Ada sesuatu yang sangat penting dari kehadiran seorang aktivis dakwah di tengah masyarakat. Yaitu membuat kebaikan terlihat normal.
Bayangkan seorang karyawan yang setiap pagi datang tepat waktu. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia tidak ikut membicarakan keburukan orang lain. Ia menjaga salatnya. Ia membantu rekan kerjanya.
Ia berani berkata benar. Ia tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ia tetap santun ketika berbeda pendapat. Ia membaca Al-Qur’an ketika memiliki waktu luang. Ia menjaga lisannya. Ia tersenyum. Ia mudah menolong.
Ia tidak merasa perlu mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang aktivis dakwah. Tetapi orang-orang melihatnya. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun.
Perlahan-lahan orang-orang di sekitarnya memahami bahwa ternyata ada cara hidup seperti itu. Ternyata seseorang bisa menjadi profesional tanpa kehilangan spiritualitasnya. Ternyata seseorang bisa mengejar target tanpa menghalalkan segala cara.
Ternyata seseorang bisa menjadi pemimpin tanpa menjadi sombong. Ternyata seseorang bisa tegas tanpa kasar. Ternyata seseorang bisa religius tanpa kehilangan kompetensi. Ternyata seseorang bisa hidup di dunia modern tanpa kehilangan hubungannya dengan Allah.
Di sinilah dakwah bekerja dengan cara yang sangat halus. Tanpa podium. Tanpa mikrofon. Tanpa spanduk. Tanpa acara besar. Kebaikan menjadi terlihat. Kebaikan menjadi dekat. Kebaikan menjadi mungkin.
Dan bukankah manusia sering kali membutuhkan contoh sebelum mampu melakukan sesuatu? Ketika satu orang menjaga salat di tengah kesibukan, orang lain mulai merasa bahwa menjaga salat itu mungkin.
Ketika satu orang berani jujur di tengah lingkungan yang permisif, orang lain mulai percaya bahwa kejujuran masih bisa dipertahankan.
Ketika satu orang menggunakan waktu menunggu untuk membaca Al-Qur’an, orang lain mulai berpikir bahwa waktu luang ternyata bisa digunakan dengan cara yang berbeda.
Begitulah kebiasaan tarbawi menular. Satu kehidupan memengaruhi kehidupan yang lain.
****
Sesungguhnya kehidupan seperti ini bukanlah kehidupan yang aneh. Inilah kehidupan para nabi. Inilah kehidupan para ulama. Inilah kehidupan orang-orang saleh sepanjang sejarah.
Mereka tidak pernah memisahkan antara kehidupan dan dakwah. Ketika berdagang, mereka berdakwah. Ketika memimpin, mereka berdakwah. Ketika melakukan perjalanan, mereka berdakwah. Ketika duduk bersama keluarga, mereka berdakwah. Ketika berinteraksi dengan masyarakat, mereka berdakwah.
Tentu bentuknya berbeda dengan kehidupan kita hari ini. Hari ini kita hidup di tengah gedung perkantoran. Kita menggunakan laptop. Kita menghadiri rapat melalui layar. Kita naik pesawat.
Kita berbicara tentang target, KPI, produksi, anggaran, proyek, teknologi, dan organisasi. tetapi jiwa yang dibutuhkan tetaplah jiwa yang sama. Jiwa yang selalu bertanya, “Kebaikan apa yang bisa saya hadirkan di sini?” “Nilai apa yang bisa saya tanamkan melalui pekerjaan ini?”
“Siapa yang bisa saya kuatkan hari ini?” “Apa yang bisa saya lakukan agar orang lain menjadi sedikit lebih dekat kepada kebaikan?” Inilah jiwa seorang murobbi.







0 komentar:
Posting Komentar