Sabtu, 21 Februari 2026

Tadabbur Haraki Surah Al-‘Ashr: Manhaj Gerakan dan Rekonstruksi Komitmen di Bulan Ramadhan

 


@ Wildan Hakim

Surah Al-‘Ashr hanya tiga ayat, tetapi para ulama menyebutnya sebagai ringkasan manhaj keselamatan. 


Imam Syafi’i bahkan berkata;


 "لو تدبر الناس هذه السورة لوسعتهم"


“Seandainya manusia mentadabburi surah ini, niscaya ia akan mencukupi mereka.”


Atau dalam riwayat lain;


لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم


“Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah (argumentasi/petunjuk) kepada makhluk-Nya selain surah ini saja, niscaya surah ini telah mencukupi mereka.”


Dalam konteks Ramadhan, surah ini bukan sekadar nasihat spiritual—ia adalah peta kerja gerakan dan evaluasi total atas umur, amal, dan komitmen jama‘i.


🍁“Demi Masa” — Ramadhan adalah Momentum, Bukan Rutinitas


Allah bersumpah dengan waktu. Sumpah ini menunjukkan bahwa waktu adalah modal utama manusia.


Ramadhan adalah:


🌴Momentum percepatan ruhiyah


🌴Bulan pengkaderan kesabaran


🌴Madrasah pembentukan disiplin


🌴Waktu emas restrukturisasi niat dan arah perjuangan


Dalam perspektif haraki, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah personal, tetapi:


Bulan recharging visi dakwah dan penguatan barisan.


Jika waktu berlalu tanpa peningkatan iman dan kontribusi, maka kita masuk dalam kategori: “Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.”


Kerugian bukan hanya maksiat. Kerugian adalah stagnasi. Kerugian adalah tidak bertumbuh.


🍁Empat Pilar “Matriks Kemenangan” dalam Ramadhan


Surah ini menyebut empat syarat keselamatan. Dalam konteks Ramadhan dan dakwah, ia membentuk matriks kader ideal:


🔹 A. Iman — Fondasi Ruhiyah


Ramadhan menguji kualitas iman, bukan sekadar kuantitas ibadah.


Iman yang dimaksud bukan hanya pengakuan, tetapi:


🌴Keyakinan terhadap visi Islam


🌴Kepercayaan penuh pada janji kemenangan Allah


🌴Loyalitas terhadap manhaj


Ramadhan adalah bulan tatsbitul iman (peneguhan iman). Jika setelah Ramadhan semangat dakwah melemah, berarti ada yang salah pada fondasi iman.


🔹 B. Amal Shalih — Produktivitas, Bukan Seremonial


Iman harus terkonversi menjadi amal nyata.


Dalam konteks gerakan:


🌴Amal adalah kontribusi.


🌴Amal adalah pelayanan.


🌴Amal adalah pengorbanan.


Ramadhan melatih produktivitas dalam keterbatasan (lapar, lelah, kurang tidur). Ini simulasi ketahanan kader.


Jika kita bisa tetap produktif dalam kondisi puasa, berarti kita sedang dilatih untuk tetap istiqamah dalam tekanan.


🔹 C. Saling Menasihati dalam Kebenaran — Budaya Korektif


Kata “tawāshau” menunjukkan proses timbal balik.


Ramadhan harus menghidupkan:


🌴Budaya saling mengingatkan


🌴Evaluasi jama‘i


🌴Muhasabah struktural


Gerakan yang berhenti menasihati akan digerogoti ego. Ramadhan adalah momentum memperbaiki komunikasi, menghilangkan prasangka, dan menyatukan visi.


Tanpa budaya tawāshau, amal akan melemah dan iman akan terfragmentasi.


🔹 D. Saling Menasihati dalam Kesabaran — Ketahanan Ideologis


Sabar dalam dakwah berarti:


🌴Sabar terhadap tekanan eksternal


🌴Sabar menghadapi dinamika internal


🌴Sabar dalam proses panjang kemenangan


Ramadhan melatih sabar secara praktis:


🌴Menahan lapar


🌴Menahan emosi


🌴Menahan keinginan


Jika kita gagal menjaga lisan saat puasa, bagaimana menjaga konsistensi perjuangan saat tekanan datang?


Sabar bukan pasif. Sabar adalah stabilitas dalam badai.


🍁Ramadhan: Evaluasi Total Kader dan Gerakan


Surah Al-‘Ashr memberi pesan tegas:


Kerugian adalah default manusia. Kemenangan harus diperjuangkan.


Ramadhan adalah:


🌴Audit iman


🌴Audit amal


🌴Audit kontribusi


🌴Audit kesabaran


Pertanyaan haraki yang harus kita jawab di bulan ini:


🌴Apakah iman kita meningkat atau hanya ritual bertambah?


🌴Apakah amal kita berdampak atau hanya simbolik?


🌴Apakah kita membangun budaya nasihat atau memperkuat kubu?


🌴Apakah kita sabar dalam visi atau mudah lelah oleh opini?


🍁Karakter Kader “Al-‘Ashr” di Bulan Ramadhan


Kader Al-‘Ashr adalah:


🌴Menghargai waktu lebih dari harta


🌴Menjadikan Ramadhan sebagai akselerator perubahan


🌴Memahami bahwa keselamatan bersifat kolektif


🌴Menjadikan masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat pembinaan


Ramadhan bukan akhir perjalanan. Ia adalah titik loncat menuju 11 bulan berikutnya.


Jika setelah Ramadhan:


🌴Disiplin meningkat


🌴Komitmen menguat


🌴Ukhuwah membaik


🌴Produktivitas dakwah bertambah


Maka kita telah lulus dari madrasah Al-‘Ashr.


🍁Penutup: Ramadhan dan Janji Kemenangan


Surah Al-‘Ashr mengajarkan bahwa keselamatan bukan kebetulan. Ia hasil dari iman yang kokoh, amal yang nyata, nasihat yang hidup, dan sabar yang panjang.


Ramadhan adalah laboratorium empat nilai itu.


Jangan biarkan bulan ini berlalu hanya dengan rasa lapar. Biarkan ia berlalu dengan perubahan struktur jiwa dan arah gerakan.


Karena waktu terus berjalan. Dan demi masa — kita tidak punya kemewahan untuk kalah.



Jumat, 20 Februari 2026

CV SHAFFAN ENGINEERING







Paket Desain Kami Meliputi :

JASA DESAIN ARSITEK EXTERIOR/INTERIOR

Desain Berkualitas, harga terjangkau 
✅Berpengalaman selama lebih dari 15 tahun 
✅Desain dijamin sesuai keinginan
✅Dikerjakan langsung oleh ahli
✅Proses mudah dan aman
✅Mempermudah anda dalam pembangunan anda dan perencanaan anda.


☑️3d render exterior
☑️gambar  arsitek
☑️gambar 3D interior 
☑️denah 3d
☑️Denah 2d
☑️gambar potongan
☑️gambar detail bangunan 
☑️R.A.B 









Segera konsultasikan kebutuhan desain arsitek yang anda inginkan

Gambar 3D Exterior bangunan ( bentuk jadi bangunan dari rumah yang sedang di desain)

Gambar konstruksi bangunan komplit ( sudah dapat di gunakan sebagai acuan dalam membangun rumah & syarat dalam mengurus IMB)

Rencana Anggaran Biaya ( RAB )

Perhitungan Struktur bangunan 

Supervisi (Pengawasan) bangunan

Print Out Gambar



Harga jasa untuk produk tersebut adalah Rp 30.000,- per m2 luas bangunan




INFORMASI LEBIH LANJUT 

HUBUNGI

087864197009 (FADLY)


Office :
Jl. Gotong Royong Gg. Garuda No 1
Presak Tempit Ampenan
Kota Mataram


email : shaffanengineering@gmail.com




Denah Lokasi CV Shaffan Engineering silahkan klik 

lokasi Kantor CV Shaffan Engineering


Ramadhan: Madrasah Jihad Melawan Diri Dan Jalan Kemenangan Dakwah

 


Ibnu Rajab rahimahullah berkata:


_“Ketahuilah, bahwa seorang mukmin pada bulan Ramadhan akan menghadapi dua bentuk jihad terhadap dirinya sendiri: jihad pada siang hari melalui pelaksanaan puasa, dan jihad pada malam hari melalui ibadah qiyam (salat malam). Barang siapa mampu menggabungkan kedua jihad tersebut, menunaikan hak-haknya dengan sempurna, serta bersabar dalam menjalaninya, maka ia akan diberikan pahala secara sempurna tanpa batas perhitungan.”_

(Lathā’if al-Ma‘ārif, hlm. 171)


Ibnu Rajab rahimahullah mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar musim ibadah, melainkan musim mujahadah — medan jihad seorang mukmin terhadap dirinya sendiri. Siang hari menjadi arena pengendalian syahwat melalui puasa, sementara malam hari menjadi ruang penyucian ruh melalui qiyam. Dua jihad ini tidak berdiri sendiri; keduanya saling menguatkan, membentuk pribadi yang kokoh, sabar, dan layak memikul amanah perjuangan.


Seorang kader dakwah perlu memahami bahwa kemenangan besar tidak lahir dari gemuruh slogan, tetapi dari kemenangan yang sunyi di dalam dada. Puasa mendidik kita untuk berkata “tidak” kepada keinginan yang halal sekalipun; maka bagaimana mungkin seorang aktivis dakwah tidak mampu berkata “tidak” kepada hawa nafsu, ambisi pribadi, atau ego organisasi? Qiyamullail melatih kita berdiri lama di hadapan Allah, agar kelak kita mampu berdiri tegak di hadapan ujian umat tanpa kehilangan arah.


Ramadhan dengan demikian adalah madrasah pembentukan kader. Siang hari mengajarkan disiplin, ketahanan, dan kesabaran strategis. Malam hari menanamkan keikhlasan, kepekaan ruhiyah, dan kejernihan niat. Jika puasa hanya menghasilkan lapar, dan qiyam hanya menghasilkan lelah, maka ruh tarbiyah belum benar-benar bekerja. Tetapi jika keduanya melahirkan jiwa yang lebih tunduk kepada Allah dan lebih siap melayani umat, di situlah hakikat pendidikan Ramadhan mulai tampak.


Dalam perspektif harakah, jihad melawan diri adalah fondasi bagi jihad membangun jamaah. Banyak barisan melemah bukan karena kekurangan ide, melainkan karena rapuhnya jiwa. Ketika ego lebih besar daripada ukhuwah, ketika kenyamanan lebih dicintai daripada amanah, di situlah langkah dakwah melambat. Ramadhan datang setiap tahun untuk memperbaiki simpul itu: menyatukan kembali hati, meluruskan niat, dan mengembalikan orientasi perjuangan hanya kepada ridha Allah.


Puasa menumbuhkan empati sosial; seorang kader yang lapar akan lebih mudah memahami penderitaan umat. Qiyam menumbuhkan keberanian moral; seorang yang terbiasa menangis di sepertiga malam tidak mudah goyah oleh tekanan dunia. Dari perpaduan keduanya lahirlah pribadi yang lembut kepada sesama namun tegas terhadap kebatilan — ruh yang dibutuhkan oleh setiap gerakan dakwah yang ingin tetap hidup dan relevan.


Karena itu, Ramadhan bukan waktu untuk memperlambat langkah dakwah, tetapi untuk mengisi ulang tenaga ruhiyahnya. Aktivitas boleh berkurang secara lahiriah, namun kedalaman makna harus bertambah. Program boleh disederhanakan, tetapi kualitas hati harus ditinggikan. Seorang kader sejati tidak sekadar menghitung berapa banyak amal yang dilakukan, tetapi sejauh mana dirinya berubah setelah melewati madrasah ini.


Ibnu Rajab menutup nasihatnya dengan janji agung: siapa yang menggabungkan dua jihad ini dan menunaikan haknya dengan sabar, maka ia akan diberi pahala tanpa batas. Ini bukan hanya janji bagi individu, tetapi juga harapan bagi jamaah: ketika para kadernya menang atas dirinya sendiri, maka Allah akan membuka pintu-pintu kemenangan yang lebih luas.


Maka, wahai para mujahid  dakwah — jadikanlah Ramadhan sebagai momentum konsolidasi jiwa. Perkuat puasa agar lahir keteguhan. Hidupkan malam agar tumbuh keikhlasan. Satukan keduanya agar lahir generasi yang tidak hanya rajin beramal, tetapi juga matang dalam perjuangan.


Sebab kemenangan dakwah selalu bermula dari satu hal: jiwa yang telah menang atas dirinya sendiri.



Rabu, 18 Februari 2026

JADWAL IMSAKIYAH 1447 H ( 2026) Kota Mataram, NTB dan Sekitarnya






Kementerian Agama Republik Indonesia

Jadwal Imsakiyah 1447 H / 2026 M

Provinsi : NTB
Untuk Daerah : KOTA MATARAM







Informasi data jadwal imsakiyah untuk daerah lain 
silahkan klik 👇






Selasa, 02 Desember 2025

BERBUATLAH, WAKTU KITA CUMA HARI INI

 





قُلْ يٰقَوْمِ اعْمَلُوْا عَلٰى مَكَانَتِكُمْ اِنِّيْ عَامِلٌۚ فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ 


"Katakanlah, “Wahai kaumku, berbuatlah sesuai kedudukanmu..! Maka kelak kamu akan mengetahui (siapa yang terbaik kedudukannya di sisi Allah)." (QS Az Zumar: 39)


*" Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu technology sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih bermanfaat untuk umat. Kalo saya disuruh memilih antara keduanya maka saya akan memilih ilmu Agama."* 

(Cuplikan ceramah BJ Habibie di Kairo).


*"Di manapun kamu berada, selalulah menjadi yang terbaik. Berikanlah apa yang terbaik yang bisa kau berikan...!"* 

(Wasiat BJ Habibie pada bangsa Indonesia jelang wafatnya)


Semasa hidupnya Habibie telah meraih begitu banyak penghargaan internasional dalam bidang sains, karena otaknya yang genius. Tapi di akhir hayatnya, berbagai penghargaan duniawi, ketenaran dan kekayaan melimpah itu, ternyata tak bisa membahagiakan jiwanya. 

 

Berikut cuplikan puisi Habibie, tentang kegundahan jiwanya, yang sempat terkuak oleh media.


*Sepi penghuni... istri sudah meninggal...*

*Tangan menggigil karena lemah...*

*Penyakit menggerogoti sejak lama...*

*Duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman...* *Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu...*


*Tiga anak, semuanya sukses... berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri...*

*Ada yang sekarang berkarir di luar negeri... »*

*Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi...*

*Dan ada pula yang jadi pengusaha ...*

*Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol, semuanya kaya raya...*

*Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak...*

*sepanjang waktu ....*

*Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya... atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti*

*Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti...*

*yang pasti hanyalah KEMATIAN.*

*Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya...*

*Anak sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC...*

*Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang...*

*Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa .?*

*Kira-kira jika malaikat "datang menjemput", akan seperti apakah kematian nya nanti.*

*Siapa yang akan memandikan ?*

*Dimana akan dikuburkan ??*


Habibie, ilmuwan dunia terkemuka itu telah menghadap Robbnya. 


Prestasi paling prestis yang ia sumbangkan bagi dunia dirgantara, adalah Crack Theory. 


Yakni teori fisika yang mampu  mendeteksi secara dini gejala awal keretakan yang terjadi pada badan pesawat terbang. 


Teori ini kini telah dipakai oleh seluruh maskapai penerbangan dunia. Dari karyanya itu, sejatinya Habibie telah berhasil mencegah terjadinya kecelakaan fatal pada pesawat, saat alat deteksi sebelumnya sulit mencari sumber keretakan dini pada badan pesawat.

 

Jasa besar Habibie dalam dunia dirgantara dan kegeniusannya, diakui oleh dunia internasional.  


Besarnya kontribusi Habibie dalam dunia dirgantara telah melejitkan sosoknya sebagai ilmuwan modern kharismatis. Namanya layak disejajarkan dengan ilmuwan terkemuka dunia lainnya, semisal Stephen Hawking, Alessandro Volta, Alfred Nobel, Bill Gates.


Ia sukses meraih  kharismatik duniawi. Penghargaan dan royalti terus mengalir pada dirinya. Hanya saja, ia merasa gagal meraih sukses *"kharismatik ukhrowi..!"*. 


Kegeniusannya sejatinya bisa ia manfaatkan untuk melejitkan syi'ar-syiar Islam. 


Dengan modal ilmu kedirgantaraan dan angkasa raya yang amat ia kuasai, ia semestinya bisa mendakwahkan pada orang lain tentang dahsyatnya ciptaan Allah di alam semesta. 


Sehingga kedudukannya yang amat prestis sebagai ilmuwan dan sekaligus pejabat negara, banyak sesungguhnya yang bisa ia perbuat untuk melejitkan pamor Islam di lingkungan birokrasi. 


Ia sejatinya dapat membangun pilar-pilar Islam dalam tata kelola berbangsa dan bernegara. Ia mampu membangun pilar Islam itu dalam keluarganya, dalam masyarakatnya. 


Masa keemasan itu berlalu, tanpa ia berhasil menorehkan prestasi dakwahnya melejitkan pamor Islam. Hingga ia gagal meraih kharisma ukhrowi, yang sesungguhnya hal itulah yang amat ia dambakan di hari tuanya. 


Boleh jadi, aspek kegagalan meraih sukses kharisma ukhrowi itulah,   yang menjadi faktor  penyesalan di penghujung hidup beliau. 


Ia sesungguhnya adalah sosok pejabat negara yang baik. Memiliki integritas kuat. 


Sukses mengantarkan anak-anaknya mengikuti jejak keberhasilan dunianya. Tapi boleh jadi ia menyesali, kenapa saat ia pernah berada di satu babak cemerlang awal-awal kehidupannya. 


Dimana ia  berada di posisi penting  dan terkenal,  di posisi strategis dan punya otoritas, momentum emas yang sesungguhnya bisa ia perbuat untuk melejitkan syi'ar Islam..? 


Tapi kenapa golden chance itu ia biarkan berlalu, tanpa ia torehkan karya monumental untuk Islam..? 


Allah memerintahkan Rosul mulia, agar umatnya  bekerja, berbuat dan berkarya. Tentu bukan bekerja yang ngasal. Tapi kerja-kerja berkualitas, berbasis rencana yang matang, agar menghasilkan karya terbaik bagi umat, bagi Islam. 


Umat Muhammad tak pantas mangkrak, alias tak berbuat apa-apa untuk bangsa dan negaranya. 


"Wahai umatku, bekerjalah kamu, sesungguhnya aku juga bekerja..!" perintah Nabi mulia pada umatnya dalam Al Qur'an. 


Saat ini, hari ini, di tempat ini, itulah waktu yang Allah sediakan untuk kita bekerja dan menorehkan karya terbaik. 


Jangan menunggu nanti-nanti, menunda hingga esok, lusa, pekan depan, apalagi bulan depan. Lakukan gagasan dan ide terbaik itu jadi kenyataan hari ini. 


Hari esok dan masa yang akan datang itu belum pasti milik kita. *"Tak ada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya esok hari..! "* (QS Lukman: 34)


Kawan dan sobat solih solihat..! 


Bekerjalah, berbuatlah, beramallah yang terbaik, saat nadi kita masih berdenyut, nafas masih mengalir dan jantung masih berdetak. 


Tak peduli posisi dan kedudukan kita, jangan kita tidak berbuat apapun untuk melejitkan pamor Islam. 


Sebab waktu kita cuma hari ini. Esok belum tentu milik kita. Wallahul Musta’an

Senin, 22 September 2025

Menjadi Teladan dalam Menghindari Faktor Faktor yang Melemahkan Soliditas

Kesuksesan dalam kehidupan, baik dalam konteks individu maupun organisasi, sering kali bergantung pada tiga pilar utama : soliditas, solidaritas, dan spiritualitas. 

Untuk Menjadi teladan dalam menjaga soliditas, ketiga pilar ini juga memiliki relevansi yang kuat dalam menciptakan superteam dalam sebuah komunitas.

 SOLIDITAS

1. Soliditas dalam Teamwork

Soliditas mengacu pada kekuatan karakter dan integritas pribadi. Dalam konteks teamwork, soliditas berarti setiap anggota tim memiliki kejujuran, tanggung jawab, dan keteguhan dalam menjalankan tugas mereka. Hal ini diperkuat oleh sejumlah ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Diantaranya :

    "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ" (QS. An-Nisa: 135)
       "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah."

    Rasulullah SAW juga bersabda :
      "إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ" (HR. Bukhari)
         "Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang terus-menerus meskipun sedikit."

2. Konsistensi dalam Tugas:

  Menjaga konsistensi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab secara profesional. Ini mencakup komitmen terhadap kualitas kerja dan ketepatan waktu.

3. Integritas Pribadi:
  Mempunyai sikap jujur dan transparan dalam setiap aspek pekerjaan, memastikan bahwa setiap tindakan dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

4. Pendekatan Manajemen Profesional

  Diantara bentuk perwujudan Menagemen yang profesional adalah mengimplem ntasikan  SOP yang jelas untuk memastikan konsistensi dan kualitas dalam setiap tugas.

  Selain itu adalah melakukan evaluasi kinerja secara berkala untuk memastikan setiap anggota tim bekerja dengan baik dan sesuai dengan tujuan organisasi.

SOLIDARITAS

Solidaritas adalah rasa kesatuan dan kebersamaan dalam sebuah tim. Dalam Islam, solidaritas mencakup saling peduli, membantu, dan mendukung satu sama lain dalam kebaikan.

Mengenai pentingnya solidaritas ini juga menjadi salah satu rahasia sukses yang dikemukakan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW. Diantaranya :

      "وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ" (QS. Al-Ma'idah: 2)
       "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran."

 Rasulullah SAW. Menyatakan dalam s buah sabdanya :
     "مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى" (HR. Muslim)
       "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit dan demam."


1. Kerjasama dan Saling Membantu:

  Meningkatkan kerja sama dalam tim dengan cara saling membantu dan mendukung satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama.

2.Komunikasi yang Efektif:
  Memastikan adanya komunikasi yang terbuka dan transparan dalam tim untuk mencegah kesalahpahaman dan meningkatkan kohesi tim.

3. Pendekatan Manajemen Profesional

  Mengadakan kegiatan team building secara berkala untuk memperkuat hubungan antar anggota tim dan membangun kepercayaan.

4. Fasilitasi Komunikasi:
  Menggunakan alat komunikasi yang efektif dan platform kolaborasi untuk memastikan setiap anggota tim dapat berkomunikasi dengan baik.

SPIRITUALITAS


Spiritualitas dalam konteks teamwork adalah kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil. Ini berarti mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam budaya kerja dan memastikan bahwa tujuan pekerjaan selalu selaras dengan kehendak Allah.

Menyangkut pentingnya spiritualitas dalam meraih kesuksesan ini telah diuraikan oleh Allah SWT. Dalam sejumlah firman-nya demikian pula dengan Sabda Rasulullah SAW. Diantaranya :


    "إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ" (QS. Al-Ankabut: 45)
       "Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya) dari ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Demikian pula dengan Sabda Rasullullah SAW.
     "مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ" (HR. Tirmidzi)
      "Barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaannya di hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dengan hina."


1. Ibadah dan Doa Bersama:
  Mengadakan sesi ibadah dan doa bersama untuk memperkuat spiritualitas dan kekompakan tim.

2. Mengintegrasikan Nilai-Nilai Islam:
  Memastikan bahwa setiap keputusan dan tindakan dalam tim selaras dengan nilai-nilai Islam dan bertujuan untuk mencari ridha Allah.

3. Pendekatan Manajemen Profesional

A.Kepemimpinan yang Berbasis Nilai:
  Menerapkan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada nilai-nilai spiritual, di mana pemimpin memberikan contoh teladan dalam akhlak dan ibadah.

B.Program Pengembangan Spiritual:
  Mengadakan program pelatihan dan pengembangan yang fokus pada peningkatan spiritualitas anggota tim, seperti kajian Islam, retreat spiritual, dan lain-lain.

Integrasi Soliditas, Solidaritas, dan Spiritualitas dalam Teamwork

1. Keselarasan dan Keseimbangan

Untuk mencapai sukses yang sejati dalam teamwork, ketiga aspek ini harus terintegrasi dan seimbang. 

2. Soliditas Pribadi:

Anggota tim yang memiliki karakter kuat dan integritas akan memastikan bahwa setiap tugas diselesaikan dengan baik dan profesional.

3. Solidaritas Sosial:

Rasa kebersamaan dan kerjasama yang kuat akan memastikan tim bekerja harmonis dan efektif dalam mencapai tujuan bersama.

4. Spiritualitas yang Mendalam:

Kesadaran spiritual akan membawa tujuan yang lebih tinggi dalam setiap tindakan, memastikan bahwa pekerjaan yang dilakukan bukan hanya untuk dunia tetapi juga untuk akhirat.

Contoh Teladan

1. Nabi Muhammad SAW:
     Nabi Muhammad adalah teladan sempurna dalam mengintegrasikan soliditas, solidaritas, dan spiritualitas dalam setiap aspek kehidupannya, termasuk dalam memimpin umat. Beliau menunjukkan bagaimana menjadi pemimpin yang adil, jujur, Istiqamah ,penuh kasih sayang, berpandangan jauh kedepan, dan selalu mengutamakan kehendak Allah.serta berbagai sifat-sifat positif 

2. Para Sahabat:
  - Para sahabat Nabi juga menunjukkan bagaimana ketiga aspek ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kerjasama mereka. Misalnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terkenal dengan kejujuran (soliditas), kedermawanannya (solidaritas), dan ketakwaannya (spiritualitas).

Problem dan Solusi dalam Teamwork Perspektif Islam dan Manajemen Profesional

a. Problem Soliditas:

* Kurangnya Konsistensi dan Disiplin:*

  Meningkatkan pelatihan dan mentoring untuk membangun karakter yang kuat dan disiplin dalam tim. Mengimplementasikan SOP yang jelas dan melakukan evaluasi kinerja secara berkala.

b. Problem Solidaritas:

Kurangnya Kepedulian dan Kerjasama:
 
Meningkatkan pelatihan dan mentoring untuk membangun karakter yang kuat dan disiplin dalam tim. Mengimplementasikan SOP yang jelas dan melakukan evaluasi kinerja secara berkala.
  Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT. Didalam Al-Qur'an:

       "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ. كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ" (QS. As-Saff: 2-3)
       "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat."

Demikian pula didalam Hadits Rasulullwh SAW.:
      "مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا" (HR. Muslim)
       "Barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan dari golongan kami."


  Demikian halnya dengan sejumlah sahabat Nabi , diantaranya Umar bin Khattab yang telah m nyatakan :
"Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah dirimu sebelum kamu ditimbang."

  Ulama besar Imam Al-Ghazali: juga telah.membwrikan pesan menyangkut hal ini , diantaranya:

"العلم بلا عمل جنون والعمل بلا علم لا يكون"

"Ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah  sia-sia.”

c. Problem Spiritualitas:

Kelemahan Iman dan Kekeringan Spiritual:

Meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak dzikir dan doa, serta mengikuti majelis-majelis ilmu yang memperdalam pemahaman agama. 

 

Jumat, 12 September 2025

Langkah-langkah meningkatkan semangat dalam berjuang dan berdakwah

 


1. Luruskan Niat


Saudara-saudaraku, dakwah ini bukan untuk mencari nama, bukan untuk tepuk tangan manusia, tetapi murni karena Allah.

Allah berfirman:


> “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5).


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:


> “Ikhlas adalah ruh amal, dan amal tanpa ikhlas ibarat jasad tanpa ruh.”


Maka jangan pernah lelah, karena yang kita cari hanyalah ridha Allah!


2. Perkuat Iman dan Ilmu


Rasulullah ﷺ bersabda:


> “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan memahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari-Muslim).


Hasan al-Bashri menegaskan:


> “Barang siapa beramal tanpa ilmu, kerusakannya lebih besar daripada kebaikannya.”


Aktivis dakwah tidak cukup semangat, tapi harus berilmu. Semangat tanpa ilmu akan padam, tapi ilmu dengan iman akan membakar semangat sepanjang zaman!


3. Bersabarlah Seperti Para Nabi


Allah memerintahkan:


> “Maka bersabarlah engkau sebagaimana kesabaran ulul azmi dari para rasul…” (QS. Al-Ahqaf: 35).


Imam Ahmad berkata:


> “Dakwah ini tidak akan tegak kecuali dengan kesabaran, meski pengikutmu sedikit.”


Ingat, jalan dakwah adalah jalan panjang, penuh ujian, penuh air mata. Tapi justru di situlah letak kemuliaannya.


4. Jaga Ruhiyah dengan Ibadah


Saudaraku, jangan sampai engkau sibuk berdakwah lalu melupakan Allah. Sumber kekuatan kita bukan retorika, bukan organisasi, tapi hubungan kita dengan Allah.


Rasulullah ﷺ bersabda:


> “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit.” (HR. Bukhari-Muslim).


Ibn Taimiyyah berkata:


> “Kekuatan seorang dai ada pada shalat malam dan tilawah Qur’an.”


Maka jangan tinggalkan qiyamul lail, dzikir, doa, dan tilawah. Itulah bensin semangatmu!


5. Berjamaah dan Bersinergi


Umar bin Khathab r.a. berkata:


> “Tidak ada Islam kecuali dengan jamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.”


Jangan berdakwah sendirian, karena singa pun akan binasa bila terpisah dari kawanannya. Bersama jamaah, kita lebih kuat, lebih kokoh, dan lebih tahan uji.


6. Hiasi dengan Akhlak Mulia


Allah memerintahkan:


> “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl: 125).


Imam Malik berkata:


> “Dakwah tanpa akhlak adalah fitnah bagi agama.”


Maka lembutlah dalam tutur kata, sabarlah dalam menasihati, dan indahkanlah dakwah dengan akhlakmu. Karena sering kali manusia menerima Islam bukan karena ceramah kita, tapi karena akhlak kita.


7. Optimis dengan Janji Allah


Allah berfirman:


> “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang beriman.” (QS. Ali Imran: 139).


Ibnul Qayyim berkata:


> “Seorang dai harus yakin bahwa janji Allah pasti datang, meski ia tidak menyaksikannya dalam hidupnya.”


Jangan pernah pesimis, dakwah ini akan menang, walau butuh waktu panjang. Optimisme adalah bahan bakar para pejuang.


8. Turun ke Lapangan, Amalkan Ilmu


Rasulullah ﷺ bersabda:


> “Sampaikan dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari).


Imam Asy-Syafi’i berkata:


> “Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah.”


Maka jangan hanya duduk berteori, jangan hanya menulis status, tapi bergeraklah! Sapa manusia, ajak ke masjid, berikan bantuan, bimbing mereka. Dakwah adalah kerja nyata, bukan sekadar kata-kata.


Penutup Motivasi


Saudara-saudaraku, jalan dakwah ini panjang, penuh liku, penuh rintangan. Tapi di baliknya ada kemuliaan. Ingatlah pesan Hasan Al-Banna:


> “Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang kita miliki.”


Maka jangan lelah, jangan mundur, tetaplah semangat! Karena setiap langkah kita di jalan ini adalah cahaya yang akan menerangi dunia dan menjadi saksi di hadapan Allah kelak.

Jumat, 05 September 2025

Stop Ceramah! Ini Cara Merangkul Generasi Z dan Milenial dalam Dakwah

 



Aktivitas ini bukan sekadar mengisi waktu, bukan pula hanya rutinitas tanpa arah. Aktivitas pertama adalah sentuhan awal yang bisa menanamkan kesan, membentuk ikatan, dan membuka jalan bagi tarbiyah yang berkelanjutan.


Kita berhadapan dengan generasi Z dan generasi milenial. Dua generasi yang kini mendominasi 65% wajah Asia dan Indonesia. Mereka adalah amanah besar, potensi sekaligus tantangan. Mereka berbeda dari generasi sebelumnya: lebih suka visual, lebih cepat bosan, haus akan pengalaman nyata, dan tidak mudah tersentuh dengan ceramah panjang. Mereka tidak ingin sekadar dinasihati; mereka ingin diajak berjalan, diajak merasakan, diajak mengalami.


Ikhwah fillah, pernah ada pengalaman menarik. Seorang anak SMA kelas 12, setelah mendengar ceramah panjang 30 menit, justru merasa jenuh. Besoknya ia berucap kapok, karena merasa sedang dinasihati layaknya ayahnya di rumah. Padahal yang ia butuhkan bukanlah kata-kata panjang, melainkan pengalaman sederhana yang membekas. Maka saat mereka diajak kegiatan ringan—makan bersama, outing ke pantai, atau sekadar bercakap hangat—mereka lebih merasa dekat dan terikat. Dari sana, pesan Islam dapat masuk perlahan, dengan cara yang lebih membumi.


Inilah pelajaran penting: di awal tarbiyah jangan bebani dengan materi yang berat. Cukup hadirkan aktivitas yang menyenangkan, permainan yang mendidik, diskusi ringan, atau sekadar ice breaking yang membuat mereka merasa nyaman. Sentuhan pertama adalah gerbang. Jika gerbang ini hangat, ramah, dan penuh keakraban, maka langkah-langkah setelahnya akan lebih mudah ditempuh.


Dakwah, saudara-saudaraku, bukan sekadar gaya. Dakwah bukan formalitas yang kaku. Dakwah adalah jalan yang hidup, aktif, dinamis, dan ekspansif. Kita menapakinya dengan tauhid sebagai pondasi, dengan cinta sebagai bekal, dengan orientasi hanya kepada Allah sebagai tujuan. Allah menuntun kita dengan firman-Nya dalam QS. Yusuf ayat 108:


قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ


Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”


Ayat ini adalah cahaya bagi kita semua. Bahwa dakwah bukan sekadar mengajak, melainkan mengajak dengan bashirah—dengan ilmu yang kokoh, dengan pemahaman yang dalam, dengan kesabaran yang luas, dan dengan hati yang penuh kasih. Dakwah tidak boleh berhenti di retorika; ia harus hadir dalam teladan, dalam aktivitas, dalam cara kita berinteraksi dengan generasi muda.


Karena itu, kita perlu kreatif. Kita harus merancang aktivitas yang sesuai dengan dunia mereka. Kadang cukup dengan komunikasi ringan, memanggil mereka dengan sapaan akrab seperti “bro” atau “gue-loe,” agar mereka merasa kita hadir sebagai sahabat, bukan hanya guru. Kita bisa memulai dengan permainan sederhana, ice breaking yang membangkitkan tawa, atau diskusi tentang hal-hal ringan yang dekat dengan kehidupan mereka. Dari situ akan lahir ukhuwah, tumbuh kepercayaan, dan dakwah pun berjalan dengan alami.


Mentoring tidak harus selalu di ruang kelas. Sesekali bawa mereka ke taman, ke pantai, ke kafe, atau ke tempat yang nyaman. Islam tidak harus hadir dalam suasana kaku. Justru dengan ruang yang santai, pesan dakwah bisa lebih mudah menyentuh hati. Biarkan mereka bertanya, biarkan rasa penasaran muncul, lalu berikan jawaban dengan hikmah. Dengan cara ini, mereka akan datang kembali bukan karena dipaksa, melainkan karena rindu dan ingin tahu lebih banyak.


Ingatlah, generasi Z dan milenial sedang berada dalam fase ingin mencoba, ingin tahu, bahkan ingin melawan. Mereka cepat bosan, tapi mereka juga cepat terikat jika sudah merasa nyaman. Karena itu, tugas kita adalah sabar, menemani, dan mengarahkan. Kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dengarkan cerita mereka tentang sekolah, pertemanan, bahkan tentang cinta dan pacaran. Dari situ kita bisa menyisipkan nilai Islam secara alami, tanpa menghakimi, tanpa memaksa.


Dakwah juga harus menghadirkan teladan nyata. Ceritakan kepada mereka kisah Mush‘ab bin Umair, pemuda yang tampan, kaya, terkenal, tetapi meninggalkan semua itu demi Islam. Atau kisah Ali bin Abi Thalib, pemuda pemberani yang mengorbankan dirinya demi Rasulullah. Dengan kisah-kisah itu, mereka akan melihat bahwa Islam bukan hanya tentang aturan, melainkan tentang perjuangan, keberanian, dan cinta yang sejati.


Dan jangan lupa, orientasi kita hanya satu: Allah. Kita tidak mencari pujian, tidak mencari popularitas. Amal dakwah kita adalah amal tauhid. Dasarnya adalah tauhid, muaranya adalah tauhid. Semua aktivitas mentoring, semua aktivitas tarbiyah, hanyalah wasilah untuk menguatkan hubungan mereka dengan Allah.


Generasi ini adalah calon pemimpin masa depan. Tahun 2050, umat Islam diprediksi menjadi mayoritas di muka bumi. Maka kita punya tanggung jawab menyiapkan mereka, agar mayoritas itu bukan hanya jumlah, tapi juga kualitas. Bukan hanya populasi, tapi juga kekuatan iman, ilmu, dan akhlak.


Maka mari kita isi mentoring ini dengan aktivitas yang penuh ruh, penuh cinta, dan penuh hikmah. Jadikan setiap pertemuan sebagai rumah yang hangat, tempat yang nyaman, dan ruang yang mendidik. Agar setiap anak muda yang hadir bisa berkata dalam hatinya: “Inilah tempatku. Inilah keluargaku. Inilah jalanku bersama Islam.”

Senin, 01 September 2025

YANG TEGAR DI JALAN DAKWAH

 



Cahyadi Takariawan 

Beberapa hari lalu saya bertemu seorang kader senior di Kabupaten Bogor. Ia sudah mengikuti forum pembinaan sejak sebelum era partai. 


Dirinya mengaku tidak pernah naik jenjang dalam proses pembinaan. Sejak awal mengaji sampai hari ini tetap berada di level yang sama. 


 Ia juga mengaku telah banyak berpindah-pindah murabbi. Namun kondisi itu tidak membuatnya bosan dan lemah dalam mengikuti pembinaan.


Ia menyatakan, dakwah itu bukan soal jenjang kekaderan. Bukan soal siapa yang menjadi pembina dalam mejelis UPA. Namun baginya, yang paling penting adalah soal konsistensi.


"Tidak peduli level berapa jenjang kekaderanmu. Tidak peduli siapa yang menjadi pembinamu. Tidak peduli seberapa sering berganti murabbi dan kelompok mengaji. Namun yang terpenting adalah seberapa konsisten kamu dalam menapaki jalan dakwah ini", ujarnya dengan mantap dan berapi-api.


Menyalaaaaa abangkuuuuh. Barakallahu fikum.

Sabtu, 30 Agustus 2025

Ko-Eksistensi Pewarisan Dakwah dan Tarbiyah



@Imam Maulana 


Tidak di ragukan lagi, bahwa regenerasi dalam gerakan (harakah) islamiyah dan pewarisan (taurist) dakwahnya dari generasi ke generasi dengan segala kekuatan, orisinalitas, universalitas dan pengalamannya mendorong terjadinya perubahan dalam arena aktifitas amal islami ke arah yang lebih baik.


Di hari ini mulai muncul 'kegundahan'  dan 'kegelisahan'  tentang bagaimana pewarisan nilai, ruh perjuangan, dan juga manhaj dakwah ini kepada generasi berikutnya. 


Mulai muncul problematika dimana anak anak biologis kader dakwah yang seharusnya menjadi penerus ideologis fikrah dakwah ini, justru malah berada di tempat yang berbeda dan tidak memiliki ketertarikan melanjutkan estafeta dakwah ini.


Ada beberapa catatan seputar urgensi pewarisan dan juga regenerasi dalam dakwah ini. Secara teoritis 'pewarisan' tidak akan berjalan mulus hanya dengan melalui buku dan risalah risalah. 


Banyak dari kader dakwah hanya menganggap cukup proses pewarisan itu melalui forum pekanan, penyampaian materi dan sejenisnya. Betul bahwa ini menjadi salah satu instrumen dalam proses pewarisan dakwah, namun agar pewarisan dakwah ini benar, maka mau tidak mau harus melalui mu'ayasyah (koeksistensi) antar setiap generasi.


Koeksistensi ini dapat di artikan sebagai hubungan yang di dasar kan pada kebersamaan dalam eksistensi, kepentingan, nasib bersama, dan hidup berdampingan. Karena itu keteladanan akan berpengaruh efektif di dalam perubahan  dan pewarisan.


Tanpa keteladanan, pewarisan nilai dakwah tidak akan berjalan mulus, diam diam para generasi pewaris itu melihat dan mengamati, baik perilaku, tutur kata, dan perbuatan generasi lama. Kalau tiada keteladanan, Lalu apa yang mau di wariskan ? 


Dengan adanya mu'ayasyah (koeksistensi) tadi maka regenerasi, kebijakan dan pengalaman para orang tua (generasi awal dakwah) akan menyatu dengan dinamika dan kekuatan pemuda (generasi hari ini) sehingga yang terlibat dalam dakwah ini akan mendapat perpaduan hikmah, kekuatan   dan kewajaran sehingga dakwah akan meningkat produktivitas nya dan berjalan cepat.


Setiap generasi akan mendapat pengalaman dan pelajaran baru pada zamannya, oleh karena itu sejatinya para generasi awal dakwah merupakan asét penting dalam proses pewarisan karena ia berupa pengalaman dan eksperimen dalam perjalanan dakwah ini.


Para generasi awal dakwah tak boleh merasa lelah dalam proses pewarisan dakwah ini, sebagai mana di ungkap dalam bait syair as Shafi Najri rahimahullah :

_Usiaku adalah ruh ku, bukan hitungan tahun ku. Esok ku bisa menjadi sembilan puluh. Atau menjadi tujuh puluh. Tapi Ruh ku tetap dua puluh._


Ada hal menarik ketika beberapa waktu lalu saya ikut rombongan safari dakwah dan up grading ke Yogyakarta, kebetulan saya ikut dalam bus 2 dari 3 bus yang berangkat. Saya kebagian duduk di bangku tengah, di bagian depan di isi para senior (sesepuh) kebanyakan ummahat, sementara di duduk d bagian belakang di isi anak anak muda sebagian besar tergabung dalam Garuda Keadilan..nampak sekali perbedaan mulai dari gerak, gaya (style), obrolan dan juga guyonan... 


Saya sempat merenung bagaimana menyatukan dua generasi ini ? Karena saya berada di tengah, maka dua kutub ini harus ada yang men-jembatani agar keduanya terjalin dalam kesatuan hati (ta'aluf), terikat dalam persenyawaan dan kecintaan yang tulus. 


Proses pewarisan dakwah ini harus terus berjalan karena musuh musuh dakwah gencar  melakukan tipu daya untuk mengeringkan sumber gerakan dakwah dari generasi baru, mereka ingin melahirkan jurang pemisah antar generasi agar pewaris menjadi mandeg dan terjadi penyimpangan dalam fikrah dakwahnya. Akan tetapi semua upaya itu akan mengalami kegagalan karena sebab dakwah Allah bukanlah dakwah individu. 


Dakwah ini adalah Nur Allah yang tidak dapat di padamkan oleh makhluk apapun.  Benar dah firman Allah "Mereka hendak memadamkan Nur Allah dengan mulut (perkataan) mereka, tetapi Allah tidak menghendaki nya kecuali menyempurnakan cahayanya, meskipun orang orang kafir tidak menyukai nya (At Taubah : 32)

Senin, 25 Agustus 2025

HIDUP MULIA SEBAGAI MU'MIN SEJATI

 


Dalam perjalanan hidup, kita sering dihadapkan pada banyak pilihan: ingin apa, mengejar apa, dan untuk siapa kita berjuang. Namun seorang muslim sejati memiliki prinsip hidup yang jelas, tegas, dan tidak tergoyahkan. Prinsip itu terangkum dalam lima kalimat agung ini :


*🌟 1. Allah Ghoyatuna (Allah Tujuanku)*


Setiap langkah hidup seorang mukmin bermuara pada satu tujuan: Allah ﷻ. Bukan pujian manusia yang dikejar, bukan kekayaan yang didewakan, bukan pula jabatan yang diagungkan. Segala amal, ibadah, dan kerja keras hanyalah untuk meraih ridha Allah.


Ketika Allah menjadi tujuan, hati menjadi tenang, langkah menjadi ringan, dan hidup penuh makna.


*🌟 2. Ar Rasul Qudwatuna (Rasulullah Teladanku)*


Hidup tanpa teladan akan kehilangan arah. Karena itu, seorang muslim meneladani sosok terbaik sepanjang zaman: Rasulullah Muhammad ﷺ.


Beliau teladan dalam kejujuran, kesabaran, kasih sayang, hingga ketegasan dalam menegakkan kebenaran. Dengan mencontoh Rasulullah, kita belajar menjadi pribadi yang santun namun tegas, rendah hati namun berwibawa, lembut namun penuh keberanian.


*🌟 3. Al Qur’an Dusturuna (Al Qur’an Pedomanku)*


Hidup tanpa pedoman ibarat kapal tanpa kompas. Al-Qur’an hadir sebagai kitab suci yang membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya.


Di dalamnya ada aturan hidup, nilai moral, tuntunan ibadah, hingga solusi masalah kehidupan. Seorang muslim tidak cukup hanya membacanya, tetapi juga mengamalkannya dalam setiap aspek kehidupan. Dengan Al-Qur’an, jalan hidup kita akan selalu terang.


*🌟 4. Al Jihad Sabiluna (Jihad Jalan Hidupku)*


Jihad bukan hanya pertempuran fisik. Ia adalah perjuangan total dalam menegakkan kebaikan.


Jihad melawan hawa nafsu, jihad menuntut ilmu, jihad melawan kebodohan dan kemiskinan, jihad menegakkan keadilan. Dan jika perlu jihad dengan mengangkat senjata seperti yang dilakukan para pejuang di Palestina.


Hidup seorang muslim sejati adalah hidup yang penuh perjuangan. Ia tidak menyerah pada keadaan, tetapi terus bergerak, berjuang, dan memberi manfaat bagi manusia.


*🌟 5. Al Mautu Fi Sabilillah Asma Amaniina (Mati di Jalan Allah Cita-Cita Tertinggiku)*


Setiap manusia pasti mati. Namun muslim sejati punya cita-cita besar : menutup hidup dengan kemuliaan.


Mati syahid adalah dambaan, karena ia adalah pintu menuju ampunan Allah dan surga-Nya. 


Mati syahid tidak selamanya mati di medan perang, tapi mati dalam kondisi beramal saleh, berjuang dan berdakwah dengan ikhlas, dan tetap teguh dalam kebenaran. 


Dengan itu, kematian bukan lagi menakutkan, melainkan pertemuan indah dengan Allah ﷻ.


Sekali lagi, prinsip hidup itu sederhana, namun sangat dalam :


Allah tujuan kita,

Rasulullah teladan kita,

Al-Qur’an pedoman kita,

Jihad perjuangan kita,

Mati syahid cita-cita kita.


Jika lima prinsip ini kita genggam erat, insya Allah hidup kita mulia, perjuangan kita berarti, dan akhir kita penuh kemuliaan.[] 



Minggu, 24 Agustus 2025

HARI-HARI BARU DALAM DAKWAH


@ Cahyadi Takariawan


Setiap hari adalah baru. Karena tidak pernah ada hari yang berulang. 


Pagi ini adalah pagi baru bagi kader dakwah seluruh Indonesia. Mereka bersiap mengikuti Musyawarah Wilayah di DPW masing-masing.


Kader dakwah hari ini berhimpun di markas-markas dakwah seluruh Indonesia. Tidak sabar ingin mendengar langsung arahan para pimpinan utama. 


Muswil adalah sebuah momentum kebersamaan. Momentum memperbarui tekat dan komitmen. Bahwa hidup dan mati kita adalah lillahi Ta'ala. Bersama Allah, untuk Allah. 


Bagi kader senior, sebagian besar waktu mereka sudah dicurahkan di jalan dakwah. Bersama kafilah ini. Mereka setia dalam barisan dakwah, di posisi manapun ditempatkan.


Bagi kader muda, ini adalah ajang kontribusi. Ajang pembuktian diri. Bahwa mereka siap menapaki jalan yang sudah dirintis para peletak dasar yang telah mendahului.


Hari ini adalah hari baru. Ada keyakinan dan optimisme. Ada doa dan pengharapan tak berkesudahan. Bahwa dakwah akan semakin berkembang, menjadi pelopor kebaikan, menebarkan Islam Rahmat an Lil 'alamin, dalam bingkai NKRI.


Selamat Muswil ke-6 untuk semua kader dakwah di seluruh wilayah.


Semoga Allah berkahi dan Allah ridhoi.

Jumat, 22 Agustus 2025

DAKWAH KITA DAN SENGITNYA PERTARUNGAN DI PASAR PENGARUH



Bayangkan kita berdiri di tengah sebuah pasar global yang sangat luas, riuh, dan tanpa henti. Ini bukan pasar biasa tempat barang diperjualbelikan, melainkan *”Pasar Pengaruh”*—sebuah arena digital dan sosial tempat miliaran ide, narasi, dan keyakinan bertarung sengit untuk *merebut satu komoditas* paling berharga di abad ke-21: *perhatian dan kepercayaan* manusia.


Di satu sudut, para raksasa hiburan menggelar pertunjukan gemerlap. Di sudut lain, para filsuf sekuler menawarkan resep kebahagiaan instan.


Di lorong-lorongnya, para *influencer gaya hidup* menjual mimpi kesempurnaan.


Di tengah hiruk pikuk inilah dakwah kita berada. Bukan lagi di atas mimbar yang sunyi dan dihormati secara eksklusif, melainkan sebagai salah satu suara di antara jutaan lainnya.


Di sinilah sebuah kutipan dari dunia bisnis modern terasa menampar sekaligus menyadarkan: "The Market will show no loyalty to our traditional ways of working. (Richard Susskind)". Pasar tidak akan menunjukkan loyalitas pada cara kerja kita yang tradisional.


*Pasar Pengaruh ini kejam* dan tidak sentimental. Ia tidak peduli pada sejarah panjang kita, pada keagungan masa lalu, atau pada *kenyamanan metode* yang telah kita warisi turun-temurun.


Ia hanya peduli pada satu hal: *relevansi saat ini*.


Pertanyaannya, siapkah dakwah kita untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga memenangkan *pertarungan pengaruh* di pasar yang sengit ini?


Jawabannya terletak pada keberanian kita untuk melakukan *transformasi mendasar* dalam cara kita berpikir dan bergerak.


*1. Mata Uang Baru Bernama Relevansi*


Di masa lalu, dakwah mungkin bisa berjalan dengan asumsi bahwa *umat akan datang mencari*. Kini, asumsi itu telah runtuh. "Cara kerja tradisional" yang mengandalkan otoritas formal dan komunikasi satu arah *tidak lagi memadai*.


Masyarakat, khususnya Gen Z, Gen Alpha dan milenial, adalah "konsumen" yang cerdas di Pasar Pengaruh. Mereka tidak akan "membeli" sebuah ide hanya karena ia dilabeli sebagai kebenaran.


Mereka akan bertanya: *"Apa relevansinya untuk hidupku?"*

Jika dakwah kita hanya membahas hal-hal yang jauh dari denyut nadi kehidupan mereka—jika kita berbicara tentang *apa yang seharusnya* sementara mereka bergulat dengan *kecemasan akibat media sosial*.


jika kita membahas fikih muamalah klasik sementara mereka terjerat pinjaman online—maka kita telah kehilangan mereka bahkan sebelum memulai. Pesan kita akan terasa seperti artefak museum: indah untuk dikenang, tetapi tidak fungsional untuk kehidupan sehari-hari.


*Relevansi adalah mata uang baru yang harus kita miliki.*


Ini menuntut para dai untuk menjadi pendengar yang empatik sebelum menjadi pembicara yang fasih.


Ia menuntut kita untuk memahami *Fiqh al-Waqi'* (pemahaman terhadap realitas kontemporer) sedalam pemahaman kita terhadap *Fiqh al-Ahkam* (hukum-hukum syariat).


Dakwah yang relevan *tidak menjawab pertanyaan* yang tidak pernah ditanyakan audiens; ia hadir sebagai oase di tengah gurun permasalahan yang nyata dan mereka rasakan.


*2. Inovasi Metode, Kemurnian Substansi*


Paradoks Suci

Ketakutan terbesar saat membahas perubahan dalam dakwah adalah kekhawatiran akan merusak kemurnian ajaran. Ini adalah kesalahpahaman yang fatal.


Kutipan di atas tidak mengajak kita *mengubah produk*, melainkan *cara kita mengemas dan mendistribusikannya.*


Substansi dakwah kita—Al-Qur'an dan As-Sunnah—adalah wahyu ilahi yang sempurna, abadi, dan tidak tersentuh perubahan.


Namun, metode penyampaiannya (uslub dan wasilah) adalah ranah ijtihad manusia yang harus terus beradaptasi.


Nabi Nuh a.s. berdakwah selama 950 tahun dengan metode yang sesuai pada zamannya.


Nabi Muhammad SAW datang di tengah kaum penyair ulung, maka mukjizat terbesarnya adalah Al-Qur'an, puncak keindahan sastra.


Para Walisongo menggunakan wayang dan gamelan untuk menyentuh hati masyarakat Jawa.


Mereka semua adalah inovator ulung pada masanya.

Maka, bertahan pada "cara kerja tradisional" secara kaku justru merupakan pengkhianatan terhadap semangat inovatif para pendahulu kita.


Hari ini, inovasi itu berarti mengubah mimbar statis menjadi podcast dinamis yang menemani pendengarnya di perjalanan. Mengubah lembaran kitab tebal menjadi utas mencerahkan di Twitter atau video pendek satu menit di TikTok yang mampu *memantik perenungan*.


Mengubah majelis taklim konvensional menjadi kursus online bersertifikat yang profesional dan interaktif.


Dakwah *harus merebut kembali posisinya* di garda depan teknologi dan kreativitas, bukan menjadi *pihak yang tertinggal dan gagap*.


*3. Bertarung dengan Ihsan di Medan Laga Ideologi*


Pasar Pengaruh adalah medan pertempuran. Kompetitor kita bukanlah sesama gerakan dakwah, melainkan gempuran ideologi materialisme, hedonisme, nihilisme, hingga ekstremisme yang dikemas dengan sangat menarik.


Mereka menggunakan production value jutaan dolar, riset pasar yang canggih, dan *strategi marketing yang agresif* untuk memenangkan hati dan pikiran.


Di tengah persaingan ini, *dakwah tidak bisa lagi tampil ala kadarnya. Konten yang dibuat dengan desain seadanya*, kualitas audio yang buruk, atau penyampaian yang monoton adalah *bentuk bunuh diri di pasar ini*.


Prinsip Ihsan (melakukan sesuatu dengan cara terbaik) harus menjadi standar operasi kita. Jika "lawan" kita menggunakan *sinematografi yang memukau*, maka konten dakwah kita pun harus mengejar keunggulan visual. Jika mereka menggunakan narasi dan storytelling yang menggugah emosi, maka kita harus menjadi pencerita terbaik, karena kita memiliki kisah-kisah terhebat dari Al-Qur'an dan sirah.


*Kita tidak bisa lagi menuntut loyalitas* dari audiens; kita harus meraihnya dengan menyajikan kebenaran Islam dalam kemasan terbaik yang bisa kita usahakan.


Ini *bukan tentang kemewahan*, tetapi tentang profesionalisme dan kesungguhan dalam menghargai pesan mulia yang kita emban.


*4. Dari Ritual Aktivitas Menuju Obsesi pada Dampak*


*"Cara kerja tradisional"* seringkali menjebak kita dalam metrik kesibukan: berapa banyak acara yang digelar, berapa ribu jamaah yang hadir, berapa banyak poster yang disebar di WAG.


Kita merasa telah berbuat banyak, tetapi kita jarang bertanya: *"Apa dampaknya?"*


Pasar tidak peduli pada kesibukan kita; ia hanya *merespons hasil*.


Sudah saatnya kita menggeser paradigma dari sekadar menjalankan ritual aktivitas menjadi sebuah obsesi pada dampak nyata.


Ukuran keberhasilan dakwah bukanlah hanya masjid yang penuh saat acara, melainkan masyarakat yang akhlaknya membaik setelah acara selesai, bahkan taraf hidup juga semakin membaik.


Bukan hanya jumlah followers di media sosial, melainkan jumlah pemuda yang terselamatkan dari insecure, anxiety, narkoba dan depresi.


Bukan hanya seberapa sering kita berteriak tentang kebenaran, tetapi *seberapa banyak hati yang bergetar* dan berubah karena sentuhan kebenaran itu.


Orientasi pada dampak ini menuntut kita untuk menjadi lebih strategis. Kita perlu *menggunakan data* untuk memahami audiens, melakukan *evaluasi program* secara berkala, dan *berani menghentikan program* yang tidak efektif meskipun *sudah menjadi "tradisi"*.


Amanah dakwah terlalu *berharga untuk disia-siakan* pada aktivitas yang *tidak menghasilkan perubahan transformatif* 


*5. Adaptasi atau Menjadi Relik Sejarah* 


Pertarungan di Pasar Pengaruh *tidak akan menunggu kita siap*. Ia terus bergerak dengan kecepatan eksponensial.


Bertahan pada cara kerja tradisional atas nama sentimentalitas atau kenyamanan adalah *resep pasti* untuk menjadi tidak relevan, menjadikan dakwah seperti sebuah relik sejarah yang hanya bisa *dikagumi di museum*, bukan menjadi *kekuatan hidup yang membentuk masa depan*.


Ini adalah panggilan mendesak bagi setiap individu dan lembaga yang memikul beban amanah dakwah.


Panggilan untuk menjadi pembelajar seumur hidup, untuk merangkul teknologi sebagai kawan, untuk memahami psikologi audiens modern, dan untuk menanamkan prinsip Ihsan dalam setiap karya.


Pilihan di hadapan kita sangat jelas: *beradaptasi dengan kecerdasan dan keberanian* untuk memenangkan masa depan, atau bertahan dalam kebekuan (frozen) masa lalu dan rela tergerus oleh zaman.


Jalan dakwah adalah *jalan para inovator dan pejuang*. Mari kita rebut kembali semangat itu dan *menangkan pertarungan di Pasar Pengaruh* demi menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Wallahul Musta’an 

Kamis, 21 Agustus 2025

SINERGI DAKWAH PROFESIONAL, KULTURAL DAN SRUKTURAL

 



Bila kita membaca sejarah Golkar, kita akan menemukan bahwa kekuatan Golkar ditopang oleh tiga pilar yang dikenal dengan pilar ABG, ABRI, Birokrasi dan Golkar. 


Ketika PKI mengalami penguatan yang signifikan, pada tahun menjelang kudeta G 30 S- PKI, yang kekuatan politik realnya melebihi kekuatannya saat pemilu 1955 yang menduduki rangking ke-4, para perwira AD di circle nya Suharto membentuk Sekber Golkar. 


Sekretariat Bersama Golongan Karya ini dibentuk sedikitnya oleh 61 organisasi yang tergabung dalam 7 KINO atau kelompok induk organisasi berdasarkan sifat atau jenis kekaryaannya. Diantaranya adalah Kosgoro, MKGR, Gakari, Soksi dan lainnya. 


Belakangan sejalan dengan semakin menguatnya posisi politik Golkar, tidak kurang ada 291 organisasi yang bergabung di dalamnya.

Maka dengan penguasaan yang kuat di semua sektor (sektor publik yaitu birokrat dan pejabat negara/pemerintahan, sektor privat seperti para pengusaha dan profesional, serta sektor ketiga seperti ormas, budayawan bahkan ulama) tak pelak Golkar, meskipun bukan partai, tetapi selalu memenangi pemilu dari sejak tahun 1971 sampai tahun 1997.


Mungkin dimasa yang akan datang tidak akan ada lagi partai politik yang sedigdaya Golkar pada masa orde Baru. Karena tidak ada yang bisa mengumpulkan kekuatan ABG dalam satu wadah.


Tetapi partai apapun harus melakukan deferensiasi rekrutmen massa nya menjadi lebih heterogen. Bila hanya mengandalkan ceruk homogen, dipastikan akan sulit menjadi lebih besar.


Maka meskipun saat reformasi, Golkar dan pak Harto, yang juga merupakan ketua dewan Pembina, dituding yang paling bertanggung jawab  terpuruknya kondisi bangsa, tetapi Golkar masih kuat dan berhasil bertahan di posisi nomor dua pada pemilu 1999. Tentu karena cengkeramannya terhadap tiga sektor diatas belum sepenuhnya lepas.


Belajar dari Golkar jaman awal sebelum reformasi penguatan pada kelompok profesional birokrat, maupun kelompok kultural seperti budayawan, pengusaha dan ulama menjadi sesuatu yang penting dan perlu. Selain tentunya penguatan pada kelompok struktural.


Selama ini, penguatan pada kelompok profesional dan struktural sudah dilakukan, tetapi untuk kelompok kultural belum mendapatkan perhatian serius. Padahal kelompok ini bila dikelola dengan serius bisa memberikan sumbangsih yang besar, karena ladang nya luas. 


Tetapi memang yang menggarap lahan ini harus tidak berbau struktural. Sebab bagaimanapun juga, struktural akan memiliki atau membuat sekat. Betapapun sekat itu mungkin setipis kulit ari tapi tetaplah itu sekat namanya.


Apa yang disebut masyarakat kultural pada hakikatnya adalah masyarakat multikultural, yaitu masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok budaya, etnis, agama, profesi dan tradisi yang berbeda-beda.


Para aktifis dakwah kultural lebih mungkin untuk bisa diterima oleh masyarakat multikultural tersebut. Karena para kulturalis bisa lebih leluasa mengenal nilai nilai rahmatan lil 'alamin. Sebab yang mereka dakwahkan adalah islamiyah qobla jamaiyah.


Oleh karena itu dalam penyusunan personil struktural ada baiknya personal yang berpotensi kultural tidak dilibatkan. Tidak dipaksa masuk!


Kemudian para personil potensial kultural dikelola dalam kluster sendiri sehingga suatu saat nanti akan menjadi senjata atau jurus simpanan. Bahkan jurus pamungkas. Seperti halnya yang dilakukan oleh Brama Kumbara dengan ajian "Lemah Lumpuh" yang menjadi senjata simpanan ketika menghadapi musuh yang sangat kuat. Wallahu a'lam[]Gaf