Rasulullah Saw adalah da'i pertama dan utama. Beliau menjadi contoh yang tidak akan pernah mengecewakan dalam berbagai bentuk atau metode dakwah. Apakah itu dakwah siriyah, jahriyah dan pembentukan negara, atau dakwah bil lisan, bil hal, bil qolam dan bil hikmah, maupun dakwah struktural dan dakwah kultural. Bahkan berjihad mengangkat senjata karena dakwah dihambat dan ditantang.
Semuanya pernah dilakukan dan dicontohkan oleh beliau Saw.
Kita tinggal mencontoh dan menerapkannya sesuai dengan situasi dan kondisi kekinian dan kedisinian yang kita hadapi. Tanpa menegasikan yang satu dengan yang lainnya.
1). Pada suatu kesempatan Utbah bin Rabi'ah diutus para pemuka Quraisy memberikan tawaran kepada nabi Saw untuk menjadi raja, asalkan nabi menghentikan dakwahnya. Tapi
Nabi Muhammad menolak dengan tegas tawaran tersebut dan bersumpah tidak akan pernah menghentikan dakwah tauhidnya, bahkan jika kaum Quraisy meletakkan matahari di tangan kanannya dan bulan di tangan kirinya.
Kemudian membacakan ayat suci Al-Qur'an (Surat Fushilat ayat 1-5).
Padahal dalam perspektif dakwah struktural, menjadi raja adalah peluang besar. Menjadi penguasa bukan tidak penting, tetapi memahami dengan benar relasi kekuasaan dengan dakwah jauh lebih penting.
2). Dakwah struktural adalah metode dakwah yang memanfaatkan jalur formal, struktur organisasi, lembaga pemerintahan, atau kekuasaan politik untuk menyebarkan nilai-nilai Islam dan menegakkan kemaslahatan umat.
Dakwah struktural mengandalkan jalur kekuasaan, birokrasi, dan politik. Bergerak secara top down, dari "atas ke bawah" menggunakan kekuasaan. Contoh nya, saat kekuasaan Islam telah kokoh di Madinah.
Di-era kini, Wahabi salafi dengan KSA.
3). Dakwah kultural adalah pendekatan dakwah melalui dialog, mengadaptasi, dan memanfaatkan tradisi serta kebiasaan lokal. Strategi ini memasukkan nilai-nilai islami ke dalam budaya yang sudah ada agar pesan agama lebih mudah diterima dan tidak bertentangan dengan tatanan masyarakat.
Pada fase Mekah maupun Madinah, Nabi tidak terhitung banyaknya melakukan metode dakwah ini. Berdialog dengan para tokoh, mendatangi kafilah haji, menampilakan keindahan akhlak islami dlsb. Apa yang dilakukan Muhammad Salah di di liga primer Inggris juga bentuk dakwah kultural.
4). Karakteristik dakwah kultural:
a). Akomodasi terhadap kearifan lokal.
Mengembangkan ajaran Islam tanpa harus menghapus tradisi asli.
Contohnya Nabi Saw memperkuat budaya perlindungan, melindungi kaum yang lemah dari penindasan dan ketidak adilan, seperti hifdul fudhul.
b). Dakwah kultural lebih mengedepankan pendekatan persuasif, dialogis, dan partisipatoris.
c). Media penyampaian dakwah sangat beragam. Memanfaatkan sarana kultural seperti kesenian (tari, musik), sastra, upacara adat, pendidikan, perdagangan, perkawinan hingga lembaga sosial. Saat ini termasuk pemanfaatan platform digital modern sebagai bagian dari kebudayaan kontemporer.
5). Strategi dakwah kultural.
Nabi Saw melakukan berbagai strategi diantaranya:
a). Advokasi.
Yaitu upaya membela, mendampingi, atau memperjuangkan hak-hak kelompok yang tertindas atau rentan. Contohnya, pembebasan dan penghapusan budak, perjuangkan hak pekerja, membela orang tertindas.
b). Charity.
Yaitu tindakan sukarela memberikan bantuan kepada pihak yang membutuhkan.
Bentuk charity (sedekah dan filantropi) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sangat luas, tidak hanya berupa materi tetapi juga tindakan non-materi. Seperti menampung ahlus sufah, menyantuni para janda, anak yatim dan fakir miskin.
c). Empowerment (pemberdayaan).
Nabi Muhammad SAW berusaha mengubah masyarakat dari kondisi ketergantungan menjadi mandiri. Beliau tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek (charity), tetapi membekali umatnya dengan keahlian, modal, dan mentalitas kerja agar bisa berdaya secara berkelanjutan seperti,
(1). Membangun etos kerja dalam kisah sahabat yang meminta minta, agar menjual barangnya dirumah untuk membeli kampak (alat produksi) dan mencari kayu bakar.
(2).Membangun pasar Madinah yang bebas dari monopoli dan riba dari kaum Yahudi.
(3). Tidak membiarkan para migrant (Muhajirin) menjadi beban Anshar tetapi mengerjasamakan keahlian dagang muhajirin dengan keahlian bertaninya Anshar dengan sistem muzara'ah, bagi hasil.
(4). Pemberdayaan edukasi dan literasi (pendidikan) dengan cara memberikan syarat kebebasan tawanan perang Badar untuk mengajari calistung 10 orang penduduk Madinah.
6). Dakwah Islam hadir bukan sebagai problem maker tetapi menjadi problem solver. Seperti yang dilakukan nabi Saw dengan solusi konflik Hajar Aswad, Piagam Madinah yang mengakhiri konflik di Madinah, keharusan mengajar calistung bagi tawanan Badar untuk mengurangi angka buta huruf dlsb.
7). Dakwah kultural adalah bottom up oleh karena itu da'i dituntut untuk ada dan membersamai masyarakat. Sesuai dengan kaidah "nahnu minhum, nahnu ma'ahum dan nahnu lahum."
8). Membangun lembaga pendidikan, LAZ-BMT, Bank Sampah, menjadi ketua masjid atau rukun kematian, klub olahraga dan sebagainya adalah beberapa bentuk dakwah kultural. Hanya kurang disadari dan diseriusi, terutama bila tidak memberikan imbal hasil materi. Wallahu a'lam bi shawab







0 komentar:
Posting Komentar