Selasa, 03 November 2026

PERANG MU’TAH


Pendahuluan Perang Mu'tah merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah dakwah Rasulullah saw. Peperangan ini terjadi pada Jumadil Awal tahun ke-8 Hijriah (September 629 M) di Mu'tah, sebuah daerah di wilayah Balqa, Syam. Perang ini menjadi konfrontasi pertama antara kaum muslimin dan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Meskipun tidak menghasilkan kemenangan teritorial, Perang Mu'tah memberikan pengaruh besar bagi perjalanan dakwah Islam. Peristiwa ini menunjukkan keteguhan iman, keberanian, dan kualitas kepemimpinan para sahabat, sekaligus menegaskan bahwa kemenangan dalam Islam tidak hanya diukur dari hasil di medan perang, tetapi juga dari tegaknya prinsip, terjaganya kehormatan umat, dan kuatnya keimanan kepada Allah swt. 

 Pembahasan 

 1. Latar Belakang Perang Mu'tah 

bermula dari terbunuhnya Al-Harits bin Umair Al-Azdi r.a., utusan Rasulullah saw. yang membawa surat dakwah kepada penguasa Bushra di wilayah Syam. Dalam perjalanan, ia dihadang oleh Syurahbil bin Amr Al-Gassani, penguasa Balqa di bawah kekuasaan Romawi Timur, kemudian ditangkap dan dibunuh. Tindakan ini merupakan pelanggaran berat terhadap norma diplomatik sekaligus bentuk permusuhan terbuka terhadap negara Islam. Mendengar peristiwa tersebut, Rasulullah saw. mempersiapkan pasukan berjumlah tiga ribu orang untuk menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan itu. Pasukan ini merupakan kekuatan terbesar yang pernah beliau kirim sebelum Perang Tabuk, menunjukkan keseriusan beliau dalam menjaga kehormatan umat dan keamanan dakwah. Meskipun demikian, tujuan utama ekspedisi ini bukanlah peperangan atau perluasan wilayah. Rasulullah saw. memerintahkan agar penduduk setempat terlebih dahulu diajak masuk Islam. Peperangan hanya dilakukan apabila mereka tetap menolak dakwah dan melakukan permusuhan terhadap kaum muslimin. Perang Mu'tah menjadi pertemuan pertama antara kaum muslimin dan Kekaisaran Romawi Timur beserta sekutu-sekutunya dari kalangan Arab Nasrani. Peristiwa ini menandai babak baru hubungan negara Islam Madinah dengan kekuatan dunia, sekaligus menjadi awal terbukanya jalan bagi penaklukan wilayah Syam pada masa Khulafaur Rasyidin. 

 2. Wasiat Rasulullah saw. kepada Para Panglima Pasukan Sebelum pasukan diberangkatkan ke Syam, 

Rasulullah saw. menunjuk tiga orang panglima secara berurutan sebagai antisipasi apabila pemimpin sebelumnya gugur di medan perang. Panglima pertama adalah Zaid bin Haritsah r.a., kemudian Ja'far bin Abi Thalib r.a., dan selanjutnya Abdullah bin Rawahah r.a. Penunjukan ini menunjukkan pentingnya kesinambungan kepemimpinan dalam sebuah perjuangan. Rasulullah saw. menyerahkan panji kepada Zaid bin Haritsah r.a. dan memerintahkan pasukan untuk mendatangi tempat terbunuhnya Al-Harits bin Umair r.a. serta mengajak penduduk setempat kepada Islam. Apabila mereka menerima dakwah, peperangan tidak dilakukan. Sebaliknya, jika mereka tetap memusuhi kaum muslimin, pasukan diperintahkan untuk memerangi mereka. Sebelum keberangkatan, Rasulullah saw. juga berwasiat agar pasukan berperang di jalan Allah dengan tetap menjaga adab peperangan. Beliau melarang berkhianat, melakukan ghulul (menggelapkan harta rampasan perang), memutilasi mayat, membunuh anak-anak, perempuan, orang lanjut usia, para rahib, serta merusak pepohonan dan bangunan tanpa alasan yang dibenarkan. Wasiat tersebut menegaskan bahwa peperangan dalam Islam memiliki tujuan yang jelas dan dibatasi oleh aturan syariat. Bahkan dalam kondisi perang, kaum muslimin tetap diwajibkan menjaga amanah, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan tidak melampaui batas yang telah ditetapkan Allah swt. Dengan bekal itulah pasukan Islam berangkat menuju Mu'tah untuk menunaikan amanah Rasulullah saw. dan membela kehormatan agama. 

 3. Suasana Menjelang Peperangan 

 Pasukan Islam yang berjumlah tiga ribu orang bergerak menuju Syam hingga tiba di Ma'an, sebuah daerah yang menjadi pintu masuk menuju Mu'tah. Di tempat inilah mereka memperoleh informasi yang sangat mengejutkan. Heraklius, Kaisar Romawi Timur, dikabarkan telah mengerahkan sekitar seratus ribu pasukan. Jumlah tersebut masih ditambah dengan sekitar seratus ribu pasukan dari berbagai kabilah Arab Nasrani yang bersekutu dengan Romawi. Dengan demikian, kaum muslimin harus menghadapi kekuatan yang diperkirakan mencapai dua ratus ribu personel. Perbandingan kekuatan yang sangat mencolok ini membuat sebagian sahabat merasa perlu mempertimbangkan kembali langkah yang akan diambil. Mereka mengusulkan agar Rasulullah saw. diberi kabar mengenai kondisi tersebut sehingga beliau dapat mengirimkan bala bantuan atau memberikan keputusan baru. Usulan itu menunjukkan bahwa para sahabat bukanlah orang-orang yang bertindak tanpa perhitungan. Mereka memahami besarnya tanggung jawab yang dipikul dan menyadari bahwa menghadapi musuh dengan kekuatan yang jauh lebih besar merupakan persoalan yang sangat serius. Namun, di tengah suasana yang penuh pertimbangan itu, Abdullah bin Rawahah r.a. berdiri memberikan motivasi yang mengobarkan semangat seluruh pasukan. Beliau berkata, "Wahai kaumku, demi Allah, sesungguhnya apa yang kalian khawatirkan justru merupakan tujuan keberangkatan kita, yaitu meraih syahadah. Kita tidak memerangi musuh karena mengandalkan jumlah pasukan, kekuatan senjata, ataupun banyaknya perlengkapan. Kita berjuang membawa agama yang telah Allah muliakan. Karena itu, majulah! Sesungguhnya kita hanya menantikan salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau syahid di jalan Allah." Kata-kata tersebut mengubah suasana yang semula dipenuhi pertimbangan menjadi semangat yang membara. Para sahabat menyadari bahwa ukuran kemenangan dalam Islam tidak selalu ditentukan oleh besarnya jumlah pasukan, melainkan oleh keimanan, keteguhan hati, dan pertolongan Allah swt. Mereka pun sepakat melanjutkan perjalanan menuju Mu'tah dengan penuh keyakinan. Tidak ada lagi keraguan dalam hati mereka. Seluruh pasukan bergerak dengan tekad untuk menunaikan amanah Rasulullah saw., apa pun hasil yang akan mereka hadapi. 

 4. Jalannya Perang Mu'tah 

 Sesampainya di Mu'tah, kedua pasukan akhirnya berhadapan. Di satu sisi berdiri pasukan Islam yang hanya berjumlah tiga ribu orang. Di sisi lain, terbentang kekuatan besar Romawi Timur beserta sekutu-sekutunya yang jumlahnya berkali-kali lipat lebih banyak. Perbedaan kekuatan itu sama sekali tidak menggoyahkan keteguhan kaum muslimin. Mereka memasuki medan perang dengan keyakinan bahwa kehidupan dan kematian berada di tangan Allah swt. Sesuai amanat Rasulullah saw., komando pertama dipegang oleh Zaid bin Haritsah r.a. Beliau membawa panji Islam maju ke tengah pertempuran dan bertempur dengan keberanian yang luar biasa. Serangan musuh datang dari berbagai arah, tetapi Zaid tetap mempertahankan panji kaum muslimin hingga akhirnya gugur sebagai syahid. Setelah gugurnya Zaid r.a., panji segera diambil oleh Ja'far bin Abi Thalib r.a. Beliau bertempur dengan keberanian yang bahkan dikenang sepanjang sejarah Islam. Ketika tangan kanannya tertebas, beliau memegang panji dengan tangan kiri. Setelah tangan kirinya pun terputus, beliau memeluk panji tersebut dengan kedua lengannya agar tidak jatuh ke tanah. Ia terus bertahan hingga akhirnya gugur diterjang senjata musuh. Keberanian Ja'far r.a. menjadi salah satu kisah paling mengharukan dalam sejarah Islam. Ibnu Umar r.a. meriwayatkan bahwa setelah peperangan usai, ditemukan lebih dari sembilan puluh luka pada tubuh Ja'far r.a., seluruhnya berada di bagian depan tubuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa beliau terus menghadapi musuh dan tidak pernah membalikkan badan untuk melarikan diri. Setelah Ja'far r.a. gugur, kepemimpinan berpindah kepada Abdullah bin Rawahah r.a. Sebelum maju ke medan tempur, beliau sempat bermuhasabah terhadap dirinya sendiri melalui bait-bait syair yang terkenal. Syair tersebut menggambarkan pergulatan seorang mukmin antara kecintaan kepada kehidupan dan kerinduan untuk bertemu Allah swt. Abdullah bin Rawahah r.a. terus menguatkan dirinya hingga akhirnya mantap melangkah ke medan perang.

 

 Wahai jiwaku, bukankah engkau telah berikrar? Majulah ke medan juang, meski langkahmu masih enggan.

 

 Kala genderang perang ditabuh dan pekik pertempuran menggema, Mengapa kulihat engkau seakan berpaling dari surga? 

  

 Bukankah telah lama engkau hidup dalam kenyamanan? Padahal asalmu hanyalah setetes air yang tak berarti.

 

 Wahai jiwaku, jika hari ini engkau tidak gugur, Esok pun kematian tetap akan menjemputmu. Kini saat yang telah ditetapkan itu telah tiba. 

  ِ 

Inilah saat yang selama ini engkau dambakan. Ikutilah jejak dua sahabatmu, niscaya engkau memperoleh petunjuk dan kemuliaan. Dengan penuh keberanian beliau menerjang barisan musuh sambil membawa panji Islam. Tidak lama kemudian, beliau pun gugur sebagai syahid, menyusul dua panglima sebelumnya. Gugurnya tiga komandan utama dalam waktu yang berdekatan menjadi ujian yang sangat berat bagi pasukan Islam. Dalam keadaan demikian, Tsabit bin Arqam r.a. segera mengambil panji agar tidak jatuh ke tangan musuh. Ia memahami bahwa tetap tegaknya panji merupakan simbol kokohnya pasukan. Setelah mengamankan panji, ia menyeru kaum muslimin agar segera memilih panglima baru. Para sahabat sepakat menunjuk Khalid bin Walid r.a. sebagai pemimpin pasukan. Meskipun baru beberapa bulan memeluk Islam, Khalid telah dikenal sebagai ahli strategi yang sangat cakap. Penunjukan ini menunjukkan bahwa para sahabat lebih mengutamakan kemampuan dan kemaslahatan umat daripada pertimbangan senioritas. 

 5. Kepemimpinan Khalid bin Walid r.a. 

 Setelah diangkat sebagai panglima, Khalid bin Walid r.a. segera menyadari bahwa pertempuran terbuka hanya akan mengakibatkan gugurnya seluruh pasukan Islam. Karena itu, beliau menyusun strategi dengan mengubah formasi pasukan pada malam hari sehingga musuh mengira kaum muslimin telah mendapat bala bantuan. Strategi tersebut membuat pasukan Romawi ragu untuk melanjutkan serangan. Khalid kemudian memanfaatkan keadaan dengan melancarkan serangan balasan, lalu menarik pasukan Islam secara teratur menuju Madinah. Penarikan mundur ini bukanlah tanda kekalahan, melainkan langkah strategis untuk menyelamatkan kekuatan kaum muslimin agar dapat melanjutkan perjuangan pada kesempatan berikutnya. Keberhasilan menyelamatkan pasukan dari kepungan musuh yang jauh lebih besar menunjukkan kecerdasan dan kepiawaian Khalid bin Walid r.a. dalam memimpin peperangan. Atas jasa tersebut, Rasulullah saw. kemudian menganugerahinya gelar Saifullah Al-Maslul (Pedang Allah yang Terhunus), sebuah gelar kehormatan yang melekat sepanjang hidup beliau.. 

 6. Pasca Pertempuran

 Setelah berhasil melepaskan diri dari kepungan pasukan Romawi, Khalid bin Walid r.a. memimpin kaum muslimin kembali menuju Madinah. Secara lahiriah, ekspedisi ini tidak menghasilkan penaklukan wilayah. Namun, jika ditinjau dari sudut pandang militer dan politik, keberhasilan membawa pulang sebagian besar pasukan dari kepungan musuh yang jumlahnya puluhan kali lipat merupakan pencapaian yang sangat besar. Perang Mu'tah membuktikan bahwa kaum muslimin telah tumbuh menjadi kekuatan yang diperhitungkan oleh imperium terbesar pada masa itu. Untuk pertama kalinya, pasukan Romawi harus menghadapi tentara Islam dalam pertempuran terbuka. Meskipun memiliki keunggulan jumlah, mereka tidak mampu menghancurkan pasukan kaum muslimin sebagaimana yang diperkirakan sebelumnya. Para sejarawan menjelaskan bahwa korban syahid dari pihak kaum muslimin relatif sedikit apabila dibandingkan dengan dahsyatnya pertempuran yang terjadi. Sebagian riwayat menyebutkan delapan orang syuhada, sedangkan riwayat lain menyebutkan dua belas orang. Perbedaan tersebut merupakan hal yang lazim dalam kitab-kitab sirah, tetapi seluruh riwayat sepakat bahwa jumlah syuhada jauh lebih sedikit dibandingkan besarnya kekuatan musuh yang mereka hadapi. Imam Ibnu Katsir mengungkapkan kekagumannya terhadap hasil peperangan tersebut. Menurut beliau, sangat mengherankan apabila tiga ribu orang mampu menghadapi pasukan yang diperkirakan mencapai dua ratus ribu personel, sementara jumlah syuhada dari kaum muslimin hanya belasan orang. Hal itu merupakan bukti nyata pertolongan Allah swt. kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah swt. berfirman,

 "Betapa banyak golongan yang sedikit mampu mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 249) 

 Ayat tersebut menjadi gambaran yang sangat sesuai dengan Perang Mu'tah. Kemenangan sejati bukan semata-mata ditentukan oleh jumlah pasukan, melainkan oleh pertolongan Allah swt. yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki keimanan, kesabaran, dan keteguhan dalam menjalankan perintah-Nya. Di antara bukti dahsyatnya peperangan itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Khalid bin Walid r.a. sendiri. Beliau berkata, "Pada hari Perang Mu'tah, sembilan bilah pedang patah di tanganku. Tidak ada yang tersisa kecuali satu pedang buatan Yaman." Riwayat tersebut menunjukkan betapa sengitnya pertempuran yang berlangsung. Khalid bin Walid r.a. memimpin pasukan di garis depan hingga berkali-kali pedangnya patah akibat kerasnya pertempuran. 

 7. Kepulangan ke Madinah 

 Sebelum pasukan kembali ke Madinah, Rasulullah saw. telah mengetahui jalannya Perang Mu'tah melalui wahyu dari Allah swt. Beliau mengabarkan gugurnya Zaid bin Haritsah r.a., Ja'far bin Abi Thalib r.a., dan Abdullah bin Rawahah r.a. kepada para sahabat dengan penuh haru hingga air mata beliau mengalir. Hal ini menunjukkan bahwa menangis karena kehilangan orang yang dicintai merupakan fitrah manusia selama tidak disertai ratapan dan penolakan terhadap takdir Allah swt. Rasulullah saw. kemudian mendatangi keluarga Ja'far bin Abi Thalib r.a., memeluk anak anaknya, dan bersabda, "Siapkanlah makanan untuk keluarga Ja'far, karena mereka sedang disibukkan oleh musibah yang menimpa mereka." Hadis ini menjadi dasar anjuran untuk membantu keluarga yang sedang berduka. Ketika pasukan Islam memasuki Madinah, sebagian orang mencela mereka dengan mengatakan, "Wahai orang-orang yang lari dari medan perang!" Namun Rasulullah saw. meluruskan anggapan itu dengan bersabda, "Mereka bukanlah orang-orang yang lari, tetapi mereka adalah orang-orang yang akan kembali lagi untuk menyerang, insya Allah." Beliau menegaskan bahwa penarikan mundur yang dilakukan Khalid bin Walid r.a. merupakan strategi untuk menyelamatkan pasukan, bukan tanda kekalahan. Meskipun tidak menghasilkan penaklukan wilayah, Perang Mu'tah membuktikan bahwa kaum muslimin telah mampu menghadapi salah satu kekuatan terbesar dunia. Peristiwa ini sekaligus menjadi langkah awal yang membuka jalan bagi penaklukan wilayah Syam pada masa Khulafaur Rasyidin. 

 8. Pelajaran dan Hikmah Perang Mu'tah 

 a. Menjaga Kehormatan Umat Islam Perang Mu'tah diawali oleh pembunuhan Al-Harits bin Umair Al-Azdi r.a., utusan Rasulullah saw. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam tidak membiarkan kehormatan umat dan para dai direndahkan. Ketegasan Rasulullah saw. merupakan bentuk penegakan keadilan, bukan dorongan balas dendam. 

 b. Dakwah Didahulukan daripada Peperangan Sebelum memerintahkan berperang, Rasulullah saw. menginstruksikan agar penduduk terlebih dahulu diajak kepada Islam. Hal ini membuktikan bahwa tujuan utama Islam adalah menyampaikan risalah, sedangkan peperangan hanya ditempuh apabila semua jalan damai telah tertutup. 

 c. Kemenangan Berasal dari Pertolongan Allah Perbandingan tiga ribu pasukan Islam melawan kekuatan Romawi yang jauh lebih besar mengajarkan bahwa kemenangan tidak bergantung pada jumlah pasukan, tetapi pada keimanan, kesabaran, dan pertolongan Allah swt. 

 d. Semangat Syahid Melahirkan Keberanian Pidato Abdullah bin Rawahah r.a. membangkitkan semangat pasukan dengan mengingatkan bahwa seorang mukmin hanya menanti salah satu dari dua kemuliaan: kemenangan atau syahid. Keyakinan inilah yang menghilangkan rasa takut dari hati para sahabat. 

 e. Pentingnya Regenerasi Kepemimpinan 

 Penunjukan tiga panglima secara berurutan menunjukkan pentingnya kesinambungan kepemimpinan. Dakwah tidak boleh bergantung kepada satu orang, tetapi harus memiliki kader yang siap melanjutkan perjuangan. 

 f. Kepemimpinan Berdasarkan Amanah dan Kompetensi Tsabit bin Arqam r.a. tidak mempertahankan kepemimpinan, tetapi menyerahkannya kepada Khalid bin Walid r.a. yang lebih ahli dalam strategi perang. Peristiwa ini mengajarkan bahwa amanah harus diberikan kepada orang yang paling mampu, bukan kepada yang paling berambisi. 

 g. Ikhtiar dan Strategi Merupakan Bagian dari Tawakal Kecerdasan 

Khalid bin Walid r.a. dalam menyusun strategi berhasil menyelamatkan pasukan kaum muslimin. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal harus disertai dengan perencanaan dan ikhtiar yang matang. 

 h. Kepedulian terhadap Keluarga Syuhada 

Rasulullah saw. menghibur keluarga Ja'far bin Abi Thalib r.a. dan memerintahkan para sahabat menyiapkan makanan bagi mereka. Sikap ini mengajarkan pentingnya solidaritas sosial terhadap keluarga yang sedang tertimpa musibah. 

 i. Penutup 

 Awal Terbukanya Jalan Penaklukan Syam Walaupun tidak menghasilkan kemenangan teritorial, Perang Mu'tah mengguncang wibawa Romawi dan menunjukkan bahwa kaum muslimin telah menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Peristiwa ini menjadi pembuka bagi penaklukan wilayah Syam pada masa berikutnya. Perang Mu'tah menjadi bukti bahwa kekuatan iman, kepemimpinan yang baik, dan strategi yang tepat mampu menghadapi tantangan sebesar apa pun. Peristiwa ini mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya diukur dari hasil di medan perang, tetapi dari tegaknya prinsip, terjaganya kehormatan umat, dan ketaatan kepada Allah swt. Oleh karena itu, Perang Mu'tah tetap menjadi sumber inspirasi bagi setiap Muslim dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah dan kehidupan.