Senin, 03 Juni 2013

Barisan Dakwah Harus Solid

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Dalam Al Qur’an ada satu surah namanya Ash Shaf artinya barisan yang kokoh. Dalam shalat berjamaah disyaratkan barisan shaf harus lurus. Karena ketidak lurusan shaf akan menyebabkan hati bercerai-berai. Dalam ayat di atas kita temukan kata shaffa yang artinya barisan pasukan umat Islam harus lurus dan kokoh, ka’annahum bunyaanun marshush (mereka seperti bangunan yang kuat, tidak tergoyahkan).
Amal Yang Paling Dicintai Allah
Imam Al Qurthuby meriwayatkan bahwa ayat di atas turun ketika para sahabat bertanya: law na’lam ayyul a’maali ahabbu ilallahhi la’amilnaahu (seandainya kami tahu amal yang paling Allah cintai niscaya kami akan melakukannya) lalu turunlah ayat di atas.
Benar ayat ini berkenaan dengan masalah barisan perang, tetapi pada dasarnya semua barisan sama. Baik itu barisan dalam shalat maupun barisan dalam dakwan apalagi dalam perang, itu harus solid. Karena itu Rasulullag saw. selalu mengingatkan sebelum shalat agar barisam shaf diluruskan. Bahkan Rasulullah saw. tidak pernah memulai shalatnya sampai semua barisan shaf benar-benar rapi. Perhatikan betapa makna soliditas barisan ini benar-benar sangat penting, sebagai cerminan ketaatan bagi orang-orang yang beriman.
Dari firman Allah di atas: innallaaha yuhibu nampak bahwa Allah benar-benar sangat mencitai barisan yang solid. Artinya sekalipun seseorang banyak melakukan ibadah ritual, seperti shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi jika dalam akhlaknya seahari-hari merusak persatuan umat Islam, itu semua tidak akan membuat Allah cinta kepadanya. Perhatikan Allah mengkaitkan cinta-Nya dengan soliditas barisan. Bahwa untuk meraih cinta Allah seorang hamba harus bersatu dengan saudaranya. Tidak boleh saling menjatuhkan, menjelekkan hanya karena perbedaan fikih atau jamaah, apalagi saling membunuh.
Karenanya kita menemukan contoh-contoh yang sangat mengagumkan dari tradisi para ulama, bahwa mereka sekalipun berbeda mazhab fikih, mereka saling menghormati di antara mereka.
Imam Ahmad mengatakan: “Aku tidak akan menjelekkan orang-orang yang mengatakan bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu’ sekalipun itu sependapat dengan aku.”
Imam Syafi’ie tidak membaca qunut ketika menjadi imam di tengah masyarakat yang bermadzhab Hanafi. Ketika di tanya mengapa ia tidak membaca qunut, padahal baginya sunnah muakkadah dalam shalat subuh, Imam Sya’fii menjawab, “Aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifah.”
Perhatikan, betapa para ulama benar-benar memahami bahwa perbedaan fikih tidak boleh menyebabkan lahirnya fanatisme buta, bahkan harus saling menghormati antar satu dengan lain. Ini antara berbagai madzhab, bahwa solidaritas keumatan itu harus ditegakkan, apalalagi dalam satu jama’ah atau organisasi dakwah yang jelas-jelas semuanya berbuat untuk menegakkan ajaran Allah swt.
Mengapa soliditas barisan ini termasuk amal yang paling dicintai Allah?
Pertama, bahwa dari soliditas akan lahir kekompakan.
Dari kekompakan akan lahir sinergi yang berkesinambungan. Bukankah kita hidup di alam ini karena sinergi yang utuh antar seluruh unsur yang Allah ciptakan di dalamnya. Dalam ilmu biologi itu di kenal dengan ekosistem. Perhatikan bahwa semua proses dalam hidup kita sehari-harti sangat membutuhkan soliditas. Dalam tubuh kita, kita temukan bahwa semua organ bekerjasama dengan solid, sehingga kita merasakan nikmatnya. Sungguh tidak terbayang apa yang akan kita rasakan jika masing-masing organ dalam tubuh kita bekerja sendiri-sendiri dan bercerai-berai. Berdasarkan ini nampak bahwa soliditas itu fitrah. Dan kita semua tidak akan pernah menghindarinya. Sekali menghindar kita pasti akan menderita, bahkan itu akan menyebabkan malapetaka bagi kemanusiaan. Karena itu menegakkan soliditas dalam usaha apa saja -apalagi dalam usaha dakwah- adalah suatu keniscayaan. Maka sungguh berdosa ketika seseorang mengaku beriman kepada Allah, sementara dalam menegakkan ajaran-Nya tidak solid, apalagi saling membunuh antar sesamanya.
Kedua, soliditas barisan adalah bagian dari iman.
Perhatikan ayat sebelumnya, Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk berfirman: limaa taquuluuna maa laa taf’aluun artinya (wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan). Maksudnya mengapa kalian mengaku beriman jika kalian tidak mau bersatu dalam barisan yang kokoh. Ini menarik untuk kita tekankan. Sebab fenomena perpecahan di kalangan umat Islam kini di anggap biasa. Padahal menurut ayat di atas menegakkan persatuan yang solid adalah ciri utama keimanan. Dengan kata lain bahwa tidak ada artinya iman yang dimiliki seseorang jika kemudian saling bemusuhan sesama mu’min. Bahkan dalam surah Al Hujurat:10 Allah berfirman: innamal mu’minuuna ikhawatun, kata innama dalam pandangan ulama tafsir lilhashr maksudnya identifikasi. Artinya bahwa seorang yang beriman identik dengan persaudaraan. Maksudnya tidak pantas seseorang mengaku beriman jika kemudian tidak bersaudara antara satu dengan lainnya. Sama dengan ayat di atas, bahwa tidak pantas seseorang mengatakan bahwa dirinya beriman jika dalam prakteknya tidak bersatu dalam barisan yang kokoh.
Ketiga, bahwa tidak solid dalam barisan dakwah adalah perbuatan dosa.
Perhatikan Allah berfirman pada ayat sebelumnya: “Amat dibenci oleh Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”. Lalu Allah menegaskan bahwa sangat suka kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dengan barisan yang solid. Artinya bahwa syarat untuk mendapatkan cinta Allah, bukan hanya semata berjuang di jalan-Nya, tetapi juga harus bersatu dalam satu barisan yang solid. Ini pemahaman yang banyak orang Islam salah pahami, sehingga mereka tidak mau bersatu dengan umat Islam lainnya. Padahal shalatnya masih sama, kiblatnya juga masih sama, Allah yang disembah pun juga masih sama. Akibatnya mereka mudah di adu domba. Tidak sedikit dari nyawa orang Islam yang melayang hanya karena perang saudara.
Bagai Satu Bangunan Yang Kokoh
Pada ayat berikutnya Allah berfirman: ka’annahum bunyaanun marshush (mereka seperti bangunan yang kokoh). Apa artinya:
Pertama, bahwa masing-masing bahan bangunan itu berkualitas baik.
Tidak mungkin bangunan itu tegak kokoh jika batu batanya rapuh atau kualitas pasir dan semennya tidak baik. Bagitu juga dalam dakwah, bahwa masing-masing individu harus mempunyai iman dan keikhlasan yang benar-benar berkualitas. Di sini peran tarbiyah dan pembinaan harus dioptimalkan.
Kedua, bahwa bahan-bahan bangunan itu bukan hanya baik secara individual melainkan harus bisa disinergikan dengan bahan-bahan lainnya.
Artinya bahwa kualitas masing-masing aktifis dakwah hendaknya bukan hanya baik secara individu, melainkan ia mampu bersinergi dengan orang lain. Itulah rahasia mengapa Allah mengumpamakan dengan bangunan. Bahwa seorang muslim tidak cukup hanya menjadi sholeh sendirian, melainkan ia harus bersinergi untuk membuat orang lain beramal shaleh. Dalam rangka ini sangat dibutuhkan soliditas barisan dakwah.
Ketiga, bahwa bangunan dikatakan kokoh bila bertahan lama, dan tidak mengalami kerapuhan di tengah musim apapun panas atau hujan.
Begitu juga barisan dakwah dikatakan solid bila ia tetap utuh, tidak terpengaruh dengan rayuan dan godaan apapun. Pun juga tetap istiqamah memegang prinsip sekalipun situasi dan kondisi memaksanya harus berubah. Ia tidak pernah bubar barisan sebelum ada komando bubar barisan. Itulah rahasia mengapa Allah swt. mengumpamakan dengan bangunan yang kokoh. Karena bangunan akan melindungi dan bisa memberikan rasa aman kepada penghuninya bila ia kokoh dan solid. Wallahu a’lam bishshawab.


Bersiaga Menanti Tugas


Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al Anfal: 60)
Kemenangan merupakan anugerah Allah swt. yang sangat berharga. Ia juga menjadi harapan orang yang sedang berjuang. Bagi mereka yang berada di medan juang kemenangan amat dinanti-nanti segera tiba. Mereka ingin kemenangan itu jadi dekat. Akan tetapi perlu diketahui bahwa kemenangan tidak akan datang secara ujug-ujug. Melainkan ada beberapa persoalan yang patut untuk dilakukan agar bisa menghadirkannya.
Kemenangan bagian dari ketentuan Allah swt. atas urusan hamba-Nya (Qudratullah). Dia yang
Maha Tahu akan nasib yang dialami ciptaan-Nya. Dia pula yang berhak untuk memberikan kemenangan ataupun menundanya. Kemenangan dari Allah swt. pasti datangnya baik di dunia ataupun akhirat. Sehingga tidak ada kamus kekalahan di hati para pejuang.
Namun kemenangan itu datang dengan jalan-jalan yang akan memuluskan kehadirannya. Melalui upaya maksimalitas manusia (ikhtiyar basyariyah). Adapun mereka yang telah melakukan upaya yang maksimal untuk mencapai prasyarat kemenangan, maka kemenangan menjadi haknya. Oleh karena itu ikhtiyar basyariyah juga menjadi bagian yang harus diperhitungkan oleh mereka yang menunggu-nunggu kemenangan. Ikhtiyar basyariyah yang optimallah yang perlu dibangun dalam perjuangan ini agar kememangan itu menjadi hak yangmutlak.
Bila para dai yang sedang berada di barisan terdepan dalam medan perjuangan ini memahami akan hakikat kemenangan dari dua hal di atas, maka sikap utama dari diri mereka tidak lain adalah sikap siap untuk digerakkan dalam menunaikan sebuah operasionalisasi dakwah ini (isti’dad lil amal). Adapun upaya yang mesti dilakukannya sebagai berikut:
1.      Kesanggupan untuk dimobilisasi (Al Qudrah li tanfidz)
Kesanggupan dimobilisasi dengan cepat dalam berbagai keadaan merupakan watak para pahlawan Islam dalam memenangkan dakwah di medan peperangan. Sikap ini secara umum memang perilaku prajurit sejati. Kesanggupan diri membuat mereka berani maju menghadapi tugas dan amanah dakwah sekalipun berat rasanya. Baginya tidak ada pilihan lain kecuali kemenangan yang hakiki. Hidup mulia atau mati syahid.
Semangat Abdullah bin Rawahah RA. yang berapi-api di Bagi seorang prajurit yang siap, memikul tugas dan tanggung jawab adalah kemuliaan. Sehingga mereka akan mengerahkan segenap kemampuan untuk tetap berada di garis tugasnya. Berbalik ke belakang sama artinya dengan mewariskan keburukan dan kekalahan. Karena itu mereka berupaya untuk menunaikannya dengan sebaik-baiknya.
Perang Muktah memacu keberanian para sahabat sehingga mampu mengobarkan kepahlawanan mereka. Membuat jiwa para sahabat lebih mencintai harumnya syurga dari pada pulang kembali ke Madinah. Padahal mereka ke pos lain karena tidak suka pada tugas yang harus dikerjakan sehari-hari. Ada pula yang minta terus berada pada posnya karena penghasilan dan fasilitas yang ia dapatkan. Akhirnya tugas harus menghadapi musuh dengan jumlah dan kekuatan yang besar. Kecintaan pada hari akhirat menjadi landasan sikap mereka menyongsong tugas mulia. Dan modal itulah kaum muslimin memenangkan pertarungan dan mewariskan perilaku keimanan yang sebenar-benarnya kepada generasi berikutnya.
Hari yang kita lalui saat ini tampak sangat jelas. Karena jelasnya tugas dan amanah yang mesti kita tunaikan. Bila kita runut tugas itu satu persatu maka akan kita dapati begitu banyak tugas yang menanti kita. Tugas itu sedang antri untuk diselesaikan. Masalahnya adalah siapakah gerangan yang akan menunaikannya. Apalagi jika ditinjau dari waktu yang tersedia untuk penyelesaiannya, maka ia memerlukan kader dakwah yang amat banyak.
Dalam situasi dan kondisi yang pelik dimana tugas dan waktu saling berlomba. Maka perilaku dai sejati untuk selalu siap dimobilisasi harus dikedepankan dari pada sikap gamang untuk menunaikannya. Karena kegamangan dalam melaksanakan tugas sering menghambat kemampuan untuk berpartisipasi aktif dalam menunaikan tugas mulia tersebut. Sikap gamang bagi kader dakwah merupakan batu sandungan yang harus segera disingkirkan. Dan yang perlu dihidupkan adalah sikap untuk selalu sanggup dimobilisasi dengan cepat dalam berbagai situasi. Selanjutnya menempati pos-pos yang lowong dengan sabar dan disiplin.
Pada jihad siyasi banyak pos-pos dakwah yang perlu diisi dengan segera. Karena waktu dan tugas yang perlu diselesaikan saling mendahului. Kader dakwah mesti tanggap dengan kemampuannya dan pos yang ada. Sehingga bisa segera mengistijabahi tugas-tugas mulia tersebut.
2. Bersabar berada di pos-pos dakwah (As Shabru fi ‘aba’i ad da’wah)
Berada pada pos dakwah terkadang banyak kendala dan cobaan. Baik yang menyenangkan maupun yang menyulitkan. Ini memang ujian dakwah yang diberikan Allah swt. pada kita untuk menilai sejauh mana tingkat kesabaran dan kesetiaan prajurit sejati pada tugasnya. Serta keberhasilannya dalam menjalankan amanah yang diberikan padanya.
Adakalanya berada pada pos-pos tugas membosankan bahkan menegangkan karena beban yang berat. Namun adakalanya juga menyenangkan karena fasilitas dan pendapatan yang menggiurkan. Tidak jarang kita jumpai orang yang minta dipindahkan itu dinilai dari kesenangan material.
Kaum muslimin pernah mengalami pelajaran pahit di medan Uhud. Ini mesti menjadi catatan mahal umat Islam. Tatkala pos-pos tugas itu dinilai dengan pandangan kesenangan material maka berakibat fatal bagi mereka. Sebab pos-pos yang harusnya dijaga dengan sabar dan disiplin, akhirnya ditinggalkan begitu saja. Kekosongan pos tugas itu menjadi peluang musuh untuk mengkocar-kacir barisan kaum muslimin hingga porak poranda. Dan kerugianlah yang diperolehnya.
Padahal Rasululah saw. mengingatkan mereka dengan komandonya: “Berjagalah di pos kalian ini dan lindungilah pasukan kita dari belakang. Bila kalian melihat pasukan kita berhasil mendesak dan menjarah musuh, janganlah sekali-kali kalian turut serta menjarah. Demikian pula andai kalian melihat pasukan kita banyak yang gugur, janganlah kalian bergerak membantu.” (HR. Bukhari)
Kasus Uhud menjadi ibroh (pelajaran) berharga bagi orang-orang beriman. Cukup sekali saja hal itu terjadi. Tidak boleh terulang lagi apalagi sampai berulang-ulang. Oleh karena itu bekal kesabaran dan keteguhan hati perlu terus dipasok jangan sampai berkurang sedikitpun. Panglima Saad bin Abi Waqqas r.a. menyerukan pasukan yang akan menghadapi tentara Persia dengan instruksinya: “Tempati pos kalian dan bersabarlah, karena kesabaran menjadi jalan kemenangan.”
Bagi kader dakwah ketika sudah menempati pos tugasnya, ia akan menjaganya dengan baik. Ia tidak akan tergiur sekejappun untuk meninggalkannya. Ia juga tidak tergoda oleh kesenangan material yang mengganggunya. Namun ia akan terus berada pada posnya dengan penuh kesabaran. Sebagaimana Sang Junjungan telah mengingatkan bahwa, “Prajurit yang baik adalah bila ditugaskan di bagian belakang, maka ia ada di tempatnya. Bila ia ditugaskan di barisan terdepan, maka ia pun ada di tempatnya.” (HR. An-Nasai).
3. Siap siaga menyongsong tugas (Al Istijabah lil amal)
Bila peluit sang komandan telah dibunyikan, berarti tugas-tugas harus segera diselesaikan. Kesiagaan menyongsong tugas menjadi indikasinya. Dari sana kadang menang dan kalah dapat diperkirakan. Mereka yang siap siaga artinya mereka siap menghadapi situasi apapun. Akan tetapi mereka yang lengah berarti mereka akan menjerumuskan dirinya pada jurang kebinasaan.
Kesiagaan kader dakwah indikasi kesiapannya untuk bertarung. Tentunya, siap di segala sektor. Kesiapan ruhiyah, fikriyah, jasadiyah dan nafsiyah. Dengan kesiapan yang demikian, maka dapat dipetakan kekuatan diri dan musuhnya. Dan seberapa besar kendala yang peluang kemenangan yang akan didapatinya.
Manakala kesiapan itu sudah begitu gamblang di hati kaum muslimin dan kader dakwah secara khusus, maka Allah swt. yang akan memback-upnya. Yang Maha Kuat dan Perkasalah yang akan menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki kader dakwah apabila sudah digerakkan sejak awal.
“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfal: 17)
Yang menjadi persoalannya adalah apakah kader dakwah saat ini seluruhnya sudah siap siaga menyongsong tugas atau masih asyik termangu dengan kebingungannya. Semuanya kembali pada diri masing-masing. Akan tetapi yang perlu diingat adalah bila kader dakwah belum siap siaga menyongsong tugas jangan berharap hari esok lebih baik dari kemarin.
Generasi Qur’ani masa lalu menjadi umat terbaik bukan terletak pada keberadaan Rasul bersama mereka. Melainkan sikap mereka terhadap Qur’an dan sikap mereka secara keseluruhan yang siap siaga menerima tugas dan perintah. Bila saat itu disodorkan amanah tugas, maka saat itu pula mereka kerjakan tanpa reserve. Nah, kalau begitu sikap mereka itulah yang perlu kita ulang pada diri kita saat ini. Karena tugas dan instruksi komandan untuk jihad siyasi saat ini begitu sangat jelas.
4. Pantang Mundur (Adamul dubur)
Bila pertarungan sudah di hadapan, hanya satu sikap saja yang dilakukan, yaitu maju ke depan. Tidak boleh ada kata mundur atau balik ke belakang. Karena mundur artinya kekalahan. Dan kekalahan adalah kehinaan bagi kader dakwah di dunia dan akhirat. Allah swt. sudah menegaskan: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al Anfal: 15 -16)
Bagi kader dakwah tugas mulia menjadi jalan mulus untuk masa depan. Ia tidak akan pernah berpikir balik ke belakang. Ia akan maju terus menyongsong masa depan. Begitulah kemenangan kaum muslimin di berbagai tempat, termasuk di Eropa. Panglima Thariq bin Ziyad menyampaikan pidatonya di hadapan para prajurit, “Wahai kaum muslimin di belakangmu lautan lepas, tidak ada lagi perahu yang akan membawa kalian ke negeri kampung halaman. Dan di depanmu musuh menghadang. Tidak ada pilihan lain untuk kemenangan kecuali maju ke hadapan songsong musuh dengan hati lapang. Sambut tugas dengan ringan.”
Menghadapi kenyataan ini, keberanianlah yang perlu kita perbesar. Berani karena benar dan berani karena membawa misi kesucian. Kader dakwah pemberani dalam melaksanakan tugas dapat menjadi pintu kegemilangan. Khususnya kegemilangan dakwah di negeri dambaan ini.
5. Tidak bermaksiat (Adamul Ma’shiyah)
Kemenangan dan kekalahan yang dialami kaum muslimin sangat dipengaruhi oleh perbuatan para prajuritnya. Kemaksiatankah atau ketaatan. Kemaksiatan dapat menjadi penyebab kekalahan dan ketaatan dapat membawa kemenangan.
Para pemimpin Islam selalu mewasiatkan untuk mewaspadai perilaku kemaksiatan kadernya. Karena kemaksiatan yang dilakukan satu orang dapat berakibat buruk bagi yang lainnya. Kemaksiatan yang dilakukan seorang kader dakwah harus lebih ditakuti daripada besarnya jumlah dan kekuatan musuh. Sebab maksiatan membuat Allah swt. menjauhi mereka. Dan tidak akan memberikan bala bantuan-Nya.
Catatan hitam dari kasus Uhud pun terjadi lantaran kemaksiatan sebagian prajurit muslim. Mereka tidak mematuhi perintah Rasulullah saw. karena tergiur dengan rampasan perang yang berserakan di depan mereka. Lalu mereka meninggalkan bukit Uhud dan mengumpulkan ghanimah tersebut. Akhirnya pos yang kosong itu segera diambil alih musuh sebagaimana yang diingatkan Allah swt.
“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Iman: 152)
Cukuplah Uhud menjadi pelajaran besar bagi kita. Satu hal yang perlu dicamkan. Jangan pernah bermaksiat sedikitpun ketika pertarungan telah di hadapan. Kemaksiatan lobang jurang kebinasaan dan kehinaan dunia dan akhirat.
Manakala anashir-anashir kemenangan tersebut dapat terealisir di jiwa para kader dakwah, maka pertolongan dan bala bantuan yang dijanjikan Allah swt. akan tampak nyata di depan mata. Kemenangan tersebut menjadi hak bagi para pejuang (nashrullah wal futuhat). Sebagaimana kemenangan dan penaklukan Kota Mekkah, banyak musuh-musuh dakwah yang tunduk terhina di hari itu dan segera menjadi pengikut Nabi saw. dan kemuliaan orang beriman sebagai pakaian para pejuang yang dahulu telah memberikan investasinya pada dakwah ini. Dan kita telah memahaminya bahwa hal itu melalui proses yang panjang dan rumit. Wallahu ‘alam bishshawab.


Isra' Mi'raj




“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Al-Isra:1)
Wahai umat Islam…
Wahai umat manusia seluruhnya…
Wahai para penguasa dan pemimpin semuanya…
Ketahuilah bahwa masjid Al-Aqsha merupakan kiblat pertama bagi umat Islam; yang dibangun dimuka bumi yang di dalamnya penuh dengan kebarkahan  untuk seluruh alam; bumi para nabi, tempat diturunkannya risalah dan bumi jihad dan persatuan hingga hari pembalasan.
Dan masjid Al-Aqsha juga merupakan salah satu dari tiga masjid yang ditekankan untuk dikunjungi; seperti yang disebutkan oleh Abu Hurairah dia berkata bahwa nabi saw bersabda:
لا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلا إِلَى ثَلاثَةِ مَسَاجِدَ : الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى
“Janganlah ditekadkan untuk berkunjung (rihlah) kecuali kepada tiga tempat; Masjid Haram, Masjidku (masjid Madinah) dan masjid Al-Aqsha”.
Sebagaimana masjid Al-Aqsha juga merupakan pintu langit dan tempat pertemuan para nabi; yang di dalamnya terdapat ikrar yang agung dalam muktamar pengakuan akan kepemimpinan nabi Muhammad saw terhadap para nabi lainnya pada saat malam Isra dan Mi’raj; karena bai’at yang dilakukan oleh mereka merupakan penegasan akan janji para nabi dan para rasul yang harus ditunaikan dan menjadi ikatan perjanjian sumpah yang diambil oleh Allah atas mereka. Seperti yang termaktub dalam firman Allah:
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آَتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil Perjanjian dari Para nabi: “Sungguh, apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya” Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.  (Ali Imran:81)
Isra memberikan pernyataan akan hak kita atas bumi Palestina
Tentunya telah sama-sama kita ketehui bahwa pertikaian yang terjadi di seputar bumi yang penuh berkah ini akan terus terjadi disepanjang zaman dan masa, dan setiap umat akan terus mengklaim hak kepemilikian terhadap bumi tersebut, hak merasa ingin menguasai dan mengambil alih pengelolaannya, dengan alasan sesuai dengan keyakinan agama mereka; karena Nabi mereka -seperti yang mereka duga- diturunkan di bumi tersebut dan mereka menginjakkan kakinya disana, dan sejarah menjadi saksi akan kebenaran peristiwa tersebut.
Bukankah telah kita saksikan sajarah perang salib yang berlangsung lama dan bahkan masih terus berlangsung hingga saat ini, mereka berusaha mengambil kembali rumah mereka yang menjadi saksi tempat lahirnya nabi Isa al-masih!! Dan tidakkah kita telah menyaksikan kebiadan dan keberingasan para zionis yang ngotot untuk kembali ke negara mereka dengan mengklaim sebagai tempat haekal nabi Sulaiman. Sebagaimana seluruh umat Islam dan Arab khususnya mengklaim sebagai pemilik bumi tersebut, dan tidak ada yang berhak bagi yang lainnya mengaku sebagai pemilik.
Dan sesungguhnya Islam mewajibkan atas umatnya menjadikan bumi Palestina berada di bawah kekuasaan umat Islam dan berada dibawah perlindungan mereka; sehingga jalan menuju masjid Al-Aqsha menjadi aman dan terbuka bagi yang lainnya, sebagai tempat yang ditekankan untuk dikunjungi, dan tidak ada seorangpun yang boleh menghalangi orang lain yang ingin berknjung ke tempat tersebut, dan bagi mereka –kristen dan yahudi- terhadap tempat yang suci tersebut ingin mengagungkannya dan berkunjung ke tempat tersebut; maka Islam akan menghormatinya, melindunginya dan tidak menghalangi mereka; baik sejak dahulu hingga saat ini dan bahkan selamanya tidak akan menghalangi mereka; karena Islam adalah agama yang satu yang berusaha hidup damai dengan penganut agama lainnya, tanpa ada paksaan untuknya terhadap apa yang  diyakini dan memberikan toleransi untuk menjalankan dan menunaikan syiar-syiar agama yang dianutnya. Walaupun selain Islam tidak pernah memandang orang lain secara baik kecuali hanya pada dirinya sendiri, karena itu mereka berusaha menghantam dan memerangi setiap umat yang memusuhinya dan berseberangan dengannya.
Tauladan bagi dunia
Bahwa posisi menjadi imam dihadapan para nabi di bumi quds pada saat malam Isra merupakan petunjuk penyerahan kepemimpinan untuk umat ini (umat Islam). karena jika para nabi saja mengikuti nabi kita Muhammad saw dan menunaikan shalat dibelakangnya; maka bagi para pengikutnya –jika mereka benar-benar jujur dalam keimanan mereka terhadap nabi dan menjadi pengikut mereka- harus mengikuti nabi saw dan menjadikannya sebagai imam; apalagi kitab-kitab yang ada di tangan mereka telah memberikan pernyataan dan kabar gembira melalui lisan nabi Isa bin Maryam:,
وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
“Dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (As-Shaff:6)
Dan dunia, juga hendaknya mengetahui dan mendengar bahwa umat manusia seluruhnya akan hidup dalam kedamaian dan ketenangan serta ketentraman saat berada dibawah naungan Islam oleh karena keadilannya, kebebasannya, kesamarataannya dan rahmatnya yang tidak membedakan antara manusia dalam bentuk keyakinan dan jenis, warna dan tingkatannya, dan seluruh manusia dihadapan islam adalah sama, sehingga seluruhnya dapat menikmati apa yang mereka keyakinan, tenang dan nyaman untuk tidur dipembaringannya yang empuk, tidak ada air mata yang mengalir di pipi dan wajah mereka dan tidak ada darah yang mengalir di jalan-jalan.
Dan pada masa mendatang, boleh jadi dunia tidak akan mengenal kata-kata istiqrar (stabilitas) dan amn (kedamaian), selama bumi Palestina belum kembali kepada pemiliknya -yaitu Islam-, dan selama kepemimpinan dunia berada ditangan orang-orang kotor yang mengabaikan akan nilai-nilai kemanusiaan dan akhlak mulia, yang hanya melakukan ketenangan hidup untuk kemaslahatan diri sendiri dan sedikit sekali diantara mereka yang mau bekerja untuk kemaslahatan bangsa dan umatnya sekalipun dikecam oleh umat lainnya.
Kurangnya Perhatian Al-Quds Merupakan Tanda Iman Yang Terluka
Bahwa bumi Palestina dan Al-Quds merupakan bagian dari aqidah umat islam; selama hayat masih di kandung badan dan roda kehidupan masih berjalan dimuka bumi ini, walaupun harus berhadapan dengan berbagai rintangan dan ujian. Dan al-quds merupakan bagian dari sejarah umat Islam yang masih memiliki ikatan yang erat terhadap akidah yang terpatri di dalam hati dan jiwa; sehingga menjadikan al-Quds terpatri dalam jiwa yang mendalam dan mengalir di dalam tubuh seperti halnya darah yang mengalir dalam tubuh manusia sepanjang hari. Sebagaimana juga al-quds merupakan bagian dari kemenangan umat Islam dan berbagai kemenangan yang tidak berhenti insya Allah.
Dan jika al-Quds merupakan hak bagi kaum muslimin seperti yang termaktub dalam nash Al-Qur’an; maka mengabaikan isi yang ada di dalamnya merupakan pengabaian terhadap kitab Allah dan peradaban umat serta aqidah dan turatsnya, dan menyerahkan seluruh isinya kepada Yahudi dan yang lainnya, walaupun hanya sekedar diam dan berupa pengakuan saja terhadap hak-hak yang diambil oleh orang lain yang tidak memiliki hak atas kepemilikan terhadap perseorangan, lembaga atau negara, setelah Allah menyerahkannya kepada umat Islam dan bahkan telah menetapkannya seluruhnya dari apa-apa yang terdapat di dalamnya, dan jika diserahkan kekuasaan terhadap orang lain selain Islam, maka hal tersebut merupakan penistaan terhadap bumi Quds dan dianggap telah mengabaikan hak umat Islam atas bumi tersebut dan bahkan merupakan sejarah bagian dari memadamkan cahaya matahari pada siang bolong, sehingga akan menjadi sarana penistaan terhadap akidah umat Islam yang tidak sudi berada dibawah kehinaan. Dan mereka yang setuju dengan kondisi tersebut dan tidak memiliki usaha untuk merebut kembali hak yang telah dirampas, atau berusaha untuk membebaskan negeri tersebut dari najis penjajahan zionis yang keji, yang di dukung oleh kekuatan Amerikan yang jahat, zhalim dan pembantai.
Hak-hak Kita Tidak Boleh Lepas Walau Hanya Melalui Ketetapan PBB
Hendaknya umat Islam dan orang-orang beriman meyakini bahwa mengembalikan bumi yang disucikan, dan menjaga kehormatan dan darah dari tangan-tangan najis zionis, yang mana hal tersebut tidak akan sempurna dengan hanya melalui kesepakatan yang dibuat oleh PBB dan melalui perundingan-perundingan; karena zionis tidak mengenal kata damai kecuali hanya dengan kekuatan, dan tidak akan kembali dari kesesatan dan kezhaliman mereka kecuali jika dengan merebut al-quds kembali dari tangan mereka. Dan tentunya hal tersebut tidak akan terwujud kecuali dengan jihad yang suci dan pengorbanan yang paripurna.
Pada suatu saat kita semua harus meyakini bahwa kita akan berjalan menuju itu, mengangkat bendera jihad di jalan Allah, tentunya dengan maju ke medan perang (jihad), untuk mendapatkan syahadah dan kenikmatan surga yang luasnya melebihi luasnya langit dan bumi. Dan niscaya pada suatu saat hal tersebut akan terwujud di tengah-tengah kita. Sedangkan zionis dan kelompok dan negara yang menyokong dan membantunya harus menyadari bahwa kita akan menuju kesana –al-quds- untuk mengembalikan hak-hak umat; sehingga ketakutan dan rasa cemas akan terus menyelemuti jiwa mereka dan pulang menuju asal mula mereka datang, dan sehingga bumi Palestina bersih dari najis, kejahatan dan kerusakan mereka, dan tidak ada yang menetap disana kecuali penduduk dan warga Palestina yang asli; baik yang beragama Islam, Masehi (Kristen) dan Yahudi;  yang semuanya dilindungi oleh adanya keadilan Islam, persamaan hak dan kebebasan berkeyakinan.
وَاللّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
”Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf:21)
Al-Quds; bencana dan cita-cita
Bahwa Al-Quds saat ini merupakan sumber bencana, namun juga merupakan cita-cita umat pada hari esok, dan kejatuhan Al-Quds di tangan para penjajah merupakan puncak bencana atas bangsa arab dan umat Islam, sebagaimana juga merupakan puncak kehinaan dan kelemahan, namun pada waktu yang bersamaan -hal tersebut- merupakan cita-cita bagi yang berpegang teguh pada kesatuan juhud (perjuangan) umat; melalui jalur keimanan kepada Allah dan jihad di jalan-Nya; sehingga ditulis baginya kemenangan yang nyata, dan Allah telah menjanjikan kepada kita untuk masuk ke masjid Al-Aqsha dengan aman :
وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوا تَتْبِيْرًا
“Dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”. (Al-Isra:7)
Sebagaimana Allah juga menjanjikan kepada kita akan kemenangan yang nyata:
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”. (Ar-Ruum:47)
Adakah Keberanian Bangsa Arab dan Kemarahan Umat Islam Terhadap Musuh?
Sungguh menakjubkan akan permasalahan blokade terhadap umat Islam di perkampungan Abu thalib; karena selain tidak disetujui oleh sebagian pemuka Arab dan para pembesarnya yang memiliki keberanian dan wibawa; sehingga mereka berusaha mendobrak kepungan dan memberikan kepada keluarga mereka makanan dan pakaian, dan bahkan salah seorang dari mereka bergerak memberikan semangat kepada para lelakinya dan simpul-simpul Arab untuk tidak boleh menyerah sehingga mampu menghancurkan blokade. Namun apakah ada dari para penguasa dunia yang maju menyuarakan hak umat kepada bangsa Arab sebelum Islam?! dan apakah kita mendengar dari pemuka umat Islam dan pemimpin dunia yang merdeka mengiklankan diri untuk membebaskan warga dari blokade di Gaza dan membawakan kepada mereka bekal makanan, memberikan obat-obatan dan pakaian serta bahan bakar untuk memasak dan juga membantu mereka untuk kembali mendapatkan hak mereka dari para perampas?!
Dari blockade menuju Isra
Dari peristiwa isra dapat kita ambil pelajaran penting sehingga mampu mendorong kita untuk tsabat dan membangkitkan cita-cita pada ikhwan kita di Palestina; karena ketika orang-orang musyrik sudah putus asa untuk bisa mengalahkan Rasulullah saw dan orang-orang yang bersamanya, dan tidak mampu mengembalikan mereka pada kekufuran; mereka berfikir untuk melakukan blockade terhadap umat Islam, dan pada selanjutnya Allah membukakan untuknya pintu langit, sehingga bisa pergi ke Al-Quds dan naik ke atas langit, dan tidak berjalan dalam waktu yang lama sampai Islam menjadi negara yang ditakuti dan disegani serta diperhitungkan:
حَتَّى إِذَا اسْتَيْئَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا
“Sehingga apabila Para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada Para Rasul itu pertolongan Kami”. (Yusuf:110)
Bahwa hal demikian merupakan seruan bagi ikhwah kita di Palestina untuk terus bersabar dan teguh terhadap cobaan blockade, sekalipun masanya panjang namun pada akhirnya nanti zionis Yahudi dan Amerika akan jatuh beserta orang-orang yang mengambil keputusan terburu-buru karena takut musibah menimpa mereka atau khawatir terkalahkan. Sebagaimana hal tersebut juga merupakan kabar gembira bahwa lembaran-lembaran blockade pasti akan dicabik-cabik dan dirobek-robek oleh Allah dan kekuasaan-Nya, dan kemudian dengan keteguhan dan jihad kalian, akan terwujud kemenangan Allah yang dijanjikan, dan tamkin (kejayaan) bagi agama Allah dengan syarat adanya ubudiyah kepada Allah dan tidak mensyirikan bersama-Nya seorangpun :
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (An-Nuur:55)
Sesungguhnya umat Islam saat ini membutuhkan untuk kembali kepada Allah secara kaffah (totalitas) dan bersegera menuju iman yang jujur dan benar, sebagaimana mereka juga membutuhkan jiwa yang besar pada penghindaran diri dari pertikaian dan perpecahan, dengan saling bersatu diantara mereka dan berpegang teguh dengan kitab Allah, mengenali musuh-musuh mereka yang ada disekitarnya, membuat peta dan sterategi untuk menghadapi permusuhan mereka; berdasarkan pada tsawabit iman dan nawamis (undang-undang) kemenangan yang tidak bisa berubah dan berganti.
Dan hendaknya kita semua kembali kepada risalah yang akan datang isnya Allah.
Allah akbar dan segala puji hanya milik Allah..
Dan segala puji sekali lagi hanya miliki Allah Tuhan semesta alam.