Jumat, 19 Juni 2026

CIRI-CIRI KEBERKAHAN WAKTU

 


DI AWAL tahun baru 1448 Hijriyah ini mari kita merenung, apakah waktu kita sudah termasuk waktu yang barokah (berkah) selama ini?  Sebab banyak orang mengeluh, "Waktu terasa begitu cepat berlalu."


Pagi baru saja dimulai, tiba-tiba sudah malam. Baru merasa awal bulan, tahu-tahu sudah akhir bulan. Baru merasa tahun ini dimulai, ternyata tahun sudah berganti lagi. Rasulullah saw telah mengabarkan fenomena ini jauh sebelum kita mengalaminya.


"Tidak akan tiba hari kiamat hingga waktu semakin singkat. Satu tahun seperti satu bulan, satu bulan seperti satu minggu, satu minggu seperti satu hari..." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)


Para ulama seperti Imam An-Nawawi, Qadhi 'Iyadh, dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah berkurangnya jumlah jam dalam sehari, melainkan hilangnya keberkahan waktu. Hari tetap 24 jam. Tetapi manfaat yang dihasilkan dari 24 jam itu semakin sedikit.


Sebab waktu yang berkah berarti waktu yang zidayatul khair (kebaikannya bertambah-tambah). Orang yang waktunya berkah, manfaat hidupnya tinggi karena banyak mengumpulkan kebaikan dan pahala lebih daripada orang kebanyakan. 


Lalu, bagaimana ciri-ciri orang yang mendapatkan keberkahan waktu?


1. Mampu Menghasilkan Banyak Kebaikan dalam Waktu yang Sama.


Keberkahan waktu membuat seseorang mampu menyelesaikan banyak pekerjaan yang bermanfaat tanpa merasa terburu-buru.


Orang lain membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu pekerjaan, sedangkan ia dapat menyelesaikannya dalam waktu yang jauh lebih singkat dengan hasil yang baik.


Inilah yang terlihat pada kehidupan para ulama terdahulu.


Imam An-Nawawi hanya hidup sekitar 45 tahun, tetapi menghasilkan puluhan karya besar yang hingga hari ini masih dipelajari di seluruh dunia Islam.


Imam Al-Ghazali hidup sekitar 55 tahun, namun pengaruh ilmunya tetap hidup hingga hampir seribu tahun kemudian.


2. Tidak Suka Menyia-nyiakan Waktu


Orang yang diberi keberkahan waktu merasa rugi jika waktunya berlalu tanpa manfaat. Imam Abu Bakar bin 'Ayyasy berkata:


"Jika seseorang kehilangan sekeping emas, ia akan menyesal sepanjang hari. Tetapi jarang ada orang yang menyesal karena satu hari dari umurnya telah hilang."


Padahal waktu jauh lebih berharga daripada emas. Emas yang hilang masih bisa dicari. Waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.


3. Selalu Mengisi Waktunya dengan Hal Bermanfaat.


Bukan berarti ia tidak beristirahat atau tidak bercanda. Namun sebagian besar waktunya diisi dengan hal yang mendekatkannya kepada Allah dan bermanfaat bagi manusia.


Dikisahkan bahwa Imam Al-Khatib Al-Baghdadi sering membaca buku sambil berjalan karena tidak ingin ada waktunya yang terbuang sia-sia.


Sedangkan Imam Zakaria Al-Anshari dikenal hampir tidak pernah melakukan aktivitas yang tidak berguna sepanjang hidupnya.


4. Ilmu dan Amal Bertambah Terus.


Keberkahan waktu bukan sekadar sibuk. Banyak orang sibuk tetapi tidak bertambah ilmunya, tidak bertambah amalnya, dan tidak bertambah manfaatnya.


Waktu yang berkah selalu menghasilkan pertumbuhan. Hari ini lebih baik daripada kemarin. Ibadah semakin baik, ilmu semakin luas, dan manfaat semakin besar.


5. Hatinya Tenang Meski Banyak Aktivitas.


Orang yang diberkahi waktunya tidak selalu terlihat tergesa-gesa. Ia justru lebih tenang karena Allah memudahkan urusannya.


Pekerjaan yang banyak tidak membuatnya panik, sebab Allah menanamkan keberkahan dalam waktu yang dimilikinya.


6. Selalu berdakwah tanpa lelah.


Para nabi adalah manusia yang paling berkah waktunya. Mereka berprofesi macam-macam, tapi selalu berdakwah dimana pun dan kapan pun. Tak terjebak dengan urusan dunia, sehingga lalai mengajak manusia kepada Allah Ta'ala. 


Walau dakwah para nabi menghadapi tantangan yang keras, tapi mereka tak gentar dan putus asa mengajak manusia kepada Allah.


7. Hartanya menjadi berkah.


Jika waktu berkah, maka otomatis harta yang dihasilkan juga berkah. Mungkin hartanya tak banyak, tapi bernilai berlipat ganda untuk konsumsi, investasi dan infaq.


Seakan hartanya pas-pasan. Pas butuh uang, pas Allah berikan rezekinya. Pas butuh uang sekolah, pas ada uangnya. Pas mau beli rumah, pas ada dananya. Tak terlihat bermewahan, tapi selalu ada saja rezekinya dari arah yang tak disangka-sangka.


Lalu apa yang menghilangkan keberkahan waktu?


Imam Ibnu Abi Jamrah menjelaskan bahwa salah satu penyebab hilangnya keberkahan waktu adalah lemahnya iman dan banyaknya maksiat. Beliau secara khusus mengingatkan tentang makanan dan penghasilan yang haram atau syubhat. Sebab hati yang gelap karena maksiat akan sulit produktif dalam kebaikan. Allah SWT berfirman:


"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96)


Karena itu, keberkahan waktu tidak hanya dicari dengan manajemen waktu yang baik, tetapi juga dengan memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbanyak taubat, menjaga kehalalan rezeki, dan menjauhi maksiat.


Akhirnya, semoga di tahun baru 1148 Hijriyah ini waktu kita semakin barokah. Waktu kita tetap 24 jam sehari. Namun menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar daripada yang dihasilkan kebanyakan manusia.


Maka jangan hanya bertanya, "Berapa lama aku hidup?" Tetapi tanyakanlah, "Berapa banyak kebaikan yang telah aku hasilkan dari umur yang Allah berikan?"


Sebab di akhirat nanti, yang menentukan nilai hidup kita bukan panjangnya umur, melainkan keberkahan yang Allah letakkan di dalam umur tersebut.


"Orang yang kehilangan uang masih bisa mencari gantinya. Tetapi orang yang kehilangan waktu sesungguhnya telah kehilangan bagian dari hidupnya yang tidak akan pernah kembali."

0 komentar:

Posting Komentar