Ada satu hal yang Allah berikan kepada setiap manusia dengan jumlah yang sama. Bukan harta. Bukan jabatan. Bukan kecerdasan. Bukan kesempatan. Tetapi waktu.
Setiap hari, Allah memberikan kepada kita 24 jam. Tidak ada seorang pun yang mendapatkan tambahan waktu karena ia kaya. Tidak ada yang mendapatkan pengurangan karena ia miskin.
Seorang direktur, seorang dosen, seorang pedagang, seorang mahasiswa, seorang buruh, bahkan seorang pengemudi ojek online, semuanya mendapatkan jatah yang sama - 24 jam dalam sehari.
Namun yang membedakan bukanlah berapa banyak waktu yang kita miliki. Yang membedakan adalah untuk apa waktu itu kita gunakan. Karena sesungguhnya 24 jam yang Allah berikan bukan sekadar fasilitas kehidupan. Ia adalah ujian.
Setiap menit yang berlalu sedang membawa sebuah pertanyaan, "Untuk apa engkau menggunakan waktu yang Aku berikan?"
Maka seorang kader tarbiyah seharusnya memiliki satu karakter penting dalam kehidupannya haritsun ‘ala waqtihi - bersungguh-sungguh menjaga waktunya, memberikan perhatian besar terhadap waktunya, dan tidak membiarkan waktunya berlalu tanpa nilai.
Bukan berarti setiap detik harus diisi dengan aktivitas dakwah. Bukan. Tetapi bagaimana setiap aktivitas yang kita lakukan memiliki niat yang benar, orientasi yang baik, dan nilai yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Saya pribadi setelah menyelami dan bersama dengan tarbiyah ini mendapatkan sebuah nikmat yang luar biasa terkait dengan waktu ini. Karena aktivitasnya Sama, Nilainya bisa Berbeda.
Kita semua punya kebutuhan pribadi. Kita makan. Kita tidur. Kita bekerja. Kita berkendara. Kita berolahraga, lari yang sekrang menjadi tren. Kita berkumpul dengan keluarga. Kita menghadiri acara warga, arisan atau panitia 17 an kemarin. Kita bertemu teman. Kita mengurus pekerjaan.
Semua itu adalah bagian dari kehidupan manusia. Tetapi tarbiyah mengajarkan sesuatu yang luar biasa. Jangan biarkan aktivitas biasa berhenti sebagai aktivitas biasa. Berikan ia niat. Berikan ia orientasi. Berikan ia nilai.
*Sama-Sama Bekerja, Tetapi Berbeda Nilainya*
Bayangkan dua orang yang sama-sama menjadi pengemudi ojek online. Keduanya keluar rumah pagi hari. Keduanya menerima order. Keduanya mengantarkan penumpang. Keduanya menunggu order berikutnya. Keduanya mendapatkan penghasilan.
Secara lahiriah, hampir tidak ada perbedaan. Tetapi seorang kader tarbiyah bisa memiliki cara pandang yang berbeda.
Ia berangkat dengan niat: "Ya Allah, aku keluar hari ini untuk mencari rezeki yang halal, memenuhi kebutuhan keluargaku, dan menjaga diriku dari meminta-minta kepada manusia."
Ketika mendapatkan order, ia menjaga amanah. Ketika menunggu order berikutnya, ia tidak harus selalu tenggelam dalam media sosial. Ia bisa membuka mushaf digital. Membaca beberapa ayat. Mengulang hafalan. Membaca materi tarbiyah. Mengirim pesan kepada binaannya. Menanyakan kabar seorang mad'u. Menghubungi pengurus DPRa. Berkoordinasi dengan pengurus DPC. Atau sekadar mengirimkan pesan kebaikan kepada seorang teman yang mungkin sedang membutuhkan perhatian.
Pekerjaannya sama. Tetapi waktu yang digunakan menjadi berbeda nilainya. Karena ia tidak hanya sedang mencari uang. Ia sedang mencari ridha Allah melalui pekerjaannya.
Inilah salah satu keindahan tarbiyah. Tarbiyah tidak selalu mengubah aktivitas kita. Tarbiyah mengubah cara kita memandang aktivitas tersebut.
*Waktu Luang Seorang Ikhwah Tidak Pernah Benar-Benar Luang*
Inilah barangkali salah satu buah dari tarbiyah. Seorang ikhwah boleh memiliki waktu senggang. Tetapi ia tidak membiarkan waktunya kosong tanpa arah.
Ada tilawah yang belum selesai. Ada binaan yang belum di-WA. Ada anggota keluarga yang perlu diperhatikan. Ada teman yang perlu ditanya kabarnya. Ada program DPRa yang harus dikoordinasikan. Ada agenda DPC yang harus disiapkan. Ada masyarakat yang harus disentuh. Ada ilmu yang harus dipelajari. Ada amal yang harus dikerjakan.
Bahkan ketika tidak ada agenda besar sekalipun, seorang kader selalu memiliki ruang untuk melakukan kebaikan. Bukan karena ia tidak pernah lelah. Justru karena ia tahu bahwa kelelahan yang digunakan untuk kebaikan tidak akan sia-sia di sisi Allah.
*Ketika Aktivitas Sosial Menjadi Jalan Dakwah*
Kita semua memiliki aktivitas sosial. Ada yang aktif di lingkungan RT. Ada yang mengikuti arisan. Ada yang menjadi panitia 17 Agustus. Ada yang membantu kegiatan masjid. Ada yang hadir dalam kerja bakti. Ada yang terlibat dalam kepanitiaan warga. Ada yang menjadi pengurus lingkungan.
Sekilas, aktivitas itu sama saja dengan aktivitas masyarakat lainnya. Tetapi bagi kader tarbiyah, selalu ada misi yang lebih besar. Rabtul 'am. Membangun kedekatan dengan masyarakat. Mengenal warga. Membangun kepercayaan. Menebar kebaikan. Menunjukkan akhlak. Membantu ketika dibutuhkan.
Menghadirkan wajah dakwah yang ramah. Bukan dengan banyak berbicara tentang dakwah. Tetapi dengan menjadi manusia yang membuat orang tertarik kepada kebaikan.
*Syuro- Rehat yang Aneh Tetapi Indah*
Ada satu fenomena menarik dalam kehidupan tarbiyah. Bagi sebagian orang, rapat adalah sesuatu yang melelahkan. Tetapi bagi keluarga dakwah, kadang syuro justru menjadi refreshing terbaik.
Bagaimana tidak? Seharian kita bekerja. Kita mungkin baru saja keluar dari meeting yang penuh tekanan. Berhadapan dengan target. Berhadapan dengan deadline. Berhadapan dengan angka.
Berhadapan dengan persoalan konstruksi. Berhadapan dengan kontraktor. Berhadapan dengan pelanggan. Berhadapan dengan atasan. Berhadapan dengan dinamika pekerjaan yang begitu kompleks.
Lalu sore atau malam hari kita datang ke sebuah ruang rapat, karena ada undangan dari sekbid BKAP atau bidang yang lainnya. Bukan untuk membahas proyek perusahaan. Bukan untuk membahas keuntungan pribadi. Tetapi membahas bagaimana sebuah program dakwah bisa berjalan.
Kita duduk bersama. Mendengarkan nasihat dari qiyadah. Membicarakan umat. Merancang program. Membagi tugas. Menghitung kebutuhan. Menyusun strategi. Bahkan mungkin kita mendapatkan amanah sebagai seksi konsumsi. Lalu pulang.
Secara fisik mungkin lelah. Tetapi hati terasa segar. Karena beberapa jam sebelumnya kita berpikir tentang pekerjaan dan proyek perusahaan, sekarang kita diberi kesempatan untuk berpikir tentang umat dan masa depan dakwah.
Masya Allah. Di mana lagi kita menemukan suasana seperti ini? Orang-orangnya. Sistemnya. Kaidahnya.mSemangatnya. Dan tujuan yang menyatukan semuanya.
Ada pemandangan yang sering kali sederhana, tetapi sebenarnya sangat mengharukan. Dalam beberapa syuro BKAP DPD, ada pengurus yang datang setelah menyelesaikan aktivitasnya. "Ana masih perjalanan dari kantor." Yang lain berkata "Ana dari kampus." Yang lain "Baru selesai ketemu klien."
Mereka datang bukan dengan pakaian yang sudah disiapkan khusus. Ada yang masih mengenakan seragam perusahaan. ID card masih tergantung di dada.
Ada yang datang langsung dari tempat kerja. Ada yang bahkan keluarganya sudah menunggu di depan kantor karena kendaraan terbatas. Kalau pulang terlebih dahulu, ia akan terlambat datang ke syuro.
Maka ia datang. Bukan karena tidak punya kesibukan. Justru karena ia memiliki banyak kesibukan. Tetapi di antara begitu banyak kesibukan itu, ia masih menyisakan ruang untuk dakwah.
Masya Allah. Inilah wajah kharitsun ‘ala waqtihi. Bukan manusia yang tidak punya kesibukan. Tetapi manusia yang mampu memberikan prioritas kepada setiap kesibukannya.
Menjadi kharitsun ‘ala waqtihi bukan berarti menjadi manusia yang selalu sibuk. Ia adalah manusia yang sadar nilai waktu. Ia tahu kapan harus bekerja. Ia tahu kapan harus berhenti. Ia tahu kapan harus belajar. Ia tahu kapan harus beristirahat. Ia tahu kapan harus bersama keluarga. Ia tahu kapan harus hadir dalam dakwah.
Dan yang penting, ia tahu untuk apa semua itu dilakukan. Tarbiyah membuat kita belajar bahwa kehidupan ini bukan kumpulan aktivitas yang terpisah.
Semua bisa menjadi satu rangkaian amal. Pekerjaan menjadi ibadah. Keluarga menjadi ladang pahala. Pertemuan sosial menjadi pintu dakwah. Syuro menjadi penguatan ukhuwah. Perjalanan menjadi kesempatan untuk berdzikir dan belajar. Waktu luang menjadi ruang untuk tilawah. Kesibukan menjadi kesempatan untuk berkontribusi.
Bahkan kelelahan pun bisa menjadi saksi bahwa kita pernah bersungguh-sungguh di jalan kebaikan. Masya Allah.
Ikhwah yang berhati lembut, betapa indahnya ketika seorang ikhwah menjalani hidupnya dengan kesadaran bahwa tidak ada waktu yang benar-benar kosong.
Karena setiap waktu adalah amanah. Setiap pertemuan adalah kesempatan. Setiap aktivitas adalah ladang amal. Setiap manusia yang kita temui adalah peluang untuk menghadirkan kebaikan.
Dan setiap menit yang berlalu...adalah bagian dari umur yang tidak akan pernah kembali. Maka jagalah waktu. Isi dengan niat. Hidupkan dengan amal. Arahkan dengan dakwah. Dan mohon kepada Allah agar setiap detiknya menjadi keberkahan.




















