Dalam acara penguatan dari sang Murobbi pagi ini menginspirasi sharing ini, sebuah kemuliaan dalam hidup kita ketika kita menjadi batu bata dalam bangunan islam. Masya Alloh.
Suasana yang sunyi kami menderngarkan nasehat sang murobbi. Kalimat itu mengingatkan saya bahwa dalam perjalanan dakwah, kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling depan. Tidak harus selalu menjadi orang yang paling dikenal. Tidak harus selalu mendapatkan amanah yang besar. Tidak harus selalu berada di atas panggung. Kadang-kadang, tugas kita hanya menjadi satu batu bata.
Sederhana. Diam. Tidak banyak terlihat. Tetapi kokoh. Dan ketika seluruh batu bata itu tersusun dengan baik, lahirlah sebuah bangunan yang kuat.
*Bangunan yang Tidak Dibangun oleh Satu Orang*
Dalam nasihatnya, Murobbi kami menyampaikan nasihat dari Rasulullah “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, yang sebagian menguatkan sebagian yang lain.” Kemudian Rasulullah memperagakan dengan menyilangkan jari-jari beliau. (HR. Bukhari dan Muslim)
Masya Alloh. Rasulullah tidak mengatakan bahwa seorang mukmin adalah sebuah bangunan yang berdiri sendiri. Beliau menggambarkan kita sebagai bagian dari sebuah bangunan. Ada hubungan. Ada keterikatan. Ada kebutuhan satu sama lain. Ada saling menguatkan.
Sebab sebuah bangunan tidak pernah berdiri hanya dengan satu batu bata. Satu batu bata mungkin kuat. Tetapi ia tetap hanya satu batu bata. Ia baru memiliki makna yang lebih besar ketika ia menjadi bagian dari sebuah bangunan.
Begitu pula seorang kader. Kita mungkin memiliki ilmu. Kita mungkin memiliki pengalaman. Kita mungkin memiliki kemampuan. Tetapi dakwah bukanlah proyek seorang diri. Dakwah adalah perjalanan bersama.
Ada yang berada di depan. Ada yang berada di tengah. Ada yang bekerja di belakang. Ada yang mengajar. Ada yang mendidik. Ada yang mengorganisasi. Ada yang menghubungkan. Ada yang menyiapkan. Ada yang mendampingi. Ada yang menguatkan. Ada yang mungkin tidak pernah terlihat. Tetapi semuanya memiliki tempat. Semuanya memiliki fungsi.
*Allah Tidak Meminta Kita Menjadi Semua Hal*
Kadang-kadang kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan ikhwah yang lain. Melihat ikhwah lain lebih aktif. Ikhwah lain lebih pintar berbicara. Ikhwah lain lebih banyak amanah dan lainnya kemudian kita bertanya dalam hati, "Saya ini sebenarnya berguna atau tidak?"
Padahal mungkin pertanyaan itu keliru. Pertanyaan yang lebih tepat bukan “Mengapa saya tidak seperti dia?” Tetapi “Apa yang bisa saya lakukan dengan kemampuan yang Allah berikan kepada saya?”
Allah berfirman “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Ayat ini bukan hanya berbicara tentang beban. Ia juga mengajarkan kepada kita tentang kapasitas. Allah tahu kemampuan kita. Allah tahu kekuatan kita. Allah tahu keterbatasan kita. Karena itu, jangan merasa harus menjadi orang lain.
*Batu Bata Tidak Perlu Menjadi Kubah*
Ada satu kesalahan yang kadang tidak kita sadari. Kita ingin menjadi "bagian yang terlihat".
Kita ingin menjadi kubah. Ingin menjadi tiang utama. Ingin menjadi bagian yang paling indah.
Padahal kalau semua batu bata ingin menjadi kubah, bangunan tidak akan pernah selesai. Ada batu bata yang memang harus berada di fondasi. Ada yang harus menjadi dinding. Ada yang berada di sudut. Ada yang berada di tempat yang bahkan tidak terlihat. Tetapi justru bagian-bagian yang tidak terlihat itulah yang terkadang menentukan kekuatan bangunan.
Maka jangan merasa rendah ketika mendapatkan amanah yang sederhana. Jangan merasa tidak penting ketika tidak berada di depan. Jangan merasa tidak berguna ketika nama kita tidak disebut.
Bisa jadi, posisi yang Allah berikan kepada kita hari ini adalah posisi terbaik untuk membentuk diri kita. Karena Allah tidak selalu menguji kita dengan amanah yang besar. Kadang Allah menguji kita dengan kesediaan menjalankan amanah yang kecil dengan sebaik-baiknya.
*Hasan Al-Banna dan Makna Amal*
Kalau kita mendalami pemikiran Asy Syahid Hasan Al-Banna, kita akan menemukan satu semangat besar yang sangat relevan dengan pembahasan ini. Hasan Al-Banna tidak membayangkan perubahan Islam sebagai pekerjaan satu atau dua orang. Ia membangun kesadaran tentang pentingnya individu yang baik, keluarga yang baik, masyarakat yang baik, hingga terbentuknya kehidupan yang dibangun di atas nilai-nilai Islam.
Dalam Risalah Pergerakan, salah satu gagasan yang sangat kuat adalah bahwa perubahan tidak lahir hanya dari gagasan yang indah, tetapi dari iman yang melahirkan amal. Dalam semangat pemikirannya, seorang kader tidak cukup hanya memahami apa yang benar.
Ia harus bergerak mengamalkannya. Tidak cukup hanya mencintai Islam. Ia harus bersedia memberikan sesuatu untuk Islam. Tidak cukup hanya berbicara tentang dakwah. Ia harus menjadi bagian dari dakwah. Dan di sinilah saya merasa konsep “batu bata” menjadi sangat relevan.
*Batu Bata Harus Kuat*
Tetapi menjadi batu bata bukan berarti sekadar hadir. Batu bata harus kuat. Sebab batu bata yang rapuh justru akan membahayakan bangunan. Demikian pula seorang kader. Tarbiyah bukan hanya membuat kita rajin hadir di majelis. Tarbiyah seharusnya membuat kita bertumbuh. Aqidah semakin kuat. Ibadah semakin baik. Akhlak semakin matang. lmu semakin bertambah. Kesabaran semakin luas. Komitmen semakin kokoh. Dan kontribusi semakin nyata.
Allah berfirman “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff: 4)
Ayat ini sangat indah. Allah menggambarkan orang-orang yang berjuang di jalan-Nya seperti bangunan yang tersusun kokoh. Ada keteraturan. Ada barisan. Ada kebersamaan. Ada kekuatan. dsan semua itu tidak mungkin terjadi jika setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Bangunan menjadi kokoh karena setiap bagiannya menjalankan fungsinya.
*Jangan Menjadi Batu Bata yang Retak*
Kadang yang membuat sebuah bangunan rapuh bukan karena kekurangan batu bata. Tetapi karena batu bata yang ada justru saling berbenturan. Dalam kehidupan dakwah, hal itu bisa terjadi ketika ego lebih besar daripada ukhuwah.
Ketika kita merasa paling benar. Ketika kita sulit menerima nasihat. Ketika kita kecewa karena tidak mendapatkan amanah. Ketika kita merasa kontribusi kita paling besar. Ketika kita mulai menghitung-hitung jasa. Ketika kita lebih sibuk melihat kekurangan saudara daripada memperbaiki diri sendiri.
Di sinilah tarbiyah menjadi penting. Tarbiyah mengajarkan kita untuk terus membersihkan hati. Sebab semakin dekat seseorang dengan dakwah, seharusnya semakin rendah hati ia. Semakin banyak amanah yang diterima, semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Semakin banyak kontribusi yang diberikan, semakin sedikit ia merasa berjasa.
Karena ia sadar, Saya hanya salah satu batu bata. Batu Bata yang Bersedia Ditempa. Batu bata tidak langsung menjadi bagian dari bangunan.
Ia mengalami proses. Dicampur. Dicetak. Dikeringkan. Dibakar. Diuji. Barulah kemudian digunakan.
Begitu pula kader dakwah. Ada proses tarbiyah yang panjang. Ada nasihat. Ada teguran. Ada tugas. Ada evaluasi. Ada kegagalan. Ada kekecewaan. Ada amanah yang berat. Ada perjalanan yang melelahkan. Tetapi mungkin justru melalui proses itulah Allah sedang membentuk kita.
Kita tidak sedang mencari manusia yang sempurna. Kita sedang membentuk manusia yang mau terus memperbaiki dirinya. Karena dakwah membutuhkan manusia yang bukan hanya bersemangat ketika suasana menyenangkan. Tetapi tetap istiqamah ketika keadaan sulit. Bukan hanya aktif ketika mendapatkan posisi. Tetapi tetap berkontribusi ketika tidak terlihat. Bukan hanya hadir ketika dipuji. Tetapi tetap bekerja ketika tidak ada yang mengetahui.











