Seorang teman, dari partai yang pemimpin partainya LHKPN nya paling rendah mengatakan, keunggulan kami memang bukan uang. Karena uang kami hanya cukup untuk ongkos jalan, kadang ospul (ongkos pulang)nya dipikirin nanti.
Keunggulan kami ada tiga:
1). Kader yang militan,
2). Struktur yang solid,
3). Kerjasama amal jama'i yang ikhlas.
Dengan tiga keunggulan ini terbukti masih bisa bertahan di dunia yang brutalisme.
Tetapi seberapa lama mereka akan sanggup bertahan bila yang disana mampu terus meningkatkan modalitasnya sementara yang disini kualitas militansi nya tidak meningkat, untuk tidak dikaitkan menurun. Padahal ini adalah modal utamanya, kekuatan utamanya.
Militansi Kader
Militansi adalah semangat pengabdian yang penuh gairah, keteguhan hati, dan kesediaan berjuang keras demi membela suatu ideologi, prinsip, organisasi, atau keyakinan tertentu.
Seseorang yang memiliki militansi tinggi tidak akan mudah menyerah, selalu rela berkorban, dan memiliki loyalitas yang sangat kuat terhadap tujuan yang ingin dicapainya.
Setidaknya militansi bisa diukur dengan/dari:
1). Ketaatan (loyalitas dan kepatuhan). Memiliki kesetiaan penuh kepada pemimpin, aturan, atau asas organisasi, serta konsisten menjalankan instruksi tanpa banyak mengeluh. Tahu mana intruksi dan mana diskusi.
2). Tingkat pengorbanan (tadhiyah). Rela mengorbankan waktu, kenyamanan, tenaga, pikiran dan materi karena faham tidak ada kemenangan tanpa perjuangan. Dan tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.
Tidak banyak menanyakan bagaimana ospulnya karena paham mulianya "sunduquna juyubuna". Percaya bahwa pimpinan pasti mikirin.
3). Resiliensi atau daya tahan. Tetap teguh, tsabat, menghadapi hambatan, tekanan dan godaan.
4). Inisiatif dan terlibat aktif. Siap menjadi pelopor bukan pengekor.
5). Berani mengambil resiko. Siap menghadapi konsekuensi atau risiko apa pun, termasuk konflik interpersonal dan sosial. Sebagai kader, tidak terlalu berpikir "nanti gimana" tetapi "gimana nanti aja".
Soliditas Struktur
Dalam dunia manajemen, organisasi, dan partai politik, soliditas struktural diartikan sebagai kekuatan hubungan kerja dan kepatuhan antar tingkat hierarki dari pusat hingga akar rumput. Secara umum struktur dikatakan kuat/solid bila tingkat kepercayaan yang tinggi, konflik internal yang rendah, dan rasa saling memiliki yang kuat.
Indikator berikut bisa dijadikan ukurannya:
1). Kejelasan Rantai Komando:
Alur instruksi dari pimpinan tertinggi hingga staf pelaksana berjalan lancar tanpa tumpang tindih.
2). Kepatuhan Prosedural (Procedural Compliance):
Anggota dan pengurus konsisten mengikuti AD/ART, kode etik, dan mekanisme formal yang berlaku.
3). Diferensiasi Peran yang Efektif. Adanya spesialisasi dan pembagian kerja yang jelas (solidaritas organik), namun tetap terintegrasi menuju satu visi bersama.
4). Sistem Koordinasi Lintas Sektoral: Kemampuan unit-unit kerja yang setingkat untuk saling berkomunikasi dan berkolaborasi tanpa ego sektoral.
5). Kestabilan dan Resolusi Konflik: Ketersediaan mekanisme internal yang cepat dan efektif untuk menyelesaikan pergesekan struktural sebelum mengganggu kinerja organisasi.
Amal Jama'i
Amal jama'i adalah suatu konsep dalam gerakan Islam yang berarti amal atau kerja kolektif yang dilakukan secara bersama-sama, terorganisasi, dan terencana untuk mencapai suatu tujuan mulia (khususnya dakwah dan kebaikan).
Untuk membedakannya dengan sekadar kerja kelompok biasa, amal jama'i memiliki pilar-pilar penting sebagai berikut:
1). Adanya Kepemimpinan (Qiyadah). Harus ada pemimpin yang ditaati dalam ruang lingkup kebaikan selama tidak bermaksiat kepada Allah.
2). Adanya Anggota/Pengikut (Jundi). Kumpulan individu yang siap bekerja dan siap bekerja sama dan berkontribusi sesuai dengan kapasitas masing-masing.
3). Ketaatan dan saling petcaya.
Komitmen para anggota untuk mengikuti arahan pemimpin demi tercapainya tujuan bersama. Jundiyah muthi'ah karena qiyadah mukhlishah.
4). Keteraturan dan Manajemen (Tanzhim). Kerja sama tidak dilakukan secara acak, melainkan memiliki struktur, pembagian tugas, rencana kerja, dan evaluasi yang jelas.
5). Solidaritas dan Keterikatan Hati (Takaful & Ukhuwah). Dimana hubungan antaranggota didasari oleh rasa persaudaraan iman yang mendalam, bukan sekadar hubungan profesional kerja. Anggota saling menanggung beban, saling menasihati dalam kebaikan, dan saling menutupi kekurangan.
Bila militansi kader, soliditas struktur, dan amal jama'i adalah keunggulan maka serius lah merawatnya sebagaimana seriusnya mereka merawat dan menumbuhkan pundi pundi nya.
Sehingga keunggulan ini menjadi sumberdaya nyata yang tidak dimiliki oleh yang lain. Alias sumber daya yang tidak atau belum memiliki pesaing.
Ini sesuai dengan
Blue Ocean Strategy (Strategi Samudra Biru). Blue Ocean Strategy dalam politik adalah menciptakan ruang politik baru yang belum ada pesaingnya, alih-alih bertarung habis-habisan di "samudra merah" (kampanye konvensional yang penuh persaingan ketat, maun mata dengan penyelenggara, atau politik uang).
Pendekatan ini berfokus pada inovasi nilai (value innovation), di mana politikus atau partai menawarkan cara pandang, isu, atau segmen pemilih baru yang sebelumnya diabaikan oleh lawan politik, misalnya melalui politik profetik.
Prophetic politics adalah pendekatan politik yang berlandaskan pada nilai-nilai kenabian, moralitas, keagamaan, dan etika universal.
Konsep ini menolak pandangan politik Machiavellian yang menghalalkan segala cara demi kekuasaan.
Sebaliknya, politik profetik memandang politik bukan sebagai alat pemuas syahwat kekuasaan, melainkan sebagai instrumen suci untuk menegakkan keadilan, membela kaum tertindas, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Sebaliknya politik sirup, ketika pemberian menggantikan gagasan
“Politik sirup” bukanlah soal sirup. Ia adalah metafora tentang politik transaksional—ketika dukungan politik coba dibangun melalui pemberian material, bukan terutama melalui adu gagasan, program, dan rekam jejak.
Sirup hanyalah simbol. Bentuknya bisa berubah: sembako, uang, hadiah, fasilitas, atau berbagai pemberian lain. Persoalannya bukan terletak pada barangnya semata, tetapi pada relasi yang hendak dibangun di balik pemberian tersebut.
Ketika pemberian dimaksudkan untuk memengaruhi pilihan, politik dapat bergeser dari pertarungan gagasan menjadi transaksi kepentingan:
“Aku memberimu sesuatu hari ini, engkau memberikan dukunganmu nanti.”
Dalam pola semacam itu, pemilih berisiko dipandang bukan sebagai warga yang memiliki kehendak dan pertimbangan politik, tetapi sebagai suara yang dapat diperoleh melalui keuntungan sesaat.
Karena itu, lawan konseptual dari “politik sirup” bukan sekadar politik tanpa uang, melainkan politik nilai: politik yang menawarkan gagasan, keteladanan, pelayanan, keadilan, amanah, dan pertanggungjawaban kepada masyarakat.
Sirup habis setelah diminum.
Uang habis setelah dibelanjakan. Tetapi akibat sebuah pilihan politik dapat berlangsung bertahun-tahun.
Maka pertanyaan penting bagi setiap pemilih bukan hanya, “Apa yang saya dapat hari ini?” tetapi juga, “Nilai, kebijakan, dan masa depan seperti apa yang ditawarkan untuk esok?”







0 komentar:
Posting Komentar