Jumat, 20 Februari 2026

Ramadhan: Madrasah Jihad Melawan Diri Dan Jalan Kemenangan Dakwah

 


Ibnu Rajab rahimahullah berkata:


_“Ketahuilah, bahwa seorang mukmin pada bulan Ramadhan akan menghadapi dua bentuk jihad terhadap dirinya sendiri: jihad pada siang hari melalui pelaksanaan puasa, dan jihad pada malam hari melalui ibadah qiyam (salat malam). Barang siapa mampu menggabungkan kedua jihad tersebut, menunaikan hak-haknya dengan sempurna, serta bersabar dalam menjalaninya, maka ia akan diberikan pahala secara sempurna tanpa batas perhitungan.”_

(Lathā’if al-Ma‘ārif, hlm. 171)


Ibnu Rajab rahimahullah mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar musim ibadah, melainkan musim mujahadah — medan jihad seorang mukmin terhadap dirinya sendiri. Siang hari menjadi arena pengendalian syahwat melalui puasa, sementara malam hari menjadi ruang penyucian ruh melalui qiyam. Dua jihad ini tidak berdiri sendiri; keduanya saling menguatkan, membentuk pribadi yang kokoh, sabar, dan layak memikul amanah perjuangan.


Seorang kader dakwah perlu memahami bahwa kemenangan besar tidak lahir dari gemuruh slogan, tetapi dari kemenangan yang sunyi di dalam dada. Puasa mendidik kita untuk berkata “tidak” kepada keinginan yang halal sekalipun; maka bagaimana mungkin seorang aktivis dakwah tidak mampu berkata “tidak” kepada hawa nafsu, ambisi pribadi, atau ego organisasi? Qiyamullail melatih kita berdiri lama di hadapan Allah, agar kelak kita mampu berdiri tegak di hadapan ujian umat tanpa kehilangan arah.


Ramadhan dengan demikian adalah madrasah pembentukan kader. Siang hari mengajarkan disiplin, ketahanan, dan kesabaran strategis. Malam hari menanamkan keikhlasan, kepekaan ruhiyah, dan kejernihan niat. Jika puasa hanya menghasilkan lapar, dan qiyam hanya menghasilkan lelah, maka ruh tarbiyah belum benar-benar bekerja. Tetapi jika keduanya melahirkan jiwa yang lebih tunduk kepada Allah dan lebih siap melayani umat, di situlah hakikat pendidikan Ramadhan mulai tampak.


Dalam perspektif harakah, jihad melawan diri adalah fondasi bagi jihad membangun jamaah. Banyak barisan melemah bukan karena kekurangan ide, melainkan karena rapuhnya jiwa. Ketika ego lebih besar daripada ukhuwah, ketika kenyamanan lebih dicintai daripada amanah, di situlah langkah dakwah melambat. Ramadhan datang setiap tahun untuk memperbaiki simpul itu: menyatukan kembali hati, meluruskan niat, dan mengembalikan orientasi perjuangan hanya kepada ridha Allah.


Puasa menumbuhkan empati sosial; seorang kader yang lapar akan lebih mudah memahami penderitaan umat. Qiyam menumbuhkan keberanian moral; seorang yang terbiasa menangis di sepertiga malam tidak mudah goyah oleh tekanan dunia. Dari perpaduan keduanya lahirlah pribadi yang lembut kepada sesama namun tegas terhadap kebatilan — ruh yang dibutuhkan oleh setiap gerakan dakwah yang ingin tetap hidup dan relevan.


Karena itu, Ramadhan bukan waktu untuk memperlambat langkah dakwah, tetapi untuk mengisi ulang tenaga ruhiyahnya. Aktivitas boleh berkurang secara lahiriah, namun kedalaman makna harus bertambah. Program boleh disederhanakan, tetapi kualitas hati harus ditinggikan. Seorang kader sejati tidak sekadar menghitung berapa banyak amal yang dilakukan, tetapi sejauh mana dirinya berubah setelah melewati madrasah ini.


Ibnu Rajab menutup nasihatnya dengan janji agung: siapa yang menggabungkan dua jihad ini dan menunaikan haknya dengan sabar, maka ia akan diberi pahala tanpa batas. Ini bukan hanya janji bagi individu, tetapi juga harapan bagi jamaah: ketika para kadernya menang atas dirinya sendiri, maka Allah akan membuka pintu-pintu kemenangan yang lebih luas.


Maka, wahai para mujahid  dakwah — jadikanlah Ramadhan sebagai momentum konsolidasi jiwa. Perkuat puasa agar lahir keteguhan. Hidupkan malam agar tumbuh keikhlasan. Satukan keduanya agar lahir generasi yang tidak hanya rajin beramal, tetapi juga matang dalam perjuangan.


Sebab kemenangan dakwah selalu bermula dari satu hal: jiwa yang telah menang atas dirinya sendiri.



0 komentar:

Posting Komentar