USIA adala ketentuan Allah. Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan rambut memutih, kulit yang mulai berkerut, atau tenaga yang tidak lagi sekuat masa muda. Namun, seorang mukmin tidak boleh membiarkan semangat beribadah, belajar, berdakwah, dan berbuat kebaikan ikut menua.
Islam tidak pernah mengukur kemuliaan seseorang dari kekuatan fisiknya, tetapi dari ketakwaan, keikhlasan, dan amal salehnya.
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian)." (QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini mengajarkan bahwa pengabdian kepada Allah tidak mengenal kata pensiun. Selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula seorang mukmin diperintahkan untuk terus beribadah dan berkarya. Rasulullah saw bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Artinya, usia yang panjang baru menjadi nikmat apabila diisi dengan amal yang semakin baik, bukan sekadar bertambah angka.
Nabi Nuh a.s. berdakwah dengan penuh kesabaran selama ratusan tahun. Beliau tidak berhenti hanya karena usia yang terus bertambah.
Nabi Zakaria a.s. tetap berdoa, beribadah, dan mengemban risalah meskipun telah memasuki usia senja. Allah bahkan mengaruniainya putra, Nabi Yahya a.s., sebagai bukti bahwa usia tua bukan penghalang untuk terus berharap dan beramal.
Abu Ayyub Al-Anshari r.a. tetap ikut berjihad hingga usia sangat lanjut. Beliau wafat dalam ekspedisi menuju Konstantinopel karena tetap ingin berjuang di jalan Allah.
Abdullah bin Abbas r.a. menghabiskan masa tuanya dengan mengajar dan menyebarkan ilmu. Hingga akhir hayatnya, beliau tetap menjadi rujukan umat dalam tafsir Al-Qur'an.
Demikian pula banyak ulama besar. Imam Ath-Thabari terus menulis kitab-kitab monumental hingga usia lanjut. Imam An-Nawawi, meskipun wafat pada usia muda, menunjukkan bahwa produktivitas dalam Islam diukur dari kualitas amal, bukan sekadar lamanya usia.
Tubuh boleh melemah, tetapi hati harus semakin kuat.
Langkah boleh melambat, tetapi dzikir harus semakin banyak.
Penglihatan boleh berkurang, tetapi pandangan menuju akhirat harus semakin jelas.
Suara boleh tidak lagi lantang, tetapi doa-doa kepada Allah harus semakin panjang.
Jangan pernah berkata, "Saya sudah tua, biarlah generasi muda saja yang bergerak." Selama masih mampu berpikir, berbicara, menulis, mengajar, membina, mendoakan, menasihati, membimbing keluarga, menebarkan manfaat kepada masyarakat, maka pintu amal masih terbuka lebar.
Karena sejatinya, bertambahnya usia bukanlah akhir produktivitas, melainkan justru puncak kematangan iman.
Semoga Allah menjadikan usia kita semakin berkah, amal semakin ikhlas, ilmu semakin luas, dan semangat beribadah tetap menyala hingga akhir hayat.
"Fisik boleh menua, tetapi semangat untuk taat kepada Allah tidak boleh pernah padam."[]







0 komentar:
Posting Komentar