Sabtu, 03 Oktober 2026

Menjadi Pemimpin Kompeten & Sholeh



Seorang teman, dari partai yang pemimpin partainya LHKPN nya paling rendah mengatakan, keunggulan kami memang bukan uang. Karena uang kami hanya cukup untuk ongkos jalan, kadang ospul (ongkos pulang)nya dipikirin nanti. 


Keunggulan kami ada tiga:


1). Kader yang militan,

2). Struktur yang solid,

3). Kerjasama amal jama'i yang ikhlas.


Dengan tiga keunggulan ini terbukti  masih bisa bertahan di dunia yang brutalisme. 


Tetapi seberapa lama mereka akan sanggup bertahan bila yang disana mampu terus meningkatkan modalitasnya sementara yang disini kualitas militansi nya tidak meningkat, untuk tidak dikaitkan menurun. Padahal ini adalah modal utamanya, kekuatan utamanya.


Militansi Kader 


Militansi adalah semangat pengabdian yang penuh gairah, keteguhan hati, dan kesediaan berjuang keras demi membela suatu ideologi, prinsip, organisasi, atau keyakinan tertentu. 


Seseorang yang memiliki militansi tinggi tidak akan mudah menyerah, selalu rela berkorban, dan memiliki loyalitas yang sangat kuat terhadap tujuan yang ingin dicapainya.


Setidaknya militansi bisa diukur dengan/dari:


1). Ketaatan (loyalitas dan kepatuhan). Memiliki kesetiaan penuh kepada pemimpin, aturan, atau asas organisasi, serta konsisten menjalankan instruksi tanpa banyak mengeluh. Tahu mana intruksi dan mana diskusi.


2). Tingkat pengorbanan (tadhiyah). Rela mengorbankan waktu, kenyamanan, tenaga, pikiran dan materi karena faham tidak ada kemenangan tanpa perjuangan. Dan tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.

Tidak banyak menanyakan bagaimana ospulnya karena paham mulianya "sunduquna juyubuna". Percaya bahwa pimpinan pasti mikirin.


3). Resiliensi atau daya tahan. Tetap teguh, tsabat, menghadapi hambatan, tekanan dan godaan.


4). Inisiatif dan terlibat aktif. Siap menjadi pelopor bukan pengekor.


5). Berani mengambil resiko. Siap menghadapi konsekuensi atau risiko apa pun, termasuk konflik interpersonal dan sosial. Sebagai kader, tidak terlalu berpikir "nanti gimana" tetapi  "gimana nanti aja".


Soliditas Struktur 


Dalam dunia manajemen, organisasi, dan partai politik, soliditas struktural diartikan sebagai kekuatan hubungan kerja dan kepatuhan antar tingkat hierarki dari pusat hingga akar rumput. Secara umum struktur dikatakan kuat/solid bila tingkat kepercayaan yang tinggi, konflik internal yang rendah, dan rasa saling memiliki yang kuat.


Indikator berikut bisa dijadikan ukurannya:


1). Kejelasan Rantai Komando: 

Alur instruksi dari pimpinan tertinggi hingga staf pelaksana berjalan lancar tanpa tumpang tindih.


2). Kepatuhan Prosedural (Procedural Compliance): 

Anggota dan pengurus konsisten mengikuti AD/ART, kode etik, dan mekanisme formal yang berlaku.


3). Diferensiasi Peran yang Efektif. Adanya spesialisasi dan pembagian kerja yang jelas (solidaritas organik), namun tetap terintegrasi menuju satu visi bersama.


4). Sistem Koordinasi Lintas Sektoral: Kemampuan unit-unit kerja yang setingkat untuk saling berkomunikasi dan berkolaborasi tanpa ego sektoral.


5). Kestabilan dan Resolusi Konflik: Ketersediaan mekanisme internal yang cepat dan efektif untuk menyelesaikan pergesekan struktural sebelum mengganggu kinerja organisasi.


Amal Jama'i 


Amal jama'i adalah suatu konsep dalam gerakan Islam yang berarti amal atau kerja kolektif yang dilakukan secara bersama-sama, terorganisasi, dan terencana untuk mencapai suatu tujuan mulia (khususnya dakwah dan kebaikan). 


Untuk membedakannya dengan sekadar kerja kelompok biasa, amal jama'i memiliki pilar-pilar penting sebagai berikut:


1). Adanya Kepemimpinan (Qiyadah). Harus ada pemimpin yang ditaati dalam ruang lingkup kebaikan selama tidak bermaksiat kepada Allah.


2). Adanya Anggota/Pengikut (Jundi). Kumpulan individu yang siap bekerja dan siap bekerja sama dan berkontribusi sesuai dengan kapasitas masing-masing.


3). Ketaatan dan saling petcaya. 

Komitmen para anggota untuk mengikuti arahan pemimpin demi tercapainya tujuan bersama. Jundiyah muthi'ah karena qiyadah mukhlishah.


4). Keteraturan dan Manajemen (Tanzhim). Kerja sama tidak dilakukan secara acak, melainkan memiliki struktur, pembagian tugas, rencana kerja, dan evaluasi yang jelas.


5). Solidaritas dan Keterikatan Hati (Takaful & Ukhuwah). Dimana hubungan antaranggota didasari oleh rasa persaudaraan iman yang mendalam, bukan sekadar hubungan profesional kerja. Anggota saling menanggung beban, saling menasihati dalam kebaikan, dan saling menutupi kekurangan.


Bila militansi kader, soliditas struktur, dan amal jama'i adalah keunggulan maka serius lah merawatnya sebagaimana seriusnya mereka merawat dan menumbuhkan pundi pundi nya.

Sehingga keunggulan ini menjadi sumberdaya nyata yang tidak dimiliki oleh yang lain. Alias sumber daya yang tidak atau belum memiliki pesaing.


Ini sesuai dengan 

Blue Ocean Strategy (Strategi Samudra Biru). Blue Ocean Strategy dalam politik adalah menciptakan ruang politik baru yang belum ada pesaingnya, alih-alih bertarung habis-habisan di "samudra merah" (kampanye konvensional yang penuh persaingan ketat, maun mata dengan penyelenggara, atau politik uang). 


Pendekatan ini berfokus pada inovasi nilai (value innovation), di mana politikus atau partai menawarkan cara pandang, isu, atau segmen pemilih baru yang sebelumnya diabaikan oleh lawan politik, misalnya melalui politik profetik.


Prophetic politics adalah pendekatan politik yang berlandaskan pada nilai-nilai kenabian, moralitas, keagamaan, dan etika universal. 


Konsep ini menolak pandangan politik Machiavellian yang menghalalkan segala cara demi kekuasaan. 


Sebaliknya, politik profetik memandang politik bukan sebagai alat pemuas syahwat kekuasaan, melainkan sebagai instrumen suci untuk menegakkan keadilan, membela kaum tertindas, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.


Sebaliknya politik sirup, ketika pemberian menggantikan gagasan


“Politik sirup” bukanlah soal sirup. Ia adalah metafora tentang politik transaksional—ketika dukungan politik coba dibangun melalui pemberian material, bukan terutama melalui adu gagasan, program, dan rekam jejak.


Sirup hanyalah simbol. Bentuknya bisa berubah: sembako, uang, hadiah, fasilitas, atau berbagai pemberian lain. Persoalannya bukan terletak pada barangnya semata, tetapi pada relasi yang hendak dibangun di balik pemberian tersebut.


Ketika pemberian dimaksudkan untuk memengaruhi pilihan, politik dapat bergeser dari pertarungan gagasan menjadi transaksi kepentingan:


“Aku memberimu sesuatu hari ini, engkau memberikan dukunganmu nanti.”


Dalam pola semacam itu, pemilih berisiko dipandang bukan sebagai warga yang memiliki kehendak dan pertimbangan politik, tetapi sebagai suara yang dapat diperoleh melalui keuntungan sesaat.


Karena itu, lawan konseptual dari “politik sirup” bukan sekadar politik tanpa uang, melainkan politik nilai: politik yang menawarkan gagasan, keteladanan, pelayanan, keadilan, amanah, dan pertanggungjawaban kepada masyarakat.


Sirup habis setelah diminum.

Uang habis setelah dibelanjakan. Tetapi akibat sebuah pilihan politik dapat berlangsung bertahun-tahun.


Maka pertanyaan penting bagi setiap pemilih bukan hanya, “Apa yang saya dapat hari ini?” tetapi juga, “Nilai, kebijakan, dan masa depan seperti apa yang ditawarkan untuk esok?”



Selasa, 29 September 2026

Menjadi Batu Bata dalam Bangunan Islam

 


Dalam acara penguatan dari sang Murobbi pagi ini menginspirasi sharing ini, sebuah kemuliaan dalam hidup kita ketika kita menjadi batu bata dalam bangunan islam. Masya Alloh.


Suasana yang sunyi  kami menderngarkan nasehat sang murobbi. Kalimat itu mengingatkan saya bahwa dalam perjalanan dakwah, kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling depan. Tidak harus selalu menjadi orang yang paling dikenal. Tidak harus selalu mendapatkan amanah yang besar. Tidak harus selalu berada di atas panggung. Kadang-kadang, tugas kita hanya menjadi satu batu bata.


Sederhana. Diam. Tidak banyak terlihat. Tetapi kokoh. Dan ketika seluruh batu bata itu tersusun dengan baik, lahirlah sebuah bangunan yang kuat.


*Bangunan yang Tidak Dibangun oleh Satu Orang*

Dalam nasihatnya, Murobbi kami menyampaikan nasihat dari Rasulullah “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, yang sebagian menguatkan sebagian yang lain.” Kemudian Rasulullah memperagakan dengan menyilangkan jari-jari beliau. (HR. Bukhari dan Muslim)


Masya Alloh. Rasulullah tidak mengatakan bahwa seorang mukmin adalah sebuah bangunan yang berdiri sendiri. Beliau menggambarkan kita sebagai bagian dari sebuah bangunan. Ada hubungan. Ada keterikatan. Ada kebutuhan satu sama lain. Ada saling menguatkan.


Sebab sebuah bangunan tidak pernah berdiri hanya dengan satu batu bata. Satu batu bata mungkin kuat. Tetapi ia tetap hanya satu batu bata. Ia baru memiliki makna yang lebih besar ketika ia menjadi bagian dari sebuah bangunan.


Begitu pula seorang kader. Kita mungkin memiliki ilmu. Kita mungkin memiliki pengalaman. Kita mungkin memiliki kemampuan. Tetapi dakwah bukanlah proyek seorang diri. Dakwah adalah perjalanan bersama.


Ada yang berada di depan. Ada yang berada di tengah. Ada yang bekerja di belakang. Ada yang mengajar. Ada yang mendidik. Ada yang mengorganisasi. Ada yang menghubungkan. Ada yang menyiapkan. Ada yang mendampingi. Ada yang menguatkan. Ada yang mungkin tidak pernah terlihat. Tetapi semuanya memiliki tempat. Semuanya memiliki fungsi.


*Allah Tidak Meminta Kita Menjadi Semua Hal*

Kadang-kadang kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan ikhwah yang lain. Melihat ikhwah lain lebih aktif. Ikhwah lain lebih pintar berbicara. Ikhwah lain lebih banyak amanah dan lainnya kemudian kita bertanya dalam hati, "Saya ini sebenarnya berguna atau tidak?"


Padahal mungkin pertanyaan itu keliru. Pertanyaan yang lebih tepat bukan “Mengapa saya tidak seperti dia?” Tetapi “Apa yang bisa saya lakukan dengan kemampuan yang Allah berikan kepada saya?”


Allah berfirman “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Ayat ini bukan hanya berbicara tentang beban. Ia juga mengajarkan kepada kita tentang kapasitas. Allah tahu kemampuan kita. Allah tahu kekuatan kita. Allah tahu keterbatasan kita. Karena itu, jangan merasa harus menjadi orang lain.


*Batu Bata Tidak Perlu Menjadi Kubah*

Ada satu kesalahan yang kadang tidak kita sadari. Kita ingin menjadi "bagian yang terlihat".

Kita ingin menjadi kubah. Ingin menjadi tiang utama. Ingin menjadi bagian yang paling indah.


Padahal kalau semua batu bata ingin menjadi kubah, bangunan tidak akan pernah selesai. Ada batu bata yang memang harus berada di fondasi. Ada yang harus menjadi dinding. Ada yang berada di sudut. Ada yang berada di tempat yang bahkan tidak terlihat. Tetapi justru bagian-bagian yang tidak terlihat itulah yang terkadang menentukan kekuatan bangunan.


Maka jangan merasa rendah ketika mendapatkan amanah yang sederhana. Jangan merasa tidak penting ketika tidak berada di depan. Jangan merasa tidak berguna ketika nama kita tidak disebut.


Bisa jadi, posisi yang Allah berikan kepada kita hari ini adalah posisi terbaik untuk membentuk diri kita. Karena Allah tidak selalu menguji kita dengan amanah yang besar. Kadang Allah menguji kita dengan kesediaan menjalankan amanah yang kecil dengan sebaik-baiknya.


*Hasan Al-Banna dan Makna Amal*

Kalau kita mendalami pemikiran Asy Syahid Hasan Al-Banna, kita akan menemukan satu semangat besar yang sangat relevan dengan pembahasan ini. Hasan Al-Banna tidak membayangkan perubahan Islam sebagai pekerjaan satu atau dua orang. Ia membangun kesadaran tentang pentingnya individu yang baik, keluarga yang baik, masyarakat yang baik, hingga terbentuknya kehidupan yang dibangun di atas nilai-nilai Islam.


Dalam Risalah Pergerakan, salah satu gagasan yang sangat kuat adalah bahwa perubahan tidak lahir hanya dari gagasan yang indah, tetapi dari iman yang melahirkan amal. Dalam semangat pemikirannya, seorang kader tidak cukup hanya memahami apa yang benar.


Ia harus bergerak mengamalkannya. Tidak cukup hanya mencintai Islam. Ia harus bersedia memberikan sesuatu untuk Islam. Tidak cukup hanya berbicara tentang dakwah. Ia harus menjadi bagian dari dakwah. Dan di sinilah saya merasa konsep “batu bata” menjadi sangat relevan.


*Batu Bata Harus Kuat*

Tetapi menjadi batu bata bukan berarti sekadar hadir. Batu bata harus kuat. Sebab batu bata yang rapuh justru akan membahayakan bangunan. Demikian pula seorang kader. Tarbiyah bukan hanya membuat kita rajin hadir di majelis. Tarbiyah seharusnya membuat kita bertumbuh. Aqidah semakin kuat. Ibadah semakin baik. Akhlak semakin matang. lmu semakin bertambah. Kesabaran semakin luas. Komitmen semakin kokoh. Dan kontribusi semakin nyata.


Allah berfirman “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff: 4)


Ayat ini sangat indah. Allah menggambarkan orang-orang yang berjuang di jalan-Nya seperti bangunan yang tersusun kokoh. Ada keteraturan. Ada barisan. Ada kebersamaan. Ada kekuatan.  dsan semua itu tidak mungkin terjadi jika setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Bangunan menjadi kokoh karena setiap bagiannya menjalankan fungsinya.


*Jangan Menjadi Batu Bata yang Retak*

Kadang yang membuat sebuah bangunan rapuh bukan karena kekurangan batu bata. Tetapi karena batu bata yang ada justru saling berbenturan. Dalam kehidupan dakwah, hal itu bisa terjadi ketika ego lebih besar daripada ukhuwah.


Ketika kita merasa paling benar. Ketika kita sulit menerima nasihat. Ketika kita kecewa karena tidak mendapatkan amanah. Ketika kita merasa kontribusi kita paling besar. Ketika kita mulai menghitung-hitung jasa. Ketika kita lebih sibuk melihat kekurangan saudara daripada memperbaiki diri sendiri.


Di sinilah tarbiyah menjadi penting. Tarbiyah mengajarkan kita untuk terus membersihkan hati. Sebab semakin dekat seseorang dengan dakwah, seharusnya semakin rendah hati ia. Semakin banyak amanah yang diterima, semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Semakin banyak kontribusi yang diberikan, semakin sedikit ia merasa berjasa.


Karena ia sadar, Saya hanya salah satu batu bata. Batu Bata yang Bersedia Ditempa. Batu bata tidak langsung menjadi bagian dari bangunan.


Ia mengalami proses. Dicampur. Dicetak. Dikeringkan. Dibakar. Diuji. Barulah kemudian digunakan.

Begitu pula kader dakwah. Ada proses tarbiyah yang panjang. Ada nasihat. Ada teguran. Ada tugas. Ada evaluasi. Ada kegagalan. Ada kekecewaan. Ada amanah yang berat. Ada perjalanan yang melelahkan. Tetapi mungkin justru melalui proses itulah Allah sedang membentuk kita.


Kita tidak sedang mencari manusia yang sempurna. Kita sedang membentuk manusia yang mau terus memperbaiki dirinya. Karena dakwah membutuhkan manusia yang bukan hanya bersemangat ketika suasana menyenangkan. Tetapi tetap istiqamah ketika keadaan sulit. Bukan hanya aktif ketika mendapatkan posisi. Tetapi tetap berkontribusi ketika tidak terlihat. Bukan hanya hadir ketika dipuji. Tetapi tetap bekerja ketika tidak ada yang mengetahui.



Kamis, 10 September 2026

UPA: TEMPAT JIWA DITEMPA UNTUK MEMIKUL DAKWAH

 


Lalu untuk apakah sebenarnya kita datang ke UPA?


Apakah agar pekan demi pekan ada pertemuan yang terlaksana?


Apakah agar materi demi materi selesai disampaikan?


Apakah agar daftar hadir tetap penuh, struktur pembinaan berjalan, dan setiap orang tetap berada dalam lingkarannya?


Semua itu penting.


Tetapi bukan itu tujuan akhirnya.


UPA bukan tujuan.


UPA adalah madrasah.


Dan keberhasilan sebuah madrasah tidak diukur dari berapa lama murid duduk di dalam kelasnya, tetapi dari manusia seperti apa yang keluar darinya.


Maka pertanyaan besar UPA bukan:


“Berapa banyak materi yang telah kita selesaikan?”


Tetapi:


“Apa yang telah berubah dalam diri kita?”


Setelah sekian lama ditarbiyah, apakah kita semakin mengenal Allah?


Apakah shalat semakin hidup?


Apakah Al-Qur'an semakin dirindukan?


Apakah dosa semakin menakutkan?


Apakah hati semakin mudah tersentuh?


Apakah ego semakin mudah ditundukkan?


Apakah lisan semakin terjaga?


Apakah kita semakin mudah menerima nasihat?


Apakah semakin ringan meminta maaf?


Apakah semakin mudah memberi?


Apakah semakin kuat menanggung kekurangan saudara?


Dan setelah bertahun-tahun berbicara tentang dakwah—


apakah kita semakin siap berkorban untuk dakwah?


Di sinilah tujuan praktis UPA harus dikembalikan kepada ruhnya.


UPA bukan sekadar tempat menyampaikan fikrah. UPA adalah tempat membentuk manusia pemikul fikrah.


Sebab fikrah yang besar membutuhkan jiwa yang besar.


Risalah yang berat membutuhkan pundak yang kuat.


Perjalanan yang panjang membutuhkan napas yang panjang.


Dan dakwah yang ingin mengubah manusia membutuhkan para da‘i yang terlebih dahulu bersedia diubah oleh tarbiyah.


---


Dari Ta‘līm Menuju Tazkiyah


Tarbiyah memang membutuhkan ilmu.


Tetapi tarbiyah tidak berhenti pada ilmu.


Sebab manusia dapat mengetahui ikhlas tanpa menjadi ikhlas.


Mengetahui sabar tanpa menjadi penyabar.


Menjelaskan ukhuwah tanpa mampu memaafkan saudaranya.


Menguraikan tadhḥiyah tanpa sanggup meninggalkan kenyamanan.


Berbicara tentang zuhud sementara hatinya semakin mencintai dunia.


Karena itu Allah tidak hanya mengutus Rasul-Nya untuk mengajarkan kitab dan hikmah. Di antara tugas kerasulan itu adalah tazkiyah.


Allah berfirman:


هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ


«“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Sesungguhnya sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”


(QS. Al-Jumu‘ah: 2)»


Maka UPA yang benar tidak hanya membuat seseorang bertambah tahu tentang Islam.


UPA harus membuat seseorang semakin hidup dengan Islam.


Ilmunya turun ke hati.


Dari hati turun menjadi kemauan.


Kemauan berubah menjadi amal.


Amal diulang menjadi kebiasaan.


Kebiasaan ditempa menjadi akhlak.


Dan akhlak itulah yang akhirnya menjadi syakhshiyyah—kepribadian seorang da‘i.


Inilah tarbiyah.


---


Dari Tazkiyah Menuju Mujāhadah


Tetapi jangan kita bayangkan tazkiyah sebagai perjalanan yang lembut tanpa perlawanan.


Tidak.


Ada sesuatu di dalam diri kita yang terus ingin dipertahankan:


nafs.


Ia ingin nyaman.


Ia ingin dipuji.


Ia ingin dimengerti.


Ia ingin didahulukan.


Ia ingin dianggap penting.


Ia ingin menang.


Ia ingin mendapatkan bagian.


Ia ingin dakwah berjalan—tetapi kalau mungkin berjalan sesuai keinginannya.


Karena itu tazkiyah membutuhkan mujāhadah.


Dan mujāhadah membutuhkan riyāḍah (رياضة): latihan, penempaan, dan pembiasaan diri.


Maka UPA harus menjadi tempat kita berlatih.


Bukan hanya berbicara tentang disiplin—


tetapi datang tepat waktu.


Bukan hanya membicarakan ukhuwah—


tetapi mengunjungi saudara yang sakit.


Bukan hanya menjelaskan itsar—


tetapi belajar mendahulukan orang lain.


Bukan hanya membahas ikhlas—


tetapi tetap bekerja ketika tidak disebut.


Bukan hanya berbicara tentang ketaatan—


tetapi belajar menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan selera kita selama ia dalam kebaikan.


Bukan hanya membahas tadhḥiyah—


tetapi benar-benar memberikan waktu, tenaga, harta, pikiran dan kenyamanan.


Bukan hanya berbicara tentang kesehatan—


tetapi bangun, bergerak, berjalan, berlari, berkeringat dan menjaga tubuh yang Allah amanahkan.


Karena nilai yang tidak pernah dilatih akan selamanya tinggal sebagai pengetahuan.


Sedangkan tarbiyah ingin mengubah pengetahuan menjadi sulūk.


---


Dari Tazkiyah Menuju Harakah


Di sinilah satu hal harus ditegaskan.


Tazkiyah dalam tarbiyah dakwah bukanlah tazkiyah yang membuat seseorang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri lalu melupakan manusia.


Justru semakin bersih hati seseorang, seharusnya semakin besar kegelisahannya melihat manusia jauh dari Allah.


Semakin dekat ia kepada Allah, semakin besar rahmatnya kepada makhluk Allah.


Semakin hidup ruhiyahnya, semakin kuat dorongannya untuk berkhidmat.


Sebab kita tidak ditarbiyah hanya untuk menjadi shalih.


Kita ditarbiyah agar tumbuh menjadi mushlih.


Bukan hanya orang yang baik—


tetapi orang yang menghadirkan kebaikan.


Bukan hanya orang yang menikmati hidayah—


tetapi orang yang membawa hidayah mengetuk pintu hati manusia.


Di sinilah tarbiyah bertemu dengan harakah.


Tazkiyah membersihkan sumber gerak.

Tarbiyah mengarahkan gerak.

Harakah membawa gerak itu memasuki kehidupan.


Maka ruhiyah yang tidak melahirkan gerak perlu dipertanyakan.


Sebagaimana gerak yang tidak lahir dari ruhiyah juga harus dikhawatirkan.


Yang pertama dapat melahirkan kesalehan yang pasif.


Yang kedua dapat melahirkan aktivisme yang kering.


Sedangkan yang ingin kita lahirkan adalah:


hati yang hidup bersama Allah dan kaki yang aktif berjalan di tengah manusia.


Ia lama bersujud pada malam hari—


tetapi panjang langkahnya pada siang hari.


Ia menangis ketika membaca Al-Qur'an—


tetapi air matanya berubah menjadi kasih sayang kepada manusia.


Ia mengingat akhirat—


tetapi justru semakin bersungguh-sungguh memperbaiki dunia.


Ia mencintai khalwah bersama Allah—


tetapi tidak menjadikan khalwah alasan meninggalkan kewajiban kepada manusia.


Inilah manusia dakwah.


---


Datang untuk Diisi, Pulang untuk Memberi


Karena itu UPA tidak boleh menjadi lingkaran yang berputar pada dirinya sendiri.


Kita datang ke UPA—


untuk kemudian keluar dari UPA.


Kita datang untuk diisi—


agar pulang membawa sesuatu yang dapat diberikan.


Kita datang untuk ditazkiyah—


agar pulang mampu berkhidmat.


Kita datang untuk dikuatkan—


agar pulang mampu menguatkan.


Kita datang untuk diingatkan—


agar pulang mampu mengingatkan.


Kita datang sebagai mutarabbi—


agar suatu hari mampu mentarbiyah manusia lainnya.


Inilah sunnat kehidupan dakwah.


Jika seseorang terus-menerus hanya menerima, tetapi tidak pernah belajar memberi, maka ada mata rantai tarbiyah yang belum selesai.


Sebab salah satu buah tarbiyah adalah tawallud da‘wi—lahirnya kemampuan untuk melahirkan kebaikan berikutnya.


UPA harus melahirkan manusia yang bertanya:


Siapa yang dapat kubantu?


Siapa yang dapat kurangkul?


Siapa yang sedang lemah dan membutuhkan tanganku?


Siapa yang belum mengenal jalan ini?


Siapa yang dapat kubina?


Siapa yang dapat kusiapkan untuk kelak meneruskan perjalanan setelah aku tiada?


Karena dakwah tidak diwariskan hanya dengan dokumen.


Dakwah diwariskan dari hati kepada hati, dari manusia kepada manusia, dari generasi kepada generasi.


---


Maka Ukurlah UPA dari Buahnya


Jangan hanya bertanya:


"Apakah UPA pekan ini terlaksana?"


Tanyakan pula:


Apakah shalat anggota kita semakin baik?


Apakah hubungan mereka dengan Al-Qur'an semakin hidup?


Apakah akhlaknya di rumah semakin indah?


Apakah keluarganya merasakan buah tarbiyahnya?


Apakah ia semakin mudah menerima nasihat?


Apakah ukhuwahnya semakin dalam?


Apakah tubuhnya semakin dijaga?


Apakah disiplin hidupnya meningkat?


Apakah amanahnya semakin dapat dipercaya?


Apakah ia semakin ringan berkhidmat?


Kemudian tanyakan sesuatu yang lebih haraki:


Siapa yang sedang ia dekati?


Siapa yang sedang ia ajak kepada Allah?


Siapa yang sedang ia bina?


Kebaikan apa yang sedang ia gerakkan di tengah masyarakat?


Dan akhirnya tanyakan pertanyaan yang paling sunyi:


Apakah setelah semua aktivitas ini ia semakin dekat kepada Allah?


Karena kita tidak ingin melahirkan orang yang aktif tetapi kering.


Tidak pula orang yang khusyuk tetapi tidak bergerak.


Kita menginginkan manusia yang ruhiyahnya menjadi bahan bakar harakahnya dan harakahnya menjadi buah dari ruhiyahnya.


---


UPA adalah Tempat Menyiapkan Manusia untuk Panjangnya Jalan


Dakwah adalah perjalanan panjang.


Akan ada masa seseorang dipuji.


Akan ada masa ia dilupakan.


Ada masa berada di depan.


Ada masa harus berjalan di belakang.


Ada masa amanah datang bertubi-tubi.


Ada masa tidak ada seorang pun yang membutuhkan pendapatnya.


Jika tarbiyah hanya mengajarinya cara bekerja, ia mungkin akan berhenti ketika pekerjaannya diambil.


Tetapi jika tarbiyah mengajarinya untuk siapa ia bekerja, ia akan tetap berjalan.


Jika ia bekerja karena kedudukan, ia akan berhenti ketika kedudukan hilang.


Jika ia bergerak karena manusia, ia akan kecewa kepada manusia.


Jika ia berkhidmat karena penghargaan, ia akan lelah ketika tidak dihargai.


Tetapi jika sejak awal hatinya ditanamkan:


لِلَّهِ


Untuk Allah.


Maka ketika semua yang lain hilang—


masih ada Allah.


Dan selama masih ada Allah sebagai tujuan,


masih ada alasan untuk berjalan.


Inilah tujuan terbesar UPA.


Bukan sekadar mempertahankan seseorang agar terus hadir dalam pertemuan.


Tetapi menanamkan Allah begitu dalam di dalam orientasi hidupnya sehingga ia memiliki alasan untuk tetap istiqamah ketika seluruh penyangga manusiawi telah runtuh.


---


Inilah Tujuan Praktis UPA


UPA harus melahirkan manusia yang:


hidup ruhiyahnya,

bersih jiwanya,

matang akhlaknya,

jernih fikrahnya,

kuat ukhuwahnya,

disiplin hidupnya,

sehat raganya,

kokoh amanahnya,

ringan khidmahnya,

panjang napas dakwahnya,

dan mampu melahirkan manusia-manusia dakwah berikutnya.


Inilah UPA yang hidup.


Bukan UPA yang hanya berhasil mempertahankan pertemuan—


tetapi UPA yang berhasil melahirkan manusia.


Bukan UPA yang membuat orang semakin nyaman berada di dalam lingkaran—


tetapi UPA yang membuat orang semakin siap keluar membawa cahaya kepada kehidupan.


Bukan sekadar UPA yang segar dan bugar—


tetapi UPA yang membuat:


ruhnya segar karena dzikir,

hatinya segar karena tazkiyah,

ukhuwahnya segar karena cinta,

tubuhnya bugar karena riyāḍah,

dan dakwahnya bugar karena manusia-manusia yang terus bergerak.


Sebab pada akhirnya,


UPA adalah madrasah tarbiyah.

Tarbiyah adalah jalan tazkiyah.

Tazkiyah melahirkan mujāhadah.

Mujāhadah ditempa dengan riyāḍah (رياضة).

Riyāḍah melahirkan istiqamah.

Dan istiqamah melahirkan rijāl yang sanggup memikul panjangnya jalan dakwah.


Maka ketika kita pulang dari UPA, jangan hanya membawa catatan.


Bawalah perubahan.


Jangan hanya membawa ilmu.


Bawalah amal.


Jangan hanya membawa semangat.


Bawalah istiqamah.


Jangan hanya membawa kehangatan ukhuwah.


Bawalah saudara kita bersama-sama menuju Allah.


Dan jangan hanya bertanya:


"Apa yang kudapatkan dari UPA hari ini?"


Tetapi biasakan hati bertanya:


“Setelah Allah mentarbiyahku melalui majelis ini, apa yang harus kuberikan kepada dakwah dan manusia?”


Di situlah UPA menemukan maknanya.


Dari Allah kita menerima hidayah.

Dengan tarbiyah kita menjaganya.

Dengan tazkiyah kita membersihkan wadahnya.

Dengan riyāḍah kita menempa diri untuk memikulnya.

Dan dengan dakwah kita membawanya kepada manusia.


Lalu perjalanan itu terus berulang—


dari hati ke hati,

dari jiwa ke jiwa,

dari generasi ke generasi—


hingga kita tidak lagi mampu berjalan,


tetapi insya Allah masih ada manusia-manusia yang dahulu pernah disentuh oleh tarbiyah kita,


yang meneruskan perjalanan menuju Allah.



Selasa, 08 September 2026

BLUEPRINT MENUJU WALI KOTA MATARAM

 


1. Tentukan positioning kepemimpinan

Bangun identitas sebagai calon pemimpin yang:

“Dekat dengan rakyat – kuat dalam gagasan – bersih dalam tata kelola – nyata dalam kerja.”

Jangan hanya dikenal karena jabatan atau organisasi. Targetnya: ketika nama Anda disebut, masyarakat langsung mengaitkannya dengan kerja nyata untuk Kota Mataram.

2. Kuasai persoalan Kota Mataram

Jadikan RPJMD Kota Mataram 2025–2029 sebagai salah satu dokumen utama untuk dipelajari. RPJMD tersebut sudah menjadi Perda Kota Mataram Nomor 3 Tahun 2025. �

Peraturan BPK

Lima misi pembangunan yang sekarang menjadi arah Kota Mataram adalah:

SDM berkualitas dan berkarakter

Kemandirian ekonomi dan daya saing

Tata kelola pemerintahan yang akuntabel

Resiliensi dan kondusivitas wilayah

Lingkungan dan infrastruktur yang berkeadilan �

Mataram Kota

Artinya, calon Wali Kota harus mempunyai jawaban yang lebih baik terhadap persoalan-persoalan tersebut.

3. Buat “Mataram 2035”

Jangan hanya membuat slogan.

Buat dokumen pribadi:

“MATARAM 2035 – Kota Modern, Religius, Inklusif dan Sejahtera”

Isinya minimal 10 bidang:

🏫 Pendidikan

🏥 Kesehatan

💼 UMKM dan ekonomi kreatif

🕌 Kehidupan sosial-keagamaan

👨‍👩‍👧‍👦 Perlindungan keluarga dan anak

🏙️ Infrastruktur dan tata kota

🌳 Lingkungan

🚨 Keamanan dan ketertiban

💻 Digitalisasi pemerintahan

🌊 Penanganan banjir dan bencana

Setiap program harus mempunyai angka target, bukan sekadar janji.

4. Bangun rekam jejak 3–5 tahun

Ini bagian yang paling penting.

Sebelum meminta masyarakat memberikan suara, bangun bukti bahwa Anda sudah bekerja untuk masyarakat.

Buat program yang bisa diukur, misalnya:

TEAM AHLI → GERAKAN MATARAM BERKARYA

Program:

pendampingan UMKM

kegiatan olahraga masyarakat

pelatihan anak muda

bantuan pendidikan

kegiatan lingkungan

pemberdayaan ekonomi keluarga

kegiatan sosial

forum diskusi pembangunan kota

Dokumentasikan hasilnya, bukan sekadar foto kegiatan.

5. Bangun “Tim Ahli” yang benar-benar ahli

Bukan hanya tim politik.

Bentuk minimal:

A. Tim Ekonomi

UMKM, investasi, pasar, ekonomi kreatif.

B. Tim Infrastruktur

Jalan, drainase, banjir, tata ruang, transportasi.

C. Tim Pendidikan & SDM

D. Tim Kesehatan

E. Tim Digital & Pemerintahan

F. Tim Sosial-Keagamaan

G. Tim Lingkungan

H. Tim Hukum & Regulasi

Targetnya: ketika ada persoalan Mataram, Anda bisa menjelaskan masalah → data → solusi → biaya → indikator keberhasilan.

6. Bangun hubungan dengan seluruh elemen masyarakat

Jangan hanya membangun hubungan dengan politisi.

Bangun komunikasi yang sehat dengan:

tokoh agama → tokoh masyarakat → akademisi → pengusaha → UMKM → pemuda → komunitas olahraga → perempuan → organisasi sosial → seniman → media → kelompok profesi → masyarakat kelurahan.

Prinsipnya:

Datang untuk mendengar sebelum datang untuk meminta dukungan.

7. Kuasai 6 kecamatan dan 50 kelurahan

Kota Mataram harus dipahami sampai tingkat kelurahan.

Buat Peta Masalah Mataram:

Wilayah

Masalah utama

Potensi

Solusi

Kecamatan A

Banjir

UMKM

Drainase

Kecamatan B

Sampah

Komunitas

Bank sampah

Kecamatan C

Pengangguran

Pemuda

Pelatihan

dst.




Jangan mengandalkan asumsi. Gunakan data dan dialog langsung dengan masyarakat.

8. Bangun kapasitas komunikasi

Seorang Wali Kota harus mampu:

berbicara seperti pengacara → berpikir seperti ilmuwan → bergerak seperti atlet → mendengar seperti terapis → merencanakan seperti jenderal → bekerja seperti seniman → hidup seperti stoik.

Ini bahkan bisa menjadi DNA kepemimpinan TEAM AHLI.

Formula komunikasi:

Masalah → Data → Solusi → Manfaat → Target

Contoh:

“Banjir bukan sekadar persoalan hujan. Kita harus melihat kapasitas drainase, tata ruang, sedimentasi dan titik genangan. Solusinya harus berbasis peta dan data, dengan target pengurangan titik genangan yang terukur.”

Itu jauh lebih kuat daripada sekadar:

“Saya akan mengatasi banjir.”

9. Bangun jaringan politik secara elegan

Untuk maju sebagai Wali Kota, selain memenuhi persyaratan sebagai calon, diperlukan jalur pencalonan yang sesuai ketentuan Pilkada.

Regulasi KPU mengatur pencalonan melalui partai politik/gabungan partai politik, dan juga mekanisme pasangan calon perseorangan. �

JDIH KPU +1

Persyaratan calon antara lain minimal lulusan SLTA/sederajat dan berusia minimal 25 tahun, disertai berbagai persyaratan hukum, kesehatan, dan administrasi lainnya. �

JDIH KPU

Karena aturan Pilkada dapat berubah, ketika mendekati pencalonan harus dilakukan audit hukum terbaru berdasarkan regulasi KPU dan putusan pengadilan yang berlaku saat itu.

10. Cari pasangan Wakil Wali Kota yang melengkapi

Jangan mencari wakil hanya karena popularitas.

Cari pasangan berdasarkan:

Integritas + kompetensi + penerimaan masyarakat + kemampuan bekerja sama.

Idealnya:

Wali Kota = visi dan kepemimpinan

Wakil Wali Kota = penguatan jaringan, koordinasi dan eksekusi

Yang paling penting adalah chemistry dan pembagian tugas yang jelas.

11. Bangun mesin organisasi

Struktur besar:

CALON WALI KOTA

↓

Dewan Strategi

↓

Tim Ahli

↓

Tim Data

↓

Tim Program

↓

Tim Komunikasi

↓

Koordinator Kecamatan

↓

Koordinator Kelurahan

Tetapi semuanya harus bekerja secara legal, transparan, dan menghormati aturan Pilkada.

12. Jangan buru-buru deklarasi

Tahap awal sebaiknya:

2026–2027

Membangun kapasitas + rekam jejak

2027–2028

Memperkuat jaringan + program masyarakat + riset Kota Mataram

2028–2029

Menyusun platform pemerintahan + konsolidasi pencalonan

Menjelang Pilkada berikutnya

Audit persyaratan → pasangan → jalur pencalonan → strategi kampanye yang sesuai aturan

Jadwal resmi Pilkada berikutnya harus mengikuti ketetapan KPU pada waktunya, bukan diasumsikan dari sekarang.

13. Buat 5 program unggulan

Saya akan menyarankan konsep awal:

MATARAM CERDAS

Pendidikan, beasiswa, keterampilan dan digitalisasi.

MATARAM SEHAT

Pelayanan kesehatan yang cepat dan mudah.

MATARAM BERDAYA

UMKM, ekonomi kreatif, lapangan kerja dan kewirausahaan.

MATARAM NYAMAN

Drainase, jalan, sampah, ruang publik dan lingkungan.

MATARAM MELAYANI

Birokrasi cepat, transparan, digital dan bebas pungli.

Kelima program tersebut bisa dikembangkan agar selaras dengan arah pembangunan Kota Mataram yang saat ini mencakup pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, tata kelola, lingkungan dan infrastruktur. �

Mataram Kota +1

⭐ FORMULA BESARNYA

KAPASITAS

↓

REKAM JEJAK

↓

GAGASAN

↓

PELAYANAN MASYARAKAT

↓

KEPERCAYAAN PUBLIK

↓

JARINGAN

↓

PENCALONAN

↓

KAMPANYE YANG BERINTEGRITAS

↓

MATARAM YANG LEBIH BAIK

Dan menurut saya, kalau ini memang ingin dijadikan proyek serius, jangan mulai dengan “bagaimana memenangkan Pilkada?”

Mulailah dengan:

“Apa yang harus saya lakukan selama 3 tahun ke depan sehingga masyarakat Mataram mempunyai alasan yang kuat untuk mempercayai saya memimpin kota ini?”


Kalau tujuan Anda adalah membangun kepercayaan masyarakat Mataram dalam 3 tahun, saya sarankan jangan memulai dari pertanyaan “bagaimana supaya saya menang?”, tetapi dari:

“Apa yang harus saya kerjakan sehingga pada saat masyarakat menilai saya, mereka punya bukti nyata bahwa saya layak memimpin?”

Ini sangat penting karena Mataram sudah mempunyai arah pembangunan resmi 2025–2029: Mataram HARUM — Harmoni, Aman, Ramah, Unggul, dan Mandiri, dengan fokus antara lain SDM, ekonomi, tata kelola, ketahanan kota, lingkungan, dan infrastruktur. �

Mataram Kota +1

BLUEPRINT 3 TAHUN: “BUKAN JANJI, TAPI JEJAK”

Saya akan membaginya menjadi 3 tahap: Kenal masalah → Buktikan kemampuan → Tawarkan kepemimpinan.

TAHUN 1 — 2026–2027

“KENALI MATARAM SECARA MENDALAM”

Jangan buru-buru bicara sebagai calon wali kota.

Jadilah orang yang paling serius mempelajari Mataram.

1. Turun ke seluruh wilayah

Buat program:

“Mendengar Mataram”

Bukan acara besar. Datangi masyarakat, pelaku UMKM, guru, tenaga kesehatan, pemuda, komunitas olahraga, tokoh masyarakat, pengusaha, pekerja informal, dan kelompok sosial.

Setiap pertemuan hanya cari jawaban:

Apa masalah terbesar di tempat ini?

Apa yang sudah dilakukan pemerintah?

Apa yang belum berhasil?

Apa solusi yang menurut masyarakat paling realistis?

Apa yang bisa saya bantu tanpa menunggu jabatan?

Target internal: bangun Database Masalah Mataram yang objektif dan terukur.

2. Buat “Peta Masalah Mataram”

Jangan hanya punya opini.

Buat dashboard sederhana:

Bidang

Masalah

Lokasi

Data

Solusi

Status

UMKM

akses pasar

kelurahan X

data

pendampingan

berjalan

Sampah

pengangkutan

kelurahan Y

data

solusi 3R

evaluasi

Pemuda

lapangan kerja

kecamatan Z

data

pelatihan

berjalan

Banjir

titik genangan

lokasi

data

kajian

belum

Pendidikan

kebutuhan

lokasi

data

program

selesai

Ini akan membuat Anda berbicara berdasarkan data, bukan sekadar retorika.

Dan memang pendekatan teknokratik berbasis data serta partisipatif merupakan bagian dari pendekatan penyusunan RPJMD Mataram. �

Mataram Kota

3. Bangun “TIM AHLI” — bukan “TIM POLITIK”

Ini menurut saya salah satu investasi terpenting.

Bentuk tim kecil:

Ahli ekonomi & UMKM

Ahli pendidikan

Ahli kesehatan

Ahli infrastruktur

Ahli tata kota

Ahli lingkungan

Ahli pemerintahan

Ahli hukum

Ahli digital

Ahli sosial kemasyarakatan

Ahli komunikasi

Tugas mereka bukan membuat slogan Anda, tetapi menguji gagasan Anda.

Prinsipnya:

Kalau gagasan saya salah, tim harus berani mengatakan salah.

Itulah yang akan membedakan pemimpin dengan sekadar kandidat.

4. Jalankan 3–5 PROGRAM KECIL YANG BENAR-BENAR BERMANFAAT

Ini kuncinya.

Jangan langsung membuat program raksasa.

Pilih program yang:

kecil → konkret → terukur → berulang → bisa dibuktikan.

Misalnya:

MATARAM BERDAYA

Pendampingan UMKM kecil:

kemasan

pemasaran digital

pencatatan keuangan

akses pasar

legalitas usaha

MATARAM CERDAS

Kelas gratis:

komputer

bahasa Inggris

desain

digital marketing

kewirausahaan

keterampilan kerja

MATARAM SEHAT

Kegiatan olahraga masyarakat secara rutin.

MATARAM BERSIH

Gerakan lingkungan berbasis komunitas.

MATARAM PEDULI

Program sosial yang transparan dan tepat sasaran.

Jangan membuat 50 program.

Lebih baik 5 program yang berhasil daripada 50 program yang hanya menjadi spanduk.

TAHUN 2 — 2027–2028

“UBAH AKTIVITAS MENJADI REKAM JEJAK”

Pada tahun kedua, masyarakat harus mulai bisa mengatakan:

“Saya tahu orang ini. Saya pernah melihat pekerjaannya.”

Bukan:

“Saya sering melihat posternya.”

Itu perbedaan besar.

5. Dokumentasikan semua hasil

Buat laporan tahunan:

“LAPORAN KERJA UNTUK MATARAM”

Misalnya:

UMKM

250 pelaku usaha didampingi

100 naik kelas digital

50 mendapatkan pasar baru

Pemuda

300 mengikuti pelatihan

100 mendapatkan sertifikasi

40 masuk dunia kerja

Lingkungan

20 komunitas terlibat

X ton sampah terkelola

Angka harus benar-benar berasal dari kegiatan, bukan angka promosi.

6. Jadilah “problem solver”, bukan komentator

Ini sangat penting.

Ketika terjadi masalah di Mataram, jangan selalu bertanya:

“Siapa yang salah?”

Biasakan bertanya:

“Apa solusi yang bisa kita kerjakan?”

Misalnya terjadi persoalan sampah.

Anda tidak perlu mengatakan:

“Pemerintah gagal.”

Lebih baik:

“Mari kita pelajari masalahnya. Ini datanya. Ini tiga alternatif solusinya. Ini biaya dan konsekuensinya.”

Itu membangun kredibilitas intelektual.

7. Bangun reputasi integritas sejak sekarang

Kalau suatu hari Anda ingin dipercaya mengelola APBD, masyarakat harus melihat bahwa mengelola uang kecil pun Anda transparan.

Untuk setiap program:

Dana masuk → sumber dana → penggunaan → penerima manfaat → hasil → laporan.

Bahkan kalau Anda mengeluarkan Rp10 juta untuk sebuah kegiatan, biasakan ada laporan.

Karena pertanyaan masyarakat kelak bukan hanya:

“Apa programnya?”

Tetapi:

“Kalau diberi APBD, apakah dia bisa dipercaya?”

TAHUN 3 — 2028–2029

“DARI PEKERJA MENJADI PEMIMPIN”

Pada tahap ini jangan lagi hanya menunjukkan kegiatan.

Mulailah menunjukkan kapasitas memimpin kota.

8. Susun “MATARAM 2035”

Bukan sekadar visi politik.

Buat dokumen profesional sekitar 50–100 halaman:

MATARAM 2035

Kota yang produktif, nyaman, sehat, berdaya saing dan berkeadilan.

Isinya:

Mataram seperti apa sekarang?

Masalah terbesar apa?

Apa penyebabnya?

Target 2030

Target 2035

Program prioritas

Indikator keberhasilan

Perkiraan kebutuhan anggaran

Sumber pembiayaan

Risiko

Timeline

Cara mengukur keberhasilan

Dan pastikan selaras dengan dokumen pembangunan resmi yang sudah ada, bukan membuat visi yang seolah-olah mengabaikan pekerjaan pemerintah sebelumnya. RPJMD 2025–2029 sendiri menjadi pedoman pembangunan dan APBD tahunan. �

Mataram Kota

9. Berani mengatakan apa yang TIDAK akan Anda lakukan

Ini justru bisa meningkatkan kepercayaan.

Contoh:

“Saya tidak akan menjanjikan semua masalah selesai dalam satu periode.”

“Saya tidak akan menjanjikan program yang tidak mempunyai sumber anggaran.”

“Saya tidak akan menggunakan isu SARA untuk mendapatkan dukungan.”

“Saya tidak akan menggunakan uang untuk membeli dukungan masyarakat.”

“Saya akan membuka indikator kinerja agar masyarakat bisa menilai.”

Pemimpin yang dipercaya bukan yang menjanjikan paling banyak.

Pemimpin yang dipercaya adalah yang berani memberikan batas pada janjinya.

10. Latih kemampuan Anda menjadi wali kota

Gunakan 7 keterampilan yang sebelumnya Anda jadikan poster “7 Keterampilan Menuju Sukses” sebagai kurikulum pribadi:

1. Berbicara seperti pengacara

→ argumentasi jelas.

2. Berpikir seperti ilmuwan

→ data sebelum kesimpulan.

3. Bergerak seperti atlet

→ disiplin dan stamina.

4. Mendengarkan seperti terapis

→ pahami masyarakat sebelum menawarkan solusi.

5. Berencana seperti jenderal

→ strategi dan prioritas.

6. Bekerja seperti seniman

→ kualitas dan kreativitas.

7. Hidup seperti stoik

→ tidak mudah terpancing.

Saya justru akan menambahkan satu lagi:

8. Mengabdi seperti pelayan

Karena wali kota bukan “penguasa Mataram”.

Wali kota adalah pelayan masyarakat Mataram.

11. Buat “RAPOR DIRI” setiap 3 bulan

Setiap 3 bulan, tanyakan kepada diri sendiri:

INTEGRITAS

Apakah ada keputusan saya yang tidak transparan?

Apakah keuangan program saya bisa diaudit?

KOMPETENSI

Apa yang saya pelajari?

Apa yang saya belum pahami?

HASIL

Berapa orang benar-benar terbantu?

Apa hasil terukurnya?

KEPEMIMPINAN

Berapa banyak orang berkualitas yang berhasil saya satukan?

MATARAM

Masalah baru apa yang saya temukan?

Solusi apa yang sudah diuji?

Kalau setelah 3 tahun Anda mempunyai 36 rapor bulanan/kuartalan, Anda akan memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada baliho:

rekam jejak.

TARGET AKHIR 3 TAHUN

Menurut saya, jangan menetapkan target:

❌ “Saya harus terkenal.”

❌ “Saya harus viral.”

❌ “Saya harus punya banyak baliho.”

Tetapkan target:

“Saya harus mempunyai alasan objektif mengapa masyarakat layak mempercayai saya.”

Pada akhir 2029, idealnya Anda mempunyai:

① Rekam jejak pelayanan

② Data masalah Mataram

③ Tim ahli yang kompeten

④ Program yang sudah terbukti

⑤ Laporan keuangan yang transparan

⑥ Dokumen Mataram 2035

⑦ Kemampuan berbicara dan mendengar

⑧ Reputasi integritas

⑨ Jaringan lintas komunitas yang sehat dan terbuka

⑩ Gagasan pemerintahan yang realistis

Dan ada satu prinsip yang menurut saya paling penting:

JANGAN MENUNGGU JADI WALI KOTA UNTUK MULAI BEKERJA UNTUK MATARAM.

Kalau selama tiga tahun masyarakat melihat Anda datang ketika ada masalah, mendengar sebelum berbicara, membantu tanpa banyak klaim, menggunakan data, transparan dengan uang, dan konsisten menyelesaikan pekerjaan, maka ketika suatu hari Anda mengatakan:

“Saya siap mengabdikan diri memimpin Kota Mataram.”

masyarakat tidak perlu hanya percaya kepada kata-kata Anda.

Mereka bisa melihat bukti selama tiga tahun.

Dan itu adalah fondasi kepercayaan yang jauh lebih kuat.

**Kalau saya menyusun ini untuk Anda, langkah berikutnya yang paling berguna adalah �⁠membuat “ROADMAP 36 BULAN MENUJU MATARAM 2029” — bulan demi bulan, lengkap dengan program konkret, target hasil, pembentukan Tim AHLI, anggaran, indikator keberhasilan, dan evaluasi tiap 3 bulan.**


*واجبات الحكومة الصالحة في دعوة الإخوان المسلمين* 


Kewajiban Pemerintah 


1. *Menjaga Keamanan (صيانة الأمن)* – Menjamin stabilitas dan ketertiban masyarakat


2. *Menjaga Tanah Air (حفظ الوطن)* – Melindungi kedaulatan dan keutuhan negara


3. *Mengurus Kepentingan Umum (رعاية المنافع العامة)* – Menyediakan dan mengelola fasilitas publik bagi masyarakat.


4. *Penegakan Hukum (إنفاذ القانون)* – Menjalankan dan mengaplikasikan hukum secara adil.


5. *Menjaga Kesehatan (حفظ الصحة)* – Menjamin layanan kesehatan dan kesejahteraan fisik masyarakat.


6. *Perlindungan Keuangan & Ekonomi (حراسة المال وتنمية الثروة)* – Menjaga harta/keuangan serta mengembangkan perekonomian dan kekayaan negara.


7. *Penyebaran Pendidikan (نشر التعليم)* – Meluaskan akses dan mutu pendidikan.


8. *Penguatan Akhlak (تقوية الأخلاق)* – Memperkuat moral dan karakter bangsa.        

                   



Minggu, 30 Agustus 2026

Ciri Fisik Nabi Muhammad SAW

 


Nabi Muhammad SAW digambarkan memiliki postur tubuh yang ideal dan proporsional—tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek. 
Berdasarkan riwayat para sahabat dalam literatur Syamail Muhammadiyah, berikut adalah rincian ciri fisik Rasulullah SAW:
Postur Tubuh dan Kulit
  • Tinggi badan: Sedang, tidak jangkung dan tidak pendek. Namun, ketika berjalan berdampingan dengan orang yang tinggi, tubuh beliau tetap terlihat lebih unggul.
  • Bahu dan Dada: Memiliki bahu yang bidang serta dada yang lebar dan bidang.
  • Warna kulit: Putih kemerah-merahan, bersih, dan tidak terlalu pucat.
  • Cap Kenabian: Terdapat tanda kenabian (Khatam an-Nubuwwah) di antara kedua bahunya, berupa benjolan seukuran telur burung puyuh. 
Wajah dan Kepala
  • Bentuk wajah: Wajah beliau cerah bagaikan rembulan di malam purnama, sedikit bundar dan dagunya tidak lancip.
  • Mata: Hitam matanya sangat pekat, putih matanya sangat bersih, dan bulu matanya lentik serta panjang.
  • Alis: Tebal dan melengkung indah seperti busur panah, namun kedua alisnya tidak saling bertemu.
  • Hidung: Mancung dengan bagian tengahnya sedikit melengkung (mancung proporsional).
  • Gigi: Gigi seri beliau agak renggang, dan tampak bercahaya saat beliau berbicara. 
Rambut dan Janggut
  • Rambut: Tidak terlalu lurus dan tidak pula keriting, melainkan berombak atau sedikit ikal. Rambut beliau terkadang panjang hingga sebatas daun telinga atau menyentuh bahu.
  • Jenggot: Lebat dan memenuhi janggutnya hingga tampak indah di wajah beliau.
Jika Anda ingin mendalaminya, saya bisa jelaskan lebih lanjut mengenai:
  • Akhlak dan kepribadian Nabi Muhammad SAW (Syamail Khuluqiyah)
  • Aroma wangi dan kelembutan fisik beliau menurut kesaksian para sahabat

Kamis, 27 Agustus 2026

Mutsaqqoful Fikri (Luas Wawasannya)



 


Orang sering mengira bahwa usia adalah ukuran kedewasaan. Padahal kenyataannya, waktu hanya menambah angka, bukan selalu menambah kebijaksanaan. Ada anak muda yang langkah pikirannya begitu matang, mampu menimbang keadaan dengan tenang, memahami batas antara keinginan dan kebutuhan, serta tidak mudah hanyut oleh gejolak sesaat. Sebaliknya, tidak sedikit mereka yang telah berusia senja tetapi masih terjebak dalam emosi yang meledak-ledak, ego yang ingin selalu menang, dan keinginan untuk diakui tanpa henti. Di sinilah ilmu menunjukkan wajah sejatinya. Ilmu bukan sekadar apa yang memenuhi kepala, melainkan apa yang mengubah cara seseorang memandang hidup, memahami manusia, dan menyikapi setiap peristiwa yang datang.


Dalam kehidupan sosial, kita sering bertemu orang-orang yang membuat kita merasa tenang hanya dengan melihat cara mereka berbicara dan bertindak. Mereka tidak selalu paling kaya, tidak selalu paling terkenal, dan tidak selalu paling tua. Namun ada sesuatu yang memancar dari diri mereka. Sebuah keteduhan yang lahir dari pemahaman. Sebuah kebijaksanaan yang tumbuh dari ilmu yang meresap ke dalam hati. Menariknya, orang seperti ini sering tampak tua ketika masih muda karena kedalaman cara berpikirnya. Namun ketika usia benar-benar menua, mereka justru terlihat muda karena semangatnya tidak pernah kehilangan cahaya.


1. Ilmu Membuat Seseorang Melihat Lebih Jauh dari Sekadar Hari Ini


Orang yang berilmu tidak hidup hanya untuk memuaskan keinginan sesaat. Ia mampu melihat konsekuensi dari setiap langkah yang diambil. Ketika banyak orang sibuk mengejar kesenangan instan, ia sibuk membangun masa depan yang lebih baik. Kemampuan melihat jauh ke depan inilah yang membuatnya tampak lebih dewasa dibandingkan teman-teman seusianya. Ia memahami bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat menikmati hasil, tetapi siapa yang paling siap menghadapi perjalanan panjang.


2. Kedewasaan Bukanlah Produk Umur, Melainkan Pemahaman


Banyak orang menunggu usia untuk menjadi bijak, padahal kebijaksanaan lahir dari kesediaan belajar. Ilmu mengajarkan seseorang untuk memahami berbagai sudut pandang, menerima kenyataan yang tidak selalu sesuai harapan, dan menyadari bahwa dunia tidak berputar hanya di sekitar dirinya. Karena itulah seseorang yang memiliki ilmu sering terlihat tua dalam sikapnya. Bukan karena kehilangan masa muda, melainkan karena ia telah menemukan cara berpikir yang lebih luas daripada umurnya.


3. Ilmu Mengurangi Kegaduhan dalam Diri


Salah satu tanda kedewasaan adalah kemampuan mengendalikan diri. Orang yang berilmu memahami bahwa tidak semua hal harus ditanggapi, tidak semua perdebatan harus dimenangkan, dan tidak semua luka harus dibalas. Ia belajar bahwa ketenangan sering kali lebih kuat daripada kemarahan. Di tengah dunia yang penuh kebisingan, ilmu menjadikannya pribadi yang tidak mudah terguncang oleh hal-hal kecil.


4. Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Kesombongan


Ada paradoks yang menarik dalam perjalanan belajar. Orang yang sedikit tahu sering merasa paling tahu, sedangkan orang yang benar-benar berilmu justru semakin rendah hati. Ia menyadari betapa luasnya pengetahuan dan betapa kecil dirinya di hadapan semesta. Kesadaran ini membuatnya lebih mudah menghargai orang lain, lebih terbuka terhadap kritik, dan lebih lapang dalam menerima perbedaan.


5. Ilmu Menjaga Api Semangat Tetap Menyala


Ketika banyak orang kehilangan gairah hidup seiring bertambahnya usia, orang yang berilmu justru menemukan alasan baru untuk terus bertumbuh. Baginya, belajar tidak pernah selesai. Setiap hari adalah kesempatan untuk memahami sesuatu yang belum diketahui. Rasa ingin tahu yang terus hidup inilah yang membuat mereka tampak muda meskipun rambut telah memutih dan usia terus bertambah.


6. Orang Berilmu Tidak Mudah Menjadi Korban Keadaan


Hidup tidak selalu ramah. Ada kegagalan, kehilangan, penolakan, dan berbagai kenyataan pahit yang harus diterima. Namun ilmu membantu seseorang memahami bahwa setiap peristiwa membawa pelajaran. Ia tidak menghabiskan seluruh energinya untuk mengeluh, melainkan berusaha mencari makna di balik setiap ujian. Kemampuan menemukan makna inilah yang membuatnya lebih tangguh menghadapi kehidupan.


7. Ilmu Membuat Hati Tetap Muda


Masa muda sejatinya bukan soal usia, melainkan kemampuan untuk tetap berharap, tetap bermimpi, dan tetap bertumbuh. Banyak orang kehilangan masa mudanya bukan karena bertambah tua, tetapi karena kehilangan rasa ingin tahu. Orang yang berilmu menjaga jiwanya tetap hidup. Ia tetap antusias melihat hal-hal baru, tetap terbuka terhadap perubahan, dan tetap percaya bahwa esok bisa lebih baik daripada hari ini.


8. Kehadiran Orang Berilmu Menenangkan Lingkungannya


Dalam masyarakat, orang yang berilmu sering menjadi tempat bertanya, tempat mengadu, dan tempat mencari arah. Bukan karena mereka memiliki semua jawaban, tetapi karena mereka mampu memberikan perspektif yang menenangkan. Mereka tidak memperkeruh masalah dengan emosi, melainkan membantu orang lain melihat jalan keluar dengan lebih jernih. Kehadiran mereka menjadi cahaya kecil yang menerangi banyak hati di sekitarnya.


9. Ilmu Mengubah Cara Memaknai Kesuksesan


Ketika masih muda, banyak orang mengukur kesuksesan dengan harta, jabatan, dan pengakuan. Namun ilmu mengajarkan bahwa kesuksesan yang paling dalam adalah kemampuan hidup dengan damai, bermanfaat bagi sesama, dan tetap memiliki hati yang bersih. Pemahaman ini membuat seseorang tidak mudah iri terhadap pencapaian orang lain karena ia memiliki ukuran kebahagiaan yang lebih matang.


10. Puncak Ilmu Adalah Menjadi Manusia yang Lebih Baik


Pada akhirnya, ilmu bukan tentang seberapa banyak yang diketahui, melainkan seberapa besar perubahan yang dihasilkan dalam diri. Ilmu yang sejati melahirkan kesabaran, kebijaksanaan, kerendahan hati, dan semangat untuk terus memperbaiki diri. Karena itulah orang yang memiliki ilmu akan terlihat tua saat muda dalam cara berpikirnya, namun terlihat muda saat tua dalam semangat hidupnya. Tubuhnya mungkin menua, tetapi jiwanya tetap segar karena terus disirami oleh pengetahuan dan kesadaran.


Jika usia Anda terus bertambah setiap tahun, tetapi cara berpikir, cara bersikap, dan cara memandang hidup tidak pernah bertumbuh, lalu sebenarnya yang bertambah tua itu diri Anda atau hanya angka pada kalender?