*1️⃣ Shalat Id di Tempat kami koq di lapangan, bukan di masjid*
Jawaban:
Mayoritas ulama mengatakan shalat id lebih diutamakan di lapangan, namun boleh di masjid, atau di mana pun asalkan suci, seperti di rumah, aula, dll.
Sdgkan mazhab Syafi'i lebih mengutamakan di masjid jika mampu menampung semua jamaah, jika tidak mampu, barulah di lapangan.
Maka, Shalat id, baik di masjid, rumah, lapangan, atau di mana saja, boleh dan sah.
Imam asy Syafi'i Rahimahullah mengatakan:
ويصلي العيدين المنفرد في بيته والمسافر والعبد والمرأة
_Shalat dua hari raya seorg diri di rumah baik musafir, hamba sahaya, dan wanita._
(Mukhtashar al Umm, 8/125)
Imam An Nawawi menjelaskan:
أما الاحكام فقال اصحابنا تجوز صلاة العيد في الصحراء وتجوز في المسجد فان كان بمكة فالمسجد الحرام أفضل بلا خلاف
_Ada pun masalah hukum-hukumnya, sahabat-sahabat kami (Syafi’iyah) mengatakan bolehnya shalat ‘Id di lapangan dan bolehnya di masjid. Jika di Mekkah, maka Masjidil Haram adalah lebih utama, tanpa diperdebatkan lagi._
(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 5/5)
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:
تصح صلاة العيد من الرجال والنساء مسافرين كانوا أو مقيمين جماعة أو منفردين، في البيت أو في المسجد أو في المصلى.
_Shalat Id itu sah dilalukan oleh pria, wanita, musafir, mukimin, berjamaah, sendiri, di masjid, di rumah, atau dilapangan._ (Fiqhus Sunnah, 1/321)
Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:
وهو مخير ، إن شاء صلاها وحده ، وإن شاء صلاها جماعة. قِيلَ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ: أَيْنَ يُصَلِّي؟ قَالَ: إنْ شَاءَ مَضَى إلَى الْمُصَلَّى، وَإِنْ شَاءَ حَيْثُ شَاءَ.
_Dia boleh memilih, jika mau dia bisa shalat sendiri, jika mau dia bisa shalat berjamaah. Abu Abdillah (Imam Ahmad) ditanya, di mana shalatnya? Beliau menjawab: "Jika dia mau di mushalla (lapangan), kalau dia mau dimana saja_." (al Mughni, 2/290)
*2️⃣ Zakat via transfer, apakah boleh? Kan tidak ada ijab Qabul?*
Jawaban:
Berjumpa dan berjabat tangan dalam sedekah, dan melafazkan ijab Qabul, antara pemberi dan penerima adalah sunnah, dan bukan syarat sahnya sedekah. Baik pada zakat atau sedekah sunnah.
Imam As Suyuthi menjelaskan:
فَالصَّحِيحُ أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ فِيهَا الْإِيجَابُ وَالْقَبُولُ لَفْظًا، بَلْ يَكْفِي الْبَعْثُ مِنْ الْمُهْدِي، وَالْقَبْضُ مِنْ الْمُهْدَى إلَيْهِ .... وَمِنْهُ: الصَّدَقَةُ قَالَ الرَّافِعِيُّ: وَهِيَ كَالْهَدِيَّةِ، بِلَا فَرْقٍ
_Yang shahih adalah tidak disyaratkan adanya ijan qabul secara lafaz, tetapi sudah cukup (sah) terjadinya perpindahan dari pemberi dan penerima... Di antaranya dalam hal sedekah (zakat). Ar Rafi'i mengatakan: "Ini sebagaimana memberikan hadiah, tidak ada bedanya."_ (Al Asybah wan Nazhair, 1/278-279)
Sehingga sedekah atau zakat dengan transfer tidak masalah, Ijab Qabul (serah terima) hakikatnya telah terjadi dgn perpindahan tangan dari Muzakki ke Amil atau mustahiq. Semua ini tetap mendapatkan keutamaannya, asalkan ikhlas.
*3️⃣ Wajibkah Zakat Fitrah bagi anak yang masih di kandungan?*
Jawaban:
JIKA bayi itu lahirnya SEBELUM tenggelam matahari di akhir Ramadhan maka wajib dizakat fitrahkan. Tapi jika setelah tenggelam matahari bayi itu masih di perut ibunya, maka belum wajib.
Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:
فإذا ولد الطفل قبل غروب شمس آخر يوم من رمضان أخرجت عنه زكاة الفطر، أما إذا غربت شمس آخر يوم من رمضان وهو في بطن أمه فلا يجب إخراجها عنه. هذا هو الراجح من أقوال أهل العلم، وهو مذهب الحنابلة، والأظهر عند الشافعية وأحد قولي المالكية، وعللوا ذلك بأنه كان في بطن أمه وقت وجوب الزكاة فلا يجب إخراجها عنه
_Jika lahirnya bayi sebelum terbenam matahari di akhir Ramadhan, maka wajib baginya dikeluarkan zakat fitri._
_Ada pun jika matahari terbenam di hari akhir Ramadhan bayi itu masih di perut ibunya maka tidaklah wajib zakat untuknya._
_Inilah pendapat yang lebih kuat dari berbagai pendapat ulama. Inilah madzhab Hanabilah, dan yang benar dari Syafi'iyah, salah satu pendapat Malikiyah. Alasannya adalah jk bayi tsb masih di perut ibunya di waktu wajibnya zakat, maka tidak wajib mengeluarkan zakat untuknya._
(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 6406)
*4️⃣ Mudik Shalat Wajib di Kendaraan, bolehkah?*
Jawaban:
Safar di kendaraan dan tidak bs berhenti untuk shalat, bisa shalat di kendaraan namun dalam rangka _lihurmatil waqti_ (utk menghormati waktunya), yg nantinya diulang sesampai tujuan. Alasannya, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Sallam tidak pernah shalat fardhu di kendaraan. Semua hadits2 tentang shalatnya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Sallam di kendaraan itu tentang shalat sunah.
Sebagian ulama mengatakan tidak perlu diulang, tetapi diulang lebih hati-hati.
Imam An Nawawi _Rahimahullah_ berkata:
قال أَصْحَابُنَا وَلَوْ حَضَرَتْ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ وَهُمْ سَائِرُونَ وَخَافَ لَوْ نَزَلَ لِيُصَلِّيَهَا عَلَى الْأَرْضِ إلَى الْقِبْلَةِ انْقِطَاعًا عَنْ رُفْقَتِهِ أَوْ خَافَ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ لَمْ يَجُزْ تَرْكُ الصَّلَاةِ وَإِخْرَاجُهَا عَنْ وَقْتِهَا بَلْ يُصَلِّيهَا عَلَى الدَّابَّةِ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ وَتَجِبُ الْإِعَادَةُ لِأَنَّهُ عُذْرٌ نَادِرٌ هَكَذَا ذَكَر الْمَسْأَلَةَ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ صَاحِبُ التَّهْذِيبِ وَالرَّافِعِيُّ وَقَالَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ يُصَلِّي عَلَى الدَّابَّةِ كَمَا ذَكَرْنَا قَالَ وَوُجُوبُ الْإِعَادَةِ يَحْتَمِلُ وَجْهَيْنِ أَحَدَهُمَا لَا تَجِبُ كَشِدَّةِ الْخَوْفِ وَالثَّانِي تَجِبُ لِأَنَّ هَذَا نَادِرٌ
_Para sahabat kami (Syafi'iyah) mengatakan: Jika masuk waktu shalat WAJIB, dan mereka dalam posisi perjalanan, dan khawatir jika shalatnya mereka menghadap kiblat membuat mereka terputus dari rombongan, atau khawatir atas keselamatan diri sendiri, atau hartanya, di sisi lain shalat tidak boleh ditinggalkan atau keluar dari waktunya, *maka hendaknya dia shalat di atas kendaraannya untuk menghormati waktunya*, dan wajib baginya nanti untuk mengulanginya karena itu adalah 'udzur yang langka._
_Demikianlah bahasan masalah ini, seperti yang dikatakan segolongan ulama di antara mereka pengarang At Tahdzib dan Ar Rafi'iy._
_Al Qadhi Husein mengatakan tentang shalat di atas kendaraan seperti yang kami sebutkan, menurutnya kewajiban mengulangi itu ada dua makna: *Pertama.* TIDAK WAJIB mengulangi karena sama dengan shalat dalam keadaan sangat khawatir/khauf. *Kedua.* WAJIB ulangi, sebab ini udzur yang langka._
*(Al Majmu' Syarh Al Muhadzdzab, 3/242)*
Syaikh Abdullah Al Faqih _Hafizhahullah_ mengatakan:
ونقل عن بعضهم أنه لا تجب الإعادة، لأن فعل الفرض يطلب مرة واحدة، وهو الراجح، وإن كانت الإعادة أحوط.
_Dinukil dari sebagian ulama TIDAK WAJIBnya mengulangi shalatnya, karena melakukan shalat wajib itu hanya sekali di waktu yang sama, inilah pendapat yang lebih kuat, walau mengulangi itu adalah lebih hati-hati._
*(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 14833)*
Wallahu A'lam
Wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa ala Alihi wa Shahbihi wa Sallam



























