Jumat, 18 Januari 2019

MENANGKAN ALLAH SWT., NISCAYA ALLAH AKAN MEMENANGKAN KITA





Ikhwati fillah, ...
Hari ini dan hari–hari mendatang akan menjadi hari-hari perjuangan kita. Kita akan terus dihadapkan pada medan jihad siyasi yang menentukan apakah kita akan beroleh  kemenangan atau justru kita harus menelan pil pahit kekalahan. KPU telah mengumumkan partai yang bisa ikut pemilu, dan PKS menjadi salah satu pesertanya. Dari sisi modal material  mungkin saja sudah kita miliki, namun keyakinan kita bahwa kemenangan dari sisi Allah lah yang akan menentukan kemenangan.
Lawan-lawan politik, lawan-lawan da’wah dan sekutunya sudah lama menjadikan materi sebagai aqidahnya. Tuhan mereka adalah harta, sesembahan mereka adalah kekuasaan dan status sosial, yang jika dikalkulasi boleh jadi kekuatan mereka jauh lebih banyak ketimbang yang dimiliki oleh para kader dakwah.  Karenanya, jika para kader dakwah hanya menyadarkan kekuatannya hanya pada kekuatan materi, niscaya mereka akan mengalami kekalahan.
Sungguh kerdil orang yang dibesarkan dalam rumah da’wah jika kemudian luntur mabadi da’wahnya dan beranggapan bahwa materi adalah segalanya. Dengarlah firman Alloh yang agung :
وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ الأنفال: 10
“Dan tidak ada kemenangan kecuali kemengan dari sisi Alloh sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

Ikhwati fillah, ...
Suatu hari beberapa kader ikhwan menziarahi ustadz Sayyid Quthub di penjara. Mereka berupaya menghibur dan menenangkan beliau dengan ungkapan, “Wahai Sayyid, Allah swt. tidak akan menelantarkan dakwah kita.” Mendengar nasihat yang menentramkan tersebut, beliau menjawab dengan lembut dan berwibawa, “Wahai saudara-saudaraku, janganlah menyibukkan diri dengan urusan ini, tetapi sibukkan diri untuk memikirkan di mana posisi kita dalam dakwah ini.”
Tercapainya kemenangan adalah cita-cita dan harapan para aktivis Islam di sepanjang sejarah. Karena itu, tiada satu pun riwayat yang mengatakan bahwa seorang aktivis berdoa agar dakwahnya atau perjuangannya kalah. Dan, kalau saat ini ada pejuang yang tidak mengharapkan kemenangan, maka ia tidak mengikuti sunnah para aktivis Islam, dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan shalihin.
Allah swt. berfirman mengisahkan harapan dan obsesi para pejuang di masa silam,
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah: 214)
Pertanyaan “مَتَى نَصْرُ اللّهِ” “Bilakah datangnya pertolongan Allah?" minimal menggambarkan dua hal:
Pertama: Meski berbagai ujian, kesulitan, dan guncangan terus menerus menimpa mereka dalam perjuangan, hingga seolah olah semua itu menjadi sahabat akrab mereka selama perjuangan, namun mereka tidak putus asa, tidak mengurangi kerja dan kinerja, dan tidak mempersalahkan siapa-siapa. Mereka tetap optimis dan mengharapkan pertolongan Allah swt. serta kemenangan dari-Nya.
Kedua: Meski mereka telah mengerahkan segenap kemampuan untuk berjuang, namun itu bukanlah jaminan datangnya kemenangan. Sebab kemenangan itu dari Allah swt. yang akan hadir sesuai kehendak-Nya, pada waktu yang ditentukan oleh-Nya, dan dengan cara yang diinginkan oleh-Nya.
Sayyid Quthb menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan terlambatnya kemenangan, saat menjelaskan ayat ke 38 – 41 dari Surat Al-Hajj, yang kesimpulannya sebagai berikut:
Karena ada hikmah besar yang hanya diketahui oleh Allah swt.
Karena bangunan atau barisan Umat belum kuat dan matang, sehingga kalau diberi kemenangan, maka akan mudah terlepas kembali, sebab belum mempunyai kemampuan mempertahankannya.
Agar para pejuangan mengerahkan segenap potensinya untuk berjuang, tidak ada potensi dan cadangan yang disisakan.
Agar para aktivis menyadari bahwa kemenangan itu bukan semata mata karena kekuatan dan potensinya, tetapi karena Allah swt. Karena itu, hendaklah berjuang dan berkorban sekuat kemampuan, lalu serahkan dan pasrahkan hasilnya pada Allah swt.
Agar hubungan dengan Allah swt. makin kuat, sehingga kalau diberi kemenangan tidak lupa diri, menyimpang dari kebenaran, melakukan kezhaliman, berebut rampasan, dan lain sebagainya.
Agar para aktivis totalitas pada Allah swt. dalam perjuangan dan pengorbanan, bukan karena ingin rampasan, karena fanatisme, kesombongan, atau sejenisnya.
Memang, tidak sedikit ayat maupun hadits yang menegaskan bahwa hasil perjuangan dan kemenangan itu urusan Allah swt. Karena itu, hendaknya para aktivis tidak menyibukkan diri memikirkannya, tetapi fokus pada apa yang dapat dilakukan dalam memenangkan agama-Nya.
Kemuliaan seseorang dan besarnya pahala yang akan ia peroleh di hari akhir nanti, bukan karena kemenangan yang diraih, tetapi karena sejauhmana keikhlasannya dalam berjuang, kesungguhannya dalam berkorban, dan keistiqamahannya di jalan kebenaran.
Bukankah kisah dalam Surat Al-Buruj menggambarkan para pejuang tidak mendapat kemenangan di dunia, tetapi mereka dibanggakan oleh Allah swt.?
Bukankah para ahli sihir Fir’aun yang beriman pada ajaran Nabi Musa as. dihukum oleh Fir’aun dengan hukuman keras, namun mereka tetap komitmen pada keimanannya hingga menemui ajal mereka?
Bahkan Rasulullah saw. yang mendapat jaminan dari Allah swt. pun diberi pesan,
فَإِمَّا نَذْهَبَنَّ بِكَ فَإِنَّا مِنْهُمْ مُنْتَقِمُونَ. أَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِي وَعَدْنَاهُمْ فَإِنَّا عَلَيْهِمْ مُقْتَدِرُونَ
“Sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan) maka sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka (di akhirat). Atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami (Allah) ancamkan kepada mereka. Maka sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka.” (Az-Zuhruf: 41-42)
Dua ayat ini memberi gambaran dengan jelas bahwa Rasulullah saw. saja, yang telah mewakafkan seluruh hidupnya untuk perjuangan, mengorbankan segala yang dimiliki untuk membela Islam, serta tetap menjaga dan meningkatkan kinerja meski berbagai ujian menghadang, tidak serta merta mendapatkan kemenangan. Apalagi umat beliau yang kurang dalam berjuang dan berkorban.
Kemenangan itu milik Allah swt.; ia akan dihadirkan sesuai kehendak Allah swt., diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, diturunkan pada waktu yang dipilih oleh-Nya, dianugerahkan dengan cara yang diinginkan oleh-Nya.
Namun, Allah swt. tidak pernah menyalahi janji-Nya. Dan, ia swt. telah berjanji akan memberi kemenangan pada hamba-hamba-Nya yang ikhlas berjuang dan berkorban. Ia akan memberi kemenangan pada orang-orang yang memenangkan-Nya dalam kehidupan pribadinya, sehingga ia tidak memperturutkan syahwat dan nafsunya, tetapi mengikuti arahan dan tuntunan Allah swt. Dalam berjamaah, ia tidak memperturutkan egonya dan memaksakan kehendaknya, tetapi berupaya memantaskan diri, agar tetap layak dalam barisan perjuangan yang dicintai-Nya. Dan, begitu seterusnya.
Allah swt. berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)
Karena itu, yang terpenting bukan kemenangannya, tetapi perjuangan, pengorbanan dan keistiqamahan dalam berjuang dan berkorban di jalan-Nya. Sebagaimana dipesankan oleh Allah swt. pada Rasul-Nya, setelah menegaskan bahwa kemenangan yang dijanjikan tidak mesti dipenuhi oleh-Nya saat beliau masih hidup,
فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (Az-Zuhruf: 43)
Mari periksa amal, jihad, pengorbanan, dan kebersamaan kita! Apakah telah sesuai dengan ajaran yang telah diwahyukan oleh Allah swt. kepada Rasulullah saw.? Ataukah semau kita, bahkan memutar balik ayat-ayat-Nya untuk kepentingan sesaat? Apakah kita sudah yakin berada di jalan yang lurus, atau masih ragu dengan jalan yang kita tempuh?
Imam Al-Banna menyebutkan definisi Al-Fahm,
إِنَّمَا أُرِيْدُ بِالْفَهْمِ: أَنْ تُوْقِنَ بِأَنَّ فِكْرَتَنَا إِسْلاَمِيَّةٌ صَمِيْمَةٌ، وَأَنْ تَفْهَمَ اْلإِسْلاَمَ كَمَا نَفْهَمُهُ، فيِ حُدُوْدِ هَذِهِ اْلأُصُوْلِ اْلعِشْرِيْنَ اَلْمُوْجَزَةِ كُلَّ الْإِيْجَازِ
“Yang saya maksud dengan al-fahm (pemahaman) adalah hendaknya Anda yakini bahwa fikrah kita adalah Islam murni, dan Anda memahami Islam sebagaimana kami memahaminya dalam bingkai dua puluh prinsip yang sangat ringkas ini.” (Risalah At-Ta’aaliim)
Mari periksa amal, jihad, pengorbanan, dan kebersamaan kita! Apakah kita benar-benar untuk memenangkan Allah swt. dalam segala urusan kita, atau memenangkan keinginan pribadi kita?
Imam Hasan Al-Banna juga telah menegaskan definisi dari rukun Ikhlas,
وَأُرِيْدُ بِاْلإِخْلاَصِ: أَنْ يَقْصُدَ اْلأَخُ الْمُسْلِمُ بِقَوْلِهِ وَعَمَلِهِ وَجِهَادِهِ كُلِّهِ وَجْهَ اللهِ، وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِهِ وَحُسْنَ مَثُوْبَتِهِ مِنْ غَيْرِ نَظَرٍ إِلىَ مَغْنَمٍ أَوْ مَظْهَرٍ أَوْ جَاهٍ أَوْ لَقَبٍ أَوْ تَقَدُّمٍ أَوْ تَأَخُّرٍ، وَبِذَلِكَ يَكُوْنُ جُنْدِيَّ فِكْرَةٍ وَعَقِيْدَةٍ، لاَ جُنْدِيَّ غَرَضٍ وَمَنْفَعَةٍ
Yang saya maksud dengan ikhlas adalah bahwa seorang kader mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah swt., serta mengharap keridhaan dan pahala-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau kemunduran. Dengan itulah, ia menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara kepentingan dan yang hanya mencari kemanfaatan dunia. (Risalah At-Ta’aaliim)
Setelah dua hal di atas (faham dan ikhlas) dipastikan, maka amal akan menjadi buah yang dihasilkan. Puncak amal adalah jihad di jalan-Nya. Dan, Tiada jihad tanpa pengorbanan.
Apabila lima point tersebut telah kokoh dalam diri seseorang, maka ia telah memenuhi syarat untuk menolong agama Allah swt. Namun menolong agama Allah swt. dengan amal, jihad, dan pengorbanan yang dilandasi pemahaman dan keikhlasan tersebut, kurang optimal kalau tidak dilakukan dalam kebersamaan, sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt. dalam firman-Nya,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
Kebersamaan dalam menolong agama Allah swt. digambarkan dengan ungkapan “Barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Barisan yang rapih mesti memiliki kesatuan pimpinan. Pimpinan mesti memiliki kewenangan untuk memutuskan berbagai hal, selama tidak bertentangan dengan aturan Allah swt. yang ditegaskan dalam lima point di atas. Kewenangan pimpinan tidak memiliki makna kalau tidak ada ketaatan, sebagaimana ditegaskan oleh Umar bin Khathab ra.
إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ، وَلاَ جَمَاعَةَ إِلاَّ بِإِمَارَةٍ، وَلاَ إِمَارَةَ إِلاَّ بِطَاعَةٍ
“Sesungguhnya, tiada Islam kecuali dengan jamaah. Tiada jamaah kecuali dengan pimpinan. Dan, tiada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan ...” (HR. Darimi)
Ketaatan inilah yang menjadi salah satu tolok ukur komitmen seseorang dalam kebersamaan. Dan, ketaatan jualah yang menyebabkan seseorang hengkang dari kebersamaan. Karena itulah, diperlukan tsabat dalam kebersamaan. Sebab terkadang keputusan pimpinan tidak sesuai dengan selera pribadi.
Bukankah Bani Isra’il berguguran dari kebersamaan dalam jihad melawan Jalut karena ujian kepemimpinan. Karena yang diangkat menjadi pimpinan mereka tidak seperti yang mereka harapkan, maka sebagian enggan berjihad dalam kebersamaan. Setelah sebagian lulus dari ujian kepemimpinan, mereka pun diuji dengan ketaatan untuk tidak meminum air sungai, kecuali satu cidukan sekedar menghilangkan dahaga. Namun mayoritas mereka berpuas-puas meminum air sungai.
Rasulullah saw. bersabda,
بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ وَالْأَثَرَةِ عَلَيْنَا
“Kami berbai’at pada Rasulullah saw. untuk mendengar dan taat dalam keadaan sulit maupun mudah, giat maupun terpaksa, dan keadaan kami dianaktirikan.” (HR. Ibnu Majah)
Seseorang yang kokoh dalam kebersamaan di jalan Allah swt., karena yakin bahwa jalan yang diplihnya adalah benar, fikrah yang diperjuangkan adalah benar, dan jamaah yang dipilih adalah benar, maka ia akan totalitas pada fikrah dan jamaah tersebut. Dan, kalau ia sudah totalitas pada fikrah dan jamaah, maka ia telah nyaman bersama rekan-rekan seperjuangan dan berupaya menerapkan nilai-nilai persaudaraan bersama mereka. Namun, semuanya akan runtuh satu persatu, pondasi yang telah dibangun akan porak poranda, pilar-pilar yang dipancangkan akan roboh, dan tembok serta atap akan berantakan, jika kepercayaan terganggu oleh berbagai framing tentang pimpinan yang dibuat oleh musuh-musuh perjuangan.
Wallahu a’lam bish shawab.

Rabu, 02 Januari 2019

PERBAIKAN DIRI




Sebaik-baik manusia adalah, yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini

Hitung-hitunglah diri kalian, sebelum kalian dihitung (Umar bin Khottob)


Siapa saja yang mengerjakan kebaikan (amal shaleh) baik lelaki maupun wanita, dan ia beriman, maka baginya kehidupan yang lebih baik. (QS:16:97)

Dan berjihadlah kalian dengan harta dan jiwa kalian..

Dan persiapkanlah oleh kalian segala kekuatan….(Al Qur’an 8:60)

Siapa saja yang berbuat (to create process and product) kebajikan maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya (memanfaatkannya) ……….

“Allah mencintai orang yang selalu bekerja dan berusaha “


“Tidak seorangpun yang akan memperoleh kehidupan yang lebih baik daripada orang yang memperoleh penghasilan dengan tangnnya sendiri. Nabi Daudpun memperoleh nafkah penghidupan dari tangannya sendiri”.

Barang siapa yang memudahkan urusan seorang muslimin, Allah akan memudahkan urusannya di hari kiamat.

Orang yang cerdas ialah yang menghisab dirinya dan berbuat untuk kepentingan sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang membiarkan dirinya
mengikuti hawa nafsunya (Hadis)



            Setiap manusia hendaknya selalu memperhatikan tentang apa, siapa, ke arah mana  dan bagaimana dirinya dalam pentas kehidupan ini.  Dengan mengetahui semua hakikat jawaban itu niscaya ia akan mendapatkan setengah dari makna kehidupan itu sendiri. Dan tatkala ia telah menemukan siapa dirinya, maka yang muncul ke permukaan kesadaran adalah kerapuhan dan kelemahan dirinya di hadapan bentangan alam kehidupan yang bermula dari dunia sampai tak berujung di negeri akhirat nanti. Dengan demikian, manusia sejati adalah manusia yang selalu menyadari kelemahan dan kerapuhan dirinya sehingga ia selalu berusaha terus menerus memperbaiki diri, sampai ia datang ke hadapan Penguasa kehidupan ini dengan penuh ketenangan:

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah ke haribaan robbmu dengan keridlaan….. (QS 89:27-30)

            Sesungguhnya inti perbaikan diri adalah pembersihan jiwa (tazkiyatunnafs), yang apabila sang jiwa sudah bersih maka unsur pembentuk diri yang lainpun akan ikut terkoreksi.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mencemarkannya” (QS AsSyams: 9-10)

Dan proses mensucikan jiwa harus menyeluruh, dalam arti, bahwa pembersihan jiwa merupakan perbaikan seluruh dimensi kepribadian yang membentuk diri kita sebagai orang yang beriman dan bertaqwa.
Perbaikan diri hendaknya mengarah kepada kesuksesan dan kejayaan hidup sesuai dengan perspektif  Al Qur’an. Bila kita rujuk surah Al Hajj: 77, maka Allah memberikan gambaran bahwa kesuksesan itu dapat diraih melalui dua pilar kegiatan:
a.       Meningkatkan hubungan dengan Allah SWT melalui serangkaian ibadah yang berkualitas
b.      Meningkatkan kinerja ‘amal khoir, yang berorientasi pada kemaslahatan hidup dan kehidupan ummat.

Sesungguhnya, dengan mengacu kepada kedua pilar itu arah kejayaan hidup menjadi sangat terang dan jelas, dan langkah-langkah perbaikan diri dapat dikembangkan berdasarkan kedua pilar tersebut dalam rangka mempersiapkan diri meraih kesuksesan dan kejayaan. Langkah-langkah perbaikan diri tersebut meliputi:


1.      Perbaikan Ruhiyah. Perbaikan aspek ini penting dilakukan untuk meningkatkan pengendalian diri (nafsu) menghadapi segala rangsangan kehidupan dunia yang menggiurkan maupun ancaman kehidupan yang mengguncangkan. Inti perbaikan ruhiyah adalah meningkatnya hubungan dengan Allah SWT melalui serangkaian kegiatan hati, lisan dan amal perbuatan. Dengan meningkatknya hubungan dengan Allah SWT, maka akan didapatkan banyak hal positif:

  1. Kemudahan mendapat ilmu (QS 2:282)
  2. Kemudahan menganalisis segala fenomena kehidupan (QS 8:29)
  3. Kemudahan menemukan pemecahan masalah (QS 65:4)
  4. Kemudahan mendapatkan jalan keluar (QS 65:2)
  5. Kemudahan mendapatkan fasilitas kehidupan  (QS 65:3)
  6. Keberkahan hidup (QS 7:172)
  7. Ketenteraman hati.  (QS 13:

Sebaliknya, kerenggangan hubungan dengan Allah SWT akan mendapatkan kehidupan yang sempit (ma’isyatan dhonka)  (QS:        ). Oleh karena itu hal yang segera harus ditegakkan dalam membina hubungan dengan Allah SWT adalah peningkatan kualitas kewajiban fardhu dan memperkayanya dengan amal nawafil.

Bila hambaku mendekati aku dengan  sejengkal maka aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika mendekat kepadaKu sehasta Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika datang kepadaKu berjalan, Aku datang kepadanya berjalan cepat (Hadis qudsi)

           
Perbaikan ruhiyah dalam perspektif tazkiyatunnafs Imam Ghazali mengikuti urut-urutan sebagai berikut:
 Muroqobah     : jiwa yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT sehingga ia selalu takut
  berbuat segala sesuatu yang menimbulkan kemarahanNya.
Muhasabah      : jiwa yang selalu memperhitungkan dan mempertimbangkan segala
   amalannya dalam perspektif kehidupan akhirat
Mu’aqobah      : jiwa yang selalu menghukum dirinya apabila terlanjur khilaf berbuat
   Maksiyat (salah).
Mujahadah      :  jiwa yang selalu sungguh-sungguh dalam beramal ibadah



2.      Perbaikan Tsaqofiyah


Peningkatan kualitas diri seseorang sejajar dengan keluasan wawasan dan kedalaman ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Rasulullah SAW mewajibkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Belajar tiada henti.

Tuntutlah ilmu, dari ayunan hingga liang lahat


Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan di antara kalian (QS         )
Samakah orang-orang yang berpengetahuan dan mereka yang tidak berpengetahuan ?? (QS      )


Sebaiknya setiap kita meningkatkan pengetahuan dasar tentang
  1. Fiqhul ibadah, dengan memperbandingkan berbagai pendapat mazhab
  2. Manhaj ikhwan melalui serangkaian referensi utama dan penunjang
  3. Pandangan Islam terhadap Ekonomi, Politik, Sosial, Psikologi, Seni Budaya, Hukum dan Keluarga.
  4. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi kontemporer
  5. Perkembangan social, budaya, hukum dan politik kontemporer
                               
Di sisi lain, setiap al akh hendaknya menguasai secara baik satu bidang ilmu yang menjadi core competencenya, sehingga orang dapat merujuk kepadanya mengenai permasalahan yang menjadi kompetensinya.


3.      Perbaikan Fisikal



Sesungguhnya Allah lebih menyukai orang mu’min yang kuat ketimbang orang mu’min yang lemah. (Hadis)

Tentu saja perbaikan diri juga menyentuh aspek fisikal, karena tubuh yang kuat dan sehat merupakan modal utama untuk berbuat banyak hal yang bermanfaat. Tubuh yang kuat merupakan salah satu karakteristik utama dalam kepemimpinan (leadership). Allah SWT menyebutkan hal tersebut dengan istilah: 
--- qowwiyul amien (kuat dan terpercaya) (QS 28:26)
--- bashthotan minal ‘ilmi wal jism  (mumpuni dalam ilmu dan jasad)…………Tholut

Dan Imam Syahid Hasan Al Banna mewasiatkan kepada para kader ikhwan agar selalu menjaga kesehatan tubuh dengan melakukan pemeriksaan kesehatan  (medical check up) paling tidak setiap 6 bulan sekali dan menganjurkan untuk tidak mengkonsumsi minuman yang cenderung melemahkan tubuh.  Dengan tubuh yang sehat dan bugar maka kualitas amal ibadah dan amal khidmah kita akan semakin meningkat kualitas maupun kuantitasnya.



4.      Perbaikan Sikap dan Keterampilan Produksi


Perbaikan diri yang tidak kalah pentingnya adalah yang terkait dengan sikap dan keterampilan dalam bekerja, karena dengan bekerjalah Allah akan memberikan balasannya (Jazaa’an bima kanuu ya’malun) .

Bekerja dalam konteks amal sholeh harus memperhatikan efisiensi dan efektifitas yang pada gilirannya akan melahirkan produktivitas. Untuk dapat bekerja secara produktif diperlukan sikap mental produktif.

Allah suka apabila kalian bekerja, maka ia bekerja dengan rapih..
Allah menetapkan kepada kalian agar bekerja dengan ihsan…(Al Hadits)

Seseorang tidak mendapatkan sesuatu kecuali apa yang telah diusahakannya (53:39)

Bagi seorang laki-laki ada manfaat dari apa yang ia usahakan, dan bagi wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan (4:32)

Ada jaminan bagian untuk orang yang berusaha 
dan bekerja keras (41:10)

Allah sekali-kali tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, sehingga bangsa itu mengubahnya sendiri (13:11)

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan (94:6)

Kami telah menciptakan manusia dan menguatkan persendian mereka 76:28
Dan adapun orang-orang yang berat timbangan(kebajikan)nya maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan (101:6-7)

Gambaran Alqur’an tentang sikap produktif dalam bekerja diperjelas dengan kisah-kisah para nabi yang bekerja sesuai dengan kemampuannya, namun mencerminkan sikap mental dan perilaku yang sangat produktif. Lihat kisah:
-          Nabi Musa bekerja kepada nabi Syu’aib (28:27)
-          Nabi Khaidir menegakkan rumah yang roboh (18:77)
-          Nabi Daud membuat baju besi (34:10-11)
-          Nabi Nuh membuat bahtera (11:37-38)
-          Nabi Dzulqarnain membuat dinding besi (18:95-96)

Seorang pakar sdm menyebutkan bahwa ciri-ciri individu yang produktif adalah:

·         Secara konstan selalu mencari gagasan-gagasan yang lebih baik dan cara penyelesaian tugas yang lebih baik lagi
·         Selalu memberi saran-saran untuk perbaikan secara sukarela
·         Menggunakan waktu secara efektif dan efisien
·         Selalu melakukan perencanaan dan menyertakan jadwal waktu
·         Bersikap positif terhadap pekerjaannya
·         Dapat berlaku sebagai anggota kelompok yang baik sebagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik
·         Dapat memotivasi dirinya sendiri melalui dorongan dari dalam
·         Memahami pekerjaan orang lain yang lebih baik
·         Mau mendengar ide-ide orang lain yang lebih baik
·         Hubungan antar pribadi dengan semua tingkatan dalam organisasi berlangsung dengan baik
·         Sangat menyadari dan memperhatikan masalah pemborosan dan biaya-biaya;
·         Mempunyai tingkat kehadiran yang baik (tidak banyak absen dalam pekerjaannya)
·         Seringkali melampau standar yang telah ditetapkan
·         Selalu mempelajari sesuatu yang baru dengan cepat
·         Bukan merupakan tipe orang yang selalu mengeluh dalam bekerja.

 

5.      Perbaikan Hubungan Sosial (Ittishol Ijtima’iyah)



Perbaikan diri seorang da’i akhirnya bermuara pada hubungannya dengan komunitas masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya. Pentingnya menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar mendapat perhatian yang tinggi dalam Islam, terlihat dari bagaimana Allah SWT dan RasuluLlah SAW  memandang masalah ini dalam konteks hubungan dengan tetangga sebagai komunitas masyarakat yang paling dekat jarak dan interaksinya dengan kita.


“…Dan berbuat baiklah terhadap tetangga yang (menjadi) kerabatmu.”
(QS An Nisa:36)



Ibnu Umar dan Aisyah ra berkata keduanya: “ Jibril selalu menasihatiku untuk
berlaku dermawan terhadap para tetangga, hingga rasanya aku ingin memasukkan tetangga-tetangga tersebut ke dalam kelompok ahli waris seorang muslim”.
 (HR Bukhori Muslim)

Abu Dzarr ra berkata: Bersabda RasuluLLah SAW: “Hai Abu Dzarr jika engkau
memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya, dan perhatikan tetanggamu
(HR Muslim)

Abu Hurairah berkata: Bersabda Nabi SAW, “Demi Allah tidak beriman, demi
Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman. Ditanya: Siapa ya RasuluLlah ?
Jawab Nabi: “Ialah orang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya”
(HR Bukhori, Muslim)

Abu Hurairah berkata: Bersabda Nabi SAW “Siapa yang beriman kepada Allah
dan hari Akhir hendaklah tidak mengganggu tetangganya. (HR Bukhori, Muslim).

“Orang yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya lapar
bukanlah ummatku.” (HR….)


Selasa, 01 Januari 2019

SEBARAN TPS PER LINGKUNGAN PADA PEMILU TAHUN 2019 KEC. AMPENAN





KAB./KOTA : MATARAM
KECAMATAN : AMPENAN


KELURAHAN : AMPENAN SELATAN

NO NO TPS NAMA LINGKUNGAN
1 001 TANGSI
2 002 TANGSI
3 003 TANGSI
4 004 TANGSI
5 005 TANGSI
6 006 TANGSI
7 007 KARANG BUYUK
8 008 KARANG BUYUK
9 009 KARANG BUYUK
10 010 KARANG BUYUK
11 011 KARANG BUYUK
12 012 KARANG PANAS
13 013 KARANG PANAS
14 014 KARANG PANAS
15 015 KARANG PANAS
16 016 KARANG PANAS
17 017 KARANG PANAS
18 018 GATEP
19 019 GATEP
20 020 GATEP
21 021 GATEP
22 022 GATEP
23 023 GATEP
24 024 GATEP
25 025 GATEP
26 026 GATEP

KAB./KOTA : MATARAM
KECAMATAN : AMPENAN
KELURAHAN : AMPENAN TENGAH

NO NO TPS NAMA LINGKUNGAN
1 001 MELAYU BANGSAL
2 002 MELAYU BANGSAL
3 003 MELAYU TENGAH
4 004 MELAYU TENGAH
5 005 MELAYU TENGAH
6 006 MELAYU TIMUR
7 007 SUKARAJA BARAT
8 008 SUKARAJA BARAT
9 009 SUKARAJA TIMUR
10 010 SUKARAJA TIMUR
11 011 SUKARAJA PERLUASAN
12 012 SUKARAJA PERLUASAN
13 013 SUKARAJA MUJAHIDIN
14 014 SUKARAJA MUJAHIDIN
15 015 PRESAK
16 016 TEMPIT
17 017 TEMPIT
18 018 PINTU AIR
19 019 MELAYU TENGAH
20 020 TEMPIT
21 021 MELAYU BANGSAL
22 022 MELAYU BANGSAL
23 023 MELAYU TIMUR
24 024 SUKARAJA TIMUR
25 025 SUKARAJA TIMUR
26 026 SUKARAJA PERLUASAN
27 027 SUKARAJA MUJAHIDIN
28 028 SUKARAJA MUJAHIDIN
29 029 PRESAK
30 030 TEMPIT
31 031 TEMPIT
32 032 TEMPIT

KAB./KOTA : MATARAM
KECAMATAN : AMPENAN
KELURAHAN : AMPENAN UTARA

NO NO TPS NAMA LINGKUNGAN
1 001 BATU RAJA
2 002 BATU RAJA
3 003 BATU RAJA
4 004 BATU RAJA
5 005 TINGGAR
6 006 TINGGAR
7 007 TINGGAR
8 008 TINGGAR
9 009 TINGGAR
10 010 JEMPONG
11 011 JEMPONG
12 012 KEBON TALO JAYA
13 013 BATU RAJA
14 014 BATU RAJA
15 015 BATU RAJA
16 016 BATU RAJA
17 017 TINGGAR
18 018 TINGGAR
19 019 TINGGAR
20 020 TINGGAR
21 021 JEMPONG
22 022 JEMPONG
23 023 KEBON TALO JAYA

KAB./KOTA : MATARAM
KECAMATAN : AMPENAN
KELURAHAN : BANJAR

NO NO TPS NAMA LINGKUNGAN
1 001 BANJAR
2 002 BANJAR
3 003 BANJAR
4 004 BANJAR
5 005 SINTUNG
6 006 SINTUNG
7 007 SELAPARANG
8 008 SELAPARANG
9 009 SELAPARANG
10 010 SELAPARANG
11 011 BANJAR
12 012 BANJAR
13 013 BANJAR
14 014 BANJAR
15 015 SINTUNG
16 016 SINTUNG
17 017 SELAPARANG
18 018 SELAPARANG
19 019 SELAPARANG
20 020 SELAPARANG

KAB./KOTA : MATARAM
KECAMATAN : AMPENAN
KELURAHAN : BINTARO

NO NO TPS NAMA LINGKUNGAN
1 001 BINTARO JAYA
2 002 BINTARO JAYA
3 003 PONDOK PRASI
4 004 PONDOK PRASI
5 005 PONDOK PRASI
6 006 PONDOK PRASI
7 007 PONDOK PRASI
8 008 BUGIS
9 009 BUGIS
10 010 BUGIS
11 011 TELAGA MAS
12 012 TELAGA MAS
13 013 DENDE SELEH
14 014 DENDE SELEH
15 015 BINTARO JAYA
16 016 BINTARO JAYA
17 017 PONDOK PRASI
18 018 PONDOK PRASI
19 019 PONDOK PRASI
20 020 PONDOK PRASI
21 021 PONDOK PRASI
22 022 BUGIS
23 023 BUGIS
24 024 BUGIS
25 025 BUGIS
26 026 DENDE SELEH
27 027 DENDE SELEH
28 028 TELAGA MAS
29 029 TELAGA MAS

KAB./KOTA : MATARAM
KECAMATAN : AMPENAN
KELURAHAN : DAYAN PEKEN

NO NO TPS NAMA LINGKUNGAN
1 001 DAYAN PEKEN
2 002 DAYAN PEKEN
3 003 KEBON ROEK
4 004 KARANG UJUNG
5 005 KARANG UJUNG
6 006 OTAK DESA SELATAN
7 007 OTAK DESA SELATAN
8 008 OTAK DESA SELATAN
9 009 OTAK DESA UTARA
10 010 OTAK DESA UTARA
11 011 OTAK DESA UTARA
12 012 PELEMBAK
13 013 PELEMBAK
14 014 PELEMBAK
15 015 PELEMBAK
16 016 PELEMBAK
17 017 DAYAN PEKEN
18 018 KEBON ROEK
19 019 KARANG UJUNG
20 020 OTAK DESA SELATAN
21 021 OTAK DESA SELATAN
22 022 OTAK DESA UTARA
23 023 PELEMBAK
24 024 PELEMBAK
25 025 PELEMBAK
26 026 KARANG UJUNG
27 027 OTAK DESA UTARA

KAB./KOTA : MATARAM
KECAMATAN : AMPENAN
KELURAHAN : KEBUN SARI

NO NO TPS NAMA LINGKUNGAN
1 001 KEBUN BAWAK TENGAH
2 002 KEBUN BAWAK TENGAH
3 003 KEBUN BAWAK NURUL YAQIN
4 004 KEBUN BAWAK NURUL YAQIN
5 005 KEBUN BAWAK TIMUR
6 006 KEBUN BAWAK TIMUR
7 007 KARANG BARU
8 008 KARANG BARU
9 009 DASAN SARI
10 010 DASAN SARI
11 011 DASAN SARI
12 012 DASAN SARI
13 013 KEBUN BAWAK TENGAH
14 014 KEBUN BAWAK TENGAH
15 015 KEBUN BAWAK NURUL YAQIN
16 016 KEBUN BAWAK NURUL YAQIN
17 017 KEBUN BAWAK TIMUR
18 018 KEBUN BAWAK TIMUR
19 019 KARANG BARU
20 020 KARANG BARU
21 021 DASAN SARI
22 022 DASAN SARI
23 023 DASAN SARI

KAB./KOTA : MATARAM
KECAMATAN : AMPENAN
KELURAHAN : PEJARAKAN KARYA

NO NO TPS NAMA LINGKUNGAN
1 001 PENAN
2 002 PENAN
3 003 PEJARAKAN
4 004 PEJARAKAN
5 005 PEJARAKAN
6 006 MONCOK KARYA
7 007 MONCOK KARYA
8 008 MONCOK KARYA
9 009 MONCOK TELAGA MAS
10 010 PENAN
11 011 PENAN
12 012 PEJARAKAN
13 013 PEJARAKAN
14 014 PEJARAKAN
15 015 PEJARAKAN
16 016 MONCOK KARYA
17 017 MONCOK KARYA
18 018 MONCOK KARYA
19 019 MONCOK KARYA
20 020 MONCOK TELAGA MAS

KAB./KOTA : MATARAM
KECAMATAN : AMPENAN
KELURAHAN : PEJERUK

NO NO TPS NAMA LINGKUNGAN
1 001 PEJERUK DESA
2 002 PEJERUK DESA
3 003 PEJERUK PERLUASAN
4 004 PEJERUK ABIYAN
5 005 PEJERUK ABIYAN
6 006 PEJERUK SEJAHTERA
7 007 PEJERUK SEJAHTERA
8 008 PEJERUK BANGKET
9 009 PEJERUK BANGKET
10 010 PEJERUK BANGKET
11 011 KEBUN JERUK
12 012 KEBUN JERUK
13 013 KEBUN JERUK BARU
14 014 KEBUN BAWAK BARAT
15 015 KEBUN BAWAK BARAT
16 016 PEJERUK DESA
17 017 PEJERUK DESA
18 018 PEJERUK PERLUASAN
19 019 PEJERUK ABIYAN
20 020 PEJERUK ABIYAN
21 021 PEJERUK SEJAHTERA
22 022 PEJERUK BANGKET
23 023 PEJERUK BANGKET
24 024 KEBUN JERUK
25 025 KEBUN JERUK BARU
26 026 KEBUN JERUK BARU
27 027 KEBUN BAWAK BARAT
28 028 KEBUN BAWAK BARAT

KAB./KOTA : MATARAM
KECAMATAN : AMPENAN
KELURAHAN : TAMAN SARI

NO NO TPS NAMA LINGKUNGAN
1 001 TAMAN KAPITAN
2 002 TAMAN KAPITAN
3 003 TAMAN KAPITAN
4 004 TAMAN KAPITAN
5 005 TAMAN KAPITAN
6 006 GATEP PERMAI
7 007 TAMAN SERUNI
8 008 TAMAN SERUNI
9 009 TAMAN GAJAH MADA
10 010 GATEP PERMAI
11 011 GATEP INDAH
12 012 IRIGASI
13 013 TAMAN KAPITAN
14 014 TAMAN KAPITAN
15 015 GATEP PERMAI
16 016 TAMAN SERUNI
17 017 TAMAN SERUNI
18 018 TAMAN GAJAH MADA
19 019 GATEP PERMAI
20 020 GATEP INDAH
21 021 GATEP INDAH
22 022 IRIGASI
23 023 IRIGASI
24 024 TAMAN GAJAH MADA
25 025 TAMAN GAJAH MADA