Jumat, 21 Agustus 2015

Makna Qurban dan Peduli Kepada Sesama




Nabi Ibrahim AS secara simbolik telah dijadikan referensi sepanjang zaman akan makna qurban. Ibrahim diuji karena kecintaannya kepada anaknya yang besar yang berlebihan, ia seakan melalaikan Tuhan. Dalam wahyu, Ibrahim dapat perintah untuk menyembelih putra yang paling dicintai, Ismail. Ibrahim berhasil menunaikan perintah akan menyembelih putranya itu. Tapi Ismail kemudian tak jadi tewas terbunuh karena diganti seekor kambing jantan.
Ismail tak jadi korban ”wahyu” dari ayahnya karena Ismail hanya sarana menguji keimanan Ibrahim. Intinya, yang dituju dalam momentum qurban adalah bagaimana menunjukkan ketauhidan kita secara ideologis dan sosial; vertikal dan horizontal.
Secara tegas dinyatakan dalam Alquran (al-Hajj: 37) bahwa Allah tidak membutuhkan daging-daging binatang qurban, melainkan ketaqwaan. Disinilah kemudian taqwa dalam spirit qurban tebaca dan ter-eja secara filosofis dalam upaya kita menyembelih nafsu-nasfsu kebinatangan, sebagaimana binatang disembelih dalam ritual paling tua di dunia itu.
Kontekstualisasi taqwa dalam qurban terletak pada sejauh mana umat Islam bisa mengajak kepada saudaranya yang kurang untuk merasakan kenikmataan daging binatang ternak yang mungkin saja belum tentu bisa dirasakannya setiap saat kecuali dalam momen-momen bahagia saja. Berbeda dengan puasa yang meng - ajak setiap kita merasakan dahaga kelaparan saudara-saudara kita yang kurang mampu.
Pada saat yang sama, golongan umat Islam yang mampu menunaikan haji juga diajak untuk menghayati spiritualitas qurban kala ia melaksanakan tahapan lempar jumrah aqabah.
Pesan melempar jumrah tak berhenti pada formalitas ritual haji belaka, bahwa di sana para haji diajak untuk melempar musuh-musuh mereka (setan) agar tak terlalu membelenggu upaya diri menuju kecerdasan spiritual dan sosial.
Kecerdasan sosial dan spiritual sungguh kita harapkan muncul sebagai kesadaran massal di tengah kondisi ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan yang ”tak terlerai” dari luapan masalah.
Tanpa kesadaran dan kecerdasan spiritual dan sosial, manusia akan jadi angkuh dan mementingkan diri sendiri.
Ritual qurban hadir untuk memberikan semangat yang mungkin saja akan luntur dalam landscape kehidupan kita yang egois, individualis dan serakah. Baik yang ada di tanah air maupun yang sedang menjalankan ibadah haji. Kita diajak untuk memberi sesuatu yang kita punya dan kita cintai kepada orang lain yang membutuhkan.

Haji dan spirit qurban


Seorang kaya raya bernama Ibnul Mubarok melakukan haji sunnah, yakni haji yang dilakukan bukan pertama kali. Dalam perjalanan, dia bertemu dengan seorang anak perempuan kurus mengambil seekor burung yang sudah mati (bangkai). Ibnul Mubarok bertanya ihwal kejadikan aneh itu. Dia bertanya mengapa mengambil burung yang sudah mati, apa tujuannya.
Anak perempuan itu menjawab kalau dia sudah tiga hari tidak makan dan adik-adiknya di rumah kelaparan. Burung bangkai itu akan ia jadikan santapan gratis karena tak mampu membeli kebutuhan makanan.
Tersentuh, Ibnul Mubarok membatalkan hajinya dan memberikan ongkos naik hajinya untuk keluarga anak malang itu. Itulah yang namanya qurban dalam pengertian spirit. Haji yang sifatnya formal dibatalkan untuk melakukan korban amal kepada orang-orang yang tidak mampu, seperti tamsil anak perempuan itu.

Oleh karena itulah, haji yang sekadar untuk menaikkan gengsi sosial dan status spiritual tidak akan menjadikan mabrur (baik) dan mabruk (berkah) kalau spirit kepedualian sosial, sebagaimana dalam qurban, tak menyatu dalam penghayatan filosofis kita.
Dalam masyarakat kita, terjadi salah kaprah berpikir, bahwa kalau orang sudah berqurban dianggap sudah memberikan kontribusi besar kepada agama dan masyarakat. Begitu juga, kalau orang sudah haji, rukun Islam dianggap sudah sempurna dan dosa-dosanya tertebus sewaktu masih di Makkah dan Madinah.

Qurban hanya sarana menjalin komunikasi secara vertikal dan horizontal saja. Karena Tuhan tidak membutuhkan daging, status, dan pahala kita. Allah tidak membutuhkan Ibrahim dan Ismail. Kita yang membutuhkan cinta kepedulian sesama.

Saudaraku
Jika kita menginginkan sebuah tatanan yang ideal dalam kehidupan bermasyarakat, maka kepedulianlah yang menjadi kunci terciptanya harmonisasi di dalamnya yang pada akhirnya kita mengharapkan dapat memPerkecil Kesenjangan Sosial di tengah tengah masyarakat kita.

Dengan itu harapan kita semua dapat mewujudkan generasi :
Qur'ani,Ukhuwah, Religius, Berkah, Amanah dan Nyata

0 komentar:

Posting Komentar