Minggu, 01 Desember 2024
Sabtu, 30 November 2024
SAAT KEKUASAAN DIPERGILIRKAN
اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗ وَتِلْكَ الْاَ يَّا مُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّا سِ ۚ وَلِيَـعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَآءَ ۗ وَا للّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
"Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 140)
• Allah mempergilirkan musibah dan nikmat, kesempitan dan kelapangan. kesedihan dan kegembiraan, kegagalan dan kesuksesan, kemiskinan dan kekayaan, kekalahan dan kemenangan dalam kehidupan manusia.
• Hukum ini diberlakukan untuk mendinamisasi kehidupan. Agar manusia bisa belajar dari pengalaman hidupnya dan merasakan beragam keadaan. Hingga menjadi pribadi yang matang, tangguh dan tegar di atas nilai-nilai kebenaran, apapun keadaannya.
• Saat gagal, ia bisa mengetahui bagaimana rasa kegagalan dan bagaimana menyikapi kegagalan sebagaimana diajarkan Islam. Demikian pula saat mendapatkan kesuksesan. “*Dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman”.*
• Saat mendapat kekalahan, ia bisa mendapatkan banyak pelajaran dan menunjukkan akhlak Muslim saat mendapat kekalahan. Saat mendapat kemenangan, ia bisa menunjukkan akhlak Muslim sebagai pemenang, disamping mendapat banyak pelajaran.
• Gagal dan sukses, kalah dan menang sudah menjadi hukum kehidupan. Yang paling penting tetap berada di jalur yang benar dan tidak menyimpang dari ajaran-ajaran Islam, baik saat kalah atau menang, saat gagal atau sukses.
• Dengan demikian, semua keadaan yang dialami seorang Muslim menjadi kebaikan baginya. Inilah keunggulan yang membedakan seorang Muslim dari orang lain. Bahkan Nabi saw menyatakan kekaguman dan apresiasinya kepada sikap Muslim ini, dalam sebuah sabdanya:
" عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ ؛ إِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ ؛ حَمِدَ اللَّهَ وَشَكَرَ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ ؛ حَمِدَ اللَّهَ وَصَبَرَ، فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ أَمْرِهِ، حَتَّى يُؤْجَرَ فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِهِ ".
“Saya kagum kepada orang Mukmin: Jika mendapat kebaikan, ia memuji Tuhannya dan bersyukur. Jika mendapat musibah, ia memuji Tuhannya dan bersabar. Orang Mukmin diberi pahala dalam semua urusannya, hingga diberi pahala pada suapan (makanan) yang diberikannya ke mulut istrinya”. (Musnad Ahmad, 1492).
• Pastikan Anda mendapat pahala dan pelajaran dari semua keadaan yang dihadirkan Allah dalam kehidupan. Jika tidak, berarti Anda merugi besar.
Jumat, 29 November 2024
MENJAGA SOLIDITAS BARISAN
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh.( QS. As-Shaff ayat 4 )
Bukan hanya sekedar berjuang, namun berjuang di jalan Allah, berjuang di dalam barisan jama’ah, berjuang secara konsisten dan solid seperti bangunan yang kukuh.( sayid )
Allah mencintai orang-orang yang solid di dalam jihad fii sabilillah, disiplin pada tugas dan perannya seperti bangunan yang kokoh. Said bin Jubair berkata : Hal ini perintah Allah SWT kepada orang-orang yang beriman, bagaimana mereka seharusnya di saat memerangi musuh mereka. Qurtubi berkata : Seorang anggota tidak boleh keluar dari barisan di medan perang kecuali karena ada kebutuhan mendesak, atau mendapat tugas dari pimpinan atau ada manfaat yang jelas saat itu seperti adanya peluang untuk engalahkan musuh pada saat itu. ( tafsir al-qurtubi ).
Kamis, 21 November 2024
DELAPAN PEMIKIRAN ISLAM
Dimana dikatakan bahwa adalah:
(1) Da’wah Salafiyah دعوة سـلـفية karena mereka berda’wah untuk mengajak kembali (bersama Islam) kepada sumbernya yang jernih dari kitab Allah dan Sunnah RasulNya.
(2) Thariqah Sunniyyah طريقة سنية karena mereka membawa jiwa untuk beramal dengan sunnah yang suci –khususnya dalam masalah aqidah dan ibadah- semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan mereka
(3) Hakikat Shufiyah حقيقة صوفية karena mereka memahami asas kebaikan adalah kesucian jiwa, kejernihan hati, kontinuitas ‘amal, berpaling dari ketergantungan kepada makhluk, mahabbah fillah dan keterikatan kepada kebaikan.
(4) Hai’ah Siasiyah هيئة سياسية karena mereka menuntut perbaikan dari dalam terhadap hukum pemerintahan, meluruskan persepsi yang terkait dengan hubungan ummat Islam terhadap bangsa-bangsa lain di luar negeri, men-tarbiyah bangsa agar memiliki ‘izzah dan menjaga identitasnya.
(5) Jama’ah Riyadhiyah جماعة رياضية karena mereka sangat memperhatikan masalah fisik dan memahami benar bahwa seorang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada seorang mukmin yang lemah.
(6) Rabithah ‘Ilmiyah Tsaqofiyah رابطة علمية ثـقـافـيـة karena Islam menjadikan tholabul ‘ilm sebagai kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Majelis-majelis ikhwan pada dasarnya adalah madrasah-madrasah ta’lim dan peningkatan wawasan. Ma’had-ma’had yang ada adalah untuk men-tarbiyah fisik, akal dan ruh.
(7) Syirkah Iqtishodiyah شركة إقتصادية karena Islam sangat memperhatikan perolehan harta dan pendistribusiannya. Inilah yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ
“Sebaik-baik harta yang baik adalah yang dimiliki orang yang shalih.” (HR. Ahmad di dalam Al-Musnad IV/202, no. 17835 dengan sanad yang hasan).
مَنْ اَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ اَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ
“Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu diampuni dosa baginya.” (HR. Thabrani)
(8) Fikrah Ijtima’iyah فكرة إجتماعية karena mereka sangat menaruh perhatian pada segala ‘penyakit’ yang ada dalam masyarakat Islam dan berusaha menterapi atau mengobatinya
“Demikianlah, kita bisa melihat bahwa integralitas makna kandungan Islam telah menyatu dengan fikrah kami. Integralitas yang menyentuh semua sisi pembaharuan, dan aktivitas mengarah kepada pemenuhan semua sisi ini.
Pada saat orang-orang selain mereka hanya menggarap satu sisi dengan mengabaikan sisi-sisi yang lainnya, maka berusaha menuju kepada sisi-sisi itu semuanya. memahami bahwa Islam memang menuntut mereka untuk memberikan perhatian kepada semua sisi itu.”
syamil-kamil-mutakamil
(menyeluruh-sempurna-saling menyempurnakan).
Dan seluruh pemikiran di atas bila secara konsisten terpelihara dan dilaksanakan maka dengan sendirinya akan sanggup menghasilkan seluruh sasaran ishlahun nafs:
1. Da’wah Salafiyah untuk mencapai target salimul aqidah (lurus aqidahnya).
2. Thariqah Sunniyah untuk mencapai target shahihul ibadah (benar ibadahnya), salimul aqidah (lurus aqidahnya) dan matiinul khuluq (baik akhlaknya).
3. Hakikat Shufiyah untuk mencapai target mujahadah li nafsihi (melakukan mujahadah terhadap diri sendiri) serta matiinul khuluq (baik akhlaknya)
4. Hai’ah Siasiyah untuk mencapai target mutsaqqoful fikri (luas wawasannya) dan naafi’un li ghairihi (bermanfaat bagi orang lain)
5. Jama’ah Riyadhiyah untuk mencapai target qowwiyyul jismi (kuat fisiknya) dan munazzomun fii syu’uunihi (rapi urusannya)
6. Rabithah ‘Ilmiyah Tsaqofiyah untuk mencapai target mutsaqqoful fikri (luas wawasannya) serta harishun ‘ala waqtihi (perhatian terhadap waktunya)
7. Syirkah Iqtishodiyah untuk mencapai target qaadirun ‘alal kasbi (mampu mencari penghidupan), harishun ‘ala waqtihi (perhatian terhadap waktunya dan munazzomun fii syu’uunihi (rapi urusannya)
8. Fikrah Ijtima’iyah untuk mencapai target naafi’un li ghairihi (bermanfaat bagi orang lain)
“Orang-orang melihat suatu saat ada seorang muslim yang tengah berdoa di mihrab dengan penuh kekhusyu’an sampai menangis dan merendahkan diri di hadapan Allah. Pada saat yang lain terlihat bahwa dia adalah seorang guru yang nasihat-nasihatnya bisa menggetarkan dada setiap telinga yang mendengarnya. Selain itu, ternyata ia juga seorang olahragawan yang handal.
Bagaimana kita?
Wallahua'lam bi shawab
Rabu, 20 November 2024
OBSESI KADER DAKWAH
Kemenangan yang di raih Timnas Indonesia selasa (19/11) malam, setelah mengalahkan Arab Saudi dengan skor 2-0, masih menyisakan euforia.
Obrolan di sosial media masih hangat membahas prestasi yg di raih Timnas, bahkan tetangga saya pagi tadi sambil ngopi masih memutar high light pertandingan semalam lewat hape-nya.
Keinginan dan obsesi yang kuat agar Timnas Indonesia bisa tampil di pentas Piala Dunia 2026, bukan hanya dari pemain Timnas, tapi juga seluruh official, supporter dan juga ratusan juta harapan dari penduduk Indonesia, seakan memberi energi dan kekuatan untuk bisa mengalahkan Timnas Arab Saudi yg merupakan Tim Langganan di Piala Dunia.
Apalagi dengan kemenangan ini kembali membuka asa Timnas untuk bisa lolos sbg runner up atau menjadi peringkat 3 atau 4 untuk lolos ke putaran ke 4.
Inilah salah satu pelajaran yg bisa di ambil oleh para Da'i agar senantiasa memiliki ambisi, obsesi dan dorongan berprestasi (thumuh) yang setiap saat akan menyulut semangat api dakwahnya dan menciptakan karya karya terbaik dalam dakwahnya.
Tentunya prestasi dan karya seorang Da'i yang menjadi ukuran adalah prestasinya Timnas hadapan Allah swt.
Ia bukan tentang obsesi kehebatan seseorang, tetapi merupakan vitalitas iman yang mampu melahirkan energi tenaga jiwa yang dashyat dalam dakwahnya.
Sehingga dengan nuansa imani tersebut mampu menyapu habis kecenderungan pada kemalasan, istirahat dan kesantaian.
Karena ia paham istirahatnya seorang Da'i adalah ketika kaki menginjakkan di surga.
Dengan obsesi (thumuh), Seorang Da'i, akan selalu menautkan jiwanya dengan kehendak Langit. Mereka tidak menginginkan kebesaran dan kemegahan di bumi manusia. Setiap prestasi yang mereka capai selalu berubah jadi 'tangga' yang harus segera di lewati.
Capaian capaian dakwah hari ini bukan untuk di banding bandingkan, tetapi sarana untuk terus melakukan aktivitas kebaikan sampai datang kematian.
Dulu Timnas Indonesia obsesi hanya untuk bisa juara di AFF, tetapi sekarang Timnas kita menatap jauh tinggi untuk bisa tampil di Piala Dunia.
Dorongan seperti ini juga yang harus diAbdul miliki seorang Da'i agar mereka menanam investasi untuk akhirat mereka. Teringat ungkapan yang di sampaikan Umar bin Abdul Aziz setelah menjadi khalifah ;
" Aku memiliki jiwa perindu. Setiap kali ia sampai pada satu tingkat, setiap itu pula ia merindukan tingkat yang lebih tinggi. Kini ia telah sampai pada tingkat tertinggi , yang tiada lagi tingkat yang lebih tinggi dari itu. Dan kini ia hanya merindukan Surga saja".
Saya yakin jika Timnas Indonesia bs lolos Piala Dunia 2026 nanti maka obsesinya akan terus naik, mulai dari bs lolos penyisihan grup, bisa masuk semifinal sampai akhirnya obsesi untuk menjadi juara di Piala Dunia.
Karenanya para Da'i juga harus memiliki obsesi agar Cahaya kehangatan mentari Robbani ini bisa masuk ke dalam setiap pintu pintu rumah di negeri ini, agar cahaya hidayah bisa menangungi seluruh penduduk negeri..tetapi ini sulit terwujud jika para Da'i terlalu lemah (tdk punya obsesi) dan tidak mememiliki daya dorong, terlalu malas, santai dan senang pada yang 'biasa-biasa' saja.
Karenanya jika kehendak, obsesi, azzam sudah membuncah maka kita serahkan takdir kepada Allah.
"Jika engkau telah ber'azzam (membulatkan tekad), maka bertawakallah kepada Allah," ( QS Ali Imron : 159 )
Wallahu'alam
Senin, 11 November 2024
GAGASAN PEMENANGAN
Memenangkan pertarungan memerlukan gagasan gagasan yang brilian dan cemerlang, seseorang yang memiliki mental pemenang tidak pernah berhenti mencari ruang kosong untuk menyalakan gagasannya dan mewujudkannnya menjadi langkah langkah taktis dan strategis, sehingga terbuka lebar pintu kemenangan.
Logistik yang terbatas dan jumlah personil yang kurang secara kwantitatif, tetap dapat meraih takdir kemenangan dengan gagasan gagasan yang berkualitas, efisien dan efektif. Kontribusi gagasan merupakan keniscayaan dalam upaya memenangkan perjuangan, jika sekedar gagasan saja malas berkontribusi, apalagi berkontribusi dengan uang, waktu dan tenaganya.
Keteladanan mengemukakan gagasan brilian dicontohkan oleh sahabat mulia Al Habab bin Al Mundzir, _"Khobiir Asykary"_ atau penasehat militer nya Rasulullah ﷺ.
Pada saat perang Badar Al Habab menyampaikan gagasan strategisnya kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata :
يا رسول الله، أرأيت هذا المنزل، أمنزلاً أنزلكه الله، ليس لنا أن نتقدمه ولا نتأخر عنه ؟ أم هو الرأي والحرب والمكيدة ؟
_Wahai Rasulallah, bagaimanan pendapatmu tentang lokasi ini, apakah lokasi ini Allah ﷻ yang menentukan tempatnya untukmu, tidak boleh kami bergeser dari lokasi ini?_
« بل هو الرأي والحرب والمكيدة »
_Tidak, ini murni pandangan, trick dan strategi perang (kamuflase)_
Kemudian Al Habab menyampaikan inti gagasannya seraya berkata :
يا رسول الله، فإن هذا ليس بمنزل، فانهض بالناس حتى نأتي أدنى ماء من القوم - قريش - فننزله ونغور - أي نخرب - ما وراءه من القلب، ثم نبني عليه حوضاً، فنملأه ماء، ثم نقاتل القوم، فنشرب ولا يشربون
_Ya Rasulallah...ini bukan tempat yang strategis, maka pindahkanlah pasukan ke dekat mata air di dekat lokasi kaum Quraisy, kita ambil tempat itu dan kita jebol aliran airnya ke kolam kolam yang kita bangun, sehingga kita penuhi kolam dengan aliran air tersebut, kita dapat leluasa meminumnya sedangkan mereka tidak dapat meminumnya._
Rasulullah ﷺ pun langsung menyetujuinya, karena perang di tengah padang pasir memerlukan air sebagai modal utama kekuatan dan energi juang pasukan.
Kemudian Sa'ad bin Muadz Radhiyallahu 'Anhu juga mengemukakan gagasannya agar dibangun posko agak tinggi untuk mengantisipasi keadaan darurat dan memprediksi serangan seraya berkata :
« يانبي الله ألا نبني لك عريشاً تكون فيه، ونعد عندك ركائبك
_Ya Nabiyallah...bolehkah kami membangunkan untukmu panggung tempat engkau berada, kami siap siaga berada di sekelilingmu_
Para sahabat berupaya semaksimal mungkin melindungi Rasulullah ﷺ dari serangan musuh dan memberikan keleluasan kepada Rasulullah ﷺ agar dapat mengawasi pasukan dan perjalanan peperangan dari ketinggian tempat berlindungnya.
*IBROH DAN PELAJARAN*
1. Jangan meremehkan gagasan, berapa banyak kemenangan dimulai dari gagasan gagasan yang ringan tapi efektif memenangkan pertarungan.
2. Kebiasaan mengemukakan gagasan akan mengasah ketqjaman berfikir dan berbuat sesuatu untuk kemanfaatan kolektif, dan kemenangan yang terukur, terstruktur dan sistemik.
3. Allah ﷻ menganugrahkan akal pikiran untuk dieksplorasi membuahkan gagasan, khususnya gagasan gagasan yang terkait dengan kemenangan perjuangan, khususnya memenangkan pertarungan Pilkada yang tinggal hanya menghitung hari menjemput takdir kemenangan. Allah Al Musta'aan.
Kamis, 07 November 2024
KEBAHAGIAAAN VERSUS KESENANGAN
BANYAK orang yang tak tahu perbedaan kebahagiaan dengan kesenangan. Padahal keduanya paradoks dan saling menisbikan satu sama lain.
Jika kita ingin bahagia, maka tinggalkanlah kesenangan. Sebaliknya jika ingin senang, maka kebahagiaan sulit diperoleh. Tidak bisa seseorang mendapatkan keduanya, bahagia dan senang pada saat bersamaan.
Dalam bahasa Inggris, bahagia adalah happy atau happiness (kebahagiaan). Sedang kesenangan adalah pleasure atau fun. Jika dalam bahasa Arab, bahagia itu sa'adah atau sakinah. Sedang kesenangan itu syahwat atau mata'.
Biasanya al Qur'an menggunakan istilah syahwat atau mata' untuk hal yang negatif. Misalnya, dalam surah ali Imran ayat 14 :
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang disenangi, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
"Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya" (Qs. 3:198).
Setiap orang ketika ditanya, hidup untuk apa? Mereka pasti menjawab untuk mencari kebahagiaan (padanannya mencari ridho Allah, mencari pahala, berguna bagi orang banyak, masuk surga, dan semacamnya).
Namun apakah benar hidupnya untuk mencari bahagia? Jangan-jangan bukan kebahagiaan yang dicari tapi justru kesenangan yang negatif dan menyengsarakan.
Oleh karena itu agar tidak terjebak pada pencarian semu-yakni mencari bahagia tapi justru malah terperangkap pada kesenangan yang menyengsarakan-mari kita pelajari apa perbedaan antara kebahagiaan dan kesenangan.
1. Ditinjau dari sasarannya.
Bahagia itu sasarannya adalah kepuasan dan ketenangan hati. Sedang kesenangan sasarannya lebih banyak kepada kenikmatan jasmani.
Jadi makan enak itu senang, tidur di kasur empuk itu senang, naik mobil mewah yang nyaman itu senang.
Tapi sholat khusyu' itu bahagia. Shaum itu bahagia. Membantu orang lain itu bahagia.
Jadi bahagia adalah bahasa hati yang seringkali tidak ada hubungannya dengan kenikmatan jasmani.
2. Ditinjau dari sifatnya.
Bahagia itu objektif dan bersifat universal. Sebaliknya, senang itu subyektif dan bersifat personal.
Allah menciptakan hati manusia secara sama dengan tujuan yang sama, yakni untuk bahagia.
Agar hati manusia bisa bahagia, Allah SWT --sebagai pencipta hati manusia-- telah menetapkan caranya, yaitu dengan berzikir dan dekat kepada Allah serta melaksanakan segala perintah-Nya.
Sebaliknya, kesenangan itu subyektif tergantung masing-masing orang.
Ada orang yang kesenangannya bermain musik, menggambar, main judi, mabuk, motoran, dan lain-lain, biasanya disebut passion, yang bisa baik atau buruk.
Jadi jika ada orang yang berkata, "Ngapain loe ngatur-ngatur hidup gue. Cara loe bahagia beda dengan cara gue", maka itu maksudnya subyektifitas terhadap kesenangannya yang berbeda.
Sedang bahagia itu obyektif dan hanya satu caranya, yaitu dengan banyak berzikir dan mendekatkan diri kepada Allah.
"Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" (Qs. 13:28).
3. Ditinjau dari dampaknya.
Bahagia itu berdampak pada ketenangan. Senang berdampak pada ketagihan.
Orang yang bahagia akan merasa tenang dan tenteram. Sebuah perasaan yang damai dan merasa puas terhadap apa yang didapat. Tidak menagih dan kecanduan.
Sedang senang akan membuat orang yang mengalaminya ketagihan. Ia ingin mengulangi hal tersebut terus menerus, bahkan dengan dosis yang lebih tinggi.
Contoh, memakai narkoba akan menyebabkan orang senang dan kesenangan tersebut menjadi candu yang menuntut penambahan dosis sampai taraf yang membahayakan dan sulit dihentikan.
Begitu juga kesenangan-kesenangan lainnya cenderung membuat ketagihan untuk menambah dosisnya yang berujung kepada kerusakan dan kesengsaraan.
4. Ditinjau dari jangka waktunya.
Bahagia itu langgeng (lebih lama). Senang itu temporer.
Bahagia yang dirasakan seseorang biasanya berjangka panjang. Jika pun diulang seperti sholat yang dilakukan berulang-ulang maka hal itu adalah cara seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan jangka panjang.
Sebaliknya, senang itu sangat temporer. Contohnya, ketika seseorang berhubungan seksual. Nikmatnya hanya berlangsung singkat. Setelah itu rasa nikmat dan senang itu sudah hilang.
Dan harus diulang lagi untuk mendapatkan kesenangan serupa, bahkan kalau bisa menambah dosisnya agar memperoleh efek kesenangan yang sama.
Itulah sebabnya saat ini makin banyak penyimpangan seksual yang terjadi karena mereka mencari kesenangan yang menuntut dosis kecanduan yang lebih tinggi lagi.
5. Ditinjau dari penampakannya.
Bahagia itu belum tentu terlihat nyaman dan indah dalam penampakan secara kasat mata. Senang pasti berupa kenyamanan dan biasanya indah dipandang mata.
Orang yang bahagia belum tentu hidup kaya raya dan tinggal di alam bebas, tapi bisa juga kebahagiaan diperoleh oleh mereka yang hidup kekurangan secara materi atau bahkan hidup di dalam penjara seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf as. Nabi Isa as yang hidup papa atau Nabi Ayub as yang sakit sepanjang hidupnya tetap bahagia walau hidupnya tidak nyaman.
Namun kesenangan pastilah berupa suasana yang nyaman dan enak, seperti tinggal di rumah mewah atau memakai baju yang mahal dan bagus.
6. Ditinjau dari akhirnya.
Bahagia berakhir dengan kesenangan dan ketenangan, terutama di surga kelak.
Senang berakhir dengan kesedihan dan kesengsaraan.
Bagi orang yang mencari bahagia, kesenangan tetap akan diperolehnya tapi kebanyakan akan didapat di surga kelak, sebagai akhir yang baik.
Sebaliknya bagi orang yang mengejar kesenangan, maka hidupnya akan berakhir dengan kesedihan dan nanti di akhirat akan masuk neraka sebagai kesengsaraan tak terperi dan abadi. Naudzubillah.
Kesimpulannya, mari kita mencari kebahagiaan bukan kesenangan. Prinsipnya, semakin bersenang-senang semakin jauh kita dari kebahagiaan.
Sebaliknya, semakin ingin bahagia maka semakin harus menjauhi banyak kesenangan.
Itulah sebabnya para Nabi termasuk Nabi Muhammad saw, para sahabat ra, para ulama dan mujahid di sepanjang jaman menjauhi hidup bersenang-senang untuk memperoleh kebahagiaan.
Jadi bolehkah kita bersenang-senang? Jawabannya boleh saja, tapi harus dikendalikan dan dibatasi.
Kesenangan itu seperti garam dalam makanan, sedikit tapi tetap diperlukan. Jika garam terlalu banyak dalam makanan, maka yang terjadi adalah berbagai penyakit yang merusak tubuh.
Begitu pun kesenangan perlu dibatasi agar hidup kita bahagia. Wallahu'alam.[] Shl
Senin, 28 Oktober 2024
KAPITALISASI POLITIK BUTUH STRIKER
Pada awalnya kapitalisasi merupakan istilah yang populer dalam bidang ekonomi dan bisnis termasuk akutansi. Oleh karena itu saat mendengar istilah ini yang tergambar adalah modal atau uang.
Dalam dunia usaha, kapitalisasi adalah penentuan nilai pembukuan terhadap semua pengeluaran untuk memperoleh aset tetap hingga siap pakai, untuk meningkatkan kapasitas/efisiensi, dan atau memperpanjang umur teknisnya dalam rangka menambah nilai-nilai aset tersebut.
Dalam bidang bahasa, kapital mengacu kepada huruf besar. Oleh karena itu kapitalisasi dalam sudut pandang bahasa adalah menulis 'sesuatu' dengan huruf besar agar menjadi lebih diperhatikan dibanding bila ditulis dengan huruf kecil.
Dalam obrolan politik, istilah kapitalisasi politik, lebih dekat dengan kedua pemahaman diatas.
Yakni kapitalisasi politik dilakukan untuk menarik perhatian orang banyak terhadap suatu isu dan memperpanjang umur isu tersebut agar lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan sesuai dengan keinginan pelaku kapitalissasi.
Disamping itu ada juga yang memahami kapitalisasi politik dengan perilaku politik yang mengandalkan uang (modal kapital) dalam memenangkan kontestasi pemilu dan pilkada.
Kapitalisasi politik terhadap suatu isu, sebenarnya bukan barang baru.
Dalam Sirah Nabawiyah, peristiwa haditsul ifki bisa berkembang dan mampu menggoyang keharmonisan keluarga nabi Saw dengan Aisyah ra. serta mampu membutakan mata sebagian penduduk Madinah atas kemuliaan ummahatul mukminin Aisyah ra, karena ada Abdullah bin Ubai yang mengkapitalisasi politik isu ini bagi kepentingan golongannya, kaum munafikin.
Terkait dengan kapitalisasi politik dalam pengertian pertama, saya pernah ngobrol dengan tukang survei politik, setelah dia memaparkan hasil survei terakhirnya dimana salah satu poin nya tentang pandangan responden terhadap partai yang paling bersih dari korupsi.
Dimana dalam survei tersebut responden mempersepsikan partai yang paling bersih adalah partai merah.
Padahal partai tersebut kadernya menjadi yang paling banyak ditangkap KPK. Jadi katanya, karena pihak lain tidak mampu atau tidak melakukan kapitalisasi isu tersebut untuk menurunkan popularitas dan kredibelitas partai merah tersebut.
Sementara partai putih, hanya satu kasus tetapi pihak lain mampu mengkapitalisasi isu tersebut sehingga menjadi terlihat besar, panjang dan tahan lama.
Disamping itu partai merah tampak nya memiliki kemampuan melakukan mitigasi yang bagus dalam melokalisir isu negatif sehingga tidak menjadi perhatian masyarakat kecil yang menjadi basisnya.
Hal ini mereka mampu lakukan karena kader mereka bisa hidup dan bergaul (terlihat senang dan tidak terpaksa) ditengah masyarakat bawah.
Isu negatif maupun positif akan selalu ada dalam kehidupan politik. Akan merugikan atau menguntungkan suatu isu tergantung kemampuan pengampunya.
Dalam kasus partai putih, isu koalisi dengan pemenang pilpres merupakan isu yang dipersepsi negatif oleh para simpatisannya.
Kemudian, mungkin, karena tidak dimitigasi dengan baik dan tepat waktu dan, mungkin, dikapitalisasi oleh pihak lain yang kecewa, maka tidak sedikit diantara mereka yang menyatakan kecewa dan bahkan mengatakan you and me, end
Saat ini, seharusnya persepsi negatif atas isu tersebut harusnya bisa dibalikkan menjadi sesuatu yang positif setelah ternyata partai putih tidak mengambil jatah menteri, wakil menteri maupun kepala badan untuk kader dan fungsionaris partainya.
Mungkin secara resmi partai tidak terlalu perlu menjelaskan. Tetapi relawan literasi seharusnya mendapatkan arahan untuk bergerak aktif untuk mengkapitalisasi isu positif.
Sehingga paling tidak, bisa membawa kembali para simpatisan yang sempat mengatakan "end" menjadi "and...". Tentu sangat disayangkan.
Kebiasaan reaktif, seperti saat isu koalisi, harus berubah menjadi kebiasaan bertindak aktif.
Ketika isu negatif menggelinding seperti bola salju, baru muncul berbagai tulisan yang menjelaskan dan membela muncul diberbagai platform. Ini adalah perilaku reaktif. Berguna tapi kurang efisien.
Bukankah dalam dunia persilatan ada istilah, pertahanan yang paling baik adalah menyerang.
Sebagai kader dakwah, saatnya kita sekarang mengambil peran sebagai striker kapitalisasi isu politik yang berkembang. Isu politik positif mari kita gas, tetapi ketika ada isu sentimen negatif ... coba kita cek ricek dulu ... tanya dulu pada yang kompeten tidak asal share tidak asal coment .. bijak terhadap jempol kita itu adalah yang utama ...
selamat berproduktifitas kawan .. jadilah trend setter bukan hanya followers.
Wallahua'lam bi shawab
Rabu, 16 Oktober 2024
PRESIDEN DAN ORANG-ORANG DEKATNYA
oleh: aunur rafiq saleh
وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِ يْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ ۚ تُرِ يْدُ زِ يْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَا نَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
"Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas." (QS. Al-Kahf: 28)
• Ayat ini oleh sebagian ahli ilmu dikategorikan ke dalam ayat kepemimpinan. Karena ayat ini ditujukan langsung kepada Nabi saw. Setiap ayat yang ditujukan kepada Nabi saw boleh dijadikan pelajaran atau ibrah secara umum bagi para pemimpin.
• Diantara isyarat ayat ini, bahwa seorang pemimpin pasti menghadapi ujian dan cobaan, untuk menguji kepemimpinannya. Terutama kepemimpinan yang punya kewenangan besar dan berimplikasi pada kepentingan materi duniawi.
• Diantara ujian dan godaan pemimpin adalah "orang-orang yang mengelilinya". Dalam ayat lain, mereka ini disebut "bithanah" (QS. Ali Imran: 118).
• Pengaruh bithanah ini sangat besar karena mereka ini sangat akrab atau dekat dengan pemimpin. Merekalah yang memberikan masukan, arahan, pandangan dan informasi kepada seorang pemimpin sebelum mengambil keputusan dan kebijakan.
• Orang-orang yang mengelilingi pemimpin ini ada dua kategori: Bithanah yang memerintahkan kebaikan dan bithanah yang memerintahkan keburukan. Sabda Nabi saw:
مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى
"Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi atau mengangkat seorang khalifah melainkan ia mempunyai dua bithanah, bithanah yang memerintahkannya kebaikan dan memotivasinya, dan bithanah yang menyuruhnya berbuat keburukan dan mendorongnya, maka orang yang terjaga adalah yang dijaga Allah ta'ala. " (Bukhari 6659)
• Sedemikian dekat dan besar pengaruh bithanah ini sampai Nabi saw mengungkapkannya dengan kata "memerintahkannya".
• Bithanah yang memerintahkan keburukan akan berusaha keras memengaruhi keputusan dan kebijakan pemimpin agar sesuai kepentingan pribadi dan duniawi mereka. Mereka berusaha memengaruhi pemimpin dengan segala cara. Bila tidak berhasil memengaruhinya secara langsung maka dilakukan melalui anak, istri dan keluarga dekatnya. Diajak berbisnis bersama atau diberikan pelayanan istimewa dan lainnya sehingga anak, istri dan keluarga dekatnya inilah yang akan menjalankan peran bithanah yang memerintahkan keburukan.
• Untuk menguatkan pengaruhnya terhadap seorang pemimpin, bithanah yang tidak baik ini diantaranya melakukannya dengan cara menyingkarkan atau melemahkan bithanah yang memerintahkannya kepada kebaikan. Karena itu di dalam ayat ini disebutkan:
وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِ يْدُوْنَ وَجْهَهٗ
"Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya" (al-Kahfi: 28)
• Lanjutan ayat ini mengisyaratkan bahwa upaya memengaruhi kebijakan seorang pemimpin dilakukan dengan menggelontornya dengan dunia hingga sang pemimpin terpengaruh dan berpandangan materialis, atau pertimbangan-pertimbangan duniawi sangat mendominasi kebijakannya. Karena itu disampaikan peringatan kepada seorang pemimpin:
وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
"dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (bithanah yang saleh) karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia" (al-Kahfi: 28)
• Kemudian bagian akhir ayat ini memperingatkan seorang pemimpin agar tidak tunduk kepada keinginan bithanah yang buruk tersebut karena mereka itu akan merusak kepemimpinannya disamping akan membuat seorang pemimpin lalai dari mengingat Allah dan memperturutkan hawa nafsu sebagaimana karakter para "inner circle" tersebut mengimbas pada diri sang pemimpin:
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
"dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati ba."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 28)
• Ini salah satu ujian dan cobaan berat yang dihadapi seorang pemimpin. Bila seorang pemimpin bisa mengendalikan "inner circle" nya dengan benar dan baik, dengan memberikan ruang yang lebih besar kepada "para pembisik yang saleh" maka dia akan sukses dalam kepemimpinannya. Bila "para pembisik buruk" yang dominan maka mereka itu bisa merusak kepemimpinannya.
• Di sisi lain, para "inner circle" yang saleh harus berusaha keras membentengi seorang pemimpin agar tidak terbawa larut dengan "para pembisik" yang tidak baik.
Senin, 23 September 2024
Mengapa Kekuasaan yang Terlalu Lama Cenderung Beracun?
Oleh: Cahyadi Takariawan
Pagi ini saya menyimak ulang ulasan Theodor Schaarsmidt berjudul “When Power Turns Toxic”, yang ditulis tahun 2017 lalu. Sebuah pertanyaan menggelitik dia lontarkan, terkait perubahan karakter pemimpin.
“Mengapa banyak pemimpin bisa berubah, dari seorang pemimpin yang awalnya merakyat, menjadi seorang tiran?” Ini pertanyaan kritis Schaarsmidt.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita akan segera teringat ungkapan sejarawan John Dalberg Acton, di akhir abad 19, yang menunjukkan efek racun dari kekuasaan. “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Bahwa kekuasaan cenderung merusak, dan kekuasaan absolut merusak secara absolut.
Namun Schaarsmidt mencoba memberikan pandangan alternatif. Mungkin saja para politisi papan atas, CEO, dan mereka yang menduduki jabatan puncak dengan cepat di bidangnya, telah memiliki kecenderungan yang kejam dan otoriter sejak awal. Bisa jadi sifat-sifat itu membantu mereka untuk mengambil dan menggunakan kekuasaan dengan lebih mudah.
Berbagai Studi Perubahan
Banyak studi psikologi yang bisa digunakan untuk memberikan tambahan jawaban atas pertanyaan Theodor Schaarsmidt tersebut. Bertrand Russell, filsuf dan matematikawan Inggris, memahami bahwa kekuasaan bagi ilmu sosial ibarat energi bagi fisika—yaitu kekuatan pendorong mendasar perilaku manusia.
Mengapa para pemimpin bisa berubah sifatnya? Psikolog sosial Susan T. Fiske dari Universitas Princeton memandang, kekuasaan yang luar biasa memang dapat membuat orang merasa dibenarkan untuk menggunakan dan menyalahgunakannya.
“Power allows people to act freely. Kekuasaan memungkinkan orang untuk bertindak bebas,” ujar Susan Fiske.
Selanjutnya Schaarsmidt menunjukkan beberapa hasil studi bahwa seiring bertambahnya pengaruh seseorang, mereka cenderung kehilangan empati dan ketertarikan pada detail. Namun tentu saja, hal itu tidak berlaku untuk semua orang yang berkuasa.
Pada tahun 2003, psikolog Adam D. Galinsky dan rekan-rekannya meneliti bagaimana perubahan kecil dalam persepsi manusia tentang kekuasaan dapat mengubah tindakan secara drastis.
Dalam satu percobaan, Galinsky membagi 66 peserta menjadi dua kelompok. Separuh peserta diminta untuk menulis tentang sebuah kondisi di mana mereka menggunakan kekuasaan atas orang lain. Sedangkan separuh lainnya diminta menulis tentang ketika orang lain memegang kekuasaan atas mereka.
Galinsky dan timnya menggunakan latihan menulis ini untuk “mempersiapkan” para relawan agar merasa berkuasa, atau merasa tidak berdaya. Selanjutnya mereka membawa para peserta ke ruangan lain untuk melakukan tugas.
Saat para peserta menjalankan tugas yang diberikan, sebuah kipas angin bertiup langsung—dan mengganggu—ke wajah mereka. Para peneliti mengamati bahwa di antara para peserta yang dipersiapkan untuk memiliki kekuasaan, sekitar dua pertiga menyingkirkan unit tersebut. Namun, di antara mereka yang dibuat merasa “tidak berdaya”, hanya kurang dari sepertiga yang berani melakukan tindakan yang sama.
Psikolog sosial Dacher Keltner dari University of California, yang telah melakukan penelitian serupa menyatakan, ketika manusia merasa tidak berdaya, tindakan mereka cenderung terhambat. Mereka berkonsentrasi pada kebutuhan orang lain dan lebih peka terhadap hukuman. Namun saat memiliki pengaruh, mereka menjadi lebih reseptif terhadap penghargaan dan memberi diri mereka lebih banyak kebebasan.
Kekuasaan Potensial Mengubah Sifat Seseorang
Studi tentang “Cookie Monster” yang dilakukan Keltner dan rekan-rekannya; secara acak meminta satu relawan dalam kelompok yang terdiri dari tiga orang– untuk menilai kinerja yang lain saat mereka mengerjakan tugas yang membosankan, seperti menyusun kebijakan universitas. Begitu kelompok itu tampak mulai gelisah, para ilmuwan menawarkan mereka lima kue keping cokelat dalam satu piring.
Para peneliti menemukan bahwa ketika sampai pada kue terakhir, para penilai yang menganggap diri mereka memiliki posisi yang lebih berwenang, jauh lebih mungkin untuk mengambilnya. Kamera tersembunyi mengungkapkan bahwa para penilai juga makan seperti monster berbulu biru dari Sesame Street—mulut terbuka, bibir berdecak, remah-remah beterbangan. Mereka tidak peduli apa yang dipikirkan “bawahan” tentang mereka.
Penelitian lain telah memperluas temuan Keltner. Bahwa semakin banyak kekuasaan yang diperoleh seseorang, semakin sedikit norma sosial yang bisa mereka patuhi.
Banyak akademisi menggunakan istilah “Machiavellian” untuk menggambarkan para pemimpin yang mengejar tujuan tanpa memperhatikan batasan moral atau hukum. Mereka sepenuhnya berfokus pada status, selalu mencari keuntungan pribadi, dan memanfaatkan orang lain untuk tujuan mereka sendiri.
Psikolog memasukkan Machiavellianisme sebagai bagian dari ciri-ciri kepribadian ”gelap”, di samping narsisme dan psikopat. Psikolog Kibeom Lee dari University of Calgary di Alberta dan rekan-rekannya telah menunjukkan bahwa orang-orang yang mendapat skor tinggi dalam ketiga ciri kepribadian ini, cenderung mendapat skor rendah dalam ukuran kejujuran dan kerendahan hati. Orang-orang ini akan melakukan apa saja untuk mencapai kekayaan materi dan dominasi sosial.
Studi juga menemukan bahwa orang-orang yang berkuasa cenderung melebih-lebihkan kemampuan mereka, mengambil risiko yang lebih besar, berpikir dalam kerangka stereotip, dan cenderung mengabaikan sudut pandang pihak luar. Keltner menyatakan, “Keterampilan yang paling penting untuk memperoleh kekuasaan dan memimpin secara efektif, adalah keterampilan yang justru menurun begitu seseorang memiliki kekuasaan.”
Pada tahun 2015, ekonom Samuel Bendahan dari Universitas Lausanne di Swiss dan rekan-rekannya mengukur perubahan ini menggunakan metode “permainan diktator”. Mereka membagi hampir 500 subjek ke dalam kelompok-kelompok kecil, menugaskan beberapa peserta untuk membagi sejumlah kecil uang dengan anggota kelompok mereka.
Para peneliti menemukan bahwa semakin besar pengaruh yang diberikan kepada subjek uji, semakin tidak etis pengambilan keputusan mereka. Di antara mereka yang memiliki lebih sedikit kekuasaan, kurang dari setengahnya memilih untuk menyimpan lebih banyak uang untuk diri mereka sendiri. Namun, angka itu meningkat hingga hampir 90 persen di antara mereka yang memiliki otoritas lebih besar dalam permainan tersebut.
Kekuasaan terlalu sering menempatkan para penguasa dalam situasi di mana kepribadian mereka berubah dengan cara yang tidak terduga; dan dapat memunculkan sifat-sifat yang sebelumnya terpendam. Namun, banyak eksperimen menunjukkan bahwa efek kekuasaan semacam itu tidak terjadi secara otomatis.
Nyatanya, meskipun banyak orang berkuasa yang mengeksploitasi anggota tim mereka, namun banyak orang lain akan menggunakan wewenang mereka untuk bertindak tanpa pamrih. Sosiolog Max Weber memandang kekuasaan sebagai kesempatan bagi orang atau kelompok “untuk mewujudkan keinginan mereka sendiri dalam tindakan komunal, bahkan terhadap perlawanan orang lain.”
Apakah para pemimpin menggunakan pengaruh mereka untuk kebaikan secara kolektif, atau untuk mendapatkan keuntungan bagi mereka sendiri, bergantung pada banyak faktor. Lord Acton menyatakan bahwa kekuasaan dapat merusak—dan ternyata memang sering terjadi—tetapi penelitian modern juga meyakinkan kita bahwa hal negatif itu tidak harus terjadi.
Rabu, 18 September 2024
Visi Misi LAZADHA
VISI
Terwujudnya Lombok Barat yang Maju, Mandiri dan Berkeadilan
MISI
1. Mewujudkan Sumber Daya Manusia berkualitas, berdaya saing global dan berkarakter
sehingga mampu terlibat aktif dalam pembangunan dan transformasi sosial yang
inklusif, adaptif dan inovatif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara
2. Mewujudkan transformasi ekonomi berkelanjutan melalui diversifikasi ekonomi dan
hilirisasi sumber daya unggulan, meningkatnya kontribusi sektor pariwisata dan sektor
unggulan daerah, munculnya industri kreatif, green & blue economy, bisnis rintisan
start up dan market place berbasis informasi teknologi
3. Mewujudkan ketahanan keluarga, sosial dan budaya berbasis kearifan lokal dalam
tatanan masyarakat yang aman, nyaman dalam harmoni sosial
4. Mewujudkan pembangunan infrastruktur yang merata dan berkeadilan,
pengembangan kawasan dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, serta
peningkatan aksesabilitas dan konektifitas antar wilayah yang berkesinambungan dan
berwawasan lingkungan
5. Menghadirkan transformasi tata kelola pemerintahan yang terbuka dan kolaboratif
(open & collaborative governance), melayani, akuntabel, bersih dan bebas korupsi
melalui transformasi digital dan perluasan partisipasi publik.


















.jpeg)




















