Ramadhan berlaku sudah, maka pentingnya menjaga keshalehan setiap individu, yang umumnya meningkat dibulan Ramadhan.
Keshalehan tidak hanya terkait dengan ketaatan dalam beribadah karena shaleh itu maknanya luas.
Shaleh (صالح) dalam bahasa Arab berarti baik, benar, bermanfaat, atau terhindar dari kerusakan.
Secara istilah, shaleh sering merujuk pada individu yang taat beribadah, suci/beriman, memiliki budi pekerti mulia, dan perilakunya bermanfaat serta sesuai dengan ajaran agama, tidak membawa kerusakan bagi lingkungan.
Ada beberapa level atau macam kesalehan: keshalehan ritual, keshalehan susila, keshalehan sosial dan keshalehan profesional.
Umumnya kita melihat keshalehan hanya pada satu aspek saja, ritual.
Ini (keshalehan ritual) adalah keshalehan level pertama dari empat level keshalehan.
Hal ini sesuai dengan penjelasan KBBI, dimana shaleh diartikan sebagai taat, sungguh-sungguh menjalankan ibadah, serta suci dan beriman.
Tetapi bila merujuk pada makna generik dari kata dasar dalam bahasa Arab, pengertian shaleh lebih luas dari KBBI. Sehingga orang saleh adalah mereka yang menggabungkan thayib (sehat fisik), khair (sifat baik), makruf (perbuatan baik), bermanfaat (untuk dirinya dan orang lain) dan ihsan (totalitas/profesional melakukan karena Allah).
Jenis atau level kedua adalah keshalehan susila. Susila adalah budi bahasa dan prilaku yang baik.
Kashalehan ini terkait dengan hubungan antar personal seperti hubungan antara anak dengan orang tua atau hubungan antara laki-laki dengan perempuan yang harus dilakukan sesuai dengan aturan yang seharusnya.
Dalam bahasa Sansekerta, (Su) artinya baik, sedangkan (sila) artinya aturan atau tingkah laku.
Dalam Islam aturan yang mengatur tingkah laku seseorang dengan orang tuanya, dengan kerabatnya dan dengan lawan jenisnya tertuang dengan jelas dan tegas. Penuh dengan penghormatan dan pemuliaan.
Ketiga, keshalehan sosial. Istilah ini sudah sering dan cukup lama kita dengar.
Kesalehan sosial adalah perilaku atau sikap seseorang yang menunjukkan kepedulian, empati, dan kebermanfaatan (seseorang) bagi orang lain maupun lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu seseorang disebut memiliki keshalehan sosial bila dalam dirinya tertanam sikap solidaritas sosial, toleransi, sikap tolong-menolong, dan empati terhadap kesulitan orang lain.
Berbicara dan fleksing tentang kemewahan, makan enak, jalan jalan manis manja didepan orang orang yang kesusahan menunjukkan rendahnya keshalehan sosial.
Dalam surah At-Takasur, Allah memberikan teguran bagi mereka yang saling pamer kemewahan dan jumlah kekayaan. Firman-Nya,
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.".
Ayat ini turun sebagai teguran bagi mereka yang saling pamer kemewahan dan jumlah kekayaan.
Ada juga nasihat masyhur dari Ali bin Abi Thalib ra yang secara eksplisit menyebutkan: "Jangan bicara tentang hartamu di hadapan orang miskin."
Nasihat ini bertujuan untuk menjaga hati mereka (orang miskin) agar tidak merasa sedih atau rendah diri juga sebaliknya agar yang kaya tidak sombong. Karena sombong adalah "menolak kebenaran dan meremehkan orang lain".
Orang yang miskin empati disebut apatis, tidak peduli, acuk tak acuh bahkan anti sosial. Kawannya egosentris, sosiapat dan narsistik. Yang kesemuanya haus akan validasi dari orang lain.
Kesalehan yang keempat adalah keshalehan profesional.
Islam sangat menekankan profesionalisme dalam bekerja atau itqanul amal, yang maknanya bekerja dengan sungguh-sungguh, tekun, teliti, tuntas dan berkualitas. Tidak asal asalan.
Mengenai hal, Aisyah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (profesional/bersungguh-sungguh)" (HR. Thabrani, Baihaqi).
Kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja berkualitas adalah ciri dan karakter dari orang shaleh dari mulai ibadah ritualnya sampai dengan pekerjaannya.
Tidak hanya dalam pelaksanaan ibadah ritualnya yang dilakukan secara khusuk, tumakninah dan tertib tetapi dalam pekerjaan profesionalnya pun kurang lebihnya ya seperti itu. Tuntas dan berkualitas.
Kedepan semoga tidak ada lagi ungkapan, "Dia orang shaleh, rajin ke masjid tapi jarang berinteraksi dengan lingkungannya. Nggak pernah gotong royong, nggak ikut ronda bahkan jarang ikut ngelayat (takziah)..."
Idealnya seorang dai adalah sosok individu shaleh yang syumuliyah bukan shaleh yang juz'iyah.
"Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka."(HR. At-Tirmidzi no. 2507, Ahmad, dan Ibnu Majah).
Kesalehan adalah produktivitas yang tiada henti mengajak orang lain untuk menjadi saleh. Kesalehan itu adalah rekruitmen tiada henti. Wallahul Musta’an



























