Tampilkan postingan dengan label materi ok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi ok. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Januari 2025

ADAB MEMBERI NASIHAT

 


*1. Ikhlas Karena Allah Ta'ala*


Telah diketahui, bahwa Ikhlas dalam beramal menjadi salah satu syarat diterimanya amal. Termasuk ikhlas dikala memberikan nasihat; hanya mengharapkan ridha Allah Ta'ala bukan untuk menunjukkan kelebihan dan kehebatan diri, atau menjatuhkan pihak yang dinasihati.


Allah Ta'ala berfirman:


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ


_“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus ..”_ (QS. Al Bayyinah (98): 5) 


*2. Menggunakan kata-kata yang baik, tepat, dan efektif*


Dalam Al Quran, Allah Ta'ala memerintahkan kita berkata-kata yang baik dengan berbagai macam istilah, seperti:


- Qaulan Sadida (perkataan yang benar) (Al Ahzab: 70)

- Qaulan Karima (perkataan yang mulia) (Al Isra: 23)

- Qaulan Ma'rufa (perkataan yang baik) (An Nisa: 5)

- Qaulan Layyina (perkataan yang lemah lembut). (Thaha: 44)

- Qaulan Baligha (perkataan yang menghujam dalam pikiran dan jiwa) (An Nisa: 63)


Semua ini bertujuan agar pihak yang dinasihati tersentuh jiwa dan pikirannya, serta tunduk hatinya, sehingga berubah lebih baik dr sebelumnya. 


Allah Ta'ala berfirman:


فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ 

_Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu._ (QS. Ali 'Imran: 159)


*3. Jangan sebarkan isi nasihat kecuali ada alasan syar'i*


Hendaknya orang yang menasihati menyembunyikan nasihatnya, apalagi terkait aib pribadi seseorang. Baik itu urusan rumah tangga, maksiat, dan aib lainnya. Di sisi lain, dengan disembunyikan maka bagi yang memberikan nasihat bisa lebih menjaga keikhlasan dlm memberikan nasihat dan terhindar dari bangga diri.


Rasulullah ﷺ bersabda:


 وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ


_Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat._ (HR. Muslim)


Ada pun untuk kekeliruan yang bukan sekedar aib pribadi tapi penyimpangan yang merusak org banyak, merusak masyarakat, negara, dan agama, maka ini boleh dinasihati terang-terangan. Ini bukan termasuk ghibah dan bukan pula tajasus (mencari-cari kesalahan org lain) yg terlarang.


Para salaf mengatakan:


قال ابن عيينة: «ثلاثةٌ ليست لهم غيبة: الإمام الجائر، والفاسق المعلِنُ بفسقهِ، والمبتدعُ الذي يدعو الناس إلى بدعته»


Sufyan bin Uyainah berkata:


Ada tiga hal yg bagi mereka tidak termasuk ghibah:


- Menggunjing pemimpin yang zalim

- Orang fasik yang terang-terangan kefasikannya

- Ahli bid'ah yg mengajak manusia kepada kebid'ahannya. 


(Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 6374)  


 قال الحسن البصري: «ثلاثةٌ ليست لهم حُرمةٌ في الغيبة: فاسقٌ يعلنُ الفسقَ، والأميرُ الجائر، وصاحب البدعة المعلِنُ البدعة»


Hasan Al Bashri berkata


Ada tiga hal yg tidak diharamkan mengghibah mereka:


- Orang fasik yang terang2an fasiknya

- Pemimpin yang zalim

- Pelaku bid'ah yang terang2an bid'ahnya


 (Al Baihaqi Syu’abul Iman No. 9221)  


*4. Jangan tunda nasihat jika memang diminta*


Nasihat jika diminta adalah wajib, maka jangan menundanya. 


KH. Muhammad Muhajirin Amsaar al Bakasi  Rahimahullah menjelaskan:


والنصح واجب إذا طلب, و فى الحديث : الدين النصيحة, و معناه أن من طلب منك النصيحة و الإرشاد فعليك ان تنصحه و ترشده ولا تداهنة ولا تفشه, ولا تمسك عن بيان النصيحة


_Memberi nasihat adalah kewajiban jika diminta. Dalam hadits disebutkan: "Agama adalah nasihat." Maknanya, jika seseorang meminta nasihat dan petunjuk darimu, maka wajib bagimu untuk memberinya nasihat dan petunjuk, tanpa menipunya, tanpa membocorkan rahasianya, dan jangan menahan diri untuk memberikan nasihat tersebut._ (Misbahuzh Zhalam, 4/290)


Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri Rahimahullah mengatakan:


(وإذا استنصحك) أي طلب منك النصيحة (فانصح له) وجوباً، وكذا يجب النصح وإن لم يستنصحه. وقال في اللمعات: هي سنة، وعند الاستنصاح واجبة. والنصيحة إرادة الخير للمنصوح له


_(Jika dia meminta nasihat kepadamu) yaitu memintamu dari nasihat (maka nasihatilah dia), hukumnya wajib, wajib juga memberikan nasihat walau dia tidak memintanya. Disebutkan dalam Al Lum’aat: itu sunah, sedangkan kalau diminta adalah wajib. Nasihat adalah menghendaki kebaikan bagi yang dinasihati._ (Mir’ah Al Mafaatih, 5/213)


*5. Mendoakan*


Bagian ini jangan pernah dilupakan. Sebab, doa adalah senjata orang beriman, dan hati manusia di bawah kekuasaan jari jemari Allah Ta'ala.


Imam Al Munawi menjelaskan:


إذا تمنى أحدكم خيراً من خير الدارين فلْيكثر الأماني فإنما يسأل ربه الذي رباه وأنعم عليه وأحسن إليه فليعظم الرغبة ويوّسع المسألة؛ فينبغي للسائل الإكثار ولا يختصر ولا يقتصر فإن خزائن الجود سحّاء ليلاً ونهاراً ولا يفني عطاؤه عز وجل


_Jika salah seorang dari kalian mengharapkan kebaikan dari dua kebaikan; dunia dan akhirat, maka perbanyaklah harapan (doa). Sesungguhnya ia sedang meminta kepada Rabb-nya yang telah membinanya, melimpahkan nikmat kepadanya, dan berbuat baik kepadanya. Maka hendaknya ia memperbesar keinginan dan memperluas permohonan. Karena sepatutnya bagi seorang peminta untuk memperbanyak (permohonannya), tidak membatasi atau mengurangi (permohonannya), sebab perbendaharaan kemurahan-Nya (Allah) senantiasa tercurah siang dan malam, dan pemberian-Nya tidak akan habis._ *(Faidhul Qadir, 1/320)*


Demikian. Wallahu A'lam 


Wa Shalallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam



Selasa, 24 Desember 2024

MERAWAT API PERJUANGAN





*Mengapa Kita Harus Terus Berjuang di Jalan Dakwah*


“Sesungguhnya Allah akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

(QS. Al-Hajj: 40)


Dakwah bukan sekadar aktivitas rutin atau tugas mingguan yang harus kita tuntaskan. 


Ia adalah panggilan jiwa, amanah suci, dan warisan para nabi. 


Jalan ini terjal, penuh kerikil tajam, bahkan seringkali terasa sepi dan sunyi. 


Namun, di balik semua itu, jalan dakwah adalah jalan yang paling mulia, paling berharga, dan paling penuh dengan keberkahan.


1. Dakwah: Bukan Tentang Hasil, Tapi Tentang Kesungguhan


Sering kali kita bertanya: “Mengapa hasilnya tidak sesuai harapan? Mengapa orang-orang tidak merespon dengan baik?” Tapi ingatlah, dakwah bukan tentang hasil, melainkan tentang proses, tentang kesungguhan kita menanam benih kebaikan.


Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah selama 950 tahun dengan pengikut yang bisa dihitung dengan jari. Tapi apakah beliau berhenti? Tidak. Karena keberhasilan dalam dakwah diukur dari kesetiaan kita pada misi, bukan dari banyaknya pengikut atau besarnya tepuk tangan.


“Dan tidak ada yang disuruh kepada kami kecuali untuk menyampaikan dengan jelas.” (QS. Yasin: 17)


2. Jalan Panjang yang Memerlukan Kekuatan Hati


Dakwah membutuhkan keteguhan hati dan kekuatan jiwa. Setiap kita yang melangkah di jalan ini harus menyadari bahwa rintangan adalah bagian dari paket perjuangan.


Ketika semangat mulai redup, ingatlah:


Dakwah ini bukan tentang kita. Ini tentang menyampaikan risalah Allah ke seluruh penjuru bumi.

Dakwah ini bukan sekadar tugas. Ini adalah kehormatan yang Allah titipkan pada kita.

Dakwah ini bukan tentang kemenangan pribadi. Ini tentang menjadi bagian dari barisan yang Allah ridhai.


“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.”

(HR. Muslim)


3. Jangan Biarkan Rantai Ini Terputus di Tangan Kita


Almarhum KH. Rahmat Abdullah pernah berpesan:


“Ya Allah, jangan jadikan kami pengkhianat dengan memutus rantai dakwah (rekrutmen), karena dakwah ini akan mati ketika rekrutmen tidak berjalan.”


Setiap kita adalah mata rantai dalam perjuangan ini. Jika kita berhenti, rantai itu bisa terputus. Jika kita diam, api perjuangan akan padam. Maka, pastikan kita menjadi mata rantai yang kuat, bukan yang rapuh dan mudah patah.


Rekrutmen dan regenerasi kader adalah nyawa dakwah. Jangan hanya berdiri sendiri. Ajaklah orang lain bergabung. Dakwah tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh segelintir orang.


4. Berjuang dengan Kapasitas Terbaik Kita


Setiap kita memiliki peran masing-masing:


Pengusaha: Bangun ekonomi umat dan dukung dakwah dengan finansial yang kokoh.

Politisi: Perjuangkan nilai-nilai Islam dalam kebijakan publik.

Pendidik: Cetak generasi muslim yang berilmu dan berakhlak mulia.

Relawan Sosial: Jadilah tangan yang memberi, membantu, dan melayani umat.


Apapun posisi kita, berikan yang terbaik. Tidak ada peran yang kecil dalam dakwah, selama dilakukan dengan keikhlasan dan kesungguhan.


“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

(HR. Bukhari & Muslim)


5. Tetaplah Bergerak, Walau Perlahan


Ada saatnya kita merasa lelah, kecewa, atau merasa usaha kita sia-sia. Tapi ingat, dakwah bukan sprint, melainkan maraton yang panjang. Jika lelah, istirahatlah sejenak, tetapi jangan berhenti. Jika semangat meredup, carilah teman seperjuangan yang dapat menyemangati.


Jaga hati tetap ikhlas.

Perbarui niat setiap hari.

Ingat bahwa Allah melihat setiap langkah kecil kita.


“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)


6. Dakwah Adalah Jalan yang Pasti Berujung pada Kemenangan


Sejarah telah membuktikan bahwa perjuangan yang tulus dan konsisten selalu berbuah manis. Bahkan jika kita tidak sempat melihat hasilnya di dunia ini, yakinlah bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap tetes keringat dan doa yang kita panjatkan.


“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

(QS. Muhammad: 7)


7. Doa: Kekuatan Terbesar dalam Dakwah


Jangan pernah remehkan kekuatan doa. Di tengah kesibukan kita berdakwah, jangan lupa untuk terus memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah.


“Ya Allah, kuatkan langkah kami di jalan-Mu. Jangan biarkan kami menjadi mata rantai yang memutus dakwah ini. Jadikan kami bagian dari barisan yang Engkau ridai, hingga kami bertemu dengan-Mu dalam keadaan tersenyum penuh kemenangan.”


Penutup: Teruslah Bergerak, Teruslah Berjuang


Saudaraku, mari kita lanjutkan perjalanan ini dengan penuh keyakinan. Tidak peduli seberapa kecil kontribusi kita, setiap langkah di jalan dakwah adalah investasi abadi di sisi Allah. Kita bukan pejuang pertama di jalan ini, dan kita juga bukan yang terakhir.


Tetaplah berjalan, tetaplah merekrut, tetaplah bergerak! Karena dakwah bukan hanya tentang siapa yang memulai, tetapi siapa yang akan menyelesaikan perjuangan ini.


“Kita bukan siapa-siapa, tapi kita dipilih Allah untuk berada di jalan ini. Maka jangan sia-siakan kehormatan ini!”

Senin, 23 Desember 2024

PENYEBAB BERKAH DICABUT

 


 


1. Tidak adanya sifat takwa dan tidak takut kepada Allah

2. Tidak ikhlas dalam beramal

3. Tidak menyebut nama Allah dalam setiap perbuatan dan tidak melakukan dzikir serta ibadah kepadaNya

4. Memakan barang yang haram dan yang dihasilkan dari perbuatan haram

5. Tidak berbakti kepada kedua orang tua dalam menyianyiakan hak anak

6. Memutuskan tali silaturahmi dan hhubungan kekerabatan

7. Sikap bakhil dan tidak mau berinfak

8. Tidak bertawakal kepada Allah dengan sebenar benarnya

9. Tidak ridha terhadap apa yangtg diberikan Allah dan tidak pernah merasa puas

10. melakukan perbuautan maksiat dan doasa, serta enggan bertaubat dan beritighfar

13. tidak bersyukur kepada Allah atas nikmatnya

14. pertengkaran dan perselidsihan antara suami istri

15. mendoakan kecelakaan bagi diri sendiri, anak anak dan harta benda

Selasa, 17 Desember 2024

UJIAN KEMENANGAN

 




Menjelang Fathu Mekkah saat Rasulullah ﷺ sampai di Dzi Thuwa, di atas unta yang dikendarainya beliau menundukan kepalanya karena ketawadhuannya kepada Allah ﷻ, saat beliau menyadari bahwa Allah ﷻ btelah memuliakannya dengan kemenangan, bahkan sampai tanpa disadari janggutnya menyentuh punuk unta yang dikendarainya.


Kemudian Rasulullah ﷺ bergerak bersama kaum Muhajirin dan Anshar di sekelilingnya, masuk ke dalam Masjidil Haram. Beliau langsung mendekat ke Hajar Aswad dan menciumya lalu mengecup tangannya ( istilam ) dan beliaupun memulai thawafnya, sambil thawaf beliau memegang sebuah busur, sementara di sekeliling Ka'bah 360 patung berhala sesembahan kafir Quraisy, lalu dengan busurnya beliau meruntuhkan patung berhala tersebut satu persatu, seraya membacakan firman Allah ﷻ: 


{ ‏وقل جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا‏ }‏‏[‏الإسراء‏:‏81‏]‏


 ‏{‏ قُلْ جَاء الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا 

يُعِيدُ ‏}‏ ‏[‏سبأ‏:‏49‏]‏ 



_Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. ( Al Isra : 81 )_


_Katakanlah, "Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi." ( Saba : 49 )_


Setelah ayat itu dibacakan patung patung berhalapun jatuh berguguran dengan wajah tersungkur di atas tanah. Kemudain Nabi ﷺ mencari Utsman bin Thalhah pemegang kunci Ka'bah dan mengambil kunci itu darinya, lalu beliau masuk ke dalam Ka'bah dan membersihkan gambar gambar maupun berhala berhalan yang ada di dalamnya, kemudian beliau berbalik dan berdiri di pintu Ka'bah, sementara orang orang Qiraisy menyaksikan beliau berucap :


« لا إله إلا الله وحده، لا شريك له، صدق وعده، ونصر عبده، وهزم الأحزاب وحده، 

 

_Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNYA, Dia telah membenarkan janjiNYA, menolong hambaNYA, menghancurkan musuh musuh dengan ke Esa an NYA._


Lalu Nabi ﷺ pun duduk duduk di halaman Ka'bah, seraya bertanya dimana gerangan Utsman bin Thalhah, kemudian Utsman datang menghampiri beliau, dan beliaupun berkata kepadanya :


هاك مفتاحك يا عثمان، اليوم يوم بر ووفاء،  خذوها خالدة تالدة، لا ينزعها منكم إلا ظالم، يا عثمان، إن الله استأمنكم على بيته، فكلوا مما يصل إليكم من هذا البيت بالمعروف .


_Ini kuncimu Ya Utsman, hari ini hari kebaikan dan  hari menepati janji, ambilah kunci ini  untuk selamanya, hanya orang zhalim yang merampas kunci ini darimu, hai Utsman Allah ﷻ telah mengamanahkan kunci ini kepadamu, makanlah apa yang engkau peroleh dari mengurus Ka'bah ini dengan cara yang baik._


Kemenangan Fathu Mekkah tidak membuat Rasulullah ﷺ sombong, tidak membuat beliau gelap mata menyingkirikan siapa saja yang berkuasa dan memeganng amanah sebelumnya, beliau tidak mengenal politik balas dendam atau politik kebencian, tapi beliau telah menunjukan amanah kemenangannya dengan kemuliaan akhlaknya dengan memberikan maaf dan amnesti massal kepada rakyat Mekkah, yang sebelumnya pernah memusuhinya, mengusirnya dan memeranginya hingg terancam jiwa dan agamanya.


Beliau membuktikan bahwa risalah yang dibawanya benar benar _rahmatan lil aalamin,_ menebar kasih sayang dan  kemaafan kepada semua orang, karena itu Rasulullah ﷺ bersabda di tengah kerumunan rakyat Mekkah setelah kemenangan fathu Mekkahnya :


 يا معشر قريش، ما ترون أني فاعل بكم ؟ قالوا : خيراً، أخ كريم وابن أخ كريم، قال : فإني أقول لكم كما قال يوسف لإخوته : ( لا تثريب عليكم اليوم ) اذهبوا فأنتم الطلقاء .


_Wahai.masyarakat Quraisy, kira kira apa pendapat kalian tentang perlakuan aku kepada kalian? Rakyat Mekkah menjawab :  perlakuan yang baik dari anak saudara kami yang baik, Rasul pun menanggapi seraya bersabda, sesunguhnya aku ingin mengatakan kepada kaian seperti perkataan Yusuf as kepada saudara saudaranya ( tidak ada lagi kesengsaraan  pada kalian setelah hari ini ), pergilah kalian maka kalian adalah orang orang yang  merdeka._


Amanah kekuasaan bagi Nabi ﷺ bukan untuk menghadirkan angkara murka atau dendam kesumat terhadap lawan lawan politiknya, melainkan merangkul dan mengajak semua nya untuk berkolaborasi membangun negeri. Mengubur dalam dalam dendam sejarah masa lalu, merobek lembaran lama dan fokus mengisi lembaran baru dengan torehan emas sejarah kemanusiaan dan peradaban di bawah naungan ridho ilahi berdasarkan tauhid, iman dan takwa kepada Allah ﷻ.


Oleh karena itu narasi yang dibangun adalah narasi yang humanis penuh dengan kehangatan persatuan dan persaudaran sebangsa dan setanah air, oleh karena ketika Saad bin Ubadah yang pernah dipersekusi oleh orang orang Mekkah dengan diseret menggunakan kuda dari Mina ke Masjidil Haram, dia dengan emosionalnya berkata :


اليوم يوم الملحمة اليوم تحرم الكعبة


_Hari ini hari pembalasan, hari ini diharamkan Ka'bah._


Rasulullah ﷺ 

langsung menyanggahnya seraya bersabda :


اليوم يوم المرحمة اليوم تستحل الكعبة


_Hari ini adalah hari kasih sayang, hari ini dihalalkan Ka'bah_


Lalu Rasulullah ﷺ menegaskan sikapnya dalam orasi kemenangan yang disampaikan di depan khalayak kota Mekkah seraya bersabda :


 أيها الناس، إن الله حرم مكة يوم خلق السموات الأرض، فهي حرام بحرمة الله إلى يوم القيامة، فلا يحل لامرىء يؤمن بالله واليوم الآخر أن يسفك فيها دماً، أو يعضد بها شجرة،  فليبلغ الشاهد الغائب .


_Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah ﷻ telah memuliakan kota Mekkah pada saat dimana Allah ﷻ telah menciptakan langit dan bumi, maka Mekkah menjadi terhormat karena keAgungan Allah swt sampaj hari kiamat, maka tidak boleh bagi seseorang yang beriman kepada Allah ﷻ dan hari akherat untuk menumpahkan darah di kota Mekkah, atau menebang pohon pohonnya. Hendaknya yang hadir saat ini menyampaikan kepada yang tidak hadir._


Demikianlah keteladanan amanah memegang keluasaan yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, semoga kota dapat meneladaninya. Amiin



Jumat, 29 November 2024

PERLOMBAAN TANPA BEBAN

 




By : _Khozin Abu Faqih._



Perlombaan yang finishnya Surga, selalu membawa kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan. Apapun ‘hasil’ sementara dalam kehidupan sementara di dunia ini. Sebab selama masih di dunia, semuanya masih dalam posisi perlombaan dari satu tahapan ke tahapan berikutnya, dari satu situasi ke situasi lainnya, dari satu sarana berganti ke sarana yang berbeda, bahkan berlawanan, dan dari satu keadaan ke keadaan lainnya.

Para peserta perlombaan yang mempunyai keyakinan bahwa finish itu di surga, akan menikmati seluruh tahapan perlombaan, mengikuti seluruh perlombaan dengan rasa syukur, dan berbahagia atas segala capaian di setiap tahapan perlombaan yang di sediakan oleh Pencipta swt. untuk diikuti oleh hamba-hamba pilihan-Nya. Karena pada hakikatnya, setiap tahapan perlombaan adalah bekal untuk mengikuti tahapan-tahapan perlombaan berikutnya.



Al-Hamdulillah kita ditaqdirkan oleh Allah swt. dapat mengikuti perlombaan, untuk memenangkan SIMBOL PERJUANGAN dalam PILKADA yang telah menampakkan sebagian kecil ‘hasil’nya yang sementara; para emak-emak yang bekerja luar biasa, seolah tak mengenal lelah, dan seolah urat nadi takut dan khawatir dicabut oleh Allah swt. dari mereka, hingga berjuang, berkorban, dan beraktifitas luar biasa untuk memenangkan SIMBOL PERJUANGAN. 

Bapak-bapak, para pemuda, para remaja, terutama Anggota yang diamanahi menjadi SIMBOL PERJUANGAN; mereka bekerja menyambung siang dengan malam, mengurangi jatah istirahat, menguras persediaan belanja harian rumah tangga, menghabiskan cadangan masa depan mereka, karena mereka yakin rizki itu ada dalam kekuasaan Tuhan-nya, dan perjuangan meminta mereka untuk ikut berlomba dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah swt. memberi balasan terbaik untuk mereka semuanya.



Al-Hamdulillah tahapan perlombaan tersebut telah menampakkan sebagian kecil ‘hasil’nya dalam tabulasi perhitungan suara cepat di berbagai media. Maka para peserta perlombaan yang meyakini finish utamanya adalah Surga, tidak terperangah, jumawa, lemas, bangga, panik, atau sejenisnya. Karena semua adalah bekal untuk mempercepat langkah dalam perlombaan MENDEKAT ke surga yang terdekat dengan Allah swt.

Rasulullah saw. mengajarkan sikap bijak terhadap capaian di satu tahapan perlombaan, agar dapat menjadi bekal untuk optimal dalam tahapan perlombaan berikutnya.

Ibnu Majah, Thabrani, dan Hakim meriwayatkan bahwa Ibunda Aisyah ra. berkata, “Apabila Rasulullah saw. melihat sesuatu yang disukai, maka beliau mengucapkan,

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ ‌تَتِمُّ ‌الصَّالِحَاتُ.

“Segala puji bagi Allah swt.; dengan nikmat-Nya, segala yang baik menjadi lebih sempurna.” Dan, apabila melihat sesuatu yang kurang disukai, maka beliau mengucapkan,

الْحَمْدُ للهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.

“Segala puji bagi Allah swt. dalam segala kondisi.”



Rasulullah saw. juga mengajarkan sikap yang mencerminkan kekuatan dan ketangguhan para peserta perlombaan dalam sabdanya,

الْمُؤْمِنُ ‌الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. 

“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah swt. daripada mukmin yang lemah. Meski masing-masing memiliki nilai kebaikan.”

Karena keimanan itu adalah induk kebaikan, maka apapun yang dilakukan mukmin, berupa amal shalih dan keunggulan-keunggulan dalam mengikuti perlombaan, adalah keutamaan. Jika ada kekurangan atau kelemahan yang menciderainya, maka tidak menghapus keimanan yang menjadi induk kebaikan tersebut. Setelah itu, beliau saw. menyebutkan ciri-ciri sikap yang mencerminkan mukmin yang kuat, yaitu:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.

“Berambisilah pada hal-hal yang membawa manfaat padamu, mohonlah bantuan kepada Allah swt., dan jangan merasa tidak berdaya. Apabila sesuatu menimpamu, maka jangan katakan andai aku melakukan ini dan itu, maka hasilnya akan begini dan begitu. Tetapi katakanlah, “Allah telah mentakdirkan. Dan, apa yang ditakdirkan oleh Allah swt., pasti akan terlaksana. Sesungguhnya kata ‘Andai’ itu membuka pintu syetan.” (HR. Muslim)



Ciri mukmin yang kuat, peserta perlombaan yang tangguh, dan pejuang yang merindukan surga adalah:


1. Fokus pada hal-hal yang bermanfaat bagi tahapan perlombaan berikutnya, yang ujung (finish)nya adalah surga. Maka fokuslah pada hal-hal yang dapat mengantarmu ke surga. 

Apabila ditakdirkan melihat ‘hasil’ sementara yang menyenangkan hati dan nafsu, fokuslah pada rasa syukur, dengan mengakui bahwa itu semua karena karunia Allah swt., bukan karena kehebatan kita, lalu ucapkan segala puji bagi Allah swt. Kemudian pergunakan untuk menjadi tambahan energi, kekuatan, dan sarana untuk mempercepat langkah dalam perlombaan mendekat kepada finish (surga) yang paling dekat dengan Allah swt. Yang Maha Kuasa dan Maha teliti dalam menilai semua peserta perlombaan.

Apabila ditakdirkan ‘hasil’ sementara kurang menyenangkan, maka fokus pada kesabaran atas ‘hasil' sementara dan syukur atas keterlibatan dalam tahapan perlombaan. Sehingga ‘hasil’ tidak membuat panik, kecewa, lemas, sedih, menyesal, bahkan putus asa. Tetapi, menjadi cambuk untuk meningkatkan kinerja dan ketulusan kepada-Nya.



2. Selalu memohon bantuan kepada Allah swt. dalam segala perencanaan, persiapan, pelaksanaan, pengorganisasian, dan pengevaluasian untuk mengikuti tahapan perlombaan berikutnya. Jangan pernah merasa telah mampu, merasa telah siap, merasa tidak perlu pada bantuan Allah swt. Agar tetap terjaga keimanan, kepasrahan, dan ketawakkalan kepada-Nya, dengan terus memperbaiki perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan pengevaluasian. Karena kita ingin mendapat penilaian terbaik dari-Nya.


3. Jangan merasa tidak mampu atau tidak berdaya, meski tantangan sangat besar, kendala sangat rumit, sarana sangat minim, ‘hasil’ sementara kurang memuaskan, atau lain sebagainya. Sebab tiada yang tidak mungkin bagi Allah swt. dan mukmin bekerja dan berlomba untuk meraih keridlaan-Nya, bukan semata-mata untuk mencari kepuasan di panggung sandiwara, medan perlombaan, dan ruang ujian.



4. Jangan pernah menyesali masa lalu, berandai-andai masa lalu, saling melempar kesalahan terkait masa lalu, dan sejenisnya. Misalnya, andai pencalonan lebih dini, maka hasilnya akan lebih baik. Andai yang dicalonkan fulan, maka hasilnya akan lebih baik. Andai dan seribu andai untuk masa lalu, itu jebakan syetan. Namun, melakukan evaluasi dan perbaikan. Tentu sangat dianjurkan, tanpa harus menggugat masa lalu dan menumpukkan ‘apa yang kurang disukai’ pada satu pihak saja.  



Wallahu a’lam.

Senin, 28 Oktober 2024

Menjauhi Sikap Isti’jal

 




Manusia memiliki akal dan hasrat, sehingga manusia memiliki kecenderungan untuk senantiasa mengikhtiarkan kehidupan yg lebih baik dan kualitas sesuai harapan. Manusia juga berpotensi serakah karena syahwatnya dan berpotensi taat karena akal yg dimilikinya.

Satu tabiat awal sikap syahwati Manusia yaitu sikap tergesa2 (isti’jal). Sikap tergesa2, selalu berbanding lurus dgn dominasi syahwat duniawi di dalam hati. Sikap ketergesaan selalu menghiasi kehidupan kita, tanpa kecuali. Hanya manusia yg sadar dan sabar serta memiliki ilmu dan faham tujuan hidup, yg bisa menikmati peran aktifitas apapun dalam proses ruang kehidupan di dunia ini.

Dalam wujud prilaku hidup, ada maqolah dari ulama besar hadits dan guru besar dari para ulama hadits seperti Imam Abu Daud, Imam An-Nasa’i, Imam Ibnu Abi Hatim (anaknya), Imam Abadah bin Sulaiman al-Marwazi, Imam Ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi, Imam Yunus bin Abdul A’la, Imam Muhammad bin ‘Auf ath-Tha’i, Imam Abu Zur’ah ar-Razi, Imam Muhammad bin Harun, Imam Abu ‘Awwanah al-Isfaraini, Imam Ibnu Abi ad-Dunya rahimahumullah. Beliau adalah Al-Imam Al-Hafidhul Kabir An-Naqid Syaikhul Muhaditsin  Muhammad bin Idris bin al-Mundzir bin Daud bin Mihran al-Hanzhali al-Ghathfani Ar-Razi atau Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah (240 – 327 H / 811 – 890 M Iran), beliau mengatakan :

“Tergesa2 itu, seseorang mengucapkan sebelum ia mengetahui, menjawab sebelum ia paham, memuji sebelum ia mencoba, mencela setelah dia memuji, bertekad sebelum ia berpikir, dan melakukan sebelum ia punya kemauan.”

Sungguhpun manusia diciptakan dgn sifat fitrah tergesa2, tetapi seorang muslim tetap dihimbau oleh Allah dan Rasul-Nya untuk menghindari sifat ini. Dalam membina hubungan sosial dgn sesama manusia, tali kekang lidah dan tangan mesti sering dikencangkan supaya tidak buru2 menghasilkan perilaku gegabah.

Panjangkan pikiran, sebelum berucap atau berbuat. Dengarkan penjelasan, sebelum menyanggah. Carilah berbagai alasan cantik untuk saudara seiman, sebelum berprasangka buruk. Tahan komentar, sebelum paham duduk perkara suatu masalah. Teliti berita, sebelum menyebarkan. Kumpulkan bukti, sebelum menyimpulkan. Bulatkan tekad dan luruskan niat, sebelum beramal.

Dalam membina hubungan dgn Sang Pencipta pun, ketergesaan juga akan menghasilkan ibadah yg sekedar ritual tanpa arti dan tanpa makna. Lantunan dzikir mengalir di luar kepala. Hafalan Al-quran juga sudah di ujung lidah. Tapi tak berarti apa2 jika semua keluar begitu lekas.

4 Perkara Berakibat Buruk

Mari kita simak maqalah dari Al-Imam Az-Zuhud Al-Wira’i Ash-Shufi Abul Faidh Tsauban Dzun Nun bin Ibrahim Al-Mishri atau Imam Dzun Nun Al-Mishriy rahimahullah (796 – 859 M, Kairo, Mesir) berkata : 

أَرْبَعُ خِلاَلٍ لَهَا ثَمَرَةٌ: الْعَجَلَةُ وَالْعُجْبُ وَاللِّجَاجَةُ وَالشَّرَهُ، فَثَمَرَةُ الْعَجَلَةِ : النَّدَامَةُ، وَثَمَرَةُ الْعُجْبِ : الْبُغْضَةُ، وَثَمَرَةُ اللِّجَاجَةِ : الْحَيْرَةُ، وَثَمَرَةُ الشَّرَهِ : الْفَاقَةُ

“Ada empat perkara yg memiliki buah (akibat buruk): Sikap tergesa2, ujub (bangga diri), perdebatan, dan rakus (tamak). Maka, buah ketergesa2an adalah penyesalan, buah ujub adalah kejengkelan, buah perdebatan adalah keragu2an, dan buah kerakusan adalah kemiskinan”. (Atsar Riwayat Imam Abubakar Ahmad bin Husain bin Ali bin Abdullah al-Baihaqi Asy-Syafi’i atau Imam Al-Baihaqi rahimahullah wafat 994 – 1066 M, Naisabur, Iran, dalam kitab Syu’abul Iman no. 8215).

Makna Isti’jal

Tergesa2 adalah satu akhlak tercela yg ada di muka bumi ini, yg telah diperingatkan oleh suri teladan umat Islam, Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam. Tergesa2 dalam bahasa Arab disebut isti’jal, kata isti’jal, i’jal, dan ta’ajul memiliki satu arti, yaitu : menuntut sesuatu dikerjakan atau diselesaikan dengan cepat atau segera. Termasuk ‘ajalah dan tasarru’. Yang keseluruhannya memiliki makna yg sama. Dan lawan kata dari isti’jal adalah anaah dan  tatsabbut. Yang artinya adalah pelan2, dan tidak terburu2. Secara istilah, isti’jal berarti keinginan untuk merubah suatu keadaan dalam waktu singkat, tanpa memperhatikan efek buruk yg ditimbulkan, serta tidak disertai persiapan yg matang dan tanpa alur proses yg direncanakan.

Tergesa2 adalah salah satu sifat yg dilarang dalam Islam. Bahkan, tergesa2 dan terburu2 dalam berbuat kebaikan dan melaksanakan ibadah, dapat menjauhkan kita dari tujuan yg hendak dicapai. Juga bisa berpotensi, menjerumuskan kita kepada tindak kemaksiatan, ketidakikhlasan dan kelupaan terhadap persembahan aktifitas terbaik untuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Zaman Serba Cepat

Zaman kini adalah zaman serba cepat, cepat saji, cepat selesai, cepat hasil dan lain lainnya, sehingga orang tidak mengutamakan lagi suatu proses apalagi menikmatinya, termasuk dalam mencari ilmu dan beribadah. Kalau ditilik dari sifat ketergesaan tsb, tentu sudah diperingatkan oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Hadits dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu (612 M, Madinah –  709 M, Basra, Irak), yg diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi rahimahullah, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

التَّأَنِّى مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Sikap pelan2 itu dari Allah, dan sikap tergesa2 itu dari setan.”

Abu Abdullah Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d al-Zar’i Ad–Dimasyqi Al-Hambali atau Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah (28 Januari 1292 M – 15 September 1350, M di Damaskus, Suriah), dalam kitab Ar-Ruuh berkata, “Sifat tergesa2 adalah dari setan. Sejatinya sifat tergesa2 juga merupakan sikap gegabah, kurang berpikir dan berhati2 dalam bertindak. Yang mana sifat ini menghalangi pelakunya dari ketenangan dan kewibawaan. Dan menjadikan pelakunya memiliki sifat menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dan mendekatkan pelakunya kepada berbagai macam keburukan, dan menjauhkann12ya dari berbagai macam kebaikan. Dia adalah temannya penyesalan. Dan katakanlah, bahwa siapa saja yang tergesa2 maka dia akan menyesal”.

Tergesa2 itu melakukan sesuatu sebelum datang waktu yg seharusnya. Muhammad ‘Abdur Ra’uf ibn Tajul ‘Arifin ibn ‘Ali ibn Zainal ‘Abidin al-Haddadi al-Manawi  /al-Munawi Al-Qahiri Al-Mishri Asy-Syafi’i atau Imam Al Munawi rahimahullah (1545 – 1621 M di Kairo, Mesir) menjelaskan dalam kitab Faidhul Qadir Syarah Jamius Shaghir (6/72) sbg berikut :

العجلة فعل الشيء قبيل مجيء وقته

“Tergesa2 itu, melakukan sesuatu sebelum datang waktu yg seharusnya “

Tabiat Manusia

Jadi, jika melakukan apapun dgn tergesa2 berarti melakukan sesuatu tanpa berpikir dan tanpa memperhatikan dgn seksama terlebih dahulu. Sebetulnya Islam sendiri, memandang sifat tergesa2 tsb adalah bagian dari watak dasar manusia. Dan ini sudah diterangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bahwa manusia itu adalah makhluk yg memiliki tabiat tergesa2. Sebagaimana  dalam firman-Nya :

وَكَانَ ٱلْإِنسَٰنُ عَجُولًا

“Dan adalah manusia bersifat tergesa2.” (Surat Al-Isra Ayat 11)

خُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ مِنْ عَجَلٍ

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa2.” (Surat Al-Anbiya Ayat 37)

Sebaliknya, jika hanya bermodalkan semangat dan dorongan jiwa yg belum memungkinkan, maka di sinilah isti’jal merupakan sebuah ‘penyakit’. Sebab, sifat tergesa2 dalam ibadah dan kebaikan (isti’jal) dapat menimbulkan penyakit, salah satunya adalah akan menyebabkan seseorang melemah dan putus asa karenanya, lalu berhenti bermujahadah. Akibatnya, ia gagal atau tidak faham bagaimana mendapatkan kedudukan tinggi yg hendak ia capai.

Sebaliknya juga begitu, jika ia berlebih2an dalam bersungguh2 dan memberatkan jiwanya, ia tidak akan pernah sampai ke tujuan yg diinginkan. Maka, ia berada di antara sikap yang terlalu longgar dan berlebihan. Dan keduanya adalah akibat dari sikap tergesa2.

Ada ungkapan seorang penyair yg mengatakan : “Orang yg bersikap tenang, sering mendapat apa yg diinginkan, sedangkan orang yg terburu2 bisa tergelincir.”

Pembentuk Isti’jal

Terdapat banyak faktor yg ikut membentuk sikap isti’jal pada seseorang, diantaranya adalah :

Pertama, faktor psikologis. Isti’jal (tergesa2 / terburu2), sebagaimana disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam dua ayat diatas, adalah salah satu tabi’at yg melekat pada fitrah manusia.

Jika seseorang tidak dapat mengendalikan sikap isti’jal tsb, dgn penggunaan fungsi kendali “akal” dan pemahaman, atau meredamnya, maka tidak ayal lagi naluri tsb akan mendorongnya untuk melakukan tindakan yg tergesa2, yg akan merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Banyak yg lupa untuk membina dan mengarahkan nalurinya, kepada sikap dan tindakan yg terarah dan terprogram secara baik tidak hanya memperturutkan emosi semata.

Kedua, karena semangat keimanan yg tidak dibarengi oleh penguasaan ilmu dan caranya, maka pasti akan melahirkan tindakan tergesa2. Sehingga, terjadilah pemborosan potensi keimanannya. Karena dis-alokasi potensi yg salah inilah, banyak yg beribadah dgn nafsunya, bukan dgn ilmunya.

Ketiga, Watak dan tabiat zaman, dimana kita hidup sekarang ini. Keberadaan kita di abad teknologi dan informasi yg serba cepat dan canggih ini l, memberi kemungkinan memiliki andil dalam membentuk dan melahirkan sikap isti’jal tsb. Sehingga, para muslim pun ikut terbawa ingin cepat selesai dan ia lupa bahwa makhluk yg bernama manusia itu, tidak sama dgn teknologi informasi yg dapat dipercepat proses pematangannya dan kecanggihannya.

Dampak Buruk Sikap Tergesa2 

Karena sifat ini banyak berakibat buruk pada pelakunya maka pasti tergolong sifat yg dibenci dalam Islam. Diantara dampak buruk sifat tergesa2 adalah: “mengakibatkan kelesuan berkepanjangan (futur).” Banyak orang, yg ingin menyelesaikan suatu pekerjaan dalam waktu sesingkat mungkin, tanpa menyadari kapasitas fisik yg dimiliki. Sehingga, begitu ia menyadari kelemahan dan keterbatasannya, sedang rasa lelah dan letih mulai menyerang, maka ia pun mendadak lemas dan tak bersemangat lagi. Inilah barangkali alasan mengapa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam begitu bijak memandu kita, dalam melakukan amalan2 ibadah.  

Dampak yg lain, adalah bisa mengantarkan para pelakunya pada hasil akhir yg buruk, atau tidak sesuai dgn harapan. Sikap ini, masuk dalam potensi buruk yg bersemayam dalam jiwa manusia, yg membutuhkan pengarahan agar tidak berujung petaka. Siapa pun merasa tak sanggup mengarahkannya dgn baik akan menuai hasil negatif darinya. 

Bisa juga, hal ini sbg rasa yg tidakak sanggup memikul beban berat, dalam waktu yg lama. Maunya instan. Tidak ada kesadaran yg menancap dlm hati dan pikiran, bahwa setiap suatu pencapaian dalam hal aktifitas apapun, selalu membutuhkan jalan yg panjang dan sarat rintangan dan persyaratan. Mereka yg tak mampu memikul beban dan rintangan dalam waktu lama, tentunya akan berusaha menyelesaikan apa yg direncanakan dalam waktu sesingkat mungkin, agar segera terhindar dari rintangan dan beban itu.

Dari keterangan di atas, sikap ketergesaan tsb tidak berarti apa2 bahkan akan membuka pintu masuk bagi syetan, sehingga berbagai penyakit hati akan sangat mudah muncul diantaranya yaitu orang yg tergesa2 lemah dalam komitmen ketaatan, mudah putus asa menjalani ketaatan, hilang kepekaan karena kurang memiliki ilmu dan tiada tujuan, lupa mensyukuri nikmat ketenangan, muncul sikap keidaksabaran sehingga hasilnya amburadul tidak sesuai harapan, atau gagal total, tidak membekas sama sekali dalam prasasti kebaikan. 

Sikap Tergesa-gesa Yang Boleh

Ada sikap tergesa2 yg diperkecualikan atau dianjurkan, sebagaimana keterangan Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah Asy-Syaukani Ash-Shan’ani Al-Yamani atau Imam Ash-Shan’ani rahimahullah (1759–1834 M di Shana’a Yaman), dalam kitab Subulus Salam syarhu Bulughil Maram min Jam’i Adillatil Ahkam (4/201) berkata :

العجلة هي السرعة في الشيء وهي مذمومة فيما كان المطلوب فيه الأناة محمودة فيم يطلب تعجيله من المسارعة إلى الخيرات ونحوها

“Tergesa2, maknanya adalah cepat (terburu2) dalam melakukan suatu perkara, dan ini tercela jika yg dituntut dalam perkara tsb adalah pelan2, namun terpuji jika dalam perkara yg dituntut untuk disegerakan, yaitu dari bentuk berlomba2 dalam kebaikan dan yg semisalnya.”

Menukil dari Kitab Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Asfiya’ karya Al-Imam Al-Hafidh Ahmad ibn Abdullah ibn Ahmad ibn Ishaq ibn Musa ibn Mahran al-Mihrani al-Asbahani al-Ahwal Asy-Syafi’i Al-Asy’ari atau Imam Abu Nu’aim Al Ashbahani rahimahullah (wafat hari Ahad 20 Muharram 430 H / Ahad, 28 Oktober 1038 M di Isfahan, Iran) menyebutkan perkataan berikut ini dari Abu Abdirrahman Hatim ibn Alwan al-Asham atau Hatim Al-Asham rahimahullah (wafat 234 H / 851 M di Khurasyan) : 

وَقَالَ حَاتِمٌ : ” كَانَ يُقَالُ الْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلا فِي خَمْسٍ : إِطْعَامُ الطَّعَامِ إِذَا حَضَرَ الضَّيْفُ ، وَتَجْهِيزُ الْمَيِّتِ إِذَا مَاتَ , وَتَزْوِيجُ الْبِكْرِ إِذَا أَدْرَكَتْ , وَقَضَاءُ الدَّيْنِ إِذَا وَجَبَ , وَالتَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ إِذَا أَذْنَبَ ” .

Ketergesa2an biasa dikatakan dari setan kecuali dalam lima perkara: (1) menyajikan makanan ketika ada tamu (2) mengurus mayit ketika ia mati (3) menikahkan seorang gadis jika sudah bertemu jodohnya (4) melunasi utang ketika sudah jatuh tempo (5) segera bertaubat jika berbuat dosa.”

Lima hal diatas juga termaktub dalam kitab Nashaihul Ibad fi Bayan al Alfadz Munabbihat ala al-Isti’dad li Yaum al-Ma’ad, karya As-Sayyid al-‘Ulama al-Hijaz Asy-Syaikh Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar At-Tanara Al-Bantani Al-Jawi Al-Makki Asy-Syafi’i atau Syaikh Nawawi al-Bantani rahimahullah (1813 -1897 M, Jannatul Mualla Mekkah).

Wallahu A’lam. Semoga bermanfaat !!

Minggu, 20 Oktober 2024

5 SIFAT ULAMA AKHIRAT

 




Oleh: Aunur Rafiq Saleh



• Ada sejumlah sifat dan tanda pengenal bagi ulama yang baik dan arif. Sebagian sifat dan tanda pengenal itu disebutkan oleh Imam al-Ghazali di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Beliau berkata:


و قيل خمس من الاخلاق هي من علامات علماء الاخرة مفهومة من خمس ايات من كتاب الله "الخشية و الخشوع والتواضع و حسن الخلق و ايثار الاخرة على الدنيا و هو الزهد”


“Ada lima akhlak termasuk tanda-tanda ulama akhirat. Lima akhlak ini difahami dari lima ayat al-Quran, yaitu rasa takut, khusyu’, tawadhu’, berakhlak baik dan lebih mengutamakan akhirat dari pada dunia, yaitu zuhud”.


1- Rasa Takut.


Adapun rasa takut, difahami dari firman Allah:


 ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ


“...Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun”. (Fathir: 28)


• Seorang ulama akhirat pasti memiliki  rasa takut yang tinggi kepada Allah. Karena ia sangat mengenal Allah, baik melalui ayat-ayat qauliyah yang selalu dibacanya di dalam al-Quran atau pun melalui ayat-ayat kauniyah yang selalu diperhatikan dan direnungkannya. Karena itu, ia tidak berani menyimpang dari ayat-ayat-Nya. Ia tidak berani menyembunyikan ayat-ayat Allah dan tidak berani menjual ayat-ayat Allah demi mendapatkan reruntuhan dunia, sebagaimana karakter ulama Yahudi:


اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ الْکِتٰبِ وَ يَشْتَرُوْنَ بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۙ اُولٰٓئِكَ مَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ اِلَّا النَّا رَ وَلَا يُکَلِّمُهُمُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَکِّيْهِمْ ۚ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ


"Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya dan Allah tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih." (Al-Baqarah: 174)


• Rasa takut yang kuat kepada Allah ini membuatnya memiliki karakter dan kepribadian yang kuat, tidak mudah memperturutkan hawa nafsu:


وَاَ مَّا مَنْ خَا فَ مَقَا مَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى


"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya," (An-Nazi'at: 40)


2. Khusyu’


Adapun khusyu’, difahami dari firman Allah:


 خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِ ۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗ 


"...karena mereka berendah hati kepada Allah, mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah...”. (Ali 'Imran: 199)


• Ayat ini sangat menarik. Karena mengartikan khusyu’ tidak sebagaimana yang difahami kebanyakan orang selama ini. Tetapi mengartikan khusyu’ dengan “tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah”. 


 • Hati yang khusyu’, pasti tunduk kepada Allah, baik di dalam shalat atau pun di luar shalat. Baik di masjid atau pun di kantor, pasar, pabrik, kampus dan tempat-tempat lainnya. Sehingga tidak berani berbuat melanggar ayat-ayat Allah di mana pun berada, demi mendapatkan sesuatu yang tidak ada harganya bila dibandingkan dengan pahala komitment dengan ayat-ayat Allah.


• Ini sekaligus mengajarkan kepada kita bahwa khusyu’ yang ada di hati itu harus membuahkan sikap dan perbuatan di dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya terlihat di dalam ibadah shalat.


3. Tawadhu’.


Adapun tawadhu’, difahami dari firman Allah:


وَا خْفِضْ جَنَا حَكَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ


"... dan berendah hatilah engkau terhadap orang-orang yang beriman."

(Al-Hijr: Ayat 88)


• Seorang ulama akhirat selalu berendah hati kepada orang-orang beriman. Tidak menyakiti mereka, tetapi senantiasa mengayomi mereka. Mengajari mereka ilmu agama dengan tekun dan sabar. Membimbing mereka dan mengadvokasi hak-hak mereka. Membela mereka yang terzalimi karena kebodohan, bukan mengeksploitasi kebodohan mereka. 


• Diantara manifestasi tawadhu’ adalah  berkhidmat kepada masyarakat dan mudah diakses. Mudah ditemui, mudah dimintai pertolongan. Jika tidak punya harta untuk menolong, ia tetap mengupayakan bantuan dari pihak-pihak yang bisa diakses bantuannya. Sebagaimana Nabi saw mengupayakan bantuan dari orang-orang lain untuk membantu orang-orang fakir yang datang kepadanya meminta bantuan tetapi Nabi saw tidak memiliki sesuatu untuk diberikan.


4. Berakhlak Baik.


Adapun berakhlak baik, difahami dari firman Allah:


فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ 


"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap merereka..” (Ali 'Imran: 159)


• Akhlak adalah sesuatu yang pertama kali dilihat dan dirasakan oleh orang lain dari seorang ulama akhirat. 


• Seorang ulama akhirat pasti punya akhlak yang baik dan terpuji. Karena ia pasti mengamalkan ilmunya. Ia selalu menjadi teladan dalam mengamalkan apa yang disampaikan. Ia bukan tipe ulama Yahudi yang memiliki ilmu tetapi tidak diamalkan. Ia selalu takut kepada peringatan Allah:


كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ


"(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (As-Saff: 3)


5. Lebih Mengutamakan Akhirat Daripafa Dunia, yaitu Zuhud.


Adapun zuhud, difahami dari firman Allah:


وَقَا لَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ وَيْلَـكُمْ ثَوَا بُ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّمَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَا لِحًـا ۚ 


"Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan..." (Al-Qasas: 80)


• Seorang ulama akhirat tidak mudah tertipu oleh dunia yang fana. Tidak mudah menggeser prinsip hanya karena iming-iming dunia. Tidak mudah tertipu oleh pencitraan yang semu. Tidak mudah silau oleh tampilan luar. Karena ia selalu melihat esensi dan hakikat. Karena hati dan pikirannya sudah tertambat dan tenggelam di dalam berbagai kesenangan dan kenikmatan yang ada di akhirat, sekalipun fisik dan raganya masih di dunia. 


• Dunia ini hanya ada di tangannya, tidak pernah masuk dan tertanam di hatinya. Dunia ini mudah datang dan pergi dalam hidupnya, karena tidak pernah menguasai hatinya. Hati dan pikirannya selalu tertambat pada ayat ini:


وَا لْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ وَّ اَبْقٰى


"padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." (Al-A'la: 17)


مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰه باق


"Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal...” (An-Nahl: 96)

Sabtu, 12 Oktober 2024

KEMATANGAN BERFIKIR

 




1. Al usul Isyriin prinsip dasar dalam beraktivitas.. prinsip kelima.

Dan ketetapan pemimpin dan wakilnya, dalam hal yang tidak ada ketetapan nash padanya, dlm yang mengandung berbagai sudut pandang, dan dalam berbagai pertimbangan kemaslahatan , maka ketetapan itu wajib dilaksanakan sepanjang tidak berbenturan dengan kaidah syariah, dan bisa jadi akan berubah ketetapan itu tergantung situasi, adat dan kebiasaan.


2.  Mengedepankan Dialog

Dialog Umar dan Abu Bakar terkait waq'atul Hudaibiyah. 

Umar ra berkata: “Wahai Abu Bakar, bukankah beliau itu Nabi Allah yang sebenarnya?, Ya, sudah barang tentu, jawab Abu Bakar ra. Umar ra berkata lagi : bukankah kita di jalan yang benar dan musuh kita itu di jalan yang bathil?, ya, jawab Abu Bakar lagi, Jika demikian mengapa kita mau direndahkan dalam urusan agama kita?. Abu Bakar menjawab :  wahai saudara, sesungguhnya beliau itu benar benar utusan Allah swt, dia tak akan bermaksiat kepada Tuhannya, dan Dia adalah penolongnya, maka pegang teguh kembalilah ketaatanmu kepadanya.”



Umar menebus kesalahannya mengerjakan amal Sholeh, sedekah, sholat, puasa, memerdekakan budak..sebab mempertanyakan apa yang menjadi keputusan Rasulullah di perjanjian Hudaibiyah. 

Maka Sebagai rasa penyesalan dan untuk menebus kesalahan - maka aku mengerjakan beberapa amalan, aku senantiasa memperbanyak sedekah, puasa, shalat, memerdekakan budak, untuk menebus apa yang telah aku perbuat saat itu, khawatir dengan ucapan yang aku ucapkan

Pesan dalam kisah ini. Ketika ada hal yang bergelayutan dalam pikiran, silakan tanya kepada yang berkepentingan. 


3. Tidak.mudah.menuduh dan paham latar belakang peristiwa. 

Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” [Surat Al-Kahfi: 71]

“Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?"

"Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.”

“Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.” [Surat Al-Kahfi: 79]



Tak boleh melihat masalah hitam putih, tanpa ada proses. Tentang Anies Baswedan jelas prosesnya. 

Kisah Nabi Musa as. Dan orang Sholeh (Khidir) yang diceritakan dalam surat Al Kahfi : 71.

 Tak boleh cepat menuduh tak boleh cepat suudzon. Kita harus meneliti dulu.


4. Siap menerima dinamika dan perubahan. 

Abu Ayub Al Anshary RA : " Ya Rasulallah...kami tak sanggup kalau harus menghadapi pasukan....yang kami.inginkan adalah kafilah dagang..."

Miqdad bin Amir RA : " Ya Rasulallah, sesungguhnya kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, pergilah engkau dan Tuhanmu berperang, kami duduk duduk saja di sini, akan tetapi kami akan mengatakan pergilah engkau dan Tuhanmu berperang, sesungguhnya kami bersamamu dan Tuhanmu ikut berperang....."

Saad bin Muadz RA : " Ya Rasulallah..., sesungguhnya kami beriman kepadamu, kami membenarkanmu, kami yakin apa yang engkau datangka adalah kebenaran, dan kami telah memeberikan untuk itu semua janji setia kami,...maka lanjutkanlah sesuai apa yang diperintahkan Allah swt,...demi Allah, jika engkau mengarungi lautan bersama kami dan engkau siap mengarunginya, maka pasti kami akan mengarunginya bersamamu,....tak ada satupun dari kami yang tidak turut serta,...lanjutkanlah dengan keberkahan Allah swt"


Contoh aktual : para kader dakwah yang langsung dibimbing oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ada rencana pencegatan kafilah dagang kafir Quraisy 

Keluarlah 313 orang pengikut Rasulullah. Pasukan kafir Quraisy di tambah 1000. Kafilah dagang berhasil ke Mekkah. Dan yang 1000 bertemu 313 orang Muslim. 



5. Siap melaksanakan putusan Pimpinan. 

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan)di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`ān) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Sumber ketaatan....tatacara ketaatan....mekanisme dan tata aturan ketaatan....

"Demi Allah...Aku tidak akan melepaskan panji yang telah dicanangkan oleh Nabi saw"


Kesiapan untuk melaksanakan qoror. Jangan sampai hilang karena itu adalah sumber kekuatan. 


Sumber ketaatan....tatacara ketaatan..... mekanisme dan tata aturan ketaatan....


Contoh ketika Rasulullah menyiapkan pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid. 


Abi Bakr berkata "Demi Allah...aku tidak akan melepaskan panji yang telah dicanangkan oleh nabi Saw"


2 Type orang yg tidak mungkin bergabung 

1. Atheis

2. Orang baik, tetapi tidak siap menghormati aturan dan tidak mampu manghargai makna ketaatan.



6. Interpretasi Positif (Takwilul Hasan)

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula). [Surat An-Nur: 11]


"Wahai Abu Ayub seandainya engkau yang jadi Shofwan, apakah engkau akan berbuat jahat terhadap istri Rasulullah?, sedangkan Shofwan jauh lebih baik darimu"

"Seaandainya aku yang jadi Aisyah...tidak akan aku berkhianat sampai kapanpun kepada Rasulullah...sedangkan Aisyah jauh lebih baik dariku...."


Contoh yang selalu hidup. Kisah haditsul Ifki. Surat An-Nur: 11.

Bagaimana sikap seorang kader Abu Ayub Al Anshori. 


Istri Abu Ayub berkata : 

"Wahai Abi Ayub seandainya engkau yang jdi Shofwan, apakah engkau akan melakukan itu kepada Aisyah? Sedangkan Shofwan lebih baik dari mu"

"Seandainya aku yang jadi Aisyah....tidak akan aku Berkhidmat sampai kapanpun kepada Rasulullah. Sedang Aisyah jauh lebih baik dariku!!


7. Jangan terpengaruh dengan berita negatif dari luar. 

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. [Surat Al-Hujurat: 6]

Pada Bulan Ramadhan tiba tiba Rasul saw membacakan Al Quran surat An Najm, dengan suara yang didengar oleh orang orang kafir Quraisy  Mekkah, karena kalimatnya begitu indah didengar, sampai pada ayat yang ke 62, فاسجدوا لله واعبدوا,  tiba tiba spontan mereka reflek tersungkur bersujud.

Berita ini sampai ke kaum Muhajirin Habasyah, bahwa kaum Quraisy telah masuk Islam, maka berpulanglah mereka dari Habasyah, saat masuk Mekkah mereka baru mendapatkan informasi yang sesungguhnya, sebagian mereka balik badan kembali ke Habasyah, sebagian lagi masuk ke Mekkah dengan suaka politik.


8. Jaga lisan dan jempol

"Ya Rasulallah....siapakah orang yang paling istimewa?, beliau bersabda, kullu makhmuumil qalbi shaduuqullisaaani, sahabat bertanya, shoduuqullisaan kami sudah memahaminya, tapi apa yang dimaksud dengan makhmuumul qalbi?. Beliau bersabda, maksudnya adalah hati yang taqwa bersih, tidak  dosa, tidak berontak, tidak ada dendam dan hasad"


Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. [Surat Al-Hijr: 47]



Jumat, 20 September 2024

TERIMA KASIH MUSUH!

 





Oleh: Adham Syarqawi


Dalam kitab al-Adab asy-Syar'iyah karya Ibnu Muflih dan kitab Siraj al-Muluk karya Tartushi disebutkan bahwa Musa alaihissalam berseru kepada Tuhan Yang Maha Esa: Ya Allah, aku mohon kepadamu agar orang-orang tidak menyebutku dengan keburukan!


Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya: "Wahai Musa, ini sesuatu yang tidak Aku lakukan untuk diriku sendiri, haruskah Aku melakukannya untukmu?!


Sobat, setiap orang pasti punya pecinta dan pembenci. Bahkan Tuhan Yang Maha Esa pun tidak dicintai semua manusia, dan setan secara pribadi mempunyai banyak murid!


Orang yang berakal hanya melihat para pecinta dan pembencinya. Jika ia dicintai orang-orang yang jujur dan dibenci para pelaku kebatilan, berarti dia orang baik. Jika dia dicintai para pelaku kebatilan dan dibenci orang-orang yang jujur, berarti dia lebih sesat dari keledai!


Jika kamu diberitahu bahwa seseorang dikenali melalui musuh-musuhnya sebagaimana dia dikenali melalui teman-teman dekatnya, maka percayalah!


Banyak orang akan membencimu karena berbagai kebaikanmu, bukan karena berbagai celamu. Orang-orang tidak menyukai mereka yang terlihat kekurangannya!

 

Plutarch, seorang filsuf dan sejarawan Romawi, menceritakan sebuah kisah dalam bukunya yang terkenal, “Comparative Biographies of the Great Greeks and Romans,” ia menuturkan:


"Ketika Raja "Hero" sedang berbicara kepada salah satu musuhnya yang tertangkap, tawanan ini berkata kepadanya: 'Selain sombong, kamu juga punya bau mulut!


Raja ingin menyelidiki masalah ini, dan ketika kembali ke istananya, dia berkata kepada istrinya dengan sedikit teguran: 'Bagaimana kamu tidak memberitahuku bahwa nafasku berbau tidak sedap? Seharusnya aku mengetahuinya darimu, bukan dari orang-orang!


Istrinya seorang wanita yang sederhana, bersih dan tidak suka menyakiti, berkata kepadanya:

'Pak, saya pikir bau napas semua pria sama!

 

Jangan tutup telingamu terhadap suara musuhmu! Ada kebenaran tentang dirimu yang hanya bisa diberitahukan oleh musuh kepadamu!


Teman biasanya memihak kita dan selalu menjaga perasaan kita, sementara musuh menunjukkan kesalahan kita. Karena itu, sangat penting bagi seseorang untuk melihat dirinya sendiri dari sudut pandang musuhnya!

 

Ketika terjadi perselisihan, dengarkanlah baik-baik apa yang diucapkan kepadamu. Tidak ada yang bisa mengungkap rahasia hati sebagaimana yang diungkapkan oleh berbagai perselisihan.

 

Sejak awal sejarah, orang-orang  bijak telah menyadari pentingnya musuh!


Filsuf Yunani Plutarch percaya bahwa musuh yang mengintai kesalahan bisa mendorong kita untuk disiplin, terorganisir, dan mengelola segala sesuatu dengan baik! Karena kesadaran terhadap bahaya bisa mendorong kita untuk mengurangi terjadinya kesalahan, dan menutup celah yang memungkinkan musuh menyusup!


Ini seperti kamu mengetahui bahwa salah seoorang yang diundang ke meja makanmu sangat kritis. Meskipun ini terasa buruk bagimu, tetapi menjadi dorongan bagimu untuk tidak meninggalkan celah bagi munculnya kritik!


Memang berurusan dengan orang-orang yang hanya mencari-cari kesalahan itu sangat melelahkan, tetapi ini menjadi alasan untuk berdisiplin, sekalipun kita berusaha menyangkalnya!

 

Kehadiran oposisi mendorong pemerintah untuk meningkatkan kinerjanya. Guru yang keras membuatmu mempersiapkan diri dengan serius untuk menghadapi ujiannya. Kritikus yang jeli mendorongmu tanpa sadar atau disadari untuk meningkatkan kwalitas karyamu. Kehadiran para pemain di bangku cadangan menjadi motivasi bagi para pemain di lapangan untuk bermain maksimal. Ada berbagai kemampuan terpendam dalam diri kita yang kita berutang budi kepada mereka yang selalu mencari kelemahannya. (ars)

Rabu, 18 September 2024

PRIORITAS AMAL SHALIH

 






Oleh: Iman Santoso, Lc.

Rasulullah saw bersabda:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: (سَأَلتُ النبِيَّ صلى الله عليه وسلم : أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إلى الله؟ قال: الصَّلاَةُ عَلَى وَقتِهَا. قلت: ثم أَيُّ ؟ قال: بِرُّ الوَالِدَينِ. قلت: ثم أَيُّ ؟ قال: الجِهَادُ في سَبِيلِ الله [متفق عليه]

Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, Saya bertanya pada Rasulullah saw.” Amal apakah yang paling dicintai Allah ? Rasul saw bersabda, ” Shalat pada waktunya. Saya berkata, Apa lagi ? Beliau bersabda, Berbakti pada kedua orang tua. Saya berkata, Lalu apa lagi ? Beliau bersabda, Jihad di jalan Allah” (Muttafaqun ’alaihi).

Dalam banyak ayat dan hadits yang merupakan landasan utama ajaran Islam, menyebutkan prioritas amal shalih yang harus dilakukan umat Islam. Demikian juga para ulama telah menetapkan 5 hukum taklifi (hukum amal yang mengikat mukkalaf), yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram, itu menunjukkan prioritas amal. Dan ulama modern yang sangat konsen terhadap prioritas amal diantaranya adalah Imam Syahid Hasan al-Banna dan Imam Yusuf Al-Qaradhawi.  Imam Yusuf Al-Qaradhawi menuangkan idenya tentang prioritas amal, dalam kitab-kitabnya yang monumental, diantaranya kitab Fiqhul Aulawiyaat (Fiqih Prioritas) dan Fiqhul Muwazanaat (Fiqih Pertimbangan). Sedangkan Imam Hasan Al-Banna menuangkan karyanya dalam Majmu’ah Rasail (Kumpulan Risalah).

Prioritas amal adalah keniscayaan bagi umat Islam yang memahami ajaran Islam, sesuai dengan landasan al-Qur’an dan Sunnah (Fiqhun Nushush),  realitas umat Islam (Fiqhul Waqi ) dan keterbatasan setiap muslim dalam beramal, bahwa daftar kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia bagi setiap muslim ( al-wajibaat Aktsaru minal auqaat). Allah Ta’ala berfirman:

ࣖ وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَه عَدَاوَةٌ كَاَنَّه وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)”Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia” (QS  Fushilaat 33 -34)

Rasulullah saw bersabda:

عن أمِّ الدَّرداء عن أبي الدَّرداء رضي الله عنهما قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:"ألا أُخبِرُكم بأفضلَ من الصَّلاة والصِّيام والصَّدَقة ؟  قُلنا: بَلَى يا رسول الله، قال إِصلاحُ ذاتِ البَيْن (العَداوةِ والبَغضاءِ)، وإفسادُ ذات البَيْن هي الحَالقةُ".

”Maukah kalian aku beri tahu tentang sesuatu yang lebih afdhal daripada derajat ibadah  shalat, puasa dan sedekah?” Kami menjawab: Tentu ya Rasulullah saw.. Beliau saw bersabda: ”(sesuatu itu adalah) mendamaikan/memperbaiki hubungan antar sesama. Merusak  hubungan antar sesama adalah  ibarat alat cukur yang merusak ( mencukur atau merusak agama)” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud dari Abu Ad-Darda’ ra).

Dari pemahaman terhadap Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, pendapat atau ijtihad para ulama dan realitas umat Islam, maka umat Islam sangat penting untuk mengetahui prioritas amal. Demikian juga jika dilihat dari ilmu manajemen, baik manajemen amal maupun waktu, bahwa amal secara umum terbagi menjadi 4, yaitu:
1. Penting
2. Tidak penting
3. Genting
4. Tidak genting.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa prioritas amal yang harus dilakukan oleh setiap muslim adalah:

1. Setiap muslim mengokohkan nilai dasar Islam  seperti memahami rukun Iman, rukun Islam dan Ihsan atau akhlak Islam, sehingga dapat membentuk karakteristik muslim. 

2. Menguatkan birrul walidain, shilaturahim dan ukhuwah Islamiyah, serta mencegah segala hal yang dapat merusak itu semua.

3. Melaksanakan peran dakwah, tarbiyah, amar ma’ruf nahi munkar, dan jihad fi sabilillah.

Risalah tentang Prioritas Amal Shalih juga dapat dilihat pada surat Al-Ashr dan Hadits Arbain Karya Imam An-Nawawi. Diantaranya hadits ke 29, tentang Pintu-pintu Kebaikan:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِيْ الْجَنَّةَ، وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ، قَالَ : لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَن يَسَّرَهُ اللهُ عَلَيهِ: تَعْبُدَ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحَجُّ الْبَيْتَ، ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، والصَّدّقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ, قَالَ: ثُمَّ تَلاَ (تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِع )حَتَّى بَلَغَ (يَعْمَلُونَ) ثُمَّ قَالَ : (أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ, وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ, وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ. ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ, وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلًّمُ بِهِ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ .

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Aku berkata:” Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beritahukanlah kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka! Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sungguh engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, namun sungguh hal tersebut sangatlah mudah dikerjakan bagi yang dimudahkan  Allah, yaitu engkau hanya beribadah pada Allah subhanahu wa ta’ala semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: ”Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah tameng, sedekah itu memadamkan (menghapuskan) kesalahan seperti air memadamkan api dan shalatnya seseorang pada tengah malam. Lalu beliau membaca: “Lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidurnya.” (QS. As Sajdah : 16) Sampai pada firman-Nya: “..Yang telah mereka kerjakan.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bersabda: “Maukah engkau aku beritahu pokok urusan agama ini, tiangnya dan puncak tertingginya?” Aku mengatakan: ‘Tentu, wahai Rasulullah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: “Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncak tertingginya adalah jihad.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Maukah aku beritahu tentang sesuatu yang bisa menguatkan semua itu?” Aku menjawab: ‘Tentu, wahai Nabi Allah.’ Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang lisannya (lidahnya) dan bersabda: “Tahanlah (jagalah) ini!” Aku bertanya: ”Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Alangkah sedihnya ibumu kehilanganmu wahai Muadz, bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain disebabkan hasil dari (apa yang mereka ucapkan) dari lisan-lisan mereka?” (HR. At Tirmidzi, dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

Wallahu ’alam bis shawab

***

Sabtu, 07 September 2024

NASEHAT ITU PAHIT.., TAPI MANIS BUAHNYA

 





Seorang putra merasa tidak suka tinggal di rumah, karena ayah ibunya selalu ‘ngomel’; ia tak suka bila ayahnya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini

”Nak, kalau keluar kamar matikan kipas anginnya"

“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton"

"Simpan pena di tempatnya, ambil yang jatuh ke kolong meja"

Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.

Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja.

Dalam hati dia berkata: "Begitu mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri. Tak akan ada lagi omelan ibu ayah," begitu pikirnya


Ketika hendak pergi untuk interview, ayahnya berpesan, ”Nak, jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu, bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri.. ” 


Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang. Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut gerendel, dia geser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan masuk menuju kantor.


Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ. Air meluap ke jalan setapak, diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.


Tak ada seorang pun di area resepsionis. Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. Dia perlahan menaiki tangga. Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi. Peringatan ayahnya terngiang di telinganya: "Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu!" Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.


Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran. Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima. Dia pun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang”. Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal. 


Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong. Terdengar suara kipas angin, Dimatikannya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong. Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara. Tibalah gilirannya, Dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis.


Sesampainya di depan meja, pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata "Kapan Anda bisa mulai bekerja ?”

Dia terkejut dan berpikir, "Apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?" Dia bingung


“Apa yang Anda pikirkan?" tanya sang pewawancara lalu melanjutkan: "Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini, sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun. 

Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut.

Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon, kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yang dilakukannya ketika melihat gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "selamat datang" yang terbalik, kipas atau lampu yang tak perlu, dan Anda satu-satunya yang melakukan itu. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda". 


Hatinya terharu, dia ingat ayahnya. Dia yg selama ini selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu & ayahnya, kini dia menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yang ditanamkan orangtuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya.

Kekesalan dan kemarahannya pada ayahnya & ibunya seketika sirna, dalam hatinya teringat benarlah sebuah hikmah yang mengatakan org tua itu adalah jalan Surga buat anak-anaknya, ternyata surga itu sebagiannya ada di dunia ini.


“Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari karakter seorang manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini” kata sang Pewawancara.


_Ayah, ibu ma'afkan anakmu...,_ bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur...


Smoga Bermanfaat...


🙏🏼M. Apud Kusaeri, S.Pd, M.Si

Trainer, Writer, Traveler www.trustco.co

Jumat, 30 Agustus 2024

RAHASIA ITU BERAT

 






Kota Yatsrib, kemudian menjadi kota Madinah, adalah wilayah yang menjadi tujuan nabi Saw saat hijrah dari kota Mekah. Letak kota ini 435 km disebelah Utara kota Mekah. 


Tetapi saat nabi berangkat hijrah beliau memulai perjalanan nya dengan menuju ke arah Selatan dan berhenti di gua Tsur yang jaraknya hanya sekitar 7 km dari Ka'bah. 


Mengapa Rasulullah Saw pergi ke arah Selatan dan tidak langsung bergegas kearah Utara.


Tentu ini adalah strategi agar perjalanan hijrah dapat berjalan lancar. 


Juga berdiamnya Nabi selama 3 hari di gua Tsur, yang masih masuk wilayah kota Mekah, juga adalah bagian dari strategi. 


Karena ada ungkapan bahwa persembunyian yang paling aman adalah ditempat yang paling berbahaya.


Dalam Sirah Nabawiyah kita mengetahui bahwa hijrah nabi penuh strategi dan taktik. 


Mengingat nabi merupakan target yang sudah disepakat para penguasa Mekah, untuk dibunuh. 


Maka saat diketahui bahwa nabi lolos dari pengepungan dan upaya  pembunuhan, diadakanlah sayembara bagi siapa yang bisa menangkap nabi akan diberi hadiah 100 ekor unta, sekarung koin emas serta 4 orang budak perempuan Romawi berkulit putih.


Persembunyian atau perlindungan yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya ada dikisahkan dalam Alquran yang terkait dengan nabi Musa seperti dalam surat al Qashash:


"Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; ‘Susuilah dia. Dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Qs Al-Qashash [28]: 7)


Kemudian ayat 8 dan 9 nya bayi Musa kemudian dipungut oleh istana dan diangkat menjadi salah satu anak kesayangan istana.


Padahal sebelumnya istana baru mengeluarkan dekrit untuk membunuh semua bayi laki-laki Bani Israil yang lahir pada tahun itu.


Saat Rasulullah saat akan menaklukkan kota Mekah (futuh Mekah), Rasulullah Saw mempersiapkan nya secara rahasia dan berdoa:


"Ya Allah buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar hingga aku tiba disana (Mekah) secara tiba-tiba."


Namun begitu, kerahasiaan yang dijaga dan dipesankan Rasulullah kepada para sahabat nyaris bocor. Yakni ketika seorang sahabat yang bernama Hathib bin Abi Balta'ah menulis surat untuk keluarganya di Mekah dengan maksud untuk melindungi, karena nabi dan pasukan yang besar sedang menuju Mekah. 


Tetapi kemudian langit memberi tahu nabi saw tentang hal tersebut, sehingga kebocoran strategi bisa dicegah.


Dalam dunia politik, bisnis, pergerakan dakwah dan bahkan dalam dunia olahraga strategi dan taktik adalah sesuatu yang harus ada dan sangat dirahasiakan. 


Strategi yang dipublikasikan atau dibocorkan bukanlah strategi. Kecuali strategi palsu sebagai pengecoh.


Karenanya strategi, termasuk data dan informasi informasi penting tentang pihaknya maupun pihak lawan adalah sesuatu yang dirahasiakan. 


Biasanya hanya para pimpinan pengambil kebijakan yang mengetahuinya. 


Bahkan komandan lapangan pun hanya mengetahui sebatas ruang lingkupnya, tidak secara keseluruhan. 


Yang lain termasuk para anggota tidak harus tahu. Cukup mengetahui taktik yang terkait mengamankan dan memenangkan strategi tersebut.


Karena terlaku banyak yang tahu, maka akan semakin banyak lobang untuk bocor.


Begitupun dalam dunia pergerakan, termasuk pergerakan dakwah. 


Munir al Ghadban dalam buku Manhaj Haraki, menyinggung pentingnya kaidah jahriyatud dakwah wa siriyatut tandzim sebagai salah satu prinsip dalam pergerakan dakwah. 


Hal ini karena dalam sejarahnya, dahwah tidak pernah sepi dari tantangan dan hambatan. 


Dalam ungkapan ulama adalah pewaris nabi, sesungguhnya maknanya bukan hanya mewarisi risalah dan kemuliaannya tetapi juga mewarisi musuhnya nabi.


Karenanya amniyah dalam dakwah tidak hanya berlaku dimasa lalu tetapi juga di setiap masa.


Amniyyah adalah memberikan jaminan keselamatan terhadap gerakan Islam dari segala hal yang membahayakan, baik yang timbul dari individu, kelompok atau dari pemerintahan yang dzolim. 


Mengetahui banyak hal yang katanya informasi A1, bukan kebanggaan apalagi kemuliaan. Tetapi beban yang harus terus dijaga kerahasiaannya, meski kukunya dilolosi sekalipun.


Namun satu hal yang paling penting dan  krusial seksli adalah jangan sampai strategi yang dirancang justru menciptakan skandal. 


Skandal selamanya buruk dan mendatangkan sikap dusta, tidak jujur, pengkhinatan dan menstigma hal yang sudah baik menjadi bumerang yang terbang untuk memukul balik pemegangnya. 


Strategi tidak bisa dijadikan dasar dan acuan melakukan silent operation dan skandal, apalagi atas nama dakwah, keluarga dan harta banda. 


Karena itulah mengapa jalur langit turun tangan  memberitahukan Nabi saw soal seorang Habib bin Abi Balta'ah itu. 


Rupanya Allah menghendaki agar dakwahNya bersih dari aroma skandal dan pengkhinatan dalam menyongsong kemenangan yang sudah di depan mata.  Wallahua'lam bi shawab. [] 

Selasa, 13 Agustus 2024

HASAD, SEBAB DAN CARA MENGHADAPI

 




Apa itu hasad? Apa saja sebab-sebab terjadinya hasad (iri hati, dengki)? Lalu 

bagaimana cara menghadapi orang yang hasad?

PENGERTIAN HASAD

Menurut jumhur ulama, hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang 

lain. Nikmat ini bisa berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya (Syaikh 

Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 368).

Diungkapkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah,

احلَسَدُهُوَتَمَنَِّى زَوَالَالنِِّعْمَةِعَنْصَاحِبِهَا

“Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.”

(At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 720)

الْحَسَدَهُوَالْبُغْضُوَالْكَرَاهَةُلِمَا يَرَاهُمِنْحُسْنِحَالِالْمَحْسُودِ,Menurut Ibnu Taimiyah adalah

“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada 

orang yang dihasad.”

(Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).

LARANGAN HASAD

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

الَتَحَاسَدُوا، وَالَتَنَاجَشُوا، وَالَتَبَاغَضُوا، وَالَتَدَابَرُوا، وَالَيَبِعْبَعْضُكُمْعَلَى بَيْعِبَعْضٍ، »

دَمُهُوَمَالُهُوَعِرْضُهُالتَِّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُإِلَى صَدْرِهِثَالَثَمَرَِّاتٍ- بِحَسْبِامْرِىءٍمِنَالشَِّرِِّأَنْيَحْقِرَأَخَاهُوَكُوْنُوا عِبَادَاهللِإِخوَاناً. املُسْلِمُأَخُو املُسْلِمِ، الَيَظْلِمُهُ، وَالَيَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ.

املُسْلِمِحَرَامٌ:

كُلُِّاملُسْلِمِعَلَى

املُسْلِمَ.

“Janganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti

dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan),

dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang

bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak

boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di

sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia

menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram

darahnya, hartanya, dan kehormatannya.’” (HR. Muslim, no. 2564)

SIFAT MANUSIA SAAT HASAD

Hasad itu sifatnya manusiawi. Setiap orang pasti punya rasa tidak suka jika ada orang 

yang setipe dengannya melebihi dirinya dari sisi keutamaan.

Manusia dalam hal hasad ada empat keadaan yaitu:

Pertama: Berusaha menghilangkan nikmat pada orang yang ia hasad. Ia berbuat 

melampaui batas dengan perkataan ataupun perbuatan. Inilah hasad yang tercela.

Kedua: Hasad pada orang lain, namun tidak menjalankan konsekuensi dari hasad 

tersebut, tidak bersikap melampaui batas dengan ucapan dan perbuatannya. Al-Hasan 

Al-Bashri berpandangan bahwa hal ini tidaklah berdosa.

Ketiga: Hasad dan tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, bahkan ia berusaha 

agar memperoleh kemuliaan semisal. Berharap bisa sama dengan yang punya nikmat 

tersebut. Hal ini dirinci menjadi dua, yaitu dalam urusan dunia dan urusan agama.

Jika kemuliaan yang dimaksud hanyalah urusan dunia, tidak ada kebaikan di dalamnya. 

يَا لَيْتَلَنَا مِثْلَمَا أُوتِيَقَارُونُ.Contohnya adalah keadaan seseorang yang ingin seperti Qarun

“Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada

Qarun.”

(QS. Al-Qashas: 79)

Jika kemuliaan yang dimaksud adalah urusan agama, inilah yang baik. Inilah yang 

disebut ghibthah.

آناءَاللَِّيلِوآناءَالنَِّهارِال حَسَدَإلَِّا على اثنتَنيِ: رجُلٌآتاهُاهللُمالًا، فهو يُنْفِقُمِنهُآناءَاللَِّيلِوآناءَالنَِّهارِ، ورجُلٌ,Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda

يَقومُبه

آتاهُاهللُالقُرآنَ، فه

Tidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: ada seseorang yang

dianugerahi harta lalu ia gunakan untuk berinfak pada malam dan siang, juga

ada orang yang dianugerahi Al-Qur’an, lantas ia berdiri dengan membacanya

malam dan siang.” 

(HR. Bukhari, no. 5025, 7529 dan Muslim, no. 815)

Keempat: Jika dapati diri hasad, ia berusaha untuk menghapusnya, bahkan ia ingin

berbuat baik pada orang yang ia hasad. Ia mendoakan kebaikan untuknya. Ia pun 

menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Ia ganti sifat hasad itu dengan rasa cinta. Ia 

katakan bahwa saudaranya itu lebih baik dan lebih mulia.

Bentuk keempat inilah tingkatan paling tinggi dalam iman. Yang memilikinya itulah 

yang memiliki iman yang sempurna, di mana ia mencintai saudaranya sebagaimana ia 

mencintai dirinya sendiri.

(Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:260-263).

TINGKATAN HASAD

1. Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah 

padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu 

hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya.

Seharusnya setiap orang memperhatikan bahwa setiap nikmat sudah pas diberikan 

oleh Allah pada setiap makhluknya sehingga tak perlu iri dan hasad. 

فَضَِّلَاللَِّهُبِهِوَلَا تَتَمَنَِّوْا مَا عَلَى بَعْضَكُمْبَعْضٍلِلرِِّجَالِنَصِيبٌمِمَِّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِِّسَاءِنَصِيبٌ,Allah Ta’ala berfirman

مِمَِّا اكْتَسَبْنَاللَِّهَمِنْفَضْلِهِإِنَِّاللَِّهَكَانَبِكُلِِّشَيْءٍوَاسْأَلُوا عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada

sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang

laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para

wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah

kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha

Mengetahui segala sesuatu.” 

(QS. An-Nisaa’: 32)

2. Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang, lalu berkeinginan nikmat 

tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin 

menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan 

yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja 

biar kekuasaan tersebut berpindah padanya.

Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya, tetapi lebih ringan dari yang pertama.

3. Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, tetapi ia ingin orang lain tetap 

dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat 

seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain.

4. Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, tetap ia ingin orang lain tetap 

sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad 

dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama 

dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat 

saudaranya itu hilang.

5. Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang 

lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghib-thah sebagaimana terdapat dalam 

hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW

الَحَسَدَإِالَِّفِى اثْنَتَيْنِرَجُلٌآتَاهُاللَِّهُمَاالًفَسُلِِّطَعَلَى هَلَكَتِهِفِى الْحَقِِّ، وَرَجُلٌآتَاهُاللَِّهُ,bersabda

فَهْوَيَقْضِى بِهَا وَيُعَلِِّمُهَا

الْحِكْمَةَ،

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah

anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang

yang Allah beri karunia ilmu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), ia menunaikan dan

mengajarkannya.”

(HR. Bukhari, no. 73 dan Muslim, no. 816)

وَفِي ذَلِكَفَلْيَتَنَافَسِالْمُتَنَافِسُونَ,Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

(QS. Al-Muthaffifin: 26)

Ini adalah ringkasan dari Fiqh Al-Hasad karya Syaikh Musthafa Al-

‘Adawi hafizhahullah.

MENGHADAPI DAMPAK BURUK ORANG YANG HASAD

Pertama: Bertawakal kepada Allah.

وَمَنْيَتَوَكَِّلْعَلَى اللَِّهِفَهُوَحَسْبُهُ,Allah Ta’ala berfirman

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan

(keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Kedua: Bertakwa kepada Allah.

يَضُرَُّكُمْك يْدُهُمْشَيْئًاۗ إِنََّالل َّهَبِمَا يَعْمَلُونَمُحِيطٌ,Allah Ta’ala berfirman

وَإِنْتَصْبِرُوا وَتَتََّقُوا ل ا

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sediki tpun tidak

mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui

segala apa yang mereka kerjakan.”

(QS. Ali ‘Imran: 120)

Ketiga: Meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang hasad.

Dari hadits Mu’adz bin ‘Abdillah bin Khubaib dari bapaknya, ia berkata, “Kami pernah 

keluar pada malam yang hujan dan sangat gelap. Kami meminta Rasulullah SAW agar 

mau mendoakan kebaikan untuk kami. Kami pun mendapati beliau. Beliau berkata, 

‘Ucapkanlah’. Aku tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ‘Ucapkanlah’. Aku 

pun tidak mengucapkan apa pun. Beliau berkata lagi, ‘Ucapkanlah’. Aku lantas 

قُلْ)هُوَاللَِّهُأَحَدٌ( وَالْمُعَوِِّذَتَيْنِحِنيَتُمْسِى وَتُصْبِحُثَالَثَمَرَِّاتٍتَكْفِيكَمِنْكُلِِّشَىْءٍ,bertanya, “Apa yang mesti aku ucapkan?’ Beliau menjawab

‘Bacalah: surah Al-Ikhlas, lalu surah al-mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan AnNaas) ketika petang dan pagi sebanyak tiga kali, maka itu akan mencukupimu

dari segala sesuatu.’”

(HR. Tirmidzi, 3575. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan sanad hadits ini hasan).

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah mengatakan, “Benteng yang paling kuat 

untuk melindungi diri dari kejahatan orang yang hasad adalah dengan berpegang 

pada Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad SAW, lalu meminta perlindungan kepada 

Allah Rabb semesta alam.” 

Allah Ta’ala berfirman

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan

cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada

permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang

baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan

tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai

keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu

gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah

yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(QS. Fussilat: 34-36).

أُولَۚ ئِكَيُؤْتَوْنَأَجْرَهُمْمَرَِّتَيْنِبِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَبِالْحَسَنَةِالسَِّيِِّئَةَوَمِمَِّا رَزَقْنَاهُمْيُنْفِقُونَ,Juga dalam ayat

“Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka

menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami

rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.”

(QS. Al-Qasas: 54)

Bagaimana sikap para nabi ketika mereka disakiti dan dizalimi oleh kaumnya?

فَإِنَِّهُمْالَيَعْلَمُونَ,Nabi SAW sendiri saat perang Uhud malah berdoa

اللَِّهُمَِّاغْفِرْلِقَوْمِى

“Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka sejatinya tidak mengetahui.” 

(HR. Bukhari, no. 3477 dan Muslim, no. 1792). 

Doa ini mengandung pelajaran bagaimanakah keburukan dibalas dengan kebaikan 

اِسْتِعْطَافُهُلَهُمْبِإِضَافَتِهِمْإِلَيْهِأَحَدُهَا عَفْوُهُعَنْهُمْوَالثَِّانِي اِسْتِغْفَارُهُلَهُمْالثَِّالِثُاِعْتِذَارُهُعَنْهُمْبِأَنَِّهُمْالَيَعْلَمُوْنَالرَِّابِعُ:dalam empat bentuk

1. Memaafkan.

2. Memintakan ampun untuk yang berbuat zalim.

3. Memberikan uzur pada mereka karena mereka tidak tahu.


4. Para nabi itu begitu sayang dan simpati pada kaumnya sendiri karena mereka 

tetap menyatakan itu kaumnya.

Empat hal di atas disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam Badai’ Al-Fawaid.

Kesembilan: Segera bertaubat atas dosa.

Kesepuluh: Orang yang hasad itu mandi dan airnya disiramkan pada orang yang kena 

hasad.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda,

الْقَدَرَسَبَقَتْهُسَابَقَشَىْءٌالْعَيْنُكَانَوَلَوْحَقٌِّالْعَيْنُوَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْفَاغْسِلُوا

“‘Ain itu benar adanya. Segala sesuatu terjadi dengan takdir, termasuk pula ‘ain terjadi

dengan takdir. Apabila kalian diminta untuk mandi (karena memberi dampak ‘ain),

maka mandilah.” (HR. Muslim, no. 2188. Lihat Syarh Shahih Muslim tentang hadits ini).

Kesebelas: Lakukan ruqyah syariyyah.

Kedua belas: Memiliki iman dan tauhid yang kuat.

Cara menghadapi hasad ini diringkas dari kitab karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi 

yaitu At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 723-740.

SEBAB TERJADINYA HASAD

1. Permusuhan dan kebencian.

2. Cinta dunia terutama terkait dengan kekuasaan dan kepemimpinan.

3. Pelit membagi kebaikan pada orang lain.

4. Lemahnya iman.

5. Kesombongan.

6. Tidak ingin dikalahkan yang lain.

7. Takut disaingi.

8. Takut diejek orang lain.