Selasa, 16 April 2024

LEBARAN TOPAT

Agama Islam masuk ke Lombok sekitar abad ke 16 yang dibawa oleh Sunan Giri dan Sunan Prapen. Salah satu bukti adalah masih berdirinya Masjid Kuno di Bayan yang didirikan pada saat Sunan Prapen berdakwah ke daerah tersebut.
Kini Agama Islam di Lombok sangat berkembang dan kebudayaan sejak beberapa abad yang lalu yang dibawa oleh para Wali masih tetap dilakukan hingga saat ini. Salah satunya adalah tradisi saat lebaran.


Lebaran di Lombok, selain halal bihalal mereka pesiar ke obyek wisata

Lebaran di Lombok tidaklah berbeda dengan di daerah lain. Saat selesai melakukan Sholat Ied, sebagian Umat Muslim yang tidak mudik keluar daerah biasanya akan bersilaturrahmi atau berkunjung ke rumah kerabat, keluarga, sahabat dan teman-teman untuk melakukan halal bihalal atau maaf-maafan.
Selain bersilaturrahmi dan halal bihalal, biasanya mereka melakukan ziarah kubur untuk mendoakan kerabat dan keluarga yang telah mendahului mereka. Setelah itu mereka beramai-ramai akan berkunjung ke daerah-daerah wisata melakukan pesiar. Selain menuju obyek wisata, mereka biasanya melakukan wisata religi, dengan berkunjung ke makam kuno atau makam keramat untuk mendoakan sekaligus berwisata.
Tidak ketinggalan mereka akan membawa bekal, berupa makanan khas lebaran seperti ketupat, opor ayam, urap, pelecing kangkung dan lainnya.

Bagi orang Lombok, ada sebuah tradisi unik yag dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri, yaitu Lebaran Topat. Dinamakan Lebaran Topat karena tidak lain perayaan tersebut melibatkan ketupat, sama seperti lebaran Idul Fitri.



Suasana Lebaran Topat di Lombok.

Lebaran Topat ini adalah sebuah tradisi Suku Sasak yang dilakukan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Setelah Lebaran ini orang-orang Sasak biasanya melakukan puasa sunnah selama 6 hari di bulan Syawal. Tetapi saat ini jarang yang melakukan puasa sunnah tersebut akan tetapi tradisi Lebaran Topat tetap dilakukan.
Tradisi Lebaran Topat dilakukan secara serentak dengan cara melakukan pesiar atau mengunjungi tempat-tempat wisata di Lombok beramai-ramai dengan membawa bekal makanan yang terdiri dari ketupat dan makanan lainnya seperti pelecing kangkung, opor ayam, ares dna masih banyak lagi.
Bagi para wisatawan baik lokal maupun asing, dapat berbaur dengan orang asli Lombok yang berekreasi menyambut Lebaran Topat ini di pantai-pantai seperti pantai Senggigi dan tempat rekreasi lainnya. Namun bagi yang tidak suka kemacetan, jangan sekali-kali untuk mencoba berekreasi saat Lebaran Topat. Karena dapat dipastikan akan terjadi kemacetan yang parah.

Senin, 08 April 2024

Khutbah IEDUL FITRI 1 SYAWWAL 1445 H

 




BERLEPAS DARI ENERGI NEGATIF & MELEPASKAN ENERGI POSITIF

Khutbah Iedul Fitri 1445 H

oleh (KH DR Surahman Hidayat MA) SCC Pusat 


Khutbah I



اللَّهُ أَكْبَرُ  9xلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الَّذِى مَنَّ عَلَيْنَا بِشَهْرِ رَمَضَانَ وَوَفَّقَنَا لِصِيَامِه لِنَكُون مِنَ الْمُتَّقِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ شَهِدَ أَنَّهُ لَا إلَهَ إلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأولُو الْعِلمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا اله إلاَّ هو الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِى بَعَثَهُ اللَّهُ خَاتِمَة لِلرِّسَالَة وَرَحْمَة لِلبَشَرِيَّة أَجْمَعِين. 

فَاللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِىّ الْعَظِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِينَ سَارُوا عَلَى هَدْيِهِ وَنَهْجه سَوَاء كَانُوا مِنْ أَصْلِ الْعَرَبِ أَوْ الْعَجَمِ

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، أُوْصِى نَفْسِى وَإِيَّاكُم بِتَعْزِيزِ مَعَانِى التَّقْوَى وَتَرْقِيَة مُسْتَوَاهَا لِنَيْل الْفَوْز الْمُبِين


Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat ied rahimakumullah!

Allahu Akbar 3x walillahilhamd


Alhamdulillah, bini’matihi tatimmus shalihat. Kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah sebab berkat nikmat dan karunia-Nya, seluruh kebaikan dapat terwujud. Kita bisa melaksanakan shalat, puasa, tilawah, zikir, sedekah, dan berbagai amal kebaikan lainnya berkat taufik dan inayah dari Allah. Oleh karena itu, patutlah kita bergembira dan bahagia,


قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ


Katakanlah, "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan" (QS Yunus: 57)


Setelah merealisasikan perintah Allah untuk menyempurnakan bilangan hari-hari Ramadhan sebagai bentuk optimalisasi standar kuantitatif dan setelah menyempurnakan puasa sebagai bentuk optimalisasi standar kualitatif, maka kita tunjukkan syukur dan gembira kita di hari penuh suka cita ini.


وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ


Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS al-Baqarah: 185)


Itulah kegembiraan yang Allah hadirkan untuk mereka yang telah melaksanakan ibadah puasanya. Itulah kegembiraan yang indah pasca melaksanakan perintah. Nabi saw bersabda,

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ 

“Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiaran ketika berbuka puasa/berhari raya, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya,” (HR Muslim).


Kegembiraan pertama, yakni kegembiraan di dunia, dapat diekspresikan dengan keindahan bahasa, tampilan, dan sifat. Adapun kegembiraan dan kebahagiaan di akhirat saat bertemu dengan Allah Swt adalah kegembiraan yang tidak terperi, tidak bisa disifati, dan tidak terbayangkan. Nabi saw menggambarkan dengan ungkapan,


مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ


Sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas dalam benak manusia (HR Muslim)


Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat ied rahimakumullah!

Allahu Akbar 3x walillahilhamd


Itulah kegembiraan yang dirasakan oleh setiap muslim setelah menjalankan ibadah puasa sebulan. Kegembiraan tersebut semakin bertambah setelah sukses memburu laylatul qadar di sepuluh malam terakhir. Belum lagi penantian sepanjang hayat hingga datang saat pertemuan di akhirat kelak. 


Kebahagiaan yang datang sebagai hasil dari menunaikan perintah Allah secara integral dan komprehensif yang ditunaikan dengan penuh ketulusan dan kesungguhan karena mengharap ridha Allah Swt. Perintah Allah itu di antaranya seperti yang disebutkan dalam firman-Nya,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 


Wahai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kesuksesan. (QS al-Hajj: 77)


Rukuk dan sujud dalam bentuk shalat secara ritual alhamdulillah telah ditunaikan. Namun tentu tidak hanya sebatas gerakan dalam shalat saja. Yang dituntut pula adalah rujuk dan sujud dalam makna yang lebih luas. Yaitu kepatuhan dalam menjalankan rambu-rambu Allah dan nilai-nilai Islam dalam segala aspek kehidupan. Terutama dalam bidang politik, sosial, dan budaya yang faktanya masih jauh panggang dari api.


Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat ied rahimakumullah!

Allahu Akbar 3x walillahilhamd


Demikian pula dengan spirit untuk berbuat baik (bajik) dalam semua lini kehidupan. Terutama dalam menguatkan hablum minan nas, hubungan baik dengan sesama manusia. Dalam tafsir Jalalayn disebutkan bahwa salah satu bentuk dari berbuat baik di sini adalah menjalin silaturahim dan menampilkan akhlak-akhlak yang mulia.  


Untuk merealisasikan rukuk dan sujud yang total kepada Allah serta untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dibutuhkan kesungguhan dan upaya yang ekstra yang disebut dengan mujahadah. Itulah sebabnya lanjutan ayatnya memerintahkan untuk bermujahadah atau bersungguh-sungguh. Dari sana kesuksesan, kemenangan, dan kebahagiaan dapat digapai.


Setelah menunaikan rangkaian ibadah di bulan Ramadhan, lalu masuk ke bulan Syawwal, terdaat satu hal yang harus diperhatikan. Yaitu bahwa setelah dosa-dosa dibakar di bulan Ramadhan, maka sesuai dengan namanya, amal sesudah itu harus meningkat. Sebab, Syawwal yang berasal dari kata syâla yasyûlu berarti meningkatnya isi susu unta. 


Bila meningkat berarti manfaat yang diberikan lebih banyak. Para alumni Ramadhan harus memastikan bahwa dirinya  telah lulus dalam madrasah Ramadhan sekaligus siap menjalani kehidupan di sebelas bulan ke depan dengan penuh optimis dan semangat. Ibadah dan ketaatannya harus meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif. 


Nah, dengan bekal sejumlah arahan di atas para shaimin insya Allah dapat mewujudkan masa depan yang penuh asa dan harapan bagi pribadi dan masyarakat.  Pasalnya, hidup mereka telah lepas dari kungkungan energi yang negatif dengan melepas dan memberikan energi positif secara maksimal. 


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ تِلاَوَتَه فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحِين إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. واسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II


اللهُ أكْبَر اللهُ أكْبَر اللهُ أكْبَر اللهُ أكْبَر اللهُ أكْبَر اللهُ أكْبَر اللهُ أكْبَر وَلِلّهِ الْحَمْد   

يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ 

اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنا الّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إلَينَا الإيمَانَ، وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إلَينَا الكُفْرَ وَالفُسُوقَ وَالعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ

اَللَّهُم سَلَّمْنَا وَالْمُسْلِمِين وَعَافِنَا وَالْمُسْلِمِين وَاكْفِنَا وَإِيَّاهُم مِنْ شَرِّ مَصَائِب الدُّنْيَا وَالدِّينِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ