Selasa, 04 Oktober 2016

Melalaikan Amanah: Jalan Menuju Kegagalan Dan Kehancuran





Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul  (Muhammad)
dan  (juga)  janganlah  kamu mengkhianati  amanat-amanat  yang  dipercayakan  kepadamu,  sedang
kamu mengetahui (Q.S. Al-Anfaal 27).
Ayat di atas mengaitkan  orang-orang beriman  dengan amanah atau larangan berkhianat. Bahwa di
antara  indikator  keimanan  seseorang  adalah  sejauh  mana  dia  mampu  melaksanakan  amanah.
Demikian pula sebaliknya bahwa ciri khas orang munafik adalah khianat dan melalaikan amanah-
amanahnya.  Amanah,  dari  satu  sisi  dapat  diartikan  dengan  tugas,  dan  dari  sisi  lain  diartikan
kredibilitas  dalam  menunaikan  tugas.  Sehingga  amanah  sering  dihubungkan  dengan  kekuatan.

Firman Allah,

Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang
yang kuat lagi dapat dipercaya" (Q.S. Al-Qhashash 26).
Oleh  karena  itu  wahai  ikhwah,  kuatkanlah  keimanan  dan  ruhiyah  kalian  Kuatkanlah  ilmu  dan
tsaqafah  kalian,  serta  kuatkanlah  fisik  dan  segala  sarana  yang  dapat  digunakan  untuk  memikul
amanah.  Dan  Allah  memerintahkan  kepada  kita  untuk  mempersiapkan  segala  bentuk  kekuatan.
(Q.S.  8:60)

Ikhwan dan akhwat fillah!
Hidup ini tidak lain adalah sebuah safari atau perjalanan panjang dalam  melaksanakan amanah dari
Allah. Dalam  hidupnya manusia  dibatasi oleh  empat dimensi,  bumi   tempat beramal, waktu  atau
umur sebagai sebuah kesempatan beramal,  nilai Islam yang menjadi landasan amal  dan potensi diri
sebagai  modal  beramal.  Maka  orang  yang  bijak  adalah  orang  yang  senantiasa  mengukur
keterbatasan-keterbatasan  dirinya  untuk  sebuah  produktivitas  yang  tinggi  dan  hasil  yang
membahagiakan.  Orang-orang  yang  beriman  adalah  orang-orang  yang  senantiasa  sadar  bahwa
detik-detik hidupnya adalah karya dan amal shalih. Kehidupannya di dunia sangat terbatas sehingga
tidak  akan  disia-siakannya  untuk  hal-hal  yang  sepele,  remeh,  apalagi  perbuatan  yang  dibenci
(makruh)  dan haram.
ِِ Amanah  pertama  yang  harus dilakukan  adalah Amanah Fitrah manusia,  dimana makhluk  lain
enggan dan menolak menerimanya. Ia adalah amanah hidayah, ma’rifah dan iman kepada Allah atas
dasar  niat,  kemauan,  usaha  dan  orientasi.  Amanah  berikutnya  adalah  Amanah  Syahadah
(Kesaksian). Pertama, berupa  kesaksian  diri  agar menjadi  cermin  bagi  agamanya. Kedua,  berupa
kesaksian  dakwah  agar  menyampaikan  agama  kepada  manusia.  Ketiga,  berupa  kesaksian  agar
menerapkan  manhaj dan syariah Islam di bumi Allah.
Berkata  Imam Syahid Hasan Al-Banna, “Wahai Muslimun! Ibadah kalian kepada Rabb kalian,
jihad  di  jalan  pengokohan  agama  kalian  dan  kemuliaan Syariat  kalian  adalah  tugas  kalian  dalam
hidup. Jika kalian melaksanakannya dengan benar, maka kalianlah orang yang sukses.  Jika kalian  2
melaksanakannya  hanya  sebagian  atau melalaikan  semuanya, maka  aku  sampaikan  firman Allah
Taala,

“Maka  apakah  kamu  mengira,  bahwa  sesungguhnya Kami  menciptakan  kamu  secara  main-
main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? “  (QS Al-Mu’minun 115).
Dan amanah itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.  Pertanyaan akan ditujukan atas
amanah  yang  dibebankan  kepada  kita.  Barang  siapa  yang  menunaikan  amanah  sekecil  apapun,
niscaya akan dilihat Allah. Dan barang siapa yang melalaikan amanah sekecil apapun niscaya akan
dilihat. Manusia tidak akan dapat lari dari tanggung jawab itu. Karena tempat yang ditinggali adalah
bumi Allah, umur  yang dimiliki  adalah ketentuan Allah, potensi  yang  ada  adalah  anugerah Allah
dan nilai Islam adalah tolak ukur dari pelaksanaan  amanah tersebut. Kemudian mereka akan datang
menghadap Allah.
Oleh karena itu sekecil apapun amanah yang dilaksanakan akan memiliki dampak positif berupa
kebaikan. Dan sekecil apapun amanah yang disia-siakan, niscaya memiliki dampak negatif berupa
keburukan. Dampak  itu bukan hanya mengenai dirinya tetapi  juga mengenai  umat manusia secara
umum.  Seorang  mukmin  yang  bekerja  mencari  nafkah  dengan  cara  yang  halal  dan  baik  akan
memberikan  dampak  positif  berupa  ketenangan  jiwa  dan  kebahagiaan  bagi  keluarganya. Apalagi
bila dia mampu memberi sedekah dan  infak kepada yang membutuhkan. Sebaliknya seorang yang
menganggur  dan  malas  akan  menimbulkan  dampak  negatif  berupa  keburukan,  terlantarnya
keluarga,  kekisruhan, keributan dan beban bagi orang lain.
Kesalahan  kecil  dalam  menunaikan  amanah  seringkali  menimbulkan  bahaya  yang  fatal.
Bukankah  terjadinya  kecelakaan mobil  ditabrak  kereta,  disebabkan  hanya karena  sopirnya  lengah
atau  sang  penjaga  pintu  rel  kereta  tidak  menutupnya?  Bahaya  yang  lebih  fatal  lagi  adalah  jika
amanah dakwah tidak dilaksanakan sehingga kemaksiatan merebak, kematian hati, kerusakan moral
dan tatanan sosial serta kepemimpinan di pegang oleh orang yang bodoh dan zhalim.
Ikhwan dan akhwat fillah!
Perjalanan  dakwah  telah  menorehkan  pengalaman  betapa  kesalahan  dalam  melaksanakan
amanah  mengakibatkan  kerugian  dan  musibah.  Pada  saat  perang  Uhud,  Rasulullah  saw.
memerintahkan  satu pasukan pemanah untuk  tetap berjaga di bukit Uhud dan  tidak meninggalkan
pos itu. Tetapi, ketika tentara Islam sudah di ambang kemenangan, dan sebagian yang lain bersorak
sambil  memunguti  rampasan  perang,  maka  pasukan  pemanah  pun  tergoda  dan  ikut-ikutan
mengambil rampasan perang  itu. Akhirnya pasukan kafir berhasil memukul mundur pasukan umat
Islam,  dan  rampasan  perang  raib  dari  tangan  mereka.  Lebih  tragis  dari  itu  adalah  darah  segar
berceceran dari muka Rasulullah saw, akibat  amanah yang dilalaikan.
Harta, wanita  dan  kekuasaan memang merupakan  sarana  yang  paling  ampuh  digunakan  setan
untuk menggoda  orang  beriman  agar melalaikan  amanah,  bahkan meninggalkannya  sama  sekali.
Betapa sebagian dai yang ketika  tidak memiliki sarana harta yang cukup dan  tidak ada kekuasaan
yang  disandangnya,  begitu  istiqamah  menjalankan  amanah  dakwah.  Tetapi  setelah  dakwah
menghasilkan harta dan kekuasaan, amanah dakwah itu ditinggalkan atau bahkan berhenti dari jalan
dakwah dan futur dalam barisan jamaah dakwah!
Oleh  karena  itu  waspadalah  terhadap  harta,  wanita  dan  kekuasaan!  Itu  semua  hanya  sarana
untuk  melaksanakan  amanah  dan  jangan  sampai  menimbulkan  fitnah  yang  berakibat  pada
melalaikan  amanah.  Di  balik   menunaikan  amanah,  terkadang  ada  bunga-bunga    yang
mengiringinya,  harta  yang  menggiurkan,  wanita  yang  menggoda.  Sehingga  orang  yang  beriman
harus senantiasa menguatkan taqarrub illallah dan istianah billah.
Amanah    adalah  perintah  dari  Allah  yang  harus  ditunaikan  dengan  benar  dan  disampaikan
kepada ahlinya. Allah Taala berfirman,  3

Sesungguhnya  Allah  menyuruh  kamu  menyampaikan  amanat  kepada  yang  berhak
menerimanya, dan  (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu
menetapkan  dengan  adil.  Sesungguhnya  Allah  memberi  pengajaran  yang  sebaik-baiknya
kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS An-Nisaa 58)
Amanah yang paling  tinggi adalah amanah untuk berbuat adil dalam menetapkan hukum pada
kepemimpinan umat. Pahala yang paling tinggi adalah pahala dalam melaksanakan keadilan sebagai
pemimpin    umat.  Begitulah  sebaliknya,  bahaya  yang  paling  tinggi  adalah  bahaya  melakukan
kezhaliman pada saat memimpin umat. Kezhaliman pemimpin akan menimbulkan  kehancuran dan
kerusakan  total  dalam  sebuah  bangsa.  Maka  kezhaliman  pemimpin  merupakan  sikap  menyia-
nyiakan  amanah yang paling tinggi.
Dengan  demikian  orang-orang  yang   beriman  harus  benar-benar  melaksanakan  amanah
kepemimpinan  umat  dan  tidak  memberikannya  kepada  orang-orang  yang  bukan  ahlinya.  Orang
beriman  adalah  khairu  ummah  yang  harus  mengamankan  amanah  umat.  Dan  ketika  amanah
kepemimpinan dipegang oleh orang yang bukan ahlinya, maka umat  Islam harus melakukan  jihad
dan amar ma’ruf nahi munkar. Rasulullah saw. bersabda:

“Seutama-utamanya jihad adalah kalimat yang benar kepada penguasa yang zhalim”(HR Ibnu
Majah, Ahmad,  At-Thabrani, Al-Baihaqi dan An-Nasai). Hadits yang lain:

”Penghulu  para  syuhada  adalah  Hamzah  bin  Abdul  Muthallib  dan  seorang  yang  bangkit
menuju  imam  yang  zhalim  ia  memerintahkan    dan  melarang  sesuatu  lalu  ia  dibunuh”(HR  Al-
Hakim)

Ikhwan dan akhwat fillah
Hidup  adalah  pilihan-pilihan. Dan  pilihan melaksanakan  amanah  adalah  konsekuensi  sebagai
manusia, konsekuensi sebagai muslim dan konsekuensi sebagai dai. Oleh karenanya sandaran yang
paling  baik  adalah Allah,  teman  yang paling  baik  adalah  orang-orang  yang  shalih dan  kelompok
yang  paling  baik  adalah  jamaah  Islam.  Maka  kuatkan  hubungan  dengan  Allah  dan  tingkatkan
ukhuwah  Islamiyah,  niscaya kita  akan  sukses melaksanakan  amanah  itu,  sebesar  apapun. Marilah
kita  melaksanakan  amanah  yang  diberikan  Allah  kepada  kita  dengan  penuh  keikhlasan  dan
kesungguhan. Marilah  kita  melaksanakan  amanah  yang  dibebankan  jamaah  kepada  kita  dengan
penuh  kesabaran  dan  lapang  dada.  Marilah  kita  melaksanakan  amanah  umat  dengan  penuh
keseriusan dan  tanggung  jawab. Dan  semuanya akan ditanya,  siapkah kita? Jika  tidak, maka  akan
terjadi kehancuran dan kerusakan.


0 komentar:

Posting Komentar