Dr. Yusuf Qardhawi
Dimensi Rabbani atau imani merupakan dimensi tarbiyah yang paling signifikan dan paling dalam pengaruhnya. Karena, tujuan utama tarbiyah adalah membentuk pribadi mukmin.
Dalam pandangan Islam, iman bukan sekadar ucapan atau klaim kosong. Ia adalah wujud hakikat. Apabila cahayanya menembus akal, iman mampu menumbuhkan keyakinan. Apabila menembus perasaan, iman mampu menumbuhkan semangat yang membara.
Apabila menembus kehendak, iman mampu menumbuhkan motivasi dan gerak. Iman yang dimaksud di sini sebagaimana di- jelaskan dalam sebuah perkataan sahabat, “Iman adalah sesuatu yang menghunjam di dalam jiwa dan mengejawantah dalam perbuatan.”
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar” (Al-Hujurat: 15)
Iman bukan sekadar pengetahuan abstrak seperti pengetahuan para teolog dan filsuf, bukan pula sekadar kenikmatan spiritual seperti kenikmatan spiritual kaum Sufi, dan bukan pula sekadar ritual ibadah seperti ritual para ahli mistik dan asketik.
Sejatinya iman yang hakiki adalah perpaduan dari seluruh anasir tersebut, yang terbebas dari sikap berlebihan, menambahi ataupun mengurangi, ditambah dengan ke- sigapan untuk aksi guna memakmurkan bumi, mengisi kehidupan dengan kebajikan dan membimbing manusia menuju kebenaran.
Pilar utama tarbiyah rabbaniyah adalah hidupnya hati yang senantiasa terkait dengan Allah swt. serta meyakini perjumpaan dengan Sang Khalik dan perhitungan atas amal perbuatannya.
Dengan begitu, orang yang telah tertarbiyah akan senantiasa mendamba kasih-Nya dan merasa takut akan siksa-Nya. Dengan tarbiyah, seseorang menjadi sadar bahwa hakikat manusia tidak terbatas pada struktur, organ, sel, tulang, dan otot tubuh semata.
Hati yang hidup—yang merupakan pilar utama tarbiyah rabbaniyah—adalah lathifah rabbaniyyah (sentuhan Tuhan). Ia akan menjadi ruh bagi struktur fisik yang dapat menggerakkan, mengendalikan, dan mencegahnya dari sesuatu. Ia adalah mudghah (gumpalan) yang jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh, dan jika rusak maka rusak pula seluruh tubuh.
Ia tiada lain adalah hati, ruh, atau jiwa—atau apa pun nama yang Anda berikan—yang sadar dan mengantarkan manusia kepada kedalaman hidup dan rahasia wujud, serta membawanya dari bumi menuju langit; dari alam menuju Sang Pencipta; dari alam fana menuju alam keabadian.
Hati yang hidup merupakan objek penilaian Allah swt. dan tempat landasan turunnya pencerahan serta nur Allah. Nabi saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk tubuhmu dan hartamu tetapi Ia memandang hatimu dan amal perbuatanmu”. (HR. Muslim)
Hati adalah satu-satunya sandaran yang diajukan seorang hamba kepada Tuhannya pada hari Kiamat sebagai jalan keselamatan. “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu‘arâ’: 88 - 89).
Tanpa hati yang dipenuhi keimanan dan disinari keyakinan, sejatinya manusia telah mati, sekalipun secara fisik masih dianggap hidup.
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?” (Al- An‘am: 122)
*****







0 komentar:
Posting Komentar