Bila kita mempelajari tentang militansi, dari berbagai referensi akan kita dapatkan bahwa menumbuhkan militansi dimulai dari penanaman nilai (ideologi/perjuangan atau fikrah) kemudian lanjut ke pembentukan identitas ke-kitaannya.
Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa militansi dapat ditumbuhkan dari,
1. Pemahaman mendalam terhadap tujuan dan fikrah (ideologi) yang diperjuangkan.
2. Penanaman keikhlasan yang merupakan buah dari rasa cinta kepada tanah air, agama atau organisasi.
3. Pelatihan dan pendampingan spiritual untuk membagun loyalitas.
4. Pelatihan dan penugasan teknis dan operasional agar kemampuan teknisinya semakin tumbuh-berkembang, cerdas, kreatif dan inovatif.
Militansi berakar pada keyakinan mendalam bahwa tindakan yang dilakukan adalah bentuk pengabdian kepada nilai (fikrah perjuangan), bukan sekadar tugas organisasi.
Bila kita telisik lebih jauh, 'perasaan' militansi yang (sedang) menurun boleh jadi karena penghayatan dan pengamalan terhadap butir butir kesetiaan mulai luntur. Butir butir tersebut sesungguhnya adalah nilai nilai yang seharusnya tertanam dan menjadi identitasnya. Oleh karena itu, untuk membangun kembali militansi yang patah, perlu dilakukan revitalisasi nilai.
Revitalisasi nilai Arkanul Bai'at adalah upaya menghidupkan kembali 10 rukun janji setia (bai'at) agar tetap relevan sebagai komitmen moral dan operasional bagi aktivis dakwah di kekinian dan kedisinian.
Arkanul Bai'at bagaikan "ruh" bagi kehidupan dakwah; tanpanya, gerakan dakwah akan kehilangan arah, soliditas jamaah melemah dan militansi menurun.
Bila seorang kehilangan ruh nya, maka bukan saja akan kehilangan arah, kehilangan kebanggaan kepada identitas nya tetapi juga etosnya (disiplin, dedikasi, dan tanggung jawab).
Bagaimana orang yang kehilangan ruh, identitas dan etosnya digambarkan dengan baik dalam sebuah satir dalam buku "Mati Ketawa Cara Rusia":
Sebuah komisi mengunjungi sebuah sekolah untuk menjajaki patriotisme para siswa.
“Hymie,” seorang murid dipanggil untuk ditanyai.
“Siapa ayahmu?”
“Ayah saya adalah Uni Soviet,” jawab Hymie.
"Anak pintar! Dan siapa ibumu?"
“Ibu saya adalah Partai Komunis,” sahut Hymie.
"Bukan main! Dan apa keinginanmu setelah dewasa?"
“Menjadi Yatim Piatu!”
Dalam Islam, seorang mujahid itu, pastinya tetap membara semangat dan mikitansinya sebagaimana firman Allah Ta'ala,
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱصۡبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung" (QS. Ali 'Imran: 200). Wallahul musta'an[]Gaf







0 komentar:
Posting Komentar