Kamis, 31 Maret 2022

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Tahrim

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah At-Tahrim 

Surah At-Tahrim Ayat 1
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَ تَبۡتَغِى مَرۡضَاتَ أَزۡوَٰجِكَ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Terjemahan: Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Tafsir Ibnu Katsir: Terjadi perbedaan pendapat mengenai sebab turunnya permulaan surah ini. Ada yang menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Mariyah, sedangkan Rasulullah saw. pernah mengharamkannya. Lalu turunlah ayat: yaa ayyuHan nabiyyu lima tuharrimu maa ahallallaaHu laka tabtaghii mar-dlaata azwaajika (“Hai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang telah Allah halalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu?”) dan yang benar bahwa hal itu berkenaan dengan pengharaman madu oleh beliau, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab al-iimaan wan Nudzuur, al-Hasan bin Muhammad memberitahu kami, al-Hajjaj memberitahu kami, dari Ibnu Juraij, dia bercerita, ‘Atha’ mengaku bahwa dia pernah mendengar ‘Ubaid bin ‘Umair berceritah, aku pernah mendengar ‘Aisyah mengaku bahwa Rasulullah saw. pernah singgah di tempat Zainab binti Jahsy dan meminum madu disana.

Kemudian aku bersepakat dengan Hafshah, jika beliau memasuki rumah salah satu dari kami, maka katakanlah kepada beliau: “Sesungguhnya aku mencium bau maghafir pada dirimu, pasti engkau telah memakan maghafir.” Kemudian Nabi saw. menemui salah seorang dari keduanya. maka dia mengatakan hal itu kepada beliau. Lalu beliau berkata:

“Tidak, tetapi aku telah meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy, dan sekali-sekali tidak akan meminumnya lagi.” Kemudian turunlah ayat: يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَ –ilaa qauliHi Ta’ala— إِن تَتُوبَآ إِلَى ٱللَّهِ فَقَدۡ صَغَتۡ قُلُوبُكُمَا (“Hai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang telah Allah halalkan bagimu, -sampai pada firmanNya- jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hatimu berdua telah condong [untuk menerima kebaikan],”) berkenaan dengan ‘Aisyah dan Hafshah.


Surah At-Tahrim Ayat 2
قَدۡ فَرَضَ ٱللَّهُ لَكُمۡ تَحِلَّةَ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ

Terjemahan: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Tafsir Ibnu Katsir: قَدۡ فَرَضَ ٱللَّهُ لَكُمۡ تَحِلَّةَ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ (Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.) Hafsah bertanya, “Apakah engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu?”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, aku tidak akan mendekatinya lagi.” Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendekatinya lagi sampai Hafsah menceritakan peristiwa itu kepada Aisyah. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu. (At-Tahrim: 2) Sanad hadits ini shahih, tetapi tiada seorang pun dari Sittah yang mengetengahkannya. Hadits ini dipilih oleh Al-Hafidzh Ad-Diya Al-Maqdisi di dalam kitabnya yang berjudul Al-Mustakhraj.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, telah menceritakan kepada kami Hisyam Ad-Dustuwa-i yang mengatakan bahwa Yahya menulis Surah kepadanya menceritakan hadits yang ia terima dari Yala ibnu Hakim, dari Sa’id ibnu Jubair, bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan ucapan pengharaman terhadap seorang istri, bahwa itu merupakan sumpah yang dapat dihapus dengan membayar kifaratnya.


Surah At-Tahrim Ayat 3
وَإِذۡ أَسَرَّ ٱلنَّبِىُّ إِلَىٰ بَعۡضِ أَزۡوَٰجِهِۦ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتۡ بِهِۦ وَأَظۡهَرَهُ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ عَرَّفَ بَعۡضَهُۥ وَأَعۡرَضَ عَنۢ بَعۡضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِۦ قَالَتۡ مَنۡ أَنۢبَأَكَ هَٰذَا قَالَ نَبَّأَنِىَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡخَبِيرُ

Terjemahan: Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah).

Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.


Tafsir Ibnu Katsir: وَإِذۡ أَسَرَّ ٱلنَّبِىُّ إِلَىٰ بَعۡضِ أَزۡوَٰجِهِۦ حَدِيثًا (“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istri beliau suatu peristiwa.”) berkenaan dengan sabda beliau: “Tidak, tetapi aku telah meminum madu.”

Sedangkan Ibrahim bin Musa berkata dari Hisyam: Rasulullah saw. bersabda: “Aku tidak akan mengulanginya lagi [minum madu] dan aku bersumpah untuk itu. Karenanya, janganlah engkau memberitahukan hal itu kepada siapapun.” Demikian yang diriwayatkan dalam kitab ath-Thalaaq dengan sanad ini dan dengan lafadz yang berdekatan.

Kemudian dia mengatakan: “Maghafir adalah sesuatu yang menyerupai getah yang ada pada pohon ramats yang memiliki rasa manis. Dikatakan aghfirur ramts, jika getahnya mulai tampak. Bentuk tunggalnya adalah maghfuur, sedangkan jamaknya adalah maghaafiir.” Demikianlah yang dikatakan al-Jauhari. Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dalam kitab ath-Thalaaq dari kitabnya Shahih Muslim.

Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Muqatil bin Hayyan, adh-Dhahhak, dan lain-lain mengatakan: washaalihul mu’minuun (“Dan orang-orang yang beriman yang baik”) yakni Abu Bakar dan Umar.” Sedangkan al-Hasan al-Bashri menambahkan: “Juga Utsman.”


Surah At-Tahrim Ayat 4
إِن تَتُوبَآ إِلَى ٱللَّهِ فَقَدۡ صَغَتۡ قُلُوبُكُمَا وَإِن تَظَٰهَرَا عَلَيۡهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ مَوۡلَىٰهُ وَجِبۡرِيلُ وَصَٰلِحُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ

Terjemahan: Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.


Tafsir Ibnu Katsir: Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Muqatil bin Hayyan, adh-Dhahhak, dan lain-lain mengatakan: وَصَٰلِحُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ (“Dan orang-orang yang beriman yang baik”) yakni Abu Bakar dan Umar.” Sedangkan al-Hasan al-Bashri menambahkan: “Juga Utsman.”

Al-Laits bin Abi Salim menceritakan dari Mujahid mengenai firman-Nya: وَصَٰلِحُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ (“Dan orang-orang yang beriman yang baik”) dia mengatakan: “Yakni ‘Ali bin Abi Thalib.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Anas, dia berkata: “Umar menceritakan bahwa istri-istri Nabi saw. pernah berkumpul karena cemburu. Lalu kukatakan kepada mereka: ‘Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari pada kalian, yang patuh, yang taat, yang bertaubat, dan yang mengerjakan ibadah.’ Lalu turunlah ayat ini.” Apa yang telah dikemukakan di atas sudah memperjelas penafsiran ayat-ayat di atas.


Surah At-Tahrim Ayat 5
عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرًا مِّنكُنَّ مُسۡلِمَٰتٍ مُّؤۡمِنَٰتٍ قَٰنِتَٰتٍ تَٰٓئِبَٰتٍ عَٰبِدَٰتٍ سَٰٓئِحَٰتٍ ثَيِّبَٰتٍ وَأَبۡكَارًا

Terjemahan: Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.


Tafsir Ibnu Katsir: Umar mengatakan kepada mereka, “Sungguh kamu harus menghentikan sikap kamu terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian, atau benar-benar Allah akan memberikan ganti kepadanya dengan istri-istri lain yang lebih baik daripada kamu.” Hingga sampailah Umar kepada Ummahatul Muminin yang terakhir, tetapi ia disanggahnya dengan ucapan,

“Wahai Umar, ingatlah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak menasihati istri-istrinya terlebih kamu.” Akhirnya Umar diam, dan turunlah firman-Nya: Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda, dan yang perawan. (At-Tahrim: 5) Wanita yang menyanggah Umar dalam riwayat ini saat Umar menasihatinya adalah Ummu Salamah Sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Shahih Al-Bukhari.


Surah At-Tahrim Ayat 6
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ

Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Tafsir Ibnu Katsir: Mengenai firman Allah: قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا (“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”) Mujahid mengatakan: “Bertakwalah kepada Allah dan berpesanlah kepada keluarga kalian untuk bertakwa kepada Allah.” Sedangkan Qatadah mengemukakan:

“Yakni, hendaklah kamu menyuruh mereka berbuat taat kepada Allah dan mencegah mereka durhakan kepada-Nya. Dan hendaknya engkau menjalankan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan mereka untuk menjalankannya, serta membantu mereka dalam menjalankannya. Jika engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, peringatkan dan cegahlah mereka.”

Demikian itu pula yang dikemukakan oleh adh-Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, dimana mereka mengatakan: “Setiap muslim berkewajiban mengajari keluarganya, termasuk kerabat dan budaknya, berbagai hal yang berkenaan dengan yang diwajibkan Allah kepada mereka dan apa yang dilarang-Nya.”

وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ (“Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”) kata waquudun; berarti bahan bakar yang tubuh umat manusia dilempar ke dalamnya. وَٱلۡحِجَارَةُ (“dan batu”), ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata itu adalah patung yang dijadikan sembahan. Hal itu didasarkan pada firman Allah: إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ (“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya.”) (al-Anbiyaa’: 98)

عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ (“Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras.”) maksudnya karakter mereka sangat kasar, dan hatinnya telah dihilangkan dari rasa kasihan terhadap orang-orang yang kafir kepada Allah Ta’ala, شِدَادٌ (“yang keras”) maksudnya, susunan tubuh mereka sangat keras, tebal, dan penampilannya menakutkan.

لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ (“Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”) maksudnya, apa pun yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka, mereka segera melaksanakannya, tidak menangguhkan meski hanya sekejap mata, dan mereka mampu mengerjakannya, tidak ada kelemahan apapun pada diri mereka untuk melaksanakan perintah tersebut. Mereka itu adalah malaikat Zabaniyah –semoga Allah melindungi kita semua dari mereka semua.

Surah At-Tahrim Ayat 7
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَعۡتَذِرُواْ ٱلۡيَوۡمَ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Terjemahan: Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَعۡتَذِرُواْ ٱلۡيَوۡمَ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ (“Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan udzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.”) maksudnya pada hari kiamat kelak akan dikatakan kepada orang-orang kafir:

“Janganlah kalian memberikan alasan, karena sesungguhnya sekarang tidak ada lagi yang bisa diterima kalian dan kalian tidak akan diberi balasan kecuali atas apa yang pernah kalian kerjakan.”


Surah At-Tahrim Ayat 8
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتٍ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ يَوۡمَ لَا يُخۡزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ

Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Tafsir Ibnu Katsir: Selanjutnya firman Allah: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً نَّصُوحًا (“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.”) maksudnya taubat yang sebenarnya dengan tekad penuh, yang dapat menghapuskan berbagai keburukan yang pernah ada sebelumnya, yang akan menyatukan dan mengumpulkan orang yang bertaubat, juga menahan dirinya dari berbagai perbuatan hina.

Oleh karena itu para ulama mengatakan: “Taubat nashuha adalah bertekad untuk meninggalkan dosa yang akan datang dan menyesali dosa-dosa yang telah lalu, kemudian berkeinginan kuat untuk tidak mengerjakannya kembali di hari-hari berikutnya. Lalu jika dosa tersebut berhubungan dengan hak manusia, hendaklah ia kembalikan [hak] apa yang telah ia ambil.”

Firman Allah: عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتٍ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ (“Mudah-mudahan Rabbmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”) kata ‘asaa (semoga/mudah-mudahan) bagi Allah berarti pasti.

يَوۡمَ لَا يُخۡزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ (“Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya.”) maksudnya Allah juga tidak akan menghinakan mereka jika mereka bersama Nabi, yakni pada hari kiamat kelak.

نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۡ (“Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan disebelah kanan mereka.”) sebagaimana penafsirannya telah dikemukakan dalam surah al-Hadiid ayat 12. يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ (“Sambil mereka mengatakan: ‘Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

Mujahid, adh-Dhahhak, al-Hasan al-Bashri, dan lain-lain mengatakan: “Hal itu dikemukakan oleh orang-orang mukmin ketika mereka melihat padamnya cahaya orang-orang munafik pada hari kiamat kelak.”


Surah At-Tahrim Ayat 9
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ جَٰهِدِ ٱلۡكُفَّارَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱغۡلُظۡ عَلَيۡهِمۡ وَمَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ

Terjemahan: Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Tafsir Ibnu Katsir: ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ (“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth [sebagai] perumpamaan bagi orang-orang kafir.”) yakni bergaul dan berbaurnya mereka dengan kaum muslimin, yang demikian itu sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka di sisi Allah, seandainya di dalam hatinya tidak ada keimanan sedikitpun.

Kemudian Allah menyebutkan perumpamaan, Dia berfirman: ٱمۡرَأَتَ نُوحٍ وَٱمۡرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَيۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَٰلِحَيۡنِ (“Istri Nuh dan istri Luth [sebagai] perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami.”) maksudnya, dua orang Nabi dan Rasul selalu berada bersama keduanya siang dan malam, memberi makan kepada keduanya, mencampuri dan menggauli mereka berdua dengan perlakuan yang mesra dan menyenangkan.

فَخَانَتَاهُمَا (“Lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya.”) yakni dalam hal keimanan, dimana mereka tidak sepakat untuk satu iman dengan mereka, tidak juga mau mempercayai risalah yang diemban keduanya. semua itu tidak akan memperoleh apa-apa dan tidak akan mampu menolak petaka yang akan ditimpakan kepada mereka. Oleh karena itu Allah berfirman:

فَلَمۡ يُغۡنِيَا عَنۡهُمَا مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔا (“Maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikitpun dari [siksa] Allah.”) yakni, keadaan kufur istri mereka berdua. وَقِيلَ (“dan dikatakan”) yakni kepada kedua istri tersebut: ٱدۡخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٰخِلِينَ (“Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk [neraka].”

Yang dimaksud dengan pengkhianatan di atas bukan dalam hal fahisyah [zina], tetapi pengkhianatan dalam masalah agama, karena istri-istri Nabi itu terpelihara dari perselingkuhan dan perzinaan demi menjaga kehormatan para Nabi, sebagaimana yang telah dikemukakan dalam pembahasan dalam surah an-Nuur ayat 26.

Surah At-Tahrim Ayat 10
ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱمۡرَأَتَ نُوحٍ وَٱمۡرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَيۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَٰلِحَيۡنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمۡ يُغۡنِيَا عَنۡهُمَا مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔا وَقِيلَ ٱدۡخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٰخِلِينَ

Terjemahan: Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.

Tafsir Ibnu Katsir: ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ (“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth [sebagai] perumpamaan bagi orang-orang kafir.”) yakni bergaul dan berbaurnya mereka dengan kaum muslimin, yang demikian itu sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka di sisi Allah, seandainya di dalam hatinya tidak ada keimanan sedikitpun.

Kemudian Allah menyebutkan perumpamaan, Dia berfirman: ٱمۡرَأَتَ نُوحٍ وَٱمۡرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَيۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَٰلِحَيۡنِ (“Istri Nuh dan istri Luth [sebagai] perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami.”) maksudnya, dua orang Nabi dan Rasul selalu berada bersama keduanya siang dan malam, memberi makan kepada keduanya, mencampuri dan menggauli mereka berdua dengan perlakuan yang mesra dan menyenangkan.

فَخَانَتَاهُمَا (“Lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya.”) yakni dalam hal keimanan, dimana mereka tidak sepakat untuk satu iman dengan mereka, tidak juga mau mempercayai risalah yang diemban keduanya. semua itu tidak akan memperoleh apa-apa dan tidak akan mampu menolak petaka yang akan ditimpakan kepada mereka. Oleh karena itu Allah berfirman:

فَلَمۡ يُغۡنِيَا عَنۡهُمَا مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔا (“Maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikitpun dari [siksa] Allah.”) yakni, keadaan kufur istri mereka berdua. وَقِيلَ (“dan dikatakan”) yakni kepada kedua istri tersebut: ٱدۡخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٰخِلِينَ (“Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk [neraka].”

Yang dimaksud dengan pengkhianatan di atas bukan dalam hal fahisyah [zina], tetapi pengkhianatan dalam masalah agama, karena istri-istri Nabi itu terpelihara dari perselingkuhan dan perzinaan demi menjaga kehormatan para Nabi, sebagaimana yang telah dikemukakan dalam pembahasan dalam surah an-Nuur ayat 26.


Surah At-Tahrim Ayat 11
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِى عِندَكَ بَيۡتًا فِى ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِى مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Terjemahan: Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.

Tafsir Ibnu Katsir: Demikianlah perumpamaan yang diberikan Allah Ta’ala bagi orang-orang mukmin, bahwa pergaulan mereka dengan orang-orang kafir tidak akan mendatangkan mudlarat bagi mereka jika mereka memang membutuhkan mereka, sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya:

“Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah dia dari pertolongan Allah kecuali siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali ‘Imraan: 28)

Qatadah mengatakan: “Dahulu, Fir’aun adalah orang-orang yang paling dhalim dan paling kafir di muka bumi. Demi Allah, kekufuran suaminya itu tidak memberikan mudlarat bagi istrinya ketika ia berbuat taat kepada Rabbnya, agar mereka mengetahui bahwa Allah Ta’ala mempunyai hukum yang adil. Dia tidak akan memberi siksa kepada seorang pun kecuali karena dosanya.”

Dengan demikian ucapan istri Fir’aun: رَبِّ ٱبۡنِ لِى عِندَكَ بَيۡتًا فِى ٱلۡجَنَّةِ (“Ya Rabb-ku, bangunkanlah untukku rumah di sisi-Mu dalam surga.”) para ulama mengatakan: “Dia memilih tetangga sebelum memilih rumah.” وَنَجِّنِى مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ (“dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya.”) maksudnya selamatkanlah aku darinya, karena aku berlindung kepada-Mu dari perbuatannya. وَنَجِّنِى مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ (“Dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim”) wanita tersebut adalah Asiyah binti Muzahim.


Surah At-Tahrim Ayat 12
وَمَرۡيَمَ ٱبۡنَتَ عِمۡرَٰنَ ٱلَّتِىٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا فَنَفَخۡنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتۡ بِكَلِمَٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ وَكَانَتۡ مِنَ ٱلۡقَٰنِتِينَ

Terjemahan: dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah selanjutnya: وَمَرۡيَمَ ٱبۡنَتَ عِمۡرَٰنَ ٱلَّتِىٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا (“dan Maryam putri ‘Imraan yang memelihara kehormatannya”) yakni dia selalu memelihara dan menjaganya. Dan kata al-ihsaanu; sendiri berarti kesucian dan kebebasan. فَنَفَخۡنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا (“Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh [ciptaan] Kami.”) yakni melalui perantara Malaikat Jibril.

Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus Jibril pada Maryam dalam wujud seorang manusia sempurna. Dan Allah memerintahkan untuk meniupkan ruh melalui lengan bajunya. Tiupan itupun turun dan masuk ke dalam farji, dan dari sanalah awal mula Maryam mengandung ‘Isa as.

Oleh karena itu Allah berfirman: فَنَفَخۡنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتۡ بِكَلِمَٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ (“Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh [ciptaan] Kami dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabb-nya dan Kitab-kitab-Nya.”) yakni dengan ketetapan dan syariat-Nya. وَكَانَتۡ مِنَ ٱلۡقَٰنِتِينَ (“Dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Rasulullah saw. pernah membuat empat garis di atas tanah kemudian bertanya: ‘Tahukah kalian apakah garis ini?’ mereka menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Lebih lanjut beliau bersabda: ‘Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imraan, dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.’”

Di dalam kitab ash-Shahihain telah ditegaskan sebuah hadits dari Syu’bah, dari ‘Amr bin Murrah, dari Murrah bin al-Hamdani, dari Abu Musa al-Asy’ari, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Yang sempurna dari kaum laki-laki itu cukup banyak, sedangkan yang sempurna dari kalangan wanita itu hanya Asiyah istri Fir’aun, Maryam binti ‘Imraan, Khadijah binti Khuwailid, dan sesungguhnya keutamaan ‘Asiyah atas wanita lain adalah seperti keutamaan makanan bubur daging atas makanan lainnya.”
Segala puji dan sanjugan hanya milik Allah semata.

DO’A-DO’A DI BULAN RAMADHAN

 ( LENGKAP ; Waktu, Tempat Mustajab Saat Berdo’a I Kiat Agar Do’a Mustajab I Penghalang-penghalang Terkabulnya Doa )





Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan. Bulan nan penuh berkah. Allah mewajibkan atas kamu shaum di bulan ini. Pada bulan ini pintu-pintu jannah di buka, pintu-pintu Naar ditutup dan syaithan-syaithan di belenggu. Di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa tidak mendapatkan kebaikan di bulan ini, niscaya tidak ada kebaikan baginya.” (HR: Ahmad 8631).
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari api Naar setiap hari dan malam di bulan Ramadhan. Dan sesungguhnya setiap muslim memiliki satu doa yang mustajab di bulan ini.” (HR: Ahmad II/254 dan Al-Bazzar 3142).
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga orang yang tidak tetolak doanya: Orang yang sedang berpuasa ketika berbuka, imam yang adil dan doa orang yang terzhalimi.” (HR: At-Tirmidzi 2528).
- Doa Melihat Hilal (Bulan Sabit) :
اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ
“Allah Maha Besar. Ya Allah, munculkanlah hilal itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, membawa taufiq kepada apa yang Engkau ridhai, Rabb kami dan Rabb kamu adalah Allah.” (HR: At-Tirmidzi dan Ad-Darimi).
- Istighfar dan Doa di Waktu Sahur :
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran:17). “Dan di waktu-waktu sahur (akhir malam) mereka memohon am-pun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat:18).
Apabila Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mendapati waktu sahur beliau membaca doa:
سَمِعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللَّهِ وَحُسْنِ بَلَائِهِ عَلَيْنَا رَبَّنَا صَاحِبْنَا وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا عَائِذًا بِاللَّهِ مِنْ النَّارِ
“Semoga ada yang memperdengarkan pujian kami kepada Allah atas nikmat dan cobaan-Nya yang baik bagi kami. Wahai Rabb kami, dampingilah kami (peliharalah kami) dan berilah karunia kepada kami dengan berlindung kepada Allah dari api Naar.” (HR: Muslim 2718 dari hadits Abu Hurairah).
- Doa Berbuka Puasa :
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.
“Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, insya Allah.” (HR: Abu Dawud, dan Al-Hakim dan beliau menshahihkannya, serta disetujui oleh Adz-Dzahabi dan Ibnu Umar. Lihat Shahih Al-Jami’).
- Doa Sebelum Makan atau Berbuka :
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu memakan makanan, hendaklah membaca:
بِسْمِ اللهِ-
(“Bismillah”)
( Ket: Tidak ada tambahan kata Ar-Rahman Ar-Rahim, cukup “Bismillah”)
Apabila lupa pada permulaannya, hendaklah membaca
بِسْمِ اللهِ فِيْ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ.
(HR. Abu Dawud 3/347, At-Tirmidzi 4/288, lihat kitab Shahih At-Tirmidzi).
- Doa Sesudah Makan atau Berbuka
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ.
“Segala puji bagi Allah yang memberi makan ini kepadaku dan yang memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.” (HR. Penyusun kitab Sunan, kecuali An-Nasai, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/159).
- Doa Tamu Kepada Orang Yang Menghidangkan Makanan / Minuman
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ.
“Ya Allah! Berilah berkah apa yang Engkau rezekikan kepada mereka, ampunilah dan belas kasihanilah mereka.” (HR: Muslim).
اَللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِيْ وَاسْقِ مَنْ سَقَانِيْ.
“Ya Allah! Berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku.” (HR: Muslim).
- Doa Apabila Berbuka Di Rumah Orang :
أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ.
“Semoga orang-orang yang berpuasa berbuka di sisimu dan orang-orang yang baik makan makananmu, serta malaikat mendoakannya, agar kamu mendapat rahmat.” (HR: Sunan Abu Dawud 3/367, Ibnu Majah 1/556 dan An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 296-298. Dishahihkan oleh Al-Albani).
- Doa Orang Yang Berpuasa Apabila Diajak Makan :
إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ.
“Apabila seseorang di antara kamu diundang (makan) hendaklah dipenuhi. Apabila puasa, hendaklah mendoakan (kepada orang yang mengundang). Apabila tidak puasa, hendaklah makan.” (HR. Muslim 2/1054).
- Ucapan Orang Yang Berpuasa Bila Dicaci Maki :
إِنِّيْ صَائِمٌ، إِنِّيْ صَائِمٌ.
“Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 4/103, Muslim 2/806).
- Doa Pergi Ke Masjid :
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا
“Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di lisanku, cahaya pada pendengaranku, cahaya pada penglihatanku, cahaya dari belakangku, cahaya dari depanku, cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, berilah aku cahaya.” (HR: Muslim I/530).
- Doa Masuk ke Masjid :
أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، [بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ][وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ] اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan kekuasaanNya yang abadi, dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah dan semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmatMu untukku.” (HR. Muslim 1/494. Dalam Sunan Ibnu Majah, dari hadits Fathimah x “Allahummagh fir li dzunubi waftahli abwaba rahmatik”, Al-Albani menshahihkannya karena beberapa syahid).
- Doa Keluar Dari Masjid :
بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ، اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.
“Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku dari godaan setan yang terkutuk”. (Tambahan: Allaahumma’shimni minasy syai-thaanir rajim, adalah riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah 129).
- Doa Qunut Witir :
اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، [وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ]، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.
“Ya Allah! Berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi, sayangilah aku seba-gaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berilah berkah apa yang Engkau berikan kepadaku, jauhkan aku dari kejelekan apa yang Engkau takdirkan, sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan qadha, dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepada-Mu. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina, dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau.” (HR. Empat penyusun kitab Sunan, Ahmad, Ad- Darimi, Al-Hakim dan Al-Baihaqi. Sedang doa yang ada di antara dua kurung, menurut riwayat Al-Baihaqi. Lihat Shahih At-Tirmidzi 1/144, Shahih Ibnu Majah 1/194 dan Irwa’ul Ghalil).
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kerelaan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari ancaman-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri.” (HR. Empat penyusun kitab Sunan dan Imam Ahmad. Lihat Shahih At-Tirmidzi 3/180 dan Shahih Ibnu Majah 1/194).
اَللَّهُمَّ إيـَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ، وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكَافِرِيْنَ مُلْحَقٌ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ، وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ، وَنَخْضَعُ لَكَ، وَنَخْلَعُ مَنْ يَكْفُرُكَ.
“Ya Allah! KepadaMu kami menyembah. Untuk-Mu kami melakukan shalat dan sujud.Kepada-Mu kami berusaha dan melayani. Kami mengharap-kan rahmatMu, kami takut pada siksaanMu. Sesungguhnya siksaanMu akan menimpa pada orang-orang kafir. Ya, Allah! Kami minta pertolongan dan minta ampun kepada-Mu, kami memuji kebaikan-Mu, kami tidak ingkar kepada-Mu, kami beriman kepada-Mu, kami tunduk pada-Mu dan berpisah pada orang yang kufur kepada-Mu.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra, sanadnya shahih 2/211. Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 2/170 berkata: Sanadnya shahih dan mauquf pada Umar).
- Bacaan Setelah Salam Sesudah Shalat Witir :
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ (3× يجهر بها ويمد بها صوته يقول) [رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ]
“Subhaanal malikil qudduusi (rabbul malaaikati warruh) tiga kali, sedang yang ketiga, beliau membacanya dengan suara keras dan panjang”. (HR. An-Nasai 3/244, Ad-Daruquthni dan beberapa imam hadis yang lain. Sedang kalimat antara dua tanda kurung adalah tambahan menurut riwayatnya 2/31. Sanadnya shahih, lihat Zadul Ma’ad yang ditahqiq oleh Syu’aib Al-Arnauth dan Abdul Qadir Al-Arnauth 1/337).
- Doa Yang Dibaca Pada Malam Lailatul Qadar :
Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang sebaiknya aku baca bila bertepatan dengan malam itu?” Rasulullah bersabda: “Bacalah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan menyukai orang yang memohon ampunan, maka ampunilah aku.” (HR: At-Tirmidzi 3760, Ibnu Majah 3850, Ahmad VI/171, Al-Hakim I/530 dan An-Nasa’i dalam Amalul Yaum wal Lailah, silahkan lihat Shahih Jami’ At-Tirmidzi).
Waktu-waktu / Tempat / Orang Yang Mustajab Dalam Berdoa:
1. Sepertiga akhir malam.
2. Doa orang yang berpuasa & saat berbuka puasa bagi orang yang berpuasa.
3. Doa sebelum salam ketika shalat & setiap selepas shalat fardhu.
4. Pada saat perang berkecamuk.
5. Sesaat pada hari jum’at.
6. Pada waktu bangun tidur pada malam hari bagi orang yang sebelum tidur
dalam keadaan suci dan berdzikir kepada Allah.
7. Doa diantara Adzan dan Iqamah.
8. Doa pada waktu sujud dalam shalat.
9. Pada saat sedang turun hujan.
10. Pada saat ajal tiba.
11. Pada malam Lailatul Qadar.
12. Doa pada hari Arafah.
13. Pada waktu sahur.
14. Setelah melontar Jumrah.
15. Sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.
16. Doa diantara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
18. Doa seorang muslim terhadap saudaranya dari tempat yang jauh.
19. Orang yang memperbanyak berdoa pada saat lapang dan bahagia.
20. Doa orang yang terzhalimi atau teraniaya.
21. Doa Orang tua terhadap anaknya.
22. Doanya seorang musafir.
23. Doa orang yang dalam keadaan terpaksa, dll.
Kiat-kiat Agar Doa Mustajab :
- Mengikhlaskan niat hanya bagi Allah semata dan tidak menyekutukan Allah .
- Khusyu’, yakni melihat dirinya rendah, fakir di hadapan Allah, serta merasa sangat membutuhkan-Nya.
- Berdoa dengan suara lirih dan menjauhkan diri dari sifat riya agar doa yang di-
panjatkan tidak terdengar orang lain.
- Berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang Husna.
- Berdoa dalam keadaan suci.
- Berdoa kepada Allah dengan menengadahkan kedua telapak tangan (Ket:
Khusus doa-doa yang disyariatkan mengangkat kedua tangan).
- Memulai doa dengan mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada Allah .
- Bershalawat atas Nabi dalam doa.
- Bersunggguh-sungguh dalam berdoa serta menunjukkan sikap sangat membu-
tuhkan dan sangat menginginkan doa yang ia panjatkan terkabul.
- Disunahkan berdoa dengan menghadap kiblat.
- Memperbanyak ucapan “Yaa Dzaljalaali wal ikram” ketika berdoa.
- Memperbanyak doa pada saat-saat lapang.
- Merintih dalam berdoa dan meminta yang banyak kepada Allah.
Penghalang-penghalang Terkabulnya Doa:
- Rezeki yang haram; baik makanan, minuman maupun pakaian.
- Tidak menyusahkan diri dengan membuat doa yang bersajak.
- Berlebih-lebihan dan melampui batas dalam berdoa.
- Berteriak dan mengeraskan suara dalam berdoa, maupun dengan sengaja.
- Tidak terburu-buru dalam meminta pengabulan doa.
- Berdoa dengan hati yang lalai lagi lengah.


TADABBUR SURAT AT-TAUBAH

 





TADABBUR SURAT AT-TAUBAH (1)

oleh: aunur ragiq saleh



• Puasa adalah bulan taubat. Maksudnya kesempatan yang baik untuk bertaubat.


• Menjelang datangnya bulan yang baik penuh berkah ini mari kita renungkan surat at-Taubah. Semoga renungan ini bisa membangkitkan semangat dalam menjalani ibadah ramadhan dan menguatkan tekad dan rencana untuk terus memperbaiki diri dengan bertaubat kepada Allah. Khususnya bertaubat dari malas dan enggan berjuang membela agama Allah. Karena taubat menjadi awal manzilah (tahapan) dalam perjalanan menuju Allah dan sekaligus akhir yang diharapkan di ujung kehidupan.


• Surat at-Taubah termasuk surat Madaniyah. Turun setelah surat al-Maidah tetapi letaknya di dalam Mushhaf setelah surat al-Anfal. Jumlah ayatnya 129 ayat.


• Ia merupakan surat terakhir yang diturunkan kepada Nabi saw secara lengkap. 


• Surat ini diturunkan ketika umat Islam sedang bersiap-siap untuk membawa keluar risalah Islam dari semenanjung Arabia ke seluruh bangsa di muka bumi.


• Surat ini diturunkan setelah akhir peperangan yang dilakukan Nabi saw, perang Tabuk. Jumlah pasukan kaum muslimin 30.000 personil. 


• Menariknya, surat ini diletakkan di dalam Mushhaf langsung setelah surat al-Anfal yang berbicara tentang perang Badar, perang pertama yang dilakukan Nabi saw. Jumlah kaum muslimin di perang Badar saat itu hanya 313 personil. 


• Barangkali hikmahnya, agar pembaca al-Quran memerhatikan perbedaan kondisi yang ada dalam kedua peperangan tersebut, hukum-hukumnya, perkembangan umat Islam,  dan metode al-Quran dalam menyampaikan pelajaran-pelajaran dan ulasan-ulasannya.


• Perang Tabuk termasuk perang yang paling banyak menunjukkan pengaruh dan efek kemunafikan, karena banyak orang munafik yang ikut dalam peperangan ini.


• Banyak orang munafik yang mangkir tidak mau ikut peperangan ini dan melakukan berbagai ulah untuk melemahkan semangat kaum muslimin, sebagaimana ada sebagian kaum muslimin yang mangkir karena malas. Ada juga yang menangis sedih karena tidak bisa ikut berperang karena tidak punya biaya. Perang pada saat itu atas biaya sendiri, sekalipun ada sumbangan besar yang diberikan Utsman bin Affan tetapi tidak mencukupi sehingga terpaksa sebagian prajurit kaum muslimin tidak bisa berangkat.


• Hasil peperangan ini dimenangkan kaum muslimin tanpa pertempuran karena musuh melarikan diri ketakutan. Banyak pelajaran yang muncul dari perjalanan perang ini lalu diturunkan surat at-Taubah untuk memberikan ulasan-ulasannya terkait berbagai peristiwa yang terjadi seputar peperangan ini.