DALAM sejarah Islam, nama Thalhah bin Ubaidillah ra dikenal sebagai simbol keberanian, pengorbanan, dan cinta luar biasa kepada Rasulullah saw. Ia bukan hanya seorang sahabat biasa, tetapi termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
Kehidupannya dipenuhi perjuangan. Hartanya digunakan untuk membantu Islam. Tenaganya dipersembahkan untuk dakwah. Bahkan tubuhnya sendiri dijadikan tameng demi melindungi Baginda Rasulullah saw.
Tholhah bin Ubaidillah ra berasal dari kalangan Quraisy yang terpandang dan kaya. Sejak muda ia dikenal sebagai pedagang sukses. Ia sering bepergian membawa barang dagangan hingga ke negeri Syam.
Suatu hari ketika berada di pasar Bushra di Syam, seorang pendeta berkata kepada rombongan Quraisy : "Apakah di antara kalian sudah muncul seorang nabi di Makkah?"
Ucapan itu membuat Tholhah penasaran. Setelah kembali ke Makkah, ia mendengar kabar bahwa Muhammad saw telah diangkat menjadi Rasul Allah dan mengajak manusia kepada tauhid.
Tanpa ragu, Tholhah segera menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq yang saat itu juga telah masuk Islam. Abu Bakar menjelaskan tentang Islam dan mengajaknya menemui Rasulullah saw.
Akhirnya Tholhah pun masuk Islam. Keputusannya itu membuat kaum Quraisy murka. Ia mendapat tekanan dan siksaan. Bahkan ada riwayat yang menyebut dirinya pernah diikat bersama sahabat lain karena mempertahankan keimanan mereka. Namun semua itu tidak menggoyahkan hatinya. Baginya, iman lebih mahal daripada kenyamanan dunia.
Hari demi hari berlalu. Tholhah tumbuh menjadi sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah saw. Ia ikut berbagai perjuangan bersama beliau. Ia juga dikenal sangat dermawan. Hartanya sering digunakan membantu kaum muslimin. Tetapi pengorbanan terbesar Tholhah ra terlihat jelas dalam Perang Uhud.
Saat itu pasukan muslim mengalami ujian berat. Sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi sehingga pasukan Quraisy menyerang balik dari belakang. Kaum muslimin tercerai-berai. Banyak sahabat syahid. Bahkan tersebar kabar bahwa Rasulullah saw telah wafat.
Dalam suasana kacau itu, hanya sedikit sahabat yang tetap bertahan di sekitar Nabi saw. Salah satunya adalah Tholhah bin Ubaidillah ra. Ia berdiri di hadapan Rasulullah seperti benteng hidup.
Anak panah melesat ke arahnya. Pedang dan tombak menghujani tubuhnya. Namun ia tidak mundur sedikit pun. Tangannya menahan serangan yang menuju Rasulullah saw hingga jari-jarinya terluka parah dan lumpuh.Tubuhnya dipenuhi luka. Ada riwayat yang menyebut lebih dari tujuh puluh luka terdapat di tubuhnya setelah perang Uhud.
Karena pengorbanannya itu, Rasulullah saw sangat memujinya. Beliau bersabda :
"Barangsiapa ingin melihat seorang syahid berjalan di muka bumi, maka lihatlah Tholhah bin Ubaidillah."(HR. At-Tirmidzi)
Masya Allah...
Betapa mulianya seorang sahabat yang rela menjadikan tubuhnya sebagai perisai bagi Nabi saw.
Setelah Rasulullah wafat, Tholhah tetap menjadi sosok yang penuh kebaikan. Ia dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Banyak fakir miskin dibantu olehnya. Ia tidak pernah terlalu mencintai harta meskipun Allah memberinya kekayaan yang banyak.
Konon, jika mendapatkan keuntungan besar dari perdagangan, ia segera membagikan sebagian besar hartanya kepada kaum muslimin. Ia takut jika kekayaan membuat hatinya lalai dari Allah. Inilah kehebatan para sahabat. Mereka memiliki dunia di tangan, tetapi akhirat tetap di hati.
Namun perjalanan hidup Tholhah ra juga berakhir dengan ujian besar. Pada masa fitnah di antara kaum muslimin setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan ra, terjadi konflik dan peperangan yang dikenal sebagai Perang Jamal.
Di tengah kekacauan itu, Tholhah sebenarnya tidak ingin kaum muslimin saling membunuh. Ketika peperangan berlangsung, ia memilih mundur dari medan pertempuran setelah menyadari besarnya fitnah yang terjadi.
Namun takdir Allah telah tiba. Sebuah anak panah mengenainya dengan keras. Ia terluka parah dan akhirnya wafat karena luka tersebut.
Saat menjelang wafat, darah terus mengalir dari tubuhnya. Dalam keadaan lemah, Tholhah berkata : "Aku berharap kematian ini menjadi penghapus dosa-dosaku."
Subhanallah...
Sampai akhir hayatnya, hatinya tetap dipenuhi rasa takut kepada Allah dan harapan akan ampunan-Nya.
Begitulah kehidupan para sahabat. Mereka bukan manusia sempurna tanpa ujian. Mereka menangis, terluka, berjuang, dan menghadapi fitnah zaman. Tetapi hati mereka selalu kembali kepada Allah.
Hari ini kita sering mengeluh hanya karena masalah kecil. Sedikit dihina langsung marah. Sedikit kecewa langsung futur. Sedikit lelah langsung ingin berhenti dari jalan dakwah.
Padahal para sahabat telah memberikan contoh pengorbanan luar biasa demi menjaga agama ini. Tholhah ra mengajarkan bahwa hidup mulia bukan tentang banyaknya harta atau panjangnya usia, tetapi tentang seberapa besar pengorbanan kita untuk Allah Ta'ala.
Karena itu mari bertanya kepada diri sendiri :
Sudahkah kita berkorban untuk Islam?
Sudahkah kita menjaga shalat dan dakwah dengan sungguh-sungguh?
Sudahkah harta, pikiran, perasaan, waktu, dan tenaga kita digunakan di jalan Allah?
Ataukah hidup kita habis hanya untuk dunia?
Semoga Allah menanamkan dalam hati kita semangat pengorbanan, keberanian, dan keikhlasan sebagaimana yang dimiliki oleh Tholhah bin Ubaidillah ra. Semoga Allah mengumpulkan kita bersama Rasulullah saw dan para sahabat di surga-Nya kelak. Aamiin ya Rabbal ‘alamin







0 komentar:
Posting Komentar