Selasa, 25 Agustus 2026

MEMAKNAI MAULID NABI MUHAMMAD SAW!

 


Oleh: Dr. M. Akram an-Nadwi

Mengingat Nabi ﷺ bukanlah sekadar pembicaraan tentang sebuah momentum yang datang setiap tahun lalu berlalu bersama hari-harinya. Ia juga bukan sekadar lintasan hati yang sesekali berkilau kemudian padam. Mengingat Nabi ﷺ adalah sebuah makna yang semestinya mengalir dalam kehidupan seorang Muslim sebagaimana mengalirnya darah di dalam urat, dan menyebar di dalam kehidupannya seperti cahaya yang memenuhi sudut-sudut rumah ketika jendelanya dibuka untuk sinar matahari.


Nabi ﷺ bukanlah seorang tokoh sejarah yang kita kenang sebagaimana kita mengenang tokoh-tokoh besar lainnya, lalu kita menutup buku dan melanjutkan kehidupan. Beliau adalah Rasulullah yang Allah pilih untuk membawa risalah-Nya, yang Allah jadikan hujah atas hamba-hamba-Nya, dan melalui beliau Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Melalui beliau, manusia dikeluarkan dari kegelapan jahiliah menuju cahaya iman.


Jika seorang Muslim memahami bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang yang menunjukkan kepadanya jalan menuju Rabb-nya, memperkenalkannya kepada jalan tersebut, mengajarinya bagaimana beribadah kepada-Nya, dan membimbingnya kepada hal-hal yang membawa kebaikan bagi dunia dan akhiratnya, maka tidak masuk akal jika hak Rasul yang mulia ini atas kita hanya berupa mengingatnya pada satu hari dalam setahun, kemudian menjalani hari-hari lainnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Hak Nabi saw jauh lebih agung, lebih kekal, dan lebih mendalam. Sebab hak tersebut berkaitan dengan pokok agama itu sendiri dan dengan jalan yang tidak mungkin ditempuh seorang Muslim untuk mencapai keridhaan Allah kecuali dengan berjalan di atasnya.


Kaum Muslimin berbeda pendapat mengenai peringatan Maulid Nabi ﷺ. Sebagian berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan apabila disertai kebaikan dan terbebas dari kemungkaran. Mereka memandangnya sebagai salah satu bentuk ungkapan kegembiraan atas nikmat Allah kepada umat ini dengan diutusnya Nabi ﷺ. Sebagian lainnya melarangnya karena mengkhususkan hari tersebut dengan sebuah perayaan yang tidak dikenal pada masa Nabi ﷺ maupun masa para sahabat.


Para ulama telah membahas persoalan ini dengan panjang, dan pandangan mereka pun beragam. Masing-masing kelompok memiliki dalil dan penafsirannya.


Namun, saya tidak ingin membahas perbedaan tersebut. Betapa banyak persoalan yang diperselisihkan para ulama. Dan betapa umat Islam hari ini membutuhkan pembelajaran tentang bagaimana berbeda pendapat tanpa saling membenci, serta bagaimana mencari kebenaran tanpa menjadikan pencarian tersebut sebagai sebab perpecahan dan pertengkaran.


Saya ingin melampaui persoalan ini menuju makna yang lebih luas dan lebih dekat kepada inti agama.


Saya katakan: Andaikan seluruh kaum Muslimin sepakat memperingati Maulid, atau seluruhnya sepakat meninggalkannya, lalu apa setelah itu? Apakah dengan kesepakatan tersebut Nabi ﷺ telah mendapatkan seluruh haknya dari kita?


Inilah pertanyaan yang seharusnya menyibukkan hati dan akal sekaligus.


Wahai kaum Muslimin, hak Nabi kalian atas kalian terlalu agung untuk dibatasi hanya dalam satu hari, terlalu besar untuk tercakup dalam satu musim, dan terlalu dalam untuk ditunaikan hanya dengan sebuah syair, kata-kata, atau pertemuan.


Kalian berutang kepada Nabi saw sesuatu yang jauh lebih besar daripada itu semua: iman yang ada di dalam dada kalian, Al-Qur’an yang berada di hadapan kalian, shalat yang kalian gunakan untuk berdiri di hadapan Rabb kalian, serta jalan yang kalian tempuh menuju Allah.


Beliaulah yang datang membawa risalah, menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya hingga risalah tersampaikan dan hujah ditegakkan. Nabi saw meninggalkan kepada kita Kitabullah dan Sunnahnya, seakan-akan keduanya adalah dua lentera yang menerangi jalan panjang. Orang yang berjalan dengan keduanya tidak akan tersesat selama pandangannya benar dan tujuannya lurus.


Apakah kesetiaan terhadap semua itu cukup dengan memperingati kelahiran Nabi saw sekali dalam setahun?


Sesungguhnya bentuk terbesar dalam mengingat Nabi ﷺ adalah denfan menjadikannya selalu hadir dalam seluruh kehidupan kita: hadir dalam iman yang kita yakini, dalam ibadah yang kita lakukan, dalam akhlak yang kita kenakan, dan dalam cara kita memperlakukan manusia.


Nabi saw hadir ketika kita memilih, ketika kita berselisih, ketika kita marah, ketika kita ridha, ketika kita memiliki kekuasaan, dan ketika kita tidak berdaya.


Ketika seseorang menghadapi suatu persoalan dalam kehidupan, hendaknya yang pertama terlintas dalam pikirannya bukanlah, “Apa yang saya inginkan?”, tetapi:


“Apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ dalam keadaan seperti ini? Bagaimana Nabi saw bersikap jika berada di tempat saya ini?”


Di sinilah hakikat cinta terlihat. Dan di sinilah perkataan berbeda dari perbuatan.


Cinta adalah kata yang indah dan mudah diucapkan oleh lisan, tetapi menjadi pekerjaan berat ketika hati ingin membuktikan kejujurannya.


Allah Ta‘ala berfirman:


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ 


"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu." (QS. Ali Imran: 31)


Allah tidak menjadikan cinta sebagai pengakuan tanpa bukti. Allah menjadikan ittiba‘—mengikuti Rasul—sebagai bukti dan tanda kebenaran cinta tersebut.


Seakan-akan ayat itu berkata kepada kita: jalan menuju cinta bukanlah dengan memperbanyak pembicaraan tentang cinta, tetapi dengan berjalan di jalan yang telah digariskan oleh sang kekasih.


Maka berimanlah sebagaimana Rasulullah ﷺ beriman. Berimanlah kepada Allah dengan iman yang memenuhi hati dengan ketenangan, menjadikannya tidak bergantung kecuali kepada-Nya, tidak takut kecuali kepada-Nya, dan tidak berharap kecuali kepada karunia-Nya.


Berimanlah kepada hari akhir sebagaimana Nabi saw beriman, agar dunia tidak memperbudak kalian dan tidak menjadikannya sebagai tujuan hidup serta puncak harapan.


Jadikanlah tauhid yang menjadi ruh kehidupan Nabi saw sebagai fondasi kehidupan kalian. Sebab seseorang mungkin memperbanyak ibadah, tetapi jika hatinya tidak lurus dalam mengenal dan mengagungkan Allah, maka ibadahnya hanya menjadi bentuk tanpa ruh.


Cintailah Allah sebagaimana Rasulullah ﷺ mencintai-Nya. Cintailah Dia dengan cinta yang mendorong kalian untuk taat kepada-Nya dan membuat berbagai kesulitan kehidupan terasa ringan di jalan-Nya.


Cintailah Allah sebagaimana Nabi-Nya mencintai-Nya; bukan cinta yang hanya diucapkan dalam majelis, tetapi cinta yang tampak ketika syahwat datang, ketika kemarahan memuncak, dan ketika dunia memanggil manusia kepada dirinya sendiri. Pada saat itu, perintah Allah harus lebih dicintai oleh hati daripada hawa nafsu.


Taatilah Rasulullah ﷺ sebagaimana para sahabat menaatinya. Ikutilah Sunnah Nabi saw, bukan hanya dalam perkara yang sesuai dengan hawa nafsu kalian, tetapi juga dalam perkara yang diperlukan jiwa kalian untuk diperbaiki dan dibersihkan.


Ambillah dari kasih sayangnya, kelembutannya, kejujurannya, amanahnya, kerendahan hatinya, keadilannya, kesabarannya, dan keberaniannya.


Sebab Sunnah bukanlah sekadar bab-bab yang terpisah dalam sebuah kitab, bukan pula hukum-hukum yang menggantung di udara. Sunnah adalah kehidupan utuh yang dijalani Rasulullah ﷺ di tengah manusia, sehingga ucapan, perbuatan, dan akhlak Nabi saw menjadi penjelasan praktis tentang agama ini.


Di antara hal paling menarik dalam persoalan ini, bahwa ketika Nabi ﷺ ditanya tentang puasa hari Senin, beliau bersabda:


“Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku.”


Perhatikanlah bagaimana Nabi saw mengingat kelahirannya. Nabi saw tidak mengingat kelahirannya sekadar sebagai kenangan pribadi, tetapi sebagai pengingat akan sebuah nikmat besar yang berkaitan dengan risalah dan wahyu. Karena itu, Nabi saw mengekspresikannya melalui ibadah dan puasa.


Karena itu jika ingin mengingat kelahiran Nabi ﷺ, kita harus mengingat makna tersebut. Jadikanlah momentum mengingat kelahiran Nabi saw sebagai pendorong untuk beribadah, bersyukur, bershalawat, membaca sirahnya, menghidupkan Sunnahnya, dan memperbaiki diri.


Betapa kita membutuhkan pemahaman seperti ini pada zaman kita!


Kita sering kali mencintai sesuatu hanya dalam bentuknya, tetapi tidak mencintai hakikatnya.


Kita senang Nabi ﷺ hadir dalam syair-syair, tetapi tidak menginginkan Nabi saw hadir dalam muamalah kita.


Kita senang mendengar tentang kasih sayang Nabi saw, tetapi mungkin kita tidak menyayangi orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kita.


Kita senang mendengar tentang pemaafan Nabi saw, tetapi kita tidak mau memaafkan orang yang menyakiti kita.


Kita senang mendengar tentang kerendahan hati Nabi saw, tetapi kita marah ketika manusia tidak memberikan kepada kita kedudukan yang pantas menurut kita.


Kita senang mendengar tentang keadilan Nabi saw, tetapi kita menuntut hak untuk diri sendiri yang kita tidak rela diberikan kepada orang lain.


Di sinilah muncul pertanyaan yang berat bagi jiwa:


Apakah ini cinta kepada Nabi ﷺ, ataukah cinta kepada gambaran tentang Nabi saw yang tidak menuntut pengorbanan apa pun dari kita?


Nabi ﷺ tidak menginginkan kita hanya menghafal sirahnya. Nabi saw menginginkan kita hidup di atas petunjuknya.


Sirah nabawiyah bukanlah kisah yang kita baca sekadar untuk mengisi waktu luang. Sirah adalah cermin untuk melihat diri kita dan sekolah tempat kita belajar bagaimana menjadi manusia yang sebenarnya.


Jika kita membaca tentang kesabaran Nabi saw, kita harus bertanya tentang kesabaran kita.


Jika kita membaca tentang kasih sayang Nabi saw, kita harus bertanya tentang kasih sayang kita.


Jika kita melihat kezuhudan Nabi saw, kita harus bertanya tentang keterikatan kita kepada dunia.


Jika kita melihat Nabi saw berdiri di hadapan Rabb-nya dalam ibadah, kita harus bertanya tentang shalat kita.


Dengan demikian, sirah menjadi pertanyaan yang terus mengejar kita, bukan kisah yang selesai ketika kita sampai di halaman terakhir.


Hampir tidak ada satu pun sisi kehidupan seorang Muslim yang terlepas dari hubungannya dengan Sunnah.


Dalam shalatnya ia mengikuti Nabi ﷺ. Dalam puasanya ia mengikuti Nabi saw. Dalam makan dan minumnya, dalam tidur dan bangunnya, dalam memperlakukan keluarganya, dalam berbicara kepada manusia, dalam berdagang, dalam bepergian, dalam kegembiraan maupun kesedihan.


Bahkan seluruh kehidupan sehari-hari akan menjadi medan untuk meneladani Nabi saw apabila dalam hati telah hidup perasaan yang membuat seorang Muslim bertanya:


“Bagaimana Rasulullah ﷺ  melakukan hal ini?”


Inilah gagasan yang seharusnya kita pahami ketika mengingat Nabi ﷺ.


Mengingat Nabi saw bukan sekadar menyebut namanya dengan lisan lalu berlalu, tetapi menghadirkan maknanya di dalam hati.


Mengingat Nabi saw bukan sekadar meninggikan suara dengan shalawat dan salam kepada beliau, kemudian merendahkan suara kita ketika menyuarakan kebenaran. Mengingat Nabi saw berarti menjadikan ingatan tersebut berpengaruh terhadap akhlak kita.


Mengingat Nabi saw bukanlah memenuhi majelis dengan pembicaraan tentang Nabi saw  sementara rumah-rumah kita kosong dari Sunnahnya. Tetapi menjadikan rumah itu sendiri sebagai salah satu gambaran dari petunjuk Nabi saw.


Seorang Muslim yang bangun pada pagi hari lalu mengingat Allah dan bertanya kepada dirinya bagaimana ia akan menjalani harinya sesuai petunjuk Rasulullah ﷺ, sesungguhnya ia telah memulai harinya dengan mengingat Nabi saw, meskipun tidak menyebut namanya setiap saat.


Orang yang masuk ke rumahnya lalu mengingat kasih sayang Nabi kepada keluarganya, kemudian ia bersikap lembut kepada keluarganya dan mempergauli mereka dengan baik, berarti ia telah menghidupkan salah satu Sunnah Nabi saw.


Orang yang mampu mengendalikan amarah pada saat ia sebenarnya mampu melakukan kekerasan, lalu ia mengingat kesabaran Nabi ﷺ, berarti ia telah menghidupkan sebagian akhlak Nabi saw dalam dirinya.


Orang yang mampu membalas dendam tetapi memilih memaafkan; mampu berbuat zalim tetapi memilih berlaku adil; mampu berkhianat tetapi memilih menunaikan amanah—maka ia telah menjadikan sirah Nabi sebagai cahaya yang menerangi jalannya di tengah kegelapan.


Dengan demikian, mengingat Nabi ﷺ tidak lagi menjadi sebuah peristiwa dalam kalender, tetapi menjadi bagian dari jaringan kehidupan sehari-hari.


Kita tidak membutuhkan satu hari khusus untuk mengingat Rasulullah ﷺ.


Setiap hari yang di dalamnya ada shalat adalah hari untuk mengingat Nabi saw. Setiap adzan yang mengumandangkan nama beliau adalah pengingat. Setiap tasyahud yang di dalamnya kita bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau adalah pengingat.


Setiap Sunnah yang kita hidupkan, setiap akhlak kenabian yang kita praktikkan, setiap manusia yang kita kasihani, setiap orang yang dizalimi lalu kita bela, dan setiap amanah yang kita tunaikan—semuanya merupakan salah satu bentuk kesetiaan kepada Nabi ﷺ.


Betapa indah jika Nabi ﷺ selalu hadir dalam kesadaran seorang Muslim sebagaimana cahaya hadir dalam penglihatan. Manusia tidak selalu merasakan keberadaan cahaya pada setiap detik, tetapi ia tidak mampu melihat tanpanya.


Sunnah Nabi bukan sesuatu yang kita letakkan di pinggir kehidupan. Sunnah adalah bagian dari inti kehidupan itu sendiri.


Adakah satu jam dari kehidupan kita yang benar-benar kosong dari perintah melakukan kewajiban, ajakan kepada kebajikan, arahan kepada akhlak, atau anjuran untuk mengikuti Sunnah?


Seluruh kehidupan seorang Muslim adalah ruang untuk mengikuti Nabi saw, dan seluruh umur adalah lembaran terbuka bagi Sunnah.


Karena itu, di antara bentuk kesetiaan terbesar kepada Nabi ﷺ adalah mengetahui Sunnahnya dengan benar, membaca sirahnya dengan penuh kesadaran, membedakan antara riwayat yang sahih dan yang tidak sahih, serta tidak menjadikan sirah hanya sebagai cerita yang diriwayatkan, tetapi sebagai manhaj yang dipahami dan diamalkan.


Kita membaca bagaimana Nabi saw mendidik para sahabat, bagaimana beliau membangun masyarakat, bagaimana beliau memadukan ibadah dengan kerja, kekuatan dengan kasih sayang, keadilan dengan ihsan, serta hak Allah dengan hak manusia.


Jika peringatan Maulid merupakan persoalan yang diperselisihkan kaum Muslimin, maka ada perkara-perkara yang jauh lebih luas daripada perbedaan itu dan lebih mampu menyatukan hati:


iman kepada Nabi ﷺ, mencintai Nabi saw, bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi saw, mengagungkan Nabi saw, mengikuti Sunnahnya, mempelajari sirahnya, mengajarkannya kepada anak-anak, dan meneladani akhlaknya.


Makna-makna inilah yang seharusnya menyatukan, bukan memecah belah; menyatukan hati, bukan merobek persatuan.


Jangan sampai sebuah persoalan tentang cara mengekspresikan cinta berubah menjadi sebab kita melupakan hakikat cinta itu sendiri.


Kita sangat membutuhkan perpindahan dari pertanyaan tentang bentuk perayaan menuju hakikat perayaan; dari momentum Maulid menuju makna Maulid; dari sekadar mengenang kelahiran Nabi saw menuju melihat pengaruh kelahiran dan diutusnya beliau dalam kehidupan kita.


Jika Nabi ﷺ datang untuk menghidupkan hati, maka hidupkanlah hati kalian dengan petunjuknya.


Jika Nabi saw datang untuk mengajarkan manusia bagaimana beribadah kepada Allah, maka pelajarilah ibadah yang benar kepada-Nya.


Jika Nabi saw datang untuk menegakkan timbangan keadilan, maka tegakkanlah keadilan di rumah-rumah dan masyarakat kalian.


Jika Nabi saw datang membawa rahmat, maka sayangilah orang yang lemah, miskin, fakir, dan orang yang melakukan kesalahan.


Jika Nabi saw datang membawa akhlak, maka jangan jadikan pembicaraan tentang akhlak beliau sebagai pengganti dari berakhlak dengan akhlak tersebut.


Wahai kaum Muslimin, hak Nabi kalian lebih agung daripada sekadar sebuah perayaan tahunan.


Hak Nabi saw adalah hadir bersama kalian dalam shalat kalian, rumah kalian, pasar kalian, akhlak kalian, perselisihan kalian, persatuan kalian, pendidikan anak-anak kalian, dan seluruh urusan kehidupan kalian.


Ingatlah (petunjuk) Nabi saw ketika kalian shalat.


Ingatlah Nabi saw ketika kalian bekerja.


Ingatlah Nabi saw ketika kalian berselisih.


Ingatlah Nabi saw ketika kalian marah.


Ingatlah Nabi saw ketika kalian bergembira.


Ingatlah Nabi saw ketika kalian lemah menghadapi godaan kehidupan.


Ingatlah bagaimana Nabi saw bertindak, bagaimana berbicara, bagaimana mencintai, bagaimana  membenci, bagaimana memaafkan, dan bagaimana bersabar.


Jika kalian benar-benar mencintai Nabi saw, maka ikuti beliau.


Jika kalian ingin memuliakan Nabi saw, maka taatilah beliau.


Jika kalian ingin mengingat Nabi saw, maka hidupkanlah Sunnah beliau.


Perayaan terbesar atas kelahiran Nabi saw bukan dengan menyalakan lampu di jalan-jalan, melainkan dengan menyalakan cahaya petunjuk Nabi saw di dalam hati.


Penghargaan terbesar kepada Nabi saw bukan dengan memperbanyak kata-kata tentang beliau, melainkan dengan mengurangi penyimpangan kita dari Sunnahnya.


Bentuk ingatan terbesar kepada Nabi saw bukan dengan memperbanyak menyebut nama beliau di lisan semata, tetapi juga dengan menjadikan pengaruhnya tampak dalam akhlak dan amal kita.


Maka jadikanlah Maulid Nabi ﷺ sebagai awal dari kelahiran lain dalam diri kita:


* kelahiran iman setelah kelalaian,

* kelahiran cinta setelah kekeringan hati,

* kelahiran Sunnah setelah ditinggalkan,

* dan kelahiran akhlak setelah kerasnya hati.


Pada saat itu, peringatan maulid tidak lagi sekadar menjadi tanggal dalam kalender, tetapi berubah menjadi cahaya di jalan.


Ia tidak lagi menjadi sesaat yang berlalu dalam perjalanan waktu, tetapi menjadi makna yang menetap di dalam hati.


Ia tidak lagi menjadi sebuah momentum yang kita hidupkan sekali setahun, tetapi menjadi kehidupan yang kita jalani setiap hari.


Itulah bentuk mengingat yang tidak berakhir ketika musim berakhir dan tidak melemah ketika hari-hari berlalu.


Ia adalah ingatan dan kesadaran yang tinggal di dalam hati, membersihkan jiwa, meluruskan perilaku, dan menghubungkan manusia dengan sumber petunjuknya.


Dan itulah bentuk kesetiaan paling jujur yang dapat kita berikan kepada Rasulullah ﷺ:


Hidup di atas petunjuknya, benar-benar mencintainya, dan menjadikan Sunnahnya sebagai jalan yang kita tempuh sepanjang usia.


Hingga mengingat Nabi saw dalam kehidupan kita menjadi seperti cahaya fajar. Kita tidak lagi bertanya kapan ia datang dan kapan ia pergi, tetapi kita terus berjalan dalam cahayanya karena kita mengetahui jalan yang harus ditempuh. 

0 komentar:

Posting Komentar