena bisa saja ia merusak keikhlasan itu dengan riya, dengan kata-kata yang menyakiti orang lain yang kita bantu atau lain perbuatan yang bisa merusak pahala amal.
Karena itulah ada orang yang dikenal masyarakat sebagai orang baik, tetapi di sisi Allah ia hanyalah orang yang mengharapkan pujian manusia.
Sebaliknya ada juga orang yang sulit berbuat baik, karena lingkungan atau sebab lain sehingga masyarakat memvonis dan memberi cap kepadanya sebagai orang tidak baik atau orang jahat. Tetapi siapa yang tahu takdir orang, kalau ternyata Allah justru telah menetapkan dia sebagai penghuni surga, maka ia pasti akan menemukan saat dan tempat yang tepat untuk bertobat dan berbuat baik hingga Allah menjemput ajalnya.
Kekuasaan Allah tidak sama dengan kuasanya manusia, maka takdir dan ketetapan Allah itu adalah salah satu bukti kekuasaan Allah seperti yang ditegaskan oleh Imam Ahmad ketika salah seorang muridnya bertanya kepadanya tentang takdir dan beliau menjawab bahwa takdir itu adalah bukti kekuasaan Allah.
Jika manusia mengetahui sesuatu setelah kejadian, maka Allah Maha Mengetahui tentang segala kejadian. Sebelum, saat dan setelah kejadian Allah Maha Mengetahui. Pengetahuan Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh dimensi apapun. Berbeda dengan manusia yang serba terbatas. Dibatasi dimensi waktu, sehingga kejadian esok tidaklah diketahuinya kecuali ketika saatnya tiba. Manusia juga dibatasi oleh dimensi ruang, kejadian di Jakarta tidak akan diketahuinya ketika ia berada tidak pada tempat kejadian. Atau kalau sekarang dunia sudah modern, maka masih banyak lagi kejadian yang berdimensi ruang dan waktu yang tidak diketahui oleh manusia. Itulah keterbatasan manusia.
Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Allah Maha Berkuasa. Kuasa menetapkan, kuasa membagi penghuni surga dan penghuni neraka. Semua makhluk adalah milik Allah. Dia tidak akan ditanya atas segala tindakan-Nya. Manusialah yang akan ditanya segala perbuatannya di sisi Allah. Meskipun Allah tidak akan ditanya segala perbuatannya, tetapi Allah sangat menepati segala janji-Nya. Allah berjanji akan memasukkan orang yang berbuat baik dan beramal shalih ke dalam surga. Allah berjanji akan mengampuni orang yang bertobat sebelum ajal sampai di tenggorokan. Allah akan menyiksa orang yang berbuat dosa, meskipun Allah juga bisa mengampuni mereka dan memasukkannya ke dalam surga.
Pelajaran Ketiga; Hal penting yang perlu ditekankan dan ditegaskan adalah perkara rezki. Allah berjanji akan memberikan rezki kepada siapa saja makhluk-Nya di muka bumi. Dalam surat Hud ayat 6 disebutkan, “Wamaa min daabbatin fil ardhi illaa ‘alallaahi rizquhaa wa ya’lamu mustaqqahaa wamustauda’ahaa” (Dan tidak ada makhluk hidup di muka bumi ini, kecuali Allah yang akan memberikan rezkinya. Dan Dia mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya).
Kalau kita cermati, kita tidak akan cepat menyalahkan takdir atau menyalahkan Allah, ketika kita disempitkan rezki oleh Allah. Pemberian rezki bukanlah ukuran sayangnya Allah kepada manusia, karena semua makhluk pasti akan diberikan rezki. Kita tidak boleh berbangga dengan limpahan rezki dan tidak boleh berkecil hati dengan rezki yang pas-pasan. Tiap manusia mempunyai jatah rezki yang berbeda dengan jatah orang lain.
Orang lain tidak akan bisa merebut rezki orang lain. Inilah ungkapan puncak ma’rifah kepada kekuasaan Allah seperti yang diungkapkan oleh Imam Hasan Al-Bashri ketika ditanya oleh muridnya, “Wahai guruku, apa rahasia zuhud baginda?” Kemudian Syeikh memberikan 4 rahasia dan salah satu rahasianya adalah ‘alimtu anna rezqii laa ya-khudz ghairii fatma-annat qalbii (aku tahu bahwa rezkiku tidak akan diambil oleh orang lain, maka hatiku menjadi tenang).
Ketenangan mengarungi kehidupan adalah modal untuk sampai kepada tujuan. Hati yang tenang akan banyak menyelesaikan permasalahan. Ketenangan tidak akan datang dengan sendiri. Ketenangan adalah puncak dari keimanan dan ingat kepada Allah. Iman yang didasari ma’rifah dan ingat akan kehambaannya di sisi Allah Taala.

Ingatlah bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang. Wallahu a’lam

Selasa, 15 April 2014

Ust Hilmi : Kursi Dewan Bukan Tujuan Akhir Dakwah Kita


Di tengah keberhasilan PKS untuk mempertahankan kursi dewan bahkan ada beberapa daerah yang meningkat, taujih Ust Hilmi berikut ini layak di simak untuk mengingatkan kita bahwa mendapatkan kursi jabatan bukanlah tujuan akhir dakwah kita. Berikut adalah taujih Ust Hilmi Aminudin yang beliau tulis di tahun 2013 lalu.

Jangan Lupakan Target Akhir Dakwah Kita

oleh : Ust Hilmi Aminudin.

Target akhir dakwah kita adalah nasyrul hidayah (menyebarkan petunjuk) dan li I’laai kalimatillah (meninggikan kalimah Allah), hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Jangan lupakan target akhir ini.

Amal khoiri yang pendekatannya kesejahteraan, jangan dianggap sebagai ghayah (target akhir), itu sasaran antara saja. Memang dia suatu anjuran dari Allah, tapi dia sasaran antara dari segi dakwah, diharapkan melalui ihsan kita menghasilkan penyikapan dan sambutan yang khoir. Hal jazaul ihsan illal ihsan, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. Tapi ihsan kita, operasi mewujudkan kesejahteraan itu jangan dianggap tujuan akhir. Negara-negara Eropa itu adalah Negara yang sejahtera hidupnya. Tapi 50% penduduknya atheis.

Bagi kita, jadi camat, bupati, walikota, gubernur atau presiden, itu sasaran antara. Akhirnya hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Wa kalimatullah hiyal ulya (dan kalimat Allah itulah yang tinggi).

Jadi, amal tsaqafi, orang jadi bertsaqafah; amal khairi, orang jadi sejahtera; itu hanyalah sasaran-sasaran antara kita. Sebab kalau orientasi masyarakat madani itu hanya terdidik, dan sejahtera seperti di Eropa, banyak yangmulhid, atheis walaupun terdidik dan sejahtera. Walaupun bukan atheis terorganisir seperti komunis, stylemasyarakat sebagai individu itu atheis. Bahkan memandang keagamaan itu merupakan bagian dari budaya.

Di Jepang juga masyarakatnya sangat sejahtera. Tapi bagi mereka agama itu kultur yang terserah selera, boleh berganti kapan saja. Orang Jepang saat lahir umumnya disambut dengan upacara-upacara Budha. Ketika nanti menikah dirayakan dengan upacara Kristen dan ketika meninggal dengan upacara Sinto. Kata ikhwah yang pernah bermukim di Jepang, pernah ada sensus keagamaan, ternyata pemeluk agama di Jepang itu tiga kali lipat dari jumlah penduduk. Jadi mereka sebenarnya sejahtera dan terdidik. Secara fisik, materi, mereka terlihat bahagia. Tapiyabqa ala dhalalah (tetap dalam kesesatan).

Nah kita sebagai partai dakwah tidak begitu. Maksud saya, kalau kita sudah bisa mentau’iyah (menyadarkan), menjadi terbuka, bebas, demokratis, mentatsqif, menjadi terdidik, atau menyejahterakan sekalipun, perjalanan kita masih tetap jauh. Sebab sesudah itu, bagaimana mereka bisa kita konsolidasikan, bisa kita koordinasikan, kita mobilisasikan, litakuuna kalimatulladziina kafaru sulfa wa kalimatullahi hiyal ‘ulya. Ini penting untuk selalu diingatkan dan dicamkan. Apalagi di masa-masa musyarokah (partisipasi politik) ini.

Jangan merasa sukses menjadi pemimpin  Pemda itu ukurannya sekedar telah membangun sekolah sekian, madrasah sekian, kesejahteraan, pertanian subur; sementara hidayah tercecer. Makanya keterpaduan langkah-langkah yang sifatnya tarfih (kesejahteraan), atau tatsqif (mencerdaskan bangsa) harus sejajar dengan upaya-upaya mendekatkan orang pada hidayah Allah. Harus begitu.

Ini saya ingatkan karena ketika kita di masyarakat dituntut di sektor kesejahteraan, di sektor kebijakan, di sektor pendidikan, di sektor kesehatan; maka harus secara menyatu terpadu dengan nasyrul hidayah (menyebarkan petunjuk Islam), nayrul fikrah (menyebarkan gagasan Islam), wa nasyrul harakah (penyebaran gerakan dakwah). Agar mereka akhirnya bergerak bersama-sama li I’lai kalimatillah.

Selasa, 08 April 2014

قضايا أساسية على طريق الدعوة (Isu-isu Da’wah yang Asasi)












Jalan da’wah adalah jalan yang penuh berkah. Sungguh bagi seorang daiyah tidaklah masalah apakah da’wah itu yang menjadi bagian kita, ataukah justru kita yang menjadi bagiannya. Tetapi yang pasti, kehidupan tidak akan bernilai dan terasa hampa jika kita jauh dari da’wah.

Da’wah itu akan senantiasa berjalan dan berlangsung dengan atau tanpa kita (الدعوة ستسير بنا أو بغيرنا). Bila  kita tidak bersama da’wah, kita tidak akan dapat mencari yang selainnya dan jika da’wah tidak menjadi bagian kita, ia akan bersama yang selain kita  (إنك إن لم تكن بهم فلن تكون بغيرهم وإن لم يكونوا بك فسيكونون بغيرك).

1.       Pandangan yang jelas (الرؤية الواضحة)
Pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang daiyah adalah pandangan yang jelas terhadap jalan da’wah, mengenal petunjuk-petunjuknya serta seluruh yang berkait dengannya. Hal ini membuat ia memiliki kejelasan jalan sejak langkah pertama. Sebaliknya, ketidakjelasan pandangan akan menjadikan ragu dan sangsi terhadap keselamatan perjalanannya. Bahkan akan menyebabkan ia dilanda kegoncangan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan dan takut meneruskan perjalanan.

Kejelasan itu meliputi:
► Tujuan (الغاية): الله غايتنا
► Sasaran (الهدف): تمكين دين الله à الدولة الإسلامية العالمية
► Pemahaman terhadap Islam dengan pemahaman yang menyeluruh dan bersih (الشامل والصحيح)
► Metode (المنهاج) dalam mencapai sasaran (5:48 شرعة ومنهاجا) à 3 asas Daulah Islamiyah:
·         kekuatan aqidah dan iman (قوة العقيدة والإيمان)
·      kekuatan persatuan dan persaudaraan (قوة الوحدة والأخوة)
·      kekuatan fisik dan senjata (قوة الجسد والسلاح)
► Internasionalisasi gerakan ( عالمية الحركة)

Manfaat pandangan jelas:
·         memperjelas bahwa beramal dalam satu jama’ah memiliki syarat, janji dan komitmen
·         melahirkan kepercayaan dan kemantapan ketika berhadapan dengan tribulasi da’wah
·         memperjelas bahwa bersama rintangan dan ujian terdapat liku-liku perjalanan yang rawan sehingga melahirkan kewaspadaan
·         melindungi dari penyimpangan (ketergesa-gesaan dan fenomena orang yang lebih terikat pada pribadi dari pada jama’ah) atau kelewat batas
·         menjadikan pilihan orang mantap

2.       Kesinambungan (الإستمرارية)
Kenapa banyak lembaga da’wah, jama’ah, organisasi atau parpol tumbuh kuat tapi kemudian melemah dan bubar bahkan tidak sedikit yang bubar sebelum tumbuh kuat? Sebab-sebabnya antara lain:
·         tidak orisinal dan tidak memiliki kemampuan bertahan
·         salah urus dan buruk manajemen
·         tidak ada jaminan kesinambungan
·         tidak memiliki kemampuan menghadapi tipu daya musuh
·         lemah mengantisipasi berbagai konspirasi, dll.

Kesinambungan yang dimaksud di sini adalah:
·         tetap adanya orang yang memikul beban da’wah
·         berusaha mewujudkan sasaran-sasarannya
·         mewariskannya kepada orang lain.

Faktor-faktor yang menyebabkan ketidaksinambungan adalah:
a.  Faktor Eksternal: konspirasi musuh-musuh Islam, dengan cara:
·         pendangkalan (التشكيك)
·         melemparkan tuduhan (التهمة) jahat
·         mendorong beberapa perkumpulan Islam menentang jama’ah dan menyebarkan pertentangan serta mengadu domba antar afrad

Yang harus diingat: kesinambungan da’wah dalam tahap ujian dan cobaan merupakan kemenangan, sedang tidak adanya kesinambungan berarti suatu kekalahan.

b. Faktor Internal
·         melalaikan aspek tarbiyah dan ruhiyah; jika da’wah dan jihad diibaratkan sebatang pohon, maka tarbiyah dan tazkiyah ruhiyah adalah humus dan pupuknya
·         perselisihan dan pertentangan di dalam Shaff
Sebab-sebab perselisihan dan pertentangan:
1.       perbedaan pemahaman dalam Islam
2.       perbedaan uslub amal dan harakah dan di sekitar interaksi dengan kondisi dan situasi yang berlaku
3.       bersumber dari urusan pribadi di antara afrad jama’ah akibat dijerumuskan oleh syaitan
4.       ta’ashub kepada seseorang, kota, daerah dan ta’ashub jahiliyah lainnya
·         munculnya perasaan sia-sia di kalangan aktivis ketika dilanda kekalahan menghadapi pertarungan dengan musuh


3.       Pertumbuhan dan kekuatan (النمو والقوة)
Setelah terjaminnya kesinambungan, pertumbuhan dan kekuatan gerakan merupakan qadhiyah asasiyah.

Kesinambungan yang dikehendaki ialah disertai perluasan medan gerakan yang kontinyual dan kuantitas afrad dan simpanan gerakan yang semakin berkembang serta kekuatan struktur harakah, afrad, dan pirantinya yang semakin meluas.


 



Untuk menjaga keseimbangan dan keselarasan antara hasil manuver dan kemampuan mentarbiyah: lebih baik melakukan penguran volume manuver dari pada hasil manuver da’wah yang banyak tetapi jelek disebabkan rendahnya kualitas tarbiyah.

Pertumbuhan dan perkembangan harus mencakup semua unsur: terbentuknya individu muslim, keluarga muslim dan masyarakat muslim à terbentuknya basis yang kokoh (قاعدة الصلبة). Dan ini dilakukan secara bertahap (التدرج).

Kekeliruan dalam masalah pembentukan masyarakat Muslim:
-       seluruh anggotanya harus berkualitas seorang aktivis. Yang benar: wujudnya sejumlah individu dan keluarga Muslim ideal yang cukup di dalam masyarakat tersebut, sedangkan selebihnya terdiri dari anggota-anggota masyarakat biasa yang shalih dan memberikan respon positif terhadap harakah Islammiyah dan sasarannya serta menerima hukum-hukum Allah (3:104).
-       Memandang masyarakat Muslim di negeri-negeri Muslim bukan sebagai masyarakat Muslim, tapi masyarakat jahiliyah à merupakan sikap hantam kromo

Pertumbuhan dan perkembangan hendaknya dibarengi kekuatan agar tidak lemah dan lembek. Sarana paling utamanya: terbiyah dan praktek lapangan (تدريب العمل).
Kekuatan ada 2: kekuatan asasi (aqidah, wihdah, dan silah) dan kekuatan dharuri (ilmu, dana, publikasi, kepribadian, dll)

4.       Menjaga orisinalitas (المحافظة على الأصالة)
Agar harakah terjamin berada di jalan yang benar menuju sasaran, maka ia harus menjaga dan memelihara orisinalitasnya. Sebab sekecil-kecilnya penyimpangan atau berkurangnya orisinalitas pasti akan melahirkan penyimpangan yang semakin besar sejalan dengan kesinambungan, pertumbuhan dan kekuatan yang terus semakin berkembang. Untuk melindungi pemahaman yang benar, Imam Syahid Hasan Al-Banna meletakkan 20 Prinsip (أصول العشرين).

Tidak dapat dibayangkan sasaran besar (tegaknya agama Allah di bumi dan Daulah Islmiyah Alamiyah yang dipimpin sistem khilafah) akan tercapai, kendati dengan mempersembahkan nyawa dan mengorbankan apa saja, dengan pemahaman yang salah terhadap Islam.

Contoh praktis dalam menjaga orisinalitas pemahaman: ketika Ikhwan dilanda mihnah, muncul dua arus perubahan: ada yang menghendaki pembatasan aktifitas dan permasalahan serta pemahaman hanya terhadap beberapa aspek Islam yang tidak menimbulkan kecurigaan pemerintah dan mengundang berbagai kesukaran seperti persoalan hukum, perundangan dan jihad; ada satunya lagi yang suka mengkafirkan kaum muslimin umum secara serampangan. Imam Hasan Al-Hudhaibi menyelesaikannya dengan bijak dengan menerbitkan buku “Kita Du’at bukan Hakim” (نحن دعاة لا قضاة).

Memelihara orisinalitas berarti:
1.       menjaga orisinalitas pemahaman terhadap Islam dibarengi dengan pemeliharaan orisinalitas sasaran
2.       perhatian terhadap tarbiyah dan aspek ruhiyah
3.       beriltizam dengan jalan da’wah dan tahapan-tahapannya, kendati jalan yang kita tempuh panjang
4.       menjaga dan menata wujudnya prinsip syura
5.       menekankan aktifitas produktif dengan tenang dan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan diri
6.       memelihara sifat da’wah yang takamul dan I’tidal serta a’lamiyyah


6.       Perencanaan dan pengembangan (التخطيط والتطوير)
Untuk mencapai sasaran, Amal Islami harus berjalan dengan perencanaan yang teliti, tidak boleh asal-asalan, spontanitas atau reaksioner.

Tugas utama perencanaan:
-          menentukan sasaran, kemudian membagi sasaran antaranya dan menentukan skala prioritasnya
-          mengkaji kondisi yang berkembang, mengetahui segala potensi yang dimiliki dan potensi apa yang sudah terpenuhi dan yang harus terpenuhi
-          menentukan langkah dan program dalam mewujudkan setiap sasaran, menentukan sarana, prasarana dan aparat serta personil pelaksananya
-          menentukan materi yang cocok untuk sempurnya pelaksanaan, membuat asumsi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi yang kadang-kadang mempengaruhi pelaksanaan program dan cara menghadapinya serta menentukan alternatif-alternatifnya
-          melakukan perombakan unsur terkait, bila perlu
-          menentukan pengawas yang terdiri dari kalangan pakar dan orang-orang yang berpengalaman dalam bidangnya untuk menjamin jalannya pelaksanaan berada dalam jalan yang benar tanpa ada penyimpangan

Terdapat perbedaan besar antara perencanaan da’wah dan perencanaan dalam lembaga-lembaga umum dan pemerintahan di dalam lapangan kehidupan materi. Perencanaan bidang materi lebih mudah dan dapat dikalkulasi melalui statistik, masa, perkiraan dan kemungkinan-kemungkinan. Sedang di lapangan da’wah terus-menerus mengalami perubahan karena umumnya berinteraksi dengan jiwa dan hati manusia.

Memang, semua urusan di dalam genggaman Allah. Tetapi hal ini tidak boleh dipertentangkan dengan perencanaan. Sebab Allah SWT memerintahkan berusaha dan mencari sebab-sebab.

Pengembangan ,pembaharuan dan pemanfaatan hal-hal baru harus terkendali oleh kaidah-kaidah yang bersumber dari ajaran-ajaran Islam serta adab-adabnya, agar dapat melahirkan kebaikan bagi manusia. Aqidah Islam, nilai-nilai, prinsip, akhlak, dan seluruh asas-asas yang id atasnya dibangun masyarakat utama bersifat tetap, tidak pernah mengalami perubahan. Sedangkan sarana dan prasarana, setiap saat harus dilakukan pengembangan dan pembaharuan untuk memenuhi tuntutan zaman.

7.       Kesatuan pandangan (جمع كلمة المسلمين)
Realita kaum Muslimin: terkotak-kotak dan berserakan dalam berbagai parpol dan perkumpulan keagamaan. Jalan pertama untuk menyatukan: usaha menghidupkan akidah Islamiyah di dalam diri dan membangkitkan keimanan di dalam hati. Kemudian memperkenalkan kaum Muslimin akan hakikat agama Islam, keagungan dan kesyumulannya. Untuk mencapainya diperlukan kesabaran dan keteguhan dan menghindari penggunaan agitasi dan pemberontakan.

Berkenaan dengan perkumpulan keagamaan yang bekerja untuk mewujudkan satu atau beberapa aspek Islam, kita menghadapinya laksana seorang dokter atau sebatang pohon (mangga) dan berusaha menyatukan pandangan dan barisan dengan berpadukan kaidah: “kita bekerja sama dalam hal-hal yang sama-sama kita sepakati dan saling menghargai terhadap hal-hal yang di antara kita berbeda (نتعاون فيما اتفقنا عليه ويعذر بعضنا بعضا فيما إختلفنا فيه)”.

Kewajiban kita untuk menyatukan kaum Muslimin:
-          taat asas terhadap arahan-arahan Islam
-          selalu menghindari setiap yang dapat melahirkan buruknya hubungan antara kita dan para aktifis lainnya di lapangan da’wah
-          mendorong pemimpin-pemimpin jama’ah untuk melakukan koordinasi, saling memahami dan sedapat mungkin menyatukan sikap sebagai prolog bagi kesatuan perkumpulan mereka

8.       Bekerja dalam lapangan da’wah (العمل في مجال الدعوة)
Karakter da’wah Islam: lebih mementingkan segi amaliyah dari pada di’ayah (kampanye) dan propaganda.

Urutan daerah da’wah: khayal à kata-kata à amal à jihad dan amal yang serius

Untuk memikul beban dan melaksanakan aktifitas da’wah yang medannya semakin luas dan aktifitasnya semakin beragam serta membutuhkan waktu dan tenaga besar, diperlukan orang yang memusatkan seluruh hidupnya untuk da’wah dan siap menghadapi berbagai kesulitan perjalanan da’wah. Ingat bahwa seorang da’iyah adalah orang yang hati dan pikirannya selalu sibuk dengan urusan da’wah (الداعية: اشتغال العقول والقلوب بالدعوة).

Setiap pribadi Muslim dituntut bekerja dalam lapangan da’wah, selain dituntut mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain sebagai mata pencaharian untuk membiayai hidupnya dan kehidupan keluarga dan rumah tangganya. Setiap kita harus selalu mengaitkan urusan yang berhubungan dengan aktifitas kehidupan, kerumahtanggan, mata pencaharian dan lain-lainnya dengan kepentingan da’wah.

Pokoknya kita harus mengerahkan harta kita untuk mendukung amal Islami, kendati harta yang kita miliki merupakan sebagian dari keperluan kita. Amal Islami memerlukan dana besar, karena itu tidak cukup dari harta lebih.

Ada dua tipe manusia:
-          kehidupannya sangat didominasi oleh amal da’wah
-          kehidupannya sangat didominasi oleh tugas-tugas rutin mata pencahariannya

Pola kehidupan yang lurus dan ideal: mendekati pola kehidupan yang pertama setelah dilakukan perbaikan di dalamnya, dengan mendudukan amal kehidupannya secara benar (seimbang). Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara amal da’wah dan pekerjaan lainnya:
-          banyaknya aktifitas da’wah yang dilakukan
-          kegemaran berda’wah yang luar biasa semangatnya
-          menumpuknya kegiatan dan beban akaibat buruknya manajemen atau perencanaan
-          tidak cukup persiapan pendukung

Orang yang mencukupkan dirinya dengan pekerjaan pokoknya dan memberikan waktu dan tenaga sisanya untuk da’wah, akan diberkahi Allah dalam harta, kesehatan, isteri dan anak-anaknya.

8.       Pewarisan dan regenerasi (التوريث والتحام الأجيال )
Sasaran besar yang sudah dicanangkan pencapaiannya tidak cukup hanya melalui satu generasi, tetapi melalui beberapa generasi. Untuk mencapainya jelas memerlukan pentahapan dan beberapa fase. Karena itu pewarisan da’wah adalah sangat penting. Pewarisan itu mencakup: tujuan, sasaran, wasilah, seluruh orisinalitas dan pengalamannya secara utuh dari generasi ke generasi, tanpa perubahan atau penyimpangan.
Setelah Daulah Utsmaniyah runtuh muncul berbagai khilaf dan peperangan antar-sesama pemerintahan Islam. Dunia Islam mengalami perubahan berupa kemorosotan menuju kehancuran yang cepat. Allah SWT kemudian memunculkan para du’at yang kemudian membentuk gerakan-gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin. Dewasa ini muncul pemuda dan pemudi Muslim yang konsisten dengan Islam.

Pewarisan da’wah mendorong terjadinya perubahan dalam arena aktifitas da’wah yang lebih baik. Ini tidak akan berjalan mulus hanya dengan buku dan risalah-risalah. Tapi harus dengan mu’ayasyah (koeksistensi) dan regenerasi antar setiap generasi. Sehingga setiap generasi akan tahu dan memahami karakter jalan dan rambu-rambu generasi sebelumnya.

Di bawah naungan mu’ayasyah dan regenerasi kebijakan dan pengalaman orang tua dakan menyatu dengan dinamika dan kekuatan pemuda. Muncullah pribadi-pribadi yang memiliki kekuatan semangat pemuda (حماسة الشباب) dan kebijakan orang tua (حكمة الشيوخ).

Pada dasarnya setiap generasi akan mendapatkan pengalaman dan pelajaran baru pada zamannya yang tidak didapat oleh generasi sebelumnya. Artinya aset generasi berupa pengalaman, eksperimen dan pelajaran akan semakin bertambah bersamaan dengan perjalanan generasi tersebut. Atas dasar ini kita mengharapkan generasi berikutnya akan lebih baik dan lebih banyak aktifitasnya serta lebih teguh iltizamnya dari pada generasi sebelumnya.

Semestinya setiap generasi mempersiapkan generasi berikutnya untuk memikul tanggung jawab dan menegakkan kewajiban dalam marhalahnya. Karena itu generasi baru harus dilatih tanggung jawab. Jika terjadi kekeliruan harus diperbaiki ketika itu juga. Kekeliruan dan kesalahan dalam latihan jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Langkah-langkahnya:
-          melibatkan setiap anggota untuk turut memikirkan urusan da’wah
-          dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan
-          dilibatkan dalam manuver-manuver amal dan gerakan
-          dilatih membuat perencanaan, evaluasi dan memahami positif dan negatifnya

Yang perlu diperhatikan dalam pewarisan:
-          harus dihindari pemusatan tanggung jawab dan beban kepemimpinan hanya pada anggota tertentu untuk waktu yang lama
-          memperhatikan fiqh amal jama’I (syarat, kewajiban, uslub di dalam berinteraksi dan ta’awun serta mempertegas seluruh qadhiyah asasiyah sebelumnya)
-          menekankan tsiqah
-          memahami benar sejarah perjalanan jama’ah
-          memperhatikan dimensi ruh dan bekal perjalanan