Selasa, 30 Juni 2026

7 Manfaat Jalan Kaki Setiap Hari untuk Kesehatan

 




1. Menjaga Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah

2. Membantu Menurunkan dan Menjaga Berat Badan

3. Memperkuat Tulang, Otot, dan Persendian

4. Meningkatkan Suasana Hati dan Mengurangi Stres

5. Membantu Mengontrol Kadar Gula Darah

6. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

7. Memperbaiki Kualitas Tidur di Malam Hari


Tips Menjadikan Jalan Kaki Sebagai Rutinitas

Di era modern yang serba instan dan serba digital ini, gaya hidup sedenter atau kurang gerak telah menjadi salah satu masalah kesehatan global yang serius. Banyak dari kita menghabiskan waktu berjam-jam duduk di depan layar komputer, mengemudi di tengah kemacetan, atau sekadar bersantai di sofa sambil bermain ponsel. Padahal, tubuh manusia secara alami dirancang untuk terus bergerak aktif. Kurangnya aktivitas fisik ini diam-diam dapat memicu berbagai risiko penyakit kronis, mulai dari obesitas, penyakit jantung, hingga diabetes tipe 2. Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk mulai menyisihkan waktu agar tubuh tetap aktif bergerak setiap harinya.


Kabar baiknya, kamu tidak selalu harus melakukan olahraga berat, mengangkat beban di pusat kebugaran, atau berlari maraton untuk mendapatkan tubuh yang bugar. Salah satu aktivitas fisik yang paling sederhana, mudah, tanpa biaya, dan sangat efektif adalah jalan kaki. Manfaat jalan kaki setiap hari sering kali diremehkan, padahal aktivitas ini merupakan pondasi yang sangat baik untuk membangun kesehatan fisik dan mental yang optimal. Berjalan kaki tidak memerlukan peralatan khusus, dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dan cocok untuk semua kelompok usia maupun berbagai tingkat kebugaran.


World Health Organization (WHO) merekomendasikan orang dewasa untuk melakukan aktivitas fisik intensitas sedang, seperti jalan kaki cepat, setidaknya 150 hingga 300 menit per minggu. Jika dibagi rata, kamu hanya perlu meluangkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit setiap hari untuk berjalan kaki. Jika kamu memiliki riwayat penyakit tertentu, kekhawatiran mengenai intensitas olahraga yang aman, atau sekadar ingin berkonsultasi mengenai rencana kebugaranmu, kamu bisa konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja. Dengan pendekatan yang tepat, kebiasaan sederhana ini akan membawa perubahan besar bagi kualitas hidupmu. Mari kita bahas secara mendalam berbagai manfaat jalan kaki setiap hari yang bisa kamu rasakan.



7 Manfaat Jalan Kaki Setiap Hari untuk Kesehatan

Meski terlihat sangat sederhana, berjalan kaki melibatkan banyak kelompok otot besar di dalam tubuh dan memicu berbagai respons fisiologis yang positif. Berikut adalah tujuh manfaat utama yang akan kamu dapatkan jika rutin berjalan kaki setiap hari:


1. Menjaga Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah

Jantung adalah otot yang perlu dilatih agar tetap kuat memompa darah ke seluruh tubuh. Jalan kaki, terutama jalan cepat (brisk walking), adalah latihan kardiovaskular yang luar biasa. Saat kamu berjalan dengan tempo yang sedikit lebih cepat dari biasanya, detak jantung akan meningkat, yang pada gilirannya akan melatih otot jantung menjadi lebih efisien. Rutinitas ini membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi kadar kolesterol jahat (LDL), dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL).


Sirkulasi darah yang lancar berkat jalan kaki juga membantu mencegah penumpukan plak di arteri. Hal ini secara signifikan dapat menurunkan risiko terjadinya serangan jantung, stroke, dan penyakit kardiovaskular lainnya. Jika kamu melakukan jalan kaki setiap hari selama setidaknya 30 menit, kamu sedang memberikan perlindungan jangka panjang untuk organ paling vital di tubuhmu.


2. Membantu Menurunkan dan Menjaga Berat Badan

Banyak orang mengira bahwa untuk membakar lemak dan menurunkan berat badan, mereka harus melakukan olahraga berintensitas tinggi hingga kehabisan napas. Nyatanya, jalan kaki adalah cara yang sangat efektif untuk membakar kalori berlebih tanpa memberikan tekanan yang berlebihan pada tubuh. Berjalan kaki setiap hari dengan kecepatan sedang selama satu jam dapat membakar sekitar 200 hingga 300 kalori, tergantung pada berat badan dan kecepatan langkahmu.


Selain membakar kalori selama aktivitas berlangsung, jalan kaki juga membantu meningkatkan laju metabolisme basal, sehingga tubuhmu tetap efisien dalam memproses nutrisi bahkan saat kamu sedang beristirahat. Untuk hasil yang optimal dalam program penurunan berat badan, kombinasikan rutinitas jalan kaki harianmu dengan pola makan sehat dan seimbang yang kaya akan serat, protein tanpa lemak, serta vitamin esensial.


Faktor Pemicu Cedera atau Ketidaknyamanan Saat Jalan Kaki

Pemilihan Sepatu yang Salah: Menggunakan sepatu dengan sol yang tipis, kaku, atau tidak memberikan dukungan lengkungan yang baik dapat memicu nyeri pada tumit (plantar fasciitis) dan masalah persendian.

Tidak Melakukan Pemanasan: Meski ringan, mengabaikan peregangan sebelum jalan cepat bisa membuat otot kaget dan rentan mengalami kram atau tegang, terutama di area betis.

Postur Tubuh yang Buruk: Berjalan sambil menunduk menatap ponsel, membungkuk, atau mengayunkan tangan secara tidak wajar bisa menyebabkan ketegangan pada leher, bahu, dan punggung bawah.

Terlalu Memaksakan Diri: Langsung berjalan dengan jarak yang sangat jauh atau durasi yang lama saat baru memulai rutinitas dapat memicu kelelahan otot yang parah dan peradangan sendi.

3. Memperkuat Tulang, Otot, dan Persendian

Semakin bertambahnya usia, kepadatan tulang dan kekuatan sendi cenderung menurun. Jalan kaki termasuk dalam kategori olahraga menahan beban (weight-bearing exercise) yang ringan namun efektif. Aktivitas ini memaksa tulang dan otot tubuh bagian bawah, seperti panggul, paha, dan betis, untuk bekerja menopang berat badanmu. Stimulasi mekanis ini merangsang sel-sel pembentuk tulang (osteoblas) untuk bekerja lebih aktif, sehingga membantu mencegah keropos tulang atau osteoporosis.


Di samping itu, berjalan kaki sangat bermanfaat bagi kesehatan persendian, terutama lutut dan pinggul. Tidak seperti tulang yang memiliki suplai darah melimpah, tulang rawan pada persendian tidak memiliki pembuluh darah secara langsung. Tulang rawan mendapatkan nutrisi dari cairan sinovial yang beredar ketika sendi bergerak. Dengan berjalan kaki, kamu “memeras” persendianmu, sehingga cairan pelumas dan nutrisi bisa masuk memelihara tulang rawan, mencegah kekakuan, dan meredakan nyeri pada penderita radang sendi ringan.


4. Meningkatkan Suasana Hati dan Mengurangi Stres

Manfaat jalan kaki setiap hari tidak hanya berdampak pada fisik, melainkan juga pada kesehatan mental. Ketika kamu berjalan kaki, terlebih jika dilakukan di luar ruangan dengan pemandangan alam dan udara segar, tubuh akan melepaskan hormon endorfin. Endorfin adalah zat kimia alami di otak yang bertindak sebagai obat penghilang rasa sakit dan perangsang rasa bahagia.


Aktivitas fisik ini juga mampu menurunkan kadar kortisol atau hormon stres di dalam darah. Banyak studi menunjukkan bahwa berjalan kaki rutin selama 20 hingga 30 menit dapat secara efektif mengurangi gejala kecemasan (anxiety) dan depresi. Bagi kamu yang sering merasa penat setelah seharian bekerja keras, menjadikan jalan kaki sebagai rutinitas sore hari bisa menjadi sarana pelepasan stres (stress relief) yang sangat mujarab untuk menjernihkan pikiran.


5. Membantu Mengontrol Kadar Gula Darah

Bagi orang dengan risiko diabetes tipe 2 atau yang ingin menjaga kestabilan energi sepanjang hari, jalan kaki adalah kunci yang mudah diaplikasikan. Melakukan jalan kaki ringan selama 10 hingga 15 menit setiap selesai makan besar (terutama setelah makan siang atau makan malam) terbukti sangat efektif untuk mengontrol lonjakan gula darah postprandial.


Saat kamu berjalan, otot-otot di seluruh tubuh membutuhkan energi. Untuk mendapatkan energi tersebut, otot akan menyerap glukosa dari dalam darah. Proses ini membuat sensitivitas sel tubuh terhadap hormon insulin meningkat secara signifikan. Dengan demikian, tubuhmu akan lebih mudah dan efisien dalam memproses gula menjadi energi, alih-alih membiarkannya menumpuk di aliran darah yang berisiko memicu diabetes di kemudian hari.


6. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Jika kamu merasa mudah lelah atau sering terkena flu, cobalah untuk lebih rutin berjalan kaki. Olahraga intensitas sedang seperti jalan kaki cepat dapat membantu meningkatkan sirkulasi sel darah putih dan antibodi ke seluruh tubuh. Dengan sirkulasi yang lebih cepat, sistem kekebalan tubuh dapat mendeteksi dan melawan bakteri, virus, atau zat asing penyebab penyakit dengan lebih sigap sebelum mereka berkembang biak.


Selain itu, kenaikan suhu tubuh sementara yang terjadi ketika kamu aktif berjalan juga diyakini dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu di dalam tubuh, mirip dengan mekanisme demam alami. Penelitian mencatat bahwa individu yang berjalan kaki minimal 20 menit sehari dalam lima hari seminggu, memiliki jumlah hari sakit (sick days) yang jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang bergaya hidup sedenter.

Sponsored

Web_Ads_PastiMurahPD_June2026


7. Memperbaiki Kualitas Tidur di Malam Hari

Berjuang melawan insomnia atau sering terbangun di malam hari? Jalan kaki secara rutin bisa menjadi obat tidur alami untukmu. Aktivitas fisik yang konsisten membantu menyeimbangkan kembali ritme sirkadian tubuh, yaitu jam biologis internal yang mengatur siklus tidur dan bangun harianmu. Berjalan di bawah paparan sinar matahari pagi dapat memberikan sinyal yang kuat pada otak untuk memproduksi melatonin (hormon tidur) di waktu yang tepat saat malam tiba.


Jalan kaki juga membantu membuang sisa energi serta meredakan ketegangan otot dan saraf, sehingga tubuhmu berada dalam keadaan yang lebih relaks ketika bersiap untuk tidur. Kamu akan cenderung lebih mudah terlelap dan memasuki fase tidur dalam (deep sleep) yang esensial untuk perbaikan sel-sel tubuh dan pemulihan kognitif, membuatmu bangun lebih segar keesokan harinya.


Tips Menjadikan Jalan Kaki Sebagai Rutinitas

Meskipun jalan kaki itu mudah, menjadikannya sebagai kebiasaan yang konsisten setiap hari terkadang menjadi tantangan tersendiri. Agar kamu tidak mudah bosan dan tetap termotivasi, cobalah untuk menetapkan target yang realistis. Kamu tidak harus langsung mematok target 10.000 langkah di hari pertama. Mulailah dengan 10 hingga 15 menit per hari, lalu secara bertahap tambah durasinya seiring dengan peningkatan kebugaranmu.


Selain itu, carilah celah dalam aktivitas sehari-harimu untuk memperbanyak langkah. Misalnya, parkirkan kendaraan lebih jauh dari pintu masuk kantor atau pusat perbelanjaan, pilih menggunakan tangga daripada eskalator atau lift jika hanya naik satu atau dua lantai, atau buatlah jadwal jalan kaki bersama keluarga maupun hewan peliharaan di sore hari. Agar lebih menyenangkan, kamu bisa berjalan kaki sambil mendengarkan musik favorit, podcast, atau audiobook yang menginspirasi.



Kapan Harus ke Dokter?

Jalan kaki memang aktivitas fisik yang aman bagi kebanyakan orang, namun kamu tetap harus mengenali sinyal yang diberikan oleh tubuhmu. Jika saat berjalan kaki kamu tiba-tiba mengalami nyeri dada yang menjalar, sesak napas ekstrem, pusing hebat hingga pandangan kabur, atau nyeri sendi tajam yang membuatmu tidak bisa berpijak, segera hentikan aktivitasmu. Jika gejalamu tidak membaik setelah beristirahat atau justru semakin parah, segera konsultasi dengan Dokter Umum di Halodoc untuk pemeriksaan lebih 





Studi Terkait

Sebuah pembaruan pedoman klinis dan studi longitudinal ekstensif yang diterbitkan dalam International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity pada awal tahun 2026 menyoroti dampak jangka panjang mikro-aktivitas harian terhadap angka harapan hidup. Studi tersebut mengkonfirmasi bahwa akumulasi jalan kaki intensitas sedang sekecil 20 menit per hari berhasil memangkas risiko mortalitas kardiovaskular secara keseluruhan hingga 31% pada populasi dewasa urban. Hal ini mengukuhkan fakta medis bahwa konsistensi dalam bergerak, sekalipun dalam durasi singkat, jauh lebih bernilai bagi kesehatan organ dalam dibandingkan intensitas olahraga sesekali yang berat.


FAQ

1. Berapa langkah yang ideal untuk didapatkan setiap harinya?

Meski banyak orang terpaku pada angka 10.000 langkah, berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa berjalan sebanyak 7.000 hingga 8.000 langkah sehari sudah sangat cukup untuk memberikan manfaat kesehatan yang optimal dan menurunkan risiko kematian dini secara signifikan.


2. Apakah jalan kaki di tempat atau menggunakan treadmill sama efektifnya dengan di luar ruangan?

Secara fisik dan pembakaran kalori, berjalan di treadmill atau berjalan di tempat memberikan manfaat kardiovaskular yang serupa. Namun, berjalan di luar ruangan memberikan tambahan manfaat berupa paparan vitamin D dari sinar matahari pagi dan relaksasi mental dari pemandangan alam.


3. Kapan waktu terbaik untuk berjalan kaki?

Tidak ada aturan baku yang mutlak; waktu terbaik adalah waktu di mana kamu bisa melakukannya secara konsisten. Jalan pagi sangat baik untuk mengatur ritme sirkadian dan menyegarkan pikiran, sementara jalan kaki sore atau setelah makan efektif untuk mengontrol gula darah dan melepas penat.


4. Apakah jalan kaki bisa membentuk otot?

Jalan kaki lebih dominan sebagai latihan kardio ketimbang latihan pembentukan otot. Namun, jalan kaki secara teratur—terutama jika menanjak bukit atau menggunakan sedikit beban tambahan—dapat membantu mengencangkan otot paha, betis, dan glutes (bokong), serta memperkuat inti tubuh (core).


Itulah penjelasan komprehensif mengenai berbagai manfaat jalan kaki setiap hari bagi fisik maupun mentalmu. Jangan tunda lagi, mulailah langkah pertamamu hari ini juga! Jika kamu membutuhkan vitamin pendukung kebugaran otot atau obat pereda nyeri ringan saat memulai rutinitas olahraga, kamu bisa menemukan berbagai produk kesehatan terpercaya di Toko Kesehatan Halodoc. Selalu jaga kebugaranmu karena investasi terbaik adalah tubuh yang sehat.


Referensi:

1. World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Physical activity.

Mayo Clinic. 

Diakses pada 2024. Walking: Trim your waistline, improve your health.

Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Manfaat Jalan Kaki Bagi Kesehatan Tubuh.

PubMed Central. Diakses pada 2024. Daily Step Count and All-Cause Mortality:

Senin, 29 Juni 2026

MENGAPA WAKTU SEBAGIAN ORANG SANGAT BERKAH ?





ADA orang yang dalam sehari mampu menyelesaikan begitu banyak pekerjaan. Ia bisa bekerja, membaca, mengajar, berdakwah, beribadah, dan tetap memiliki waktu untuk keluarga. 

Sebaliknya, ada orang yang merasa waktu 24 jam tidak pernah cukup. Hari demi hari berlalu tanpa hasil yang berarti.

Apa bedanya?

Jawabannya mungkin bukan karena mereka memiliki waktu lebih banyak. Tetapi karena mereka memiliki keberkahan waktu. 

Rasulullah saw mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya kiamat adalah waktu terasa semakin singkat.

"Tidak akan tiba hari kiamat hingga waktu semakin singkat." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah jam yang berkurang atau bumi yang berputar lebih cepat. Yang dimaksud adalah hilangnya keberkahan waktu. Satu hari tetap 24 jam, tetapi manfaat yang dihasilkan dari 24 jam itu semakin sedikit.

Lalu apa ciri-ciri kita mendapatkan keberkahan waktu?

1. Banyak hasil dalam waktu yang sedikit.

Orang yang mendapatkan keberkahan waktu mampu menghasilkan pekerjaan besar dalam waktu yang relatif singkat. 

Ia fokus, produktif, dan tidak mudah teralihkan oleh hal-hal yang tidak berguna. Allah SWT berfirman :

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain" (QS. Al-Insyirah: 7)

2. Mudah melakukan kebaikan.

Keberkahan waktu membuat seseorang ringan untuk shalat, membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu, bekerja, berdakwah, dan membina orang lain.

Sebaliknya, enggan dan tidak tertarik untuk melakukan kemaksiatan atau hal-hal yang tak bermanfaat. Rasulullah saw bersabda : 

"Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat)." (HR. Muslim)

3. Sedikit waktu yang terbuang sia-sia

Orang yang diberkahi waktunya sangat menghargai setiap menit kehidupannya. Ia sadar bahwa umur adalah modal yang tidak bisa kembali.

Karena itu ia tidak suka tenggelam dalam aktivitas yang tidak mendekatkannya kepada Allah atau tidak memberi manfaat bagi kehidupan. Allah Ta'ala berfirman : 

"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna" (QS.Al-Mu'minun: 3)

4. Hidupnya penuh prestasi dan amal.

Lihatlah para ulama terdahulu:

Imam An-Nawawi wafat pada usia 45 tahun, tetapi karya-karyanya masih dipelajari hingga hari ini.

Imam Al-Ghazali hidup hanya sekitar 55 tahun, namun pengaruh ilmunya melintasi berabad-abad.

Mereka memiliki jumlah jam yang sama dengan kita, tetapi keberkahan waktu membuat hasil hidup mereka luar biasa.

Lalu apa yang menghilangkan keberkahan waktu?

Para ulama menjelaskan bahwa di antara penyebab hilangnya keberkahan adalah:

1. Lemahnya iman.
2. Banyaknya maksiat.
3. Makanan dan penghasilan yang haram atau syubhat.
4. Riba dan kecurangan dalam bekerja.
5. Kebiasaan menunda-nunda.
6. Terlena melakukan hal yang tidak bermanfaat.

Allah SWT menegaskan:

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96)

Keberkahan waktu bukan berarti memiliki waktu lebih banyak daripada orang lain. Keberkahan waktu adalah ketika Allah menjadikan waktu yang sedikit menghasilkan manfaat yang besar, amal yang banyak, dan keberhasilan yang melampaui perkiraan manusia.

Karena itu, jangan hanya meminta umur yang panjang. Mintalah juga umur yang berkah. Sebab yang akan mengubah dunia bukanlah orang yang hidup paling lama, tetapi orang yang paling banyak memanfaatkan waktunya untuk kebaikan. Wallahu 'alam

MEMAKNAI HARI KELUARGA NASIONAL

 


Hari Keluarga Nasional  (Harganas) yang diperingati setiap tanggal 29 Juni adalah momentum penting untuk merefleksikan peran keluarga. 


Keluarga bukan hanya unit sosial terkecil, tetapi juga fondasi utama dalam membangun karakter bangsa yang tangguh, sehat, dan adaptif terhadap perubahan zaman.


Sejarah Hari Keluarga Nasional berkaitan dengan perjuangan pasca kemerdekaan Indonesia. Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 22 Juni 1949, para pejuang yang selamat kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya satu pekan kemudian, tepat pada 29 Juni 1949.


Momen itu kemudian menginspirasi Prof. Dr. Haryono Suyono saat menjabat Kepala BKKBN untuk mengabadikan 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional. Tanggal tersebut juga bertepatan dengan dimulainya Gerakan Keluarga Berencana Nasional pada 1970. 


Selanjutnya, Harganas memperoleh legitimasi melalui Keputusan Presiden RI Nomor 39 Tahun 2014 yang menetapkan 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional.


Harganas lebih dari sekadar sejarah, peringatan ini menekankan pentingnya: 


1. Keluarga adalah benteng pertama dalam menciptakan generasi penerus yang cerdas dan berkarakter


2. Mengoptimalkan fungsi keluarga yang meliputi, keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, pendidikan, ekonomi, hingga pelestarian lingkungan.


Di tengah kesibukan sehari-hari, menjaga keharmonisan keluarga membutuhkan usaha nyata. 


Di bawah ini merupakan beberapa langkah sederhana untuk menciptakan keluarga yang harmonis: 


1. Alokasikan Quality Time: Sediakan waktu khusus untuk berkumpul tanpa gangguan pekerjaan atau gawai guna membangun koneksi emosional yang mendalam. 


2. Komunikasi Terbuka: Dengarkan dan hargai pendapat setiap anggota keluarga.


3. Saling Mendukung: Berikan apresiasi atas pencapaian kecil setiap anggota keluarga untuk menumbuhkan rasa percaya diri.


Richard Bach, seorang penulis dari Amerika menyatakan bahwa:


"The bond that links your true family is not one of blood, but of respect and joy in each other's life." 


Artinya, ikatan yang menghubungkan keluarga sejatimu bukanlah ikatan darah, melainkan rasa hormat dan kebahagiaan atas kehidupan satu sama lain."


Maksudnya memiliki hubungan darah atau genetik yang sama tidak otomatis membuat seseorang menjadi "keluarga sejati" jika di dalamnya tidak ada kehangatan. 


Hubungan biologis hanyalah fakta medis, sedangkan esensi keluarga adalah hubungan emosional. 


Keluarga sejati dibangun di atas rasa saling menghormati. Ini berarti menerima pilihan hidup masing-masing, menghargai batasan privasi, dan tidak saling menghakimi meskipun ada perbedaan pandangan.  Ada nilai ketulusan, mereka ikut merasa bahagia dan merayakan setiap pencapaian serta kegembiraan yang dirasakan oleh anggota lainnya, tanpa ada rasa iri atau dengki.


Maka, nilai sebuah keluarga ditentukan oleh kualitas hubungan emosional, kasih sayang, dan perlakuan satu sama lain, bukan sekadar silsilah pohon keluarga atau status hukum semata.


Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk menghargai kehadiran orang-orang tercinta di rumah, karena dari keluarga yang kokoh akan lahir masyarakat yang sejahtera.


Selamat Hari Keluarga Nasional 2026. 

Wallahul Musta’an


Minggu, 21 Juni 2026

Kisah Sahabat Nabi Zubair Bin Awwam: Pejuang yang Berani dan Setia

 


Zubair bin Awwam adalah salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW yang memainkan peran penting dalam sejarah Islam. Dikenal karena keberanian, kesetiaan, dan keteguhannya di garis depan, hidupnya dipenuhi dengan pengorbanan dan perjuangan demi Allah dan Rasul-Nya. Kisah sahabat Nabi Zubair Bin Awwam menjadi inspirasi bagi generasi Muslim hingga saat ini.

Zubair bin Awwam lahir sekitar tahun 594 M di Mekah, dari keluarga yang terhormat dan mulia. Dia adalah putra Awwam bin Khuwaylid dan Shafiyyah binti Abdul Muttalib, yang merupakan bibi Nabi Muhammad SAW, menjadikan Zubair sebagai sepupu Nabi. Zubair juga termasuk dalam kelompok “Asharah Mubasyarah”, yaitu sepuluh sahabat yang dijanjikan surga oleh Nabi  Muhammad SAW. Zubair tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan disiplin dan keberanian. Ibunya, Shafiyyah, dikenal karena kekuatan dan keberaniannya. Sehingga, membentuk Zubair menjadi pemuda yang berani dan teguh dalam menghadapi kesulitan. Namun, di usia 66 tahun tepatnya pada tahun 36 H (656 M) dia mati terbunuh oleh  Amr bin Jurmuz saat sedang berdoa.

Zubair bin Awwam Memeluk Islam di Usia Muda

Zubair bin Awwam termasuk salah satu orang pertama yang memeluk Islam, bergabung dengan kelompok yang dikenal sebagai “As-Sabiqun al-Awwalun”, yaitu para pemeluk Islam awal. Dia memeluk Islam pada usia 15 tahun, sebuah keputusan yang membawa banyak tantangan, terutama karena anggota keluarganya belum memeluk Islam. Namun, Zubair tetap teguh dalam keimanannya meskipun menghadapi banyak rintangan.

Zubair bin Awwam Memeluk Islam di Usia Muda

Zubair bin Awwam termasuk salah satu orang pertama yang memeluk Islam, bergabung dengan kelompok yang dikenal sebagai “As-Sabiqun al-Awwalun”, yaitu para pemeluk Islam awal. Dia memeluk Islam pada usia 15 tahun, sebuah keputusan yang membawa banyak tantangan, terutama karena anggota keluarganya belum memeluk Islam. Namun, Zubair tetap teguh dalam keimanannya meskipun menghadapi banyak rintangan.

Keberanian Zubair bin Awwam di Medan Perang

Zubair dikenal karena keberaniannya di medan perang. Dia selalu berada di garis depan setiap pertempuran besar yang dihadapi kaum Muslim, dan kontribusinya sangat berharga. Berikut adalah beberapa peran penting Zubair dalam pertempuran kunci:

1. Pertempuran Badar

Dalam Pertempuran Badar, Zubair menonjol sebagai salah satu prajurit paling gagah berani. Dia mengenakan baju besi penuh sehingga hanya matanya yang terlihat, dan bertempur dengan gagah berani, mengalahkan banyak pasukan musuh. Keberaniannya dipuji langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

2. Pertempuran Uhud  

Selama Pertempuran Uhud, Zubair kembali menunjukkan kekuatan dan keberanian besar. Meski kaum Muslim mengalami kemunduran, Zubair tetap berada di sisi Nabi, melindungi beliau dari serangan musuh. Kesetiaannya dalam pertempuran ini membuatnya dihormati oleh semua sahabat.

3. Pertempuran Khandaq (Parit)  

Dalam Pertempuran Khandaq, ketika Quraisy dan sekutunya mengepung Madinah, Zubair secara sukarela mengintai pergerakan musuh, sebuah tugas yang sangat berisiko karena dikelilingi oleh pasukan lawan. Nabi Muhammad SAW memujinya dengan berkata, “Setiap nabi memiliki penolong, dan penolongku adalah Zubair bin Awwam,” menunjukkan kepercayaan besar Nabi kepadanya.

Keteguhan dan Ketegasan Zubair

Zubair menghadapi banyak cobaan besar karena komitmennya terhadap Islam. Dalam satu kejadian, pamannya berusaha memaksanya untuk meninggalkan Islam dengan mengurungnya di dalam ruangan yang penuh asap. Meskipun diperlakukan dengan keras, Zubair tetap teguh pada keimanannya, menunjukkan keteguhannya untuk menegakkan kebenaran.

Kontribusi Zubair setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Zubair tetap aktif dalam membela dan menyebarkan Islam. Dia berpartisipasi dalam kampanye militer di bawah kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, serta menjadi penasihat yang terpercaya selama masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Namun, selama masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, terjadi fitnah atau perpecahan yang mengarah pada Pertempuran Jamal, di mana Zubair awalnya mendukung Aisyah. Namun, setelah berbicara dengan Ali, Zubair memutuskan untuk menarik diri dari pertempuran, menunjukkan kebijaksanaannya dan komitmennya terhadap perdamaian serta persatuan di antara kaum Muslim.

Zubair bin Awwam bukan hanya dikenal karena keberaniannya di medan perang, tetapi juga karena kedermawanannya yang luar biasa dalam menyokong dakwah Islam.

Sabtu, 20 Juni 2026

Produktif Kreatif Sistematis

 


Pola pikir produktif adalah kerangka mental yang berorientasi pada tujuan. Untuk meraihnya, adopsi 7 pola pikir utama ini: menjadi proaktif, fokus pada hasil akhir, dahulukan prioritas, berpikir menang-menang, dengar untuk memahami, ciptakan sinergi, dan evaluasi diri secara berkala.


Terapkan pola pikir tersebut melalui langkah-langkah konkret berikut:

1. Menjadi ProaktifBerhenti menyalahkan keadaan atau orang lain atas apa yang terjadi. Orang produktif selalu berfokus pada solusi dan hal-hal yang bisa mereka kendalikan.

2. Mulai dari Tujuan AkhirSelalu bayangkan hasil yang ingin kamu capai sebelum memulai. Ini akan menjadi peta jalan agar setiap tindakanmu terarah ke visi jangka panjang.

3. Dahulukan yang PrioritasLakukan pekerjaan yang benar-benar penting dan memiliki dampak besar terlebih dahulu. Gunakan metode seperti Eisenhower Matrix untuk mengelompokkan tugas.

4. Berpikir Menang-Menang (Win-Win)Dalam bekerja sama, selalu cari solusi yang menguntungkan semua pihak. Ini membangun hubungan yang langgeng dan saling percaya.

5. Mengerti Terlebih Dahulu, Baru DimengertiDengarkan orang lain sepenuhnya untuk memahami perspektif mereka, sebelum meminta mereka memahami sudut pandangmu. Hal ini meminimalkan konflik dan miskomunikasi.

6. Ciptakan SinergiPercayalah bahwa kolaborasi dan menggabungkan perbedaan kekuatan (the power of teamwork) bisa menghasilkan solusi yang jauh lebih besar daripada bekerja sendirian.

7. Evaluasi dan Perbaiki Diri Secara BerkalaSelalu luangkan waktu untuk mengasah kemampuan, mengistirahatkan mental, dan mengevaluasi apa yang sudah dicapai.

Jumat, 19 Juni 2026

CIRI-CIRI KEBERKAHAN WAKTU

 


DI AWAL tahun baru 1448 Hijriyah ini mari kita merenung, apakah waktu kita sudah termasuk waktu yang barokah (berkah) selama ini?  Sebab banyak orang mengeluh, "Waktu terasa begitu cepat berlalu."


Pagi baru saja dimulai, tiba-tiba sudah malam. Baru merasa awal bulan, tahu-tahu sudah akhir bulan. Baru merasa tahun ini dimulai, ternyata tahun sudah berganti lagi. Rasulullah saw telah mengabarkan fenomena ini jauh sebelum kita mengalaminya.


"Tidak akan tiba hari kiamat hingga waktu semakin singkat. Satu tahun seperti satu bulan, satu bulan seperti satu minggu, satu minggu seperti satu hari..." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)


Para ulama seperti Imam An-Nawawi, Qadhi 'Iyadh, dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah berkurangnya jumlah jam dalam sehari, melainkan hilangnya keberkahan waktu. Hari tetap 24 jam. Tetapi manfaat yang dihasilkan dari 24 jam itu semakin sedikit.


Sebab waktu yang berkah berarti waktu yang zidayatul khair (kebaikannya bertambah-tambah). Orang yang waktunya berkah, manfaat hidupnya tinggi karena banyak mengumpulkan kebaikan dan pahala lebih daripada orang kebanyakan. 


Lalu, bagaimana ciri-ciri orang yang mendapatkan keberkahan waktu?


1. Mampu Menghasilkan Banyak Kebaikan dalam Waktu yang Sama.


Keberkahan waktu membuat seseorang mampu menyelesaikan banyak pekerjaan yang bermanfaat tanpa merasa terburu-buru.


Orang lain membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu pekerjaan, sedangkan ia dapat menyelesaikannya dalam waktu yang jauh lebih singkat dengan hasil yang baik.


Inilah yang terlihat pada kehidupan para ulama terdahulu.


Imam An-Nawawi hanya hidup sekitar 45 tahun, tetapi menghasilkan puluhan karya besar yang hingga hari ini masih dipelajari di seluruh dunia Islam.


Imam Al-Ghazali hidup sekitar 55 tahun, namun pengaruh ilmunya tetap hidup hingga hampir seribu tahun kemudian.


2. Tidak Suka Menyia-nyiakan Waktu


Orang yang diberi keberkahan waktu merasa rugi jika waktunya berlalu tanpa manfaat. Imam Abu Bakar bin 'Ayyasy berkata:


"Jika seseorang kehilangan sekeping emas, ia akan menyesal sepanjang hari. Tetapi jarang ada orang yang menyesal karena satu hari dari umurnya telah hilang."


Padahal waktu jauh lebih berharga daripada emas. Emas yang hilang masih bisa dicari. Waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.


3. Selalu Mengisi Waktunya dengan Hal Bermanfaat.


Bukan berarti ia tidak beristirahat atau tidak bercanda. Namun sebagian besar waktunya diisi dengan hal yang mendekatkannya kepada Allah dan bermanfaat bagi manusia.


Dikisahkan bahwa Imam Al-Khatib Al-Baghdadi sering membaca buku sambil berjalan karena tidak ingin ada waktunya yang terbuang sia-sia.


Sedangkan Imam Zakaria Al-Anshari dikenal hampir tidak pernah melakukan aktivitas yang tidak berguna sepanjang hidupnya.


4. Ilmu dan Amal Bertambah Terus.


Keberkahan waktu bukan sekadar sibuk. Banyak orang sibuk tetapi tidak bertambah ilmunya, tidak bertambah amalnya, dan tidak bertambah manfaatnya.


Waktu yang berkah selalu menghasilkan pertumbuhan. Hari ini lebih baik daripada kemarin. Ibadah semakin baik, ilmu semakin luas, dan manfaat semakin besar.


5. Hatinya Tenang Meski Banyak Aktivitas.


Orang yang diberkahi waktunya tidak selalu terlihat tergesa-gesa. Ia justru lebih tenang karena Allah memudahkan urusannya.


Pekerjaan yang banyak tidak membuatnya panik, sebab Allah menanamkan keberkahan dalam waktu yang dimilikinya.


6. Selalu berdakwah tanpa lelah.


Para nabi adalah manusia yang paling berkah waktunya. Mereka berprofesi macam-macam, tapi selalu berdakwah dimana pun dan kapan pun. Tak terjebak dengan urusan dunia, sehingga lalai mengajak manusia kepada Allah Ta'ala. 


Walau dakwah para nabi menghadapi tantangan yang keras, tapi mereka tak gentar dan putus asa mengajak manusia kepada Allah.


7. Hartanya menjadi berkah.


Jika waktu berkah, maka otomatis harta yang dihasilkan juga berkah. Mungkin hartanya tak banyak, tapi bernilai berlipat ganda untuk konsumsi, investasi dan infaq.


Seakan hartanya pas-pasan. Pas butuh uang, pas Allah berikan rezekinya. Pas butuh uang sekolah, pas ada uangnya. Pas mau beli rumah, pas ada dananya. Tak terlihat bermewahan, tapi selalu ada saja rezekinya dari arah yang tak disangka-sangka.


Lalu apa yang menghilangkan keberkahan waktu?


Imam Ibnu Abi Jamrah menjelaskan bahwa salah satu penyebab hilangnya keberkahan waktu adalah lemahnya iman dan banyaknya maksiat. Beliau secara khusus mengingatkan tentang makanan dan penghasilan yang haram atau syubhat. Sebab hati yang gelap karena maksiat akan sulit produktif dalam kebaikan. Allah SWT berfirman:


"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96)


Karena itu, keberkahan waktu tidak hanya dicari dengan manajemen waktu yang baik, tetapi juga dengan memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbanyak taubat, menjaga kehalalan rezeki, dan menjauhi maksiat.


Akhirnya, semoga di tahun baru 1148 Hijriyah ini waktu kita semakin barokah. Waktu kita tetap 24 jam sehari. Namun menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar daripada yang dihasilkan kebanyakan manusia.


Maka jangan hanya bertanya, "Berapa lama aku hidup?" Tetapi tanyakanlah, "Berapa banyak kebaikan yang telah aku hasilkan dari umur yang Allah berikan?"


Sebab di akhirat nanti, yang menentukan nilai hidup kita bukan panjangnya umur, melainkan keberkahan yang Allah letakkan di dalam umur tersebut.


"Orang yang kehilangan uang masih bisa mencari gantinya. Tetapi orang yang kehilangan waktu sesungguhnya telah kehilangan bagian dari hidupnya yang tidak akan pernah kembali."

Rabu, 17 Juni 2026

TUJUH HAL YANG PERLU DILAKUKAN DI AWAL TAHUN HIJRIYAH 1448

 


SETIAP awal tahun, termasuk tahun baru hijriyah 1448 yang jatuh tanggal 16 Juni 2026, banyak orang berbicara tentang target, impian, dan resolusi. 


Ada yang ingin meningkatkan penghasilan, memperbaiki kesehatan, membangun bisnis, atau mencapai posisi yang lebih tinggi dalam karier.


Semua itu baik. Namun ada satu hal yang sering terlupakan: apakah kita sedang bergerak ke arah yang benar? Apakah kita menjadi lebih dekat kepada Allah dibandingkan tahun lalu?


Sebab ukuran keberhasilan hidup bukanlah berapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan berapa banyak amal yang kita bawa saat pulang menghadap-Nya.


Paling tidak ada tujuh hal yang perlu dilakukan di setiap awal tahun:


1. LAKUKAN EVALUASI DIRI.


Sebelum membuat rencana baru, lihatlah perjalanan tahun sebelumnya. Apa yang berhasil? Apa yang gagal? Kebiasaan baik apa yang perlu dipertahankan? Kebiasaan buruk apa yang harus dihentikan?


Banyak orang terlalu sibuk membuat target baru tanpa pernah belajar dari pengalaman lama. Akibatnya, mereka mengulangi kesalahan yang sama setiap tahun. 


Orang yang bertumbuh bukanlah orang yang tidak pernah gagal, melainkan orang yang selalu belajar dari kegagalannya.


2. PERBAIKI ARAH HIDUP.


Kesibukan tidak selalu berarti kemajuan. Tidak sedikit orang yang setiap hari bekerja keras, tetapi

 sebenarnya tidak tahu untuk apa semua itu

 dilakukan.


Awal tahun adalah saat yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri: "Apa yang benar-benar ingin saya capai dalam hidup ini?" Ketika arah hidup jelas, keputusan menjadi lebih mudah dan energi tidak habis untuk hal-hal yang tidak penting.


Tanyakan kepada diri sendiri: "Untuk apa sebenarnya saya hidup?" Banyak orang sibuk mengejar dunia sampai lupa tujuan utama hidup. Allah SWT berfirman:


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)


Karena itu, awal tahun adalah saat yang tepat untuk meluruskan kembali arah hidup. Jangan sampai kita berlari sangat cepat tetapi menuju tujuan yang salah.


3. BANGUN KEBIASAAN KECIL.


Perubahan besar hampir selalu dimulai dari kebiasaan kecil, seperti: membaca beberapa halaman al Qur'an setiap hari, berolahraga secara rutin, mengurangi scroll media sosial, menambah waktu untuk belajar dan ibadah.


Jangan meremehkan langkah kecil. Sesuatu yang kecil tetapi dilakukan terus-menerus sering kali menghasilkan perubahan yang jauh lebih besar daripada semangat besar yang hanya bertahan beberapa hari.


"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah amalan yang terus-menerus (rutin) dilakukan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).


4. PILIH LINGKUNGAN YANG MENDUKUNG.


Manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Jika kita berada di tengah orang-orang yang gemar belajar, kita akan terdorong untuk belajar. Jika kita berada di tengah orang-orang yang penuh semangat berdakwah, kita akan ikut termotivasi untuk berdakwah.


Karena itu, pilihlah lingkungan yang membuat kita bertumbuh, bukan lingkungan yang membuat kita nyaman dalam kemunduran.


"Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Maka hendaklah salah satu dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)


5. TINGKATKAN MANFAAT UNTUK ORANG LAIN.


Kesuksesan yang hanya dinikmati sendiri sering kali terasa hampa. Sebaliknya, hidup akan terasa lebih bermakna ketika keberadaan kita membawa manfaat bagi banyak orang.


Awal tahun adalah waktu yang tepat untuk bertanya: "Siapa yang menjadi lebih baik karena kehadiran saya?" Semakin besar manfaat yang kita berikan, semakin besar pula nilai hidup yang kita miliki.


"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan ad-Daruqutni).


6. JANGAN MENUNDA.


Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah berpikir bahwa masih ada banyak waktu. Padahal kesempatan tidak selalu datang dua kali.


Ide yang baik perlu segera dikerjakan. Kebaikan yang bisa dilakukan hari ini jangan ditunda sampai besok. Perubahan yang ingin dilakukan sebaiknya dimulai sekarang. Hari terbaik untuk memulai adalah hari ini.


"Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan." (Qs. Al Baqarah: 148)


7. SIAPKAN BEKAL KEMATIAN


Ini mungkin terdengar berat, tetapi inilah kenyataan yang paling pasti. Kita memasuki tahun baru bukan berarti umur kita bertambah panjang. Justru umur kita berkurang satu tahun. Rasulullah saw bersabda : 


"Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (kematian)”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi).


Karena itu, tanyakan kepada diri sendiri:

Jika saya meninggal tahun ini, apakah saya siap?

Amal apa yang akan saya bawa? Warisan kebaikan apa yang akan saya tinggalkan?


Orang yang mengingat kematian bukan menjadi lemah. Justru ia akan lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.


Jadi, awal tahun bukan sekadar pergantian angka di kalender. Awal tahun adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, memperjelas arah hidup, dan memulai langkah-langkah baru menuju kehidupan yang lebih baik.


Tidak harus berubah secara drastis. Cukup menjadi sedikit lebih baik dari tahun sebelumnya. Karena pada akhirnya, kehidupan yang hebat bukan dibangun oleh satu keputusan besar, melainkan oleh ribuan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.


Jadikan awal tahun sebagai awal peningkatan untuk menjadi lebih dekat kepada Allah. Karena tahun terbaik bukanlah tahun ketika kita memperoleh paling banyak dunia, tetapi tahun ketika kita paling banyak mendekat kepada Allah.


Semoga tahun ini menjadi tahun taubat, tahun ilmu, tahun amal shalih, dan tahun kemenangan kita di dunia serta akhirat. Aamiin ya Rabbal alamin

Kamis, 11 Juni 2026

Data dengan segala manfaatnya



Bekerja dengan data memiliki banyak manfaat, baik untuk individu maupun organisasi, di antaranya:

1.Membantu pengambilan keputusan yang tepat

2.Keputusan didasarkan pada fakta dan bukti, bukan sekadar perkiraan.

3.Meningkatkan efisiensi kerja

4.Data membantu mengidentifikasi proses yang lambat, boros, atau tidak efektif.

5.Memudahkan perencanaan

6.Dengan melihat tren dan pola data, perencanaan program atau kegiatan menjadi lebih akurat.

7.Mengukur kinerja

8.Data dapat digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan suatu program, proyek, atau pekerjaan.

9.Mengurangi risiko kesalahan

10.Analisis data membantu mendeteksi masalah lebih awal sehingga dapat segera diperbaiki.

11.Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas

12.Setiap kebijakan atau penggunaan anggaran dapat dipertanggungjawabkan dengan data yang jelas.

13.Menemukan peluang baru

14.Data sering kali mengungkap kebutuhan masyarakat, potensi pasar, atau peluang pengembangan yang sebelumnya tidak terlihat.

Sabtu, 30 Mei 2026

TARBIYAH ITU MENGHIDUPKAN HATI

 


 Dr. Yusuf Qardhawi


Dimensi Rabbani atau imani merupakan dimensi tarbiyah yang paling signifikan dan paling dalam pengaruhnya. Karena, tujuan utama tarbiyah adalah membentuk pribadi mukmin.


Dalam pandangan Islam, iman bukan sekadar ucapan atau klaim kosong. Ia adalah wujud hakikat. Apabila cahayanya menembus akal, iman mampu menumbuhkan keyakinan. Apabila menembus perasaan, iman mampu menumbuhkan semangat yang membara.


Apabila menembus kehendak, iman mampu menumbuhkan motivasi dan gerak. Iman yang dimaksud di sini sebagaimana di- jelaskan dalam sebuah perkataan sahabat, “Iman adalah sesuatu yang menghunjam di dalam jiwa dan mengejawantah dalam perbuatan.”


إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar” (Al-Hujurat: 15)


Iman bukan sekadar pengetahuan abstrak seperti pengetahuan para teolog dan filsuf, bukan pula sekadar kenikmatan spiritual seperti kenikmatan spiritual kaum Sufi, dan bukan pula sekadar ritual ibadah seperti ritual para ahli mistik dan asketik.


Sejatinya iman yang hakiki adalah perpaduan dari seluruh anasir tersebut, yang terbebas dari sikap berlebihan, menambahi ataupun mengurangi, ditambah dengan ke- sigapan untuk aksi guna memakmurkan bumi, mengisi kehidupan dengan kebajikan dan membimbing manusia menuju kebenaran.


Pilar utama tarbiyah rabbaniyah adalah hidupnya hati yang senantiasa terkait dengan Allah swt. serta meyakini perjumpaan dengan Sang Khalik dan perhitungan atas amal perbuatannya.


Dengan begitu, orang yang telah tertarbiyah akan senantiasa mendamba kasih-Nya dan merasa takut akan siksa-Nya. Dengan tarbiyah, seseorang menjadi sadar bahwa hakikat manusia tidak terbatas pada struktur, organ, sel, tulang, dan otot tubuh semata.


Hati yang hidup—yang merupakan pilar utama tarbiyah rabbaniyah—adalah lathifah rabbaniyyah (sentuhan Tuhan). Ia akan menjadi ruh bagi struktur fisik yang dapat menggerakkan, mengendalikan, dan mencegahnya dari sesuatu. Ia adalah mudghah (gumpalan) yang jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh, dan jika rusak maka rusak pula seluruh tubuh.


Ia tiada lain adalah hati, ruh, atau jiwa—atau apa pun nama yang Anda berikan—yang sadar dan mengantarkan manusia kepada kedalaman hidup dan rahasia wujud, serta membawanya dari bumi menuju langit; dari alam menuju Sang Pencipta; dari alam fana menuju alam keabadian.


Hati yang hidup merupakan objek penilaian Allah swt. dan tempat landasan turunnya pencerahan serta nur Allah. Nabi saw. bersabda,


“Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk tubuhmu dan hartamu tetapi Ia memandang hatimu dan amal perbuatanmu”. (HR. Muslim)

 

Hati adalah satu-satunya sandaran yang diajukan seorang hamba kepada Tuhannya pada hari Kiamat sebagai jalan keselamatan. “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu‘arâ’: 88 - 89).

 

Tanpa hati yang dipenuhi keimanan dan disinari keyakinan, sejatinya manusia telah mati, sekalipun secara fisik masih dianggap hidup. 


“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?” (Al- An‘am: 122)

 

*****



SELALU MENGAJAK KEPADA KEBAIKAN


Dakwah tidak terpaku pada satu bentuk atau metode tertentu. Bahkan setiap kader harus mendakwahi setiap orang yang ada di sekitarnya atau siapa saja yang dapat dijangkau oleh dakwah dengan segala sarana yang dimiliki dan dipandang efektif.


Ke mana pun seorang aktivis singgah, ia harus menjadi naungan atau penolong bagi saudara-saudaranya. Di kalangan kader dakwah berkembang ungkapan, “Pertanda orang saleh adalah ke mana pun ia singgah, ia akan meninggalkan jejak-jejak yang baik.”


Setiap kader tertarbiyah untuk menjadi da’i, maka setiap kata dan tindakannya selalu berpengaruh kepada masyarakat sekitar. 


Ada kader yang berprofesi sebagian buruh, petani, dan pedagang, dan lain-lain. Namun ketika berbicara mengenai dakwah, orang-orang akan menyangka mereka adalah lulusan Al-Azhar atau perguruan tinggi Islam lainnya; karena mampu memadukan antara bakat alami dan kompetensi yang terdidik, ditambah lagi dengan tingkat spiritualitas dan semangat yang menyala-nyala.


Rujukan : Dr. Yusuf Qardhawi, Kembali Dalam Dekapan Tarbiyah, Era Intermedia, Solo.



KISAH PENGORBANAN NABI IBRAHIM AS YANG PERLU DICONTOH GENERASI MUDA


DI TENGAH zaman yang serba instan, banyak anak muda ingin hidup nyaman tanpa pengorbanan. Ingin sukses cepat, ingin terkenal cepat, ingin bahagia tanpa perjuangan. Padahal dalam Islam, kemuliaan selalu lahir dari pengorbanan.


Salah satu teladan terbesar tentang pengorbanan adalah kisah Ibrahim as, manusia mulia yang dijuluki Khalilullah (kekasih Allah).


Kehidupan Nabi Ibrahim AS penuh ujian. Tetapi justru karena kesabaran dan pengorbanannya, Allah mengangkat derajatnya menjadi imam (pemimpin) bagi manusia. 


Beberapa pelajaran dari kisah beliau sangat relevan untuk generasi muda hari ini, termasuk Gen Z, adalah :


1. BERANI BERBEDA DI TENGAH LINGKUNGAN YANG RUSAK


Nabi Ibrahim as hidup di tengah masyarakat penyembah berhala. Bahkan ayahnya sendiri adalah pembuat patung.


Bayangkan... Saat semua orang mengikuti kesesatan, Ibrahim muda justru memilih jalan Tauhid. Ibrahim as berani berbeda. Ia tidak takut dianggap aneh. Tidak takut dikucilkan. Tidak takut kehilangan popularitas.


Hari ini banyak anak muda justru takut terlihat “tidak gaul” jika taat agama. Takut dicap kolot karena menjaga agama. Takut kehilangan teman karena mempertahankan prinsip Islam.


Padahal Nabi Ibrahim as mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut. Walau seluruh dunia salah, kita tetap wajib berada di jalan Allah.


2. BERANI MELAWAN ARUS KEMAKSIATAN


Ketika kaumnya sibuk menyembah patung, Nabi Ibrahim as menghancurkan berhala-berhala itu untuk menunjukkan bahwa sesembahan mereka tidak mampu memberi manfaat maupun mudarat.


Akibatnya ia dimusuhi dan dihukum. Bahkan Raja Namrud memerintahkan agar Ibrahim as dibakar hidup-hidup. Namun Nabi Ibrahim as tetap tenang karena yakin kepada Allah. Allah SWT berfirman :


"Wahai api, jadilah dingin dan penyelamat bagi Ibrahim."

(QS. Al-Anbiya : 69)


Subhanallah...Allah menyelamatkan hamba-Nya yang berani mempertahankan iman.


Hari ini mungkin kita tidak dilempar ke api. Tetapi banyak anak muda dibakar oleh api syahwat, pergaulan bebas, narkoba, pornografi, dan budaya rusak di media sosial.


Kalau Nabi Ibrahim as berani melawan penyembahan berhala, maka generasi muda juga harus berani melawan “berhala modern” yang menjauhkan manusia dari Allah SWT.


3. SIAP BERKORBAN DEMI KETAATAN


Salah satu ujian terbesar Nabi Ibrahim as adalah ketika Allah memerintahkannya menyembelih putranya yang sangat dicintai, yaitu Nabi Ismail as.


Anak yang lama dinanti, anak yang saleh dan dicintai, justru diperintahkan untuk dikorbankan. Tetapi Nabi Ibrahim as lebih mencintai Allah daripada apa pun. Dan luar biasanya, Nabi Ismail as juga taat kepada Allah Ta'ala. Ketika ayahnya menyampaikan perintah tersebut, Ismail as berkata :


"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat : 102)


Inilah keluarga yang luar biasa. Ayah yang taat, anak yang taat, dan keluarga yang mendahulukan Allah di atas segalanya.


Akhirnya, Allah mengganti Ismail dengan seekor sembelihan dan menjadikan peristiwa itu sebagai syariat qurban hingga hari ini.


Pelajaran besarnya adalah tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan. Anak muda sering ingin hasil besar tetapi tidak siap kehilangan kenyamanan. Padahal untuk menjadi mulia kita harus siap berkorban : berkorban waktu untuk belajar agama, berkorban tidur untuk tahajud, berkorban harta untuk sedekah, berkorban ego untuk memperbaiki diri, dan berkorban meninggalkan maksiat yang dicintai.


4. TIDAK TERLALU CINTA DUNIA


Nabi Ibrahim as mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar mengejar dunia.


Hari ini banyak anak muda menjadikan popularitas, followers, gaya hidup, dan validasi manusia sebagai tujuan utama. Akhirnya hidup mereka penuh kecemasan. Sedikit tidak dipuji langsung sedih. Sedikit kalah tren langsung minder. Sedikit tertinggal langsung stres. Padahal Nabi Ibrahim as mengajarkan bahwa yang paling penting adalah ridha Allah, bukan pujian manusia.


5. MENINGGALKAN WARISAN KEBAIKAN


Walaupun sudah ribuan tahun berlalu, nama Nabi Ibrahim as tetap dimuliakan hingga hari ini. Mengapa?


Karena hidup beliau digunakan untuk perjuangan Tauhid. Beliau membangun Ka'bah bersama anaknya, Nabi Ismail as. Beliau meninggalkan warisan iman dan perjuangan yang terus hidup sampai sekarang.


Inilah pelajaran penting untuk generasi muda. Jangan hanya meninggalkan jejak konten tak bermanfaat di media sosial, tetapi tinggalkan juga amal jariyah dan manfaat untuk umat. Karena followers tidak akan menyelamatkan di akhirat, tetapi amal shalih akan menjadi cahaya sampai hari kiamat.


Generasi muda, termasuk Gen Z, adalah generasi yang hidup di zaman penuh fitnah dan godaan. Tetapi justru di zaman sulit seperti inilah peluang pahala menjadi besar. Maka belajarlah dari Nabi Ibrahim as yang berani berbeda, berani mempertahankan iman, siap berkorban, tidak diperbudak dunia, dan hidup untuk berjuang dan berdakwah.


Semoga Allah menjadikan generasi muda Islam sebagai generasi yang kuat imannya, besar pengorbanannya, dan mampu menjadi penerus perjuangan para nabi[]


🎖️🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨


PROJEK UPA" , SEBUAH CARA MENIKMATI KEBERSAMAANNYA


@ Cahyadi Takariawan


Hari ini, Ahad 31 Mei 2026 UPA kami melaksanakan kegiatan istimewa. "PROJEK UPA" --berupa launching dan bedah buku, karya salah seorang anggota UPA.


Bagaimana awal mula Projek UPA ini? 


Salah seorang anggota UPA, Wardoyo, harus menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan. Dirinya mengalami gagal ginjal. Setiap kali cuci darah, memerlukan waktu 4 sampai 5 jam.


Apa yang dilakukan para pasien cuci darah saat berada di ruang hemodialisa? “Sangat banyak kegiatan pasien. Sesuai hobi dan kesenangan masing-masing. Ada yang karaoke lagu dangdut, ada yang nonton film, ada yang nonton berita TV, ada yang main game, dan lain sebagainya,” jawab Wardoyo.


“Antum nulis saja,” ujar saya. “Tuliskan apapun yang antum rasakan, yang antum pikirkan, atau yang antum saksikan. Itu akan membuat waktu antum lebih produktif dalam kebaikan,” lanjut saya. “Tulis agar bisa menjadi inspirasi bagi yang lain”.


Semenjak itu, setiap kali melakukan cuci darah, dia menulis. Tulisan yang sudah selesai dibuat, langsung dikirim ke grup WA “Bank Naskah” yang isinya hanya kami berdua. Supaya naskah tersimpan dan tidak hilang.


Setelah cukup banyak naskah, saya serahkan kepada pihak penerbit. Ditambah dengan kesaksian beberapa sahabat dekat, naskah mengalami proses editing, setting dan layout, pembuatan cover, pengurusan ISBN, hingga masuk ke percetakan.


Alhamdulillah, buku berjudul “Boleh Lelah, Pantang Menyerah” karya Wardoyo berhasil diterbitkan, dengan ISBN. Hard cover, tampilan eksklusif, dibandrol dengan harga Rp 85K. Terjual 300 eksemplar di masa pre-order.


Sore ini, kami launching di selasar Balai Budaya Gambiran (BBG) Yogyakarta. Semua anggota UPA, menjadi panitia. Sejak menyiapkan tempat, menyiapkan sajian makanan ringan dan minum, menjaga stand buku, presensi kehadiran, termasuk para petugas forum.


Buku ditulis oleh Wardoyo, salah seorang anggota UPA. Diberi Pengantar oleh saya selaku Pembimbing UPA. Mendapat kesaksian atau testimoni dari Pak Fairuz, salah seorang anggota UPA. Dipromosikan dan dijual oleh semua anggota UPA. Launching dan bedah buku digelar oleh UPA, melibatkan semua anggota UPA. Benar-benar Projek UPA. 


Kami bahagia bisa menghadirkan inspirasi kepada pembaca. Agar tetap positif dan aktif meski sedang mengalami perawatan atas penyakit yang diderita. Agar dakwah dan tarbiyah tetap berjalan meski salah seorang pelakunya harus menjalani cuci darah sepekan dua kali.


Kami bahagia agenda launching buku sore ini menjadi perekat ukhuwah di antara sesama anggota UPA. Semua support, semua terlibat, tak ada yang absen. Semua menjalankan peran dengan sukarela.


“Buku ini memandang sakit dengan cara yang berbeda,” ungkap Budi Wiyarno, Ketua DPW PKS DIY, sekaligus teman ngopi Wardoyo.


“Support dari orang-orang terdekat sangat besar manfaatnya bagi seseorang yang sedang menjalani perawatan kesehatan, seperti Wardoyo,” tambah Budi Wiyarno. “Alhamdulillah dia dikelilingi orang-orang dekat yang sangat support dengan kondisi dirinya”.


Demikianlah UPA. Menjadi sangat istimewa. Karena bisa menumbuhkan kebersamaan dalam beragam keadaan. Tanpa membeda-bedakan.


Ketika Para Saksi dan Relawan PKS Mulai Masuk Lingkaran UPA



Melihat anak-anak muda duduk melingkar dalam forum UPA, rasanya sudah biasa. Mereka kelompok terdidik, fasih membaca Al-Qur’an dan saling menasehati dengan ayat, hadits dan perkataan ulama.


Namun ketika melihat bapak-bapak “kampung” dengan wajah “khas” kaum marginal yang kurang terdidik; duduk melingkar di forum UPA, sungguh membuat hati tergetar. 


Rasa haru meliputi diri, menyaksikan mereka terbata mengeja huruf-huruf Ilahi. Membaca Al-Fatihah pun tampak belum lancar. Mungkin grogi atau bisa jadi jarang sekali terpakai setiap hari.


Itulah pemandangan di rumah sederhana yang dindingnya mulai mengelupas, pada malam Ahad setelah hari tasyrik kemaren. Beberapa lelaki paruh baya duduk melingkar di atas tikar. 


Di antara gelas teh hangat, jajanan ala kampung, dan obrolan ringan, ada sesuatu yang berbeda di rumah Ketua DPC PKS Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Bapak-bapak yang duduk melingkar itu adalah anggota UPA PKS Kecamatan Batang yang baru saja terbentuk. 


Sebuah inisiasi UPA dari kalangan para saksi pemilu, dan pengurus ranting (DPRa) yang selama ini telah berjuang bersama PKS. Segmen ini terkadang luput dari perhatian, karena fokus perhatian kepada kelompok muda terdidik.


Secara profil, mereka sangat beragam. Ada yang kerja serabutan, buruh bangunan, penjual lotis, penjual bensin eceran, penjual ikan, dan berbagai pekerjaan “kasar” lainnya. 


Meskipun mereka direkrut dari kalangan para saksi pemilu, namun malam ini perbincangan di forum bukan tentang politik praktis. Bukan tentang program kerja, dan bukan pula tentang agenda partai. Malam ini mereka berkumpul untuk belajar mengaji dan mendaras Al-Qur’an. Bagian dari kurikulum UPA PKS.


Sebagian tampak menunduk malu. Ada yang memegang Al-Qur’an dengan tangan gemetar. Ada yang sesekali tersenyum ketika salah menyebut huruf hijaiyah. Bahkan ada yang harus mengulang berkali-kali membedakan antara "ba", "ta", dan "tsa". Sebagian memakai tranlate Qur’an karena membaca dari gawainya yang sudah terpasang aplikasi.


“Umur saya sudah lebih dari empat puluh tahun, ternyata masih terbata-bata membaca Al-Qur'an,” ujar salah seorang bapak peserta UPA baru tersebut.


“Saya malu sama anak-anak saya. Mereka sudah pandai membaca Al-Qur’an”, ucap seorang bapak gondrong berkuncir.


“Dulu saya bandel... Kalau disuruh belajar mengaji ga pernah mau. Sekarang sudah tua, bingung mau belajar darimana..." timpal lelaki yang tampaknya paling muda di antara mereka.


Tidak ada yang menertawakan kalimat-kalimat jujur itu. Yang lain turut mengangguk, mereka merasakan hal yang sama. Malam itu menjadi saksi bahwa belajar Islam dan mengikuti UPA tidak mengenal usia. 


Materi pembinaan yang saya siapkan dari aplikasi PKS Jateng, terpaksa saya tutup. Sepertinya bukan materi ini yang pas untuk mereka.


Forum UPA perdana malam itu saya mulai dengan kalimat motivasi. "Rasul  mulai belajar Al-Qur’an bukan di usia remaja. Beliau mulai interaksi dengan Al-Qur’an di usia 40 tahun, semenjak mendapat wahyu," ungkap saya. Relevan dengan kondisi mereka yang usianya sekitar 40 tahun ke atas.


"Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Yang paling mulia bukanlah orang yang paling cepat bisa, tetapi yang mau memulai dan istiqamah menjalaninya," tambah saya.


Kalimat itu membuat suasana menjadi hangat. Saya terus memotivasi semangat Bapak-bapak ini dengan menceritakan banyak teman, yang usianya lebih tua dari mereka ketika memulai belajar membaca Al-Qur’an. Rasa malu perlahan berubah menjadi semangat.


Saya merasa haru dan bahagia menyaksikan kehadiran mereka. Di tengah kesibukan dan perjuangan berat mencari nafkah untuk keluarga, mereka masih mau menyisihkan waktu untuk duduk bersama, belajar di UPA, dan saling menyemangati. 


Bagi sebagian orang, forum malam itu hanyalah pertemuan sederhana di sebuah rumah kampung. Tetapi bagi mereka, malam itu adalah awal perjalanan yang luar biasa. Ya, sebuah proses perjalanan.


Perjalanan bapak-bapak yang tidak malu belajar dari nol. Perjalanan para saksi dan pengurus Ranting yang ingin menjadi lebih baik. Dan perjalanan hamba-hamba Allah yang berharap suatu hari nanti dapat membaca Al-Qur'an dengan lancar, sebagai bekal menghadap Allah di yaumul mahsyar.


Selama Ada Perencanaan, Pasti Ada Jalan


Suatu pagi, ketika berangkat ke tempat kerja, di tengah jalan saya bertemu dengan seorang pemuda berseragam sekolah menengah atas. Saya merasa tertarik dengan pemuda itu. 


Dengan dorongan nurani dan perasaan itu, saya menyampaikan kepada ikhwah, dengan harapan agar pemuda itu dapat diajak tarbiyah. Mereka semua tampak kaget dan berkata, “Pemuda itu dari keluarga kaya raya dan terhormat. Bapaknya seorang tokoh di kota ini.” 


Saya menjawab, “Apakah hanya rakyat kecil dan orang miskin saja yang berhak ikut tarbiyah? Bukankan Rasulullah pernah berdoa, ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan satu di antara dua orang yang Engkau sukai: Umar bin Khathab atau Amr bin Hisyam?’” 


Ikhwah tertawa mendengar jawaban saya, dan bertanya, “Lantas bagaimana caranya?” 


Saya berkata, “Ini baru pertanyaan yang tepat”. 


“Tidak mudah bagi seseorang untuk melangkah kepada orang lain tanpa adanya suatu alasan. Oleh karena itu, harus direncanakan dengan matang dan melalui perantara yang lebih dekat dari usia dan pendidikannya,” tambah saya. 


Program pendekatan kepada seorang pelajar SMA ini berlangsung selama enam bulan. Dengan beragam cara dan pendekatan, pemuda tersebut sudah menjadi pelopor dari dakwah dan tarbiyah. Inilah makna dari syiar, “dakwah adalah seni, bersabar dalam berdakwah adalah jihad”.



Rabu, 27 Mei 2026

KISAH PENGORBANAN SAHABAT THOLHAH BIN UBAIDILLAH RA

 


DALAM sejarah Islam, nama Thalhah bin Ubaidillah ra dikenal sebagai simbol keberanian, pengorbanan, dan cinta luar biasa kepada Rasulullah saw. Ia bukan hanya seorang sahabat biasa, tetapi termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.


Kehidupannya dipenuhi perjuangan. Hartanya digunakan untuk membantu Islam. Tenaganya dipersembahkan untuk dakwah. Bahkan tubuhnya sendiri dijadikan tameng demi melindungi Baginda Rasulullah saw.


Tholhah bin Ubaidillah ra berasal dari kalangan Quraisy yang terpandang dan kaya. Sejak muda ia dikenal sebagai pedagang sukses. Ia sering bepergian membawa barang dagangan hingga ke negeri Syam.


Suatu hari ketika berada di pasar Bushra di Syam, seorang pendeta berkata kepada rombongan Quraisy : "Apakah di antara kalian sudah muncul seorang nabi di Makkah?"

Ucapan itu membuat Tholhah penasaran. Setelah kembali ke Makkah, ia mendengar kabar bahwa Muhammad saw telah diangkat menjadi Rasul Allah dan mengajak manusia kepada tauhid.


Tanpa ragu, Tholhah segera menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq yang saat itu juga telah masuk Islam. Abu Bakar menjelaskan tentang Islam dan mengajaknya menemui Rasulullah saw.


Akhirnya Tholhah pun masuk Islam. Keputusannya itu membuat kaum Quraisy murka. Ia mendapat tekanan dan siksaan. Bahkan ada riwayat yang menyebut dirinya pernah diikat bersama sahabat lain karena mempertahankan keimanan mereka. Namun semua itu tidak menggoyahkan hatinya. Baginya, iman lebih mahal daripada kenyamanan dunia.


Hari demi hari berlalu. Tholhah tumbuh menjadi sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah saw. Ia ikut berbagai perjuangan bersama beliau. Ia juga dikenal sangat dermawan. Hartanya sering digunakan membantu kaum muslimin. Tetapi pengorbanan terbesar Tholhah ra terlihat jelas dalam Perang Uhud.


Saat itu pasukan muslim mengalami ujian berat. Sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi sehingga pasukan Quraisy menyerang balik dari belakang. Kaum muslimin tercerai-berai. Banyak sahabat syahid. Bahkan tersebar kabar bahwa Rasulullah saw telah wafat.


Dalam suasana kacau itu, hanya sedikit sahabat yang tetap bertahan di sekitar Nabi saw. Salah satunya adalah Tholhah bin Ubaidillah ra. Ia berdiri di hadapan Rasulullah seperti benteng hidup.


Anak panah melesat ke arahnya. Pedang dan tombak menghujani tubuhnya. Namun ia tidak mundur sedikit pun. Tangannya menahan serangan yang menuju Rasulullah saw hingga jari-jarinya terluka parah dan lumpuh.Tubuhnya dipenuhi luka. Ada riwayat yang menyebut lebih dari tujuh puluh luka terdapat di tubuhnya setelah perang Uhud.


Karena pengorbanannya itu, Rasulullah saw sangat memujinya. Beliau bersabda :


"Barangsiapa ingin melihat seorang syahid berjalan di muka bumi, maka lihatlah Tholhah bin Ubaidillah."(HR. At-Tirmidzi)


Masya Allah...

Betapa mulianya seorang sahabat yang rela menjadikan tubuhnya sebagai perisai bagi Nabi saw.


Setelah Rasulullah wafat, Tholhah tetap menjadi sosok yang penuh kebaikan. Ia dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Banyak fakir miskin dibantu olehnya. Ia tidak pernah terlalu mencintai harta meskipun Allah memberinya kekayaan yang banyak.


Konon, jika mendapatkan keuntungan besar dari perdagangan, ia segera membagikan sebagian besar hartanya kepada kaum muslimin. Ia takut jika kekayaan membuat hatinya lalai dari Allah. Inilah kehebatan para sahabat. Mereka memiliki dunia di tangan, tetapi akhirat tetap di hati.


Namun perjalanan hidup Tholhah ra juga berakhir dengan ujian besar. Pada masa fitnah di antara kaum muslimin setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan ra, terjadi konflik dan peperangan yang dikenal sebagai Perang Jamal.


Di tengah kekacauan itu, Tholhah sebenarnya tidak ingin kaum muslimin saling membunuh. Ketika peperangan berlangsung, ia memilih mundur dari medan pertempuran setelah menyadari besarnya fitnah yang terjadi.


Namun takdir Allah telah tiba. Sebuah anak panah mengenainya dengan keras. Ia terluka parah dan akhirnya wafat karena luka tersebut.


Saat menjelang wafat, darah terus mengalir dari tubuhnya. Dalam keadaan lemah, Tholhah berkata : "Aku berharap kematian ini menjadi penghapus dosa-dosaku."


Subhanallah...

Sampai akhir hayatnya, hatinya tetap dipenuhi rasa takut kepada Allah dan harapan akan ampunan-Nya.


Begitulah kehidupan para sahabat. Mereka bukan manusia sempurna tanpa ujian. Mereka menangis, terluka, berjuang, dan menghadapi fitnah zaman. Tetapi hati mereka selalu kembali kepada Allah.


Hari ini kita sering mengeluh hanya karena masalah kecil. Sedikit dihina langsung marah. Sedikit kecewa langsung futur. Sedikit lelah langsung ingin berhenti dari jalan dakwah.


Padahal para sahabat telah memberikan contoh pengorbanan luar biasa demi menjaga agama ini. Tholhah ra mengajarkan bahwa hidup mulia bukan tentang banyaknya harta atau panjangnya usia, tetapi tentang seberapa besar pengorbanan kita untuk Allah Ta'ala.


Karena itu mari bertanya kepada diri sendiri :


Sudahkah kita berkorban untuk Islam?

Sudahkah kita menjaga shalat dan dakwah dengan sungguh-sungguh?

Sudahkah harta, pikiran, perasaan, waktu, dan tenaga kita digunakan di jalan Allah?

Ataukah hidup kita habis hanya untuk dunia?


Semoga Allah menanamkan dalam hati kita semangat pengorbanan, keberanian, dan keikhlasan sebagaimana yang dimiliki oleh Tholhah bin Ubaidillah ra. Semoga Allah mengumpulkan kita bersama Rasulullah saw dan para sahabat di surga-Nya kelak. Aamiin ya Rabbal ‘alamin

Senin, 25 Mei 2026

BERKURBAN BIAR SEMAKIN DEKAT

 


Dalam film petualangan Indiana Jones and the Temple of Doom, prekuel Raiders of the Lost Ark (1984), dikisahkan tentang sekte Thuggee yang menyembah dewi kegelapan (Dewi Kaliguna). Sekte ini, biasa mempersembahkan kurban manusia. Bahkan mereka, suku Thuggee, juga ingin mengorbankan/ menumbalkan sang Indy girl, Wilhelmina Scott.


Ibadah kurban sesungguhnya bukan hanya ibadahnya umat Islam, tetapi ibadah yang dilakukan oleh seluruh umat manusia. Karena kebutuhan manusia untuk mengabdi kepada Yang Maha Kuasa. Tetapi kemudian karena kejahilan manusia, pelaksanaan ibadah kurban mengalami penyimpangan.


“Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserah dirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah).” (Al Hajj: 34).


Ibadah kurban bahkan termasuk ibadah tertua, karena sudah disyariatkan pada masa nabi Adam, yakni ketika Allah memerintahkan Habil dan Qabil untuk berkurban. Dalam Al Maidah: 27, Allah berfirman: "Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, 'Pasti aku akan membunuhmu!' Ia (Habil) berkata, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al Maidah: 27).


Ibadah kurban dalam Islam, melanjutkan risalah para nabi sebelumnya termasuk nabi Ibrahim, yakni mengurbankan hewan ternak dengan ketentuan dan syarat tertentu.


Dengan kata lain ibadah kurban bukanlah syariat yang baru, melainkan tradisi ketakwaan lama yang selalu diwajibkan kepada para nabi terdahulu dan pengikutnya sebagai bentuk syukur atas limpahan nikmat dan rezeki hewan ternak.


Perintah kurban bagi umat Islam adalah manifestasi rasa syukur atas nikmat yang tak terhitung. Cobalah sekali kali merenungkan tentang nikmat Allah yang ada dalam tubuh kita. Tidak usah menghitung nikmat yang diluar tubuh kita. Maka kita akan menemukan ternyata manfaatnya  sudah tak terhitung lagi. Saking banyaknya! Karena itu sangat wajar bila Allah memerintahkan kita untuk berkurban dalam surat Al Kautsar ayat 2:


"Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah)."


Karena dalam ayat 1 nya Allah mengingatkan: "Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak."


Kata kurban (atau qurban) berasal dari bahasa Arab, yaitu qurba atau qaruba yang berarti dekat. Secara istilah, ibadah kurban bermakna melakukan penyembelihan hewan ternak (udhiyah) untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt. Karena dekatnya, saudara inti sering disebut dengan serapan kata tersebut yakni, karib kerabat.


Semoga Allah meringankan hati kita untuk melaksanakan pada hari raya kurban tahun ini dan selanjutnya. Wallahu a'lam bi shawab

Senin, 18 Mei 2026

TENTANG MENGHIDUPKAN ASYHURUL HURUM: SYIAR HAJI, QURBAN, DAN UKHUWAH



الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:


Bulan Zulqaidah dan Zulhijah merupakan dua dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah Swt. Pada keduanya berhimpun *keagungan ibadah haji, syiar Idul Adha, ibadah kurban, dan amal saleh yang dilipatgandakan ganjarannya*. Oleh karena itu, dipandang perlu menyampaikan *_"tadzkirah"_* (pengingat) ini kepada segenap kaum muslimin pada umumnya. Tadzkirah ini berisi anjuran dan ajakan untuk menyambut bulan-bulan mulia ini dengan amal terbaik.



1. *MEMULIAKAN BULAN-BULAN HARAM*


Bulan-bulan haram (Zulqaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab) memiliki dua kekhususan: berbuat maksiat pada bulan-bulan tersebut dosanya lebih besar, sementara amal saleh padanya juga dilipatgandakan pahalanya. Allah Swt. berfirman,


إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ


*"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu di dalamnya."* 

(QS. At-Taubah: 36).



Ibn Katsir mengatakan bahwa di bulan-bulan haram ini, berbuat zalim itu lebih berat lagi dosanya, sebagaimana maksiat di tanah haram juga berlipat-lipat dosanya. *(Tafsir Al Quran Al 'Azhim, 4/148)*


Maka, sepatutnya kaum muslimin memuliakan kedua bulan ini dengan memperbanyak ibadah, menjaga lisan dari ghibah, dusta, dan namimah, menahan tangan dari kezaliman, mendamaikan perselisihan yang menyelinap di antara saudara, serta menjauhi segala maksiat. Jadikan bulan-bulan ini sebagai waktu muhasabah dan peningkatan kualitas amal.



2. *KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA ZULHIJAH*


Sepuluh hari pertama Zulhijah adalah hari-hari paling utama untuk beramal saleh sepanjang tahun. Dari Ibn 'Abbas r.a., Rasulullah saw. bersabda:


مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامُ الْعُشْرِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ.


*"Tidak ada hari di mana amal kebaikan saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini. Rasulullah menghendaki 10 hari (awal Dzulhijjah). Lantas para sahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?' Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun (mati syahid)'."* 

(HR. Al-Bukhari).


Hendaknya seluruh kaum muslimin mengisi hari-hari mulia ini dengan amal terbaik: berpuasa pada tanggal 1-9 Zulhijah, terutama puasa Arafah pada 9 Zulhijah; memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan dzikir; tilawah Al-Qur'an, sedekah, silaturahim, dan dakwah. Pahala amal pada hari-hari tersebut dilipatgandakan, sehingga kesempatan ini tidak boleh terlewatkan.



3. *PENETAPAN AWAL ZULHIJAH 1447 Η*


Penetapan awal bulan Hijriah bersifat ijtihadi, sehingga dimungkinkan terjadinya perbedaan pendapat antar pihak yang memiliki otoritas. Kita menghormati setiap keputusan tersebut, dan dalam konteks bernegara, kita sewajarnya mengikuti keputusan resmi ulil amri yang diwakili oleh Kementerian Agama RI.

Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 dan kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan Kementerian Agama RI, awal Zulhijah 1447 H diperkirakan jatuh pada Senin, 18 Mei 2026, Hari Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026, dan Idul Adha pada Rabu, 27 Mei 2026. Tanggal ini diperkirakan selaras pula dengan ketetapan Kerajaan Saudi Arabia. Insya Allah Idul Adha tahun ini berpotensi serentak antara umat Islam di tanah air dan tanah suci. Karunia ini patut kita syukuri.

Kepastian akhir tetap menunggu sidang isbat pemerintah pada akhir Zulqaidah. Sekiranya pada waktunya nanti masih terjadi perbedaan satu hari, hendaknya hal itu tidak menjadi sumber perpecahan. Setiap pihak dapat berpegang pada ketetapan yang diikutinya dengan istiqamah, serta saling menghormati pihak yang berbeda. Rasulullah saw. bersabda,


الصَّمُ يَوْمَ تَصُومُونَ ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُونَ 


*"Puasa adalah pada hari kalian berpuasa, idul fitri pada hari kalian berbuka, dan idul adha pada hari kalian menyembelih kurban."*

(HR. At-Tirmidzi).



4. *PUASA HARI ARAFAH*


Puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah memiliki keutamaan yang agung. Rasulullah saw. bersabda,


صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْد


*"Puasa Hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar Dia menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang."*

(HR. Muslim).


Puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah berdasarkan ketetapan yang berlaku di negeri masing-masing, terlepas dari kesesuaian dengan wukuf jamaah haji di Padang Arafah. Sebab, Hari Arafah ditentukan oleh hilal di setiap negara, seperti awal Ramadan dan Syawal. Selain itu, puasa Arafah disyariatkan sejak tahun ke-2 Hijriah, sementara wukuf di Arafah baru dilakukan Rasulullah saw. pada haji wadak tahun ke-10 Hijriah *(Subulus Salam, 1/60)*.


Bagi yang tidak sedang menunaikan haji, dianjurkan berpuasa pada Hari Arafah dengan penuh harap atas janji Allah Swt., dan bagi yang mampu, ditambah puasa pada tanggal 1-8 Zulhijah sebagai upaya menghidupkan sunah Rasulullah saw.



5. *IDUL ADHA, KURBAN, DAN HARI TASYRIK*


Shalat Idul Adha dilaksanakan pada tanggal 10 Zulhijah, dan ibadah kurban berlangsung sejak setelah shalat Idul Adha hingga terbenamnya matahari pada akhir Hari Tasyrik (13 Zulhijah). Bagi umat Islam yang mempunyai kelapangan rezeki sangat dianjurkan untuk berkurban di hari nahar (10 Zulhijah) dan hari tasyrik. Mayoritas ulama menyatakan hukumnya sunah muakadah, sedangkan mazhab Hanafi menyatakan wajib. Rasulullah saw. bersabda:


مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحَّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا


*"Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami."* 

(HR Ibnu Majah no. 3123. Imam Al Hakim mengatakan: shahih. Lihat *_Al Mustadrak_*, 4/231-232, Lihat juga *_Shahihul Jami'_* no. 6490).


Di samping itu, ibadah kurban memiliki banyak keutamaan, di antaranya:


 * *Menghidupkan sunah* para nabi dan rasul, khususnya Nabi Ibrahim as dan Nabi Muhammad saw. *(QS. Al Hajj: 34, Ash Shafat: 102-107, Al Kautsar: 2)*


 * *Sedekah paling utama* di musim kurban dibanding sedekah lainnya, sebagaimana dikatakan Sa'id bin al Musayyab, Rabi'ah, Abu Zinad, Ahmad, Ibnu Qudamah, dan An Nawawi. *(Abdurrazaq, Al _Mushannaf_, No. 8166; Ibnu Qudamah, Al Mughni, 9/436; An Nawawi, _Majmu' Syarh Al Muhadzdzab_, 8/425)*


 * *_Tausi'atu syukr_*, yaitu memperluas dan meratakan rasa syukur, agar orang-orang fakir ikut merasakan kebahagiaan dan manfaatnya. 

*(QS. Al Hajj: 28)*


 * *_Asy-Syukru 'ala Ni'matil Hayah_**, bersyukur atas nikmat kehidupan yang Allah swt. berikan.

Bagi yang berniat kurban, dianjurkan tidak memotong kuku dan mencukur rambut sejak 1 Zulhijah hingga hewan kurbannya disembelih. Berdasarkan hadis:


إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا


*"Jika memasuki 10 hari Zulhijah dan salah seorang kamu ingin berkurban maka janganlah dia memotong rambut dan kukunya sedikit pun."* (HR. Muslim).


Para ulama berbeda pendapat tentang hukum larangan tersebut. Menurut Sa'id bin al Musayyab, Rabi'ah, Ahmad, Ishaq, dan sebagian Syafi'iyah, hukumnya haram. Imam Asy-Syafi'i dan umumnya Syafi'iyah mengatakan makruh, bukan haram. Abu Hanifah berpendapat tidak makruh, sementara Imam Malik dalam satu riwayat menyebut tidak makruh dan riwayat lain menyebut makruh. *(An Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 6/472)*.


Hari Tasyrik (11, 12, 13 Zulhijah) adalah hari makan, minum, dan berdzikir. Dari Nubaisyah Al-Hudzali r.a., Rasulullah saw. bersabda,


أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ 


*"Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah."*

(HR. Muslim).


Berpuasa pada hari-hari tersebut diharamkan, kecuali bagi sebagian jamaah haji yang mengganti penyembelihan dam dengan berpuasa tiga hari sebagaimana dikatakan Ibnu Umar *(HR. Bukhari no. 1997)*. 


Kaum muslimin dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil sepanjang Hari Tasyrik.

Sangat diserukan kepada segenap kaum muslimin untuk menghidupkan syiar kurban tahun ini, baik untuk diri dan keluarga, didistribusikan ke daerah yang kurang terjangkau, untuk korban bencana di tanah air, maupun untuk saudara-saudara kita di Palestina, khususnya Gaza. Komitmen kurban hendaknya tidak tergeser oleh wacana seputar dam haji, sebab keduanya merupakan ibadah yang berbeda tujuan, waktu, dan sasarannya.



6. *KEPEDULIAN KEPADA PALESTINA DAN DAERAH BENCANA*


Kezaliman terhadap rakyat Palestina, khususnya Gaza yang setiap hari kehilangan jiwa di tengah kelaparan dan kehancuran, masih terus berlangsung. Termasuk saudara-saudara kita di tanah air yang memerlukan uluran tangan. Rasulullah SAW menggambarkan ukhuwah islamiah:


مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطَفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ . إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى


*"Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh: jika satu anggota mengaduh kesakitan, seluruh tubuh ikut tidak bisa tidur dan demam."* 

(HR. Muslim).


Bentuk kepedulian dapat ditempuh melalui doa di waktu-waktu mustajab (terutama Hari Arafah, sepertiga malam terakhir, dan bakda shalat fardhu), bantuan kemanusiaan berupa zakat, infak, sedekah, wakaf, dan kurban melalui lembaga-lembaga yang amanah, serta penggalangan opini dan pembelaan Palestina di berbagai media, termasuk melalui materi khutbah Idul Adha dan kajian Zulhijah.


Secara fikih, *naqlul udh-hiyah* (memindahkan kurban ke luar daerah pemilik kurban) dibolehkan dan sah jika kondisi di daerah tujuan benar-benar memerlukannya



Senin, 04 Mei 2026

MENUMBUHKAN MILITANSI

 




Bila kita mempelajari tentang militansi, dari berbagai referensi akan kita dapatkan bahwa menumbuhkan militansi dimulai dari penanaman nilai (ideologi/perjuangan atau fikrah) kemudian lanjut ke pembentukan identitas ke-kitaannya.


Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa militansi dapat ditumbuhkan dari, 


1. Pemahaman mendalam terhadap tujuan dan fikrah (ideologi) yang diperjuangkan. 

2. Penanaman keikhlasan yang merupakan buah dari rasa cinta kepada tanah air, agama atau organisasi. 

3. Pelatihan dan pendampingan spiritual untuk membagun loyalitas. 

4. Pelatihan dan penugasan teknis dan operasional agar kemampuan teknisinya semakin tumbuh-berkembang, cerdas, kreatif dan inovatif.


Militansi berakar pada keyakinan mendalam bahwa tindakan yang dilakukan adalah bentuk pengabdian kepada nilai (fikrah perjuangan), bukan sekadar tugas organisasi. 


Bila kita telisik lebih jauh, 'perasaan' militansi yang (sedang) menurun boleh jadi karena penghayatan dan pengamalan terhadap butir butir kesetiaan mulai luntur. Butir butir tersebut sesungguhnya adalah nilai nilai yang seharusnya tertanam dan menjadi identitasnya. Oleh karena itu, untuk membangun kembali militansi yang patah, perlu dilakukan revitalisasi nilai.


Revitalisasi nilai Arkanul Bai'at adalah upaya menghidupkan kembali 10 rukun janji setia (bai'at) agar tetap relevan sebagai komitmen moral dan operasional bagi  aktivis dakwah di kekinian dan kedisinian.


Arkanul Bai'at bagaikan "ruh" bagi kehidupan dakwah; tanpanya, gerakan dakwah akan kehilangan arah, soliditas jamaah melemah dan militansi menurun.


Bila seorang kehilangan ruh nya, maka bukan saja akan kehilangan arah, kehilangan kebanggaan kepada identitas nya tetapi juga etosnya (disiplin, dedikasi, dan tanggung jawab).


Bagaimana orang yang kehilangan ruh, identitas dan etosnya digambarkan dengan baik dalam sebuah satir dalam buku "Mati Ketawa Cara Rusia":


Sebuah komisi mengunjungi sebuah sekolah untuk menjajaki patriotisme para siswa.

“Hymie,” seorang murid dipanggil untuk ditanyai.

“Siapa ayahmu?”

“Ayah saya adalah Uni Soviet,” jawab Hymie.

"Anak pintar! Dan siapa ibumu?"

“Ibu saya adalah Partai Komunis,” sahut Hymie.

"Bukan main! Dan apa keinginanmu setelah dewasa?"

“Menjadi Yatim Piatu!”


Dalam Islam, seorang mujahid itu, pastinya tetap membara semangat dan mikitansinya sebagaimana firman Allah Ta'ala, 


یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱصۡبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ


"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung" (QS. Ali 'Imran: 200). Wallahul musta'an[]Gaf