Minggu, 02 Oktober 2022

Cara agar Sholat Khusyu

 






1. Menyiapkan diri sebelum sholat
Persiapan itu dapat dilakukan dengan menyempurnakan wudhu, mengenakan pakaian yang baik dan bersih, bersegera menuju masjid dengan tetap tenang dan tawadhu dan menanti saatnya sholat ditegakkan dengan berdzikir atau membaca Alquran. Jangan mengerjakan sholat dengan terburu-buru.
2. Bersikap tenang dalam sholat

Para ulama biasa menyebutnya dengan istilah tumaninah. Lebih jelasnya adalah dengan menyempurnakan kembali posisi anggota tubuh dalam setiap gerakan sholat. Saat bertakbir, maka angkatlah tangan dengan tenang, lalu letakkan kembali pada posisinya secara sempurna, begitupun dengan gerakan-gerakan lain dalam sholat.
3. Sholatlah sembari mengingat kematian
Cara ini dianggap cukup ampuh agar sholat menjadi lebih khusyu. Dengan melepaskan semua ikatan-ikatan dunia serta menghadirkan kematian akan membuat seseorang berusaha memperbaiki sholatnya menjadi lebih baik.

4. Sedikit-sedikit berusaha memahami apa yang anda baca dalam shalat
Tanpa memahami maknanya, tidak sedikit umat Muslim yang tersentuh bahkan menangis ketika membaca dan mendengar lantunan ayat suci. Tapi akan jauh berbeda rasa dan kedalamannya bila memahami setiap makna yang terkandung di dalamnya.
Oleh karena itu, berusahalah untuk memahami sedikit demi sedikit arti dan makna bacaan dalam sholat agar mendapatkan kekhusyuan.
5. Bertaubat kepada Allah SWT
Sholat adalah momen di mana seorang hamba berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Manfaatkan momen ini untuk bertaubat atas perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari syariat. Dengan begitu, sholat seseorang akan lebih khusyu.
6. Sholat di awal waktu
Menunaikan sholat secara berjamaah di awal waktu akan sangat berimbas pada tingkat kekhusyuan seseorang dalam sholat. Sebab, waktu sholat masih panjang sehingga hati akan merasakan ketenangan dalam mengerjakannya. Berbeda halnya jika sholat dikerjakan di akhir waktu, sholatnya bisa jadi akan tergesa-gesa.

Sabtu, 01 Oktober 2022

Ada 5 Perkara Yang Dapat Mejadi Obat Hati

 




    Didalam Islam hati itu bukanlah sebuah organ tubuh manusia. Hati disini ialah tempat iman kita tumbuh dan tinggal di didalam sana. Hati pun yang membuat kita dapat  merasakan perasaan senang, sedih, marah, kecewa dan perasaan lainnya. Hati juga dapat disebut sebagai sarat yang akan menyimpan misteri. Dapat kita buktikan bahwa tidak semua orang yang berpenampilan baik akan baik pula hatinya, sebaliknya pun seperti itu. 

Hati juga dapat terserang oleh berbagai penyakit, bisa itu karena penyakit secara medis atau pun secara agama. Penyakit hati secara agama itu seperti iri, dengki, riya', sombong dan sifat buruk lainnya. Tapi tenang, penyakit hati ini pasti memiliki obatnya. Apalagi Islam menyakinkan bahwa segala penyakit yang ada pasti ada obatnya. Hal itu telah dijelaskan dlm firman Allah dalam Q.S.Yunus: 57, "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman."
Lalu apa saja obat hati tersebut. Mari simak dibawah ini.

1. Senantiasa  membaca Al-Quran dan maknanya
Al-Quran di ciptakan oleh Allah untuk menjadi kitab suci umat Islam sekaligus sebagai pedoman hidup umat Islam. Maka tidak heran lagi jika kita membaca Al-Quran akan membuat hati kita jauh lebih tenang dan damai. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra a: 82, yang artinya: "Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."

2. Sholat malam 
Sholat malam, sholat yang dilakukan seperti biasanya umat muslim sholat 5 waktu. Sholat malam ini seperti sholat tahajud, istikhorah, dan lain sebagainya. Di saat kita beribadah memanjatkan doa, insya Allah, Allah akan selalu dengarkan dan kabul kan doa kita tersebut. Dan tidak lupa juga bahwa ketika kita sholat berarti kita mendekatkan diri kita kepada Allah, hal itu yang membuat hati terasa damai dan tentram.

3. Berkumpul dengan orang sholeh
Singkatnya seperti ini jika kamu ingin baik maka bertemanlah dengan orang yang baik juga, jika mau pintar maka bertemanlah dengan orang yang pintar juga. Jika kamu ingin salih maka berkumpul lah dengan orang yang salih juga.

4. Perbanyak berpuasa
Berpuasa merupakan sebuah ibadah yang biasa orang Islam lakukan apalagi di bulan Ramadhan. Dengan kita menahan lapar dan hawa nafsu, kita jika dapat menahan diri dari hal-hal yang dapat menyakiti dan mengotori hati. Sering-seringlah berpuasa supaya kita selalu terhindar dari perbuatan yang tidak baik.

5. Dzikir malam 
"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya." Q.S.Al-Ahzab: 41. Dengan kita perbanyak dzikir, semakin kita mengingat Allah yang membuat kita akan menjauhi larangan nya.

Jumat, 30 September 2022

9 Orientasi Membangun Indonesia

 





1. Intergralitas .

Menyadari bahwa Indonesia sangat beragam budayanya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah tepat untuk merangkul seluruh potensi yg ada mewujudkan Indonesia Sejahtera. Saatnya kita bersatu


2. Nasionalis 

Nilai yang harus kita hidupkan untuk selalu mencintai bangsa ini. Dan dangan tekat yang kuat ingin membangun dan memberikan potensi terbaiknya untuk membangun bangsa. Saatnya kita bekerja.


3. Dedikasi

Tidak hanya sekader berkarya, tetapi memberikan kinerja terbaik. Saudaraku, bangsa ini jika ingin maju, setiap individu harus mendedikasikan potensi kita masing masing, sehingga tidak ada satupun dari unsur negri ini yang tidak bekerja. Jadilah Pioneer Kemajuan Sedunia.


4. Optimis

Ibarat sebuah kendaraan, makna optimis adalah bahan bakar kita untuk mencapai visi yang ingin kita cita citakan. Optimis negri kita bisa bersaing dengan negara lain, optimis NTB bisa bersaing dengan provinsi lain, sehingga satu saat kita berhasil memecahkan berbagai permasalahan dengan solusi yang sistematis.


5. New Image

Menampilkan image baru yang akan merubah pandangan orang lain atau negara lain, kita sebagai bangsa yang punya keunggulan dalam hal Sumber Daya Alam, juga mampu mengelolanya dengan memberdayakan Sumber Daya Manusia seoptimal mungkin, mewujudkan Indonesia baru dengan sejuta ide dan sejuta produktifitas.


6. Eksistensi

Menunjukkan eksistensi bahwa Indonesia telah hadir sebagai salah satu negara di dunia, bangkit dari segala keterpurukan yang datang mendera, menjadi solusi terhadap banyak masalah yang dihadapi negeri ini.


7. Solid

Membangun negara, tentu tidak bisa dilakukan tanpa adanya kerja selaras dia antara seluruh elemen bangsa, sehingga kesolidan dalam bekerja, kesolidan dalam berproduktifitas antara pemerintah, legislatif, yudikatif dan masyarakat sipil dan militer menjadi kunci utama mencapai kemajuan, sehingga energi tidak habis untuk melakukan perseteruan di antara unsur unsur tersebut.


8. Inovatif

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pada era globalisasi ini persaingan dalam segala bidang semakin ketat. Apalagi dalam dunia ekonomi dan bisnis, semakin hari persaingan menjadi semakin ketat. Tidak ada cara lain untuk bertahan dan memenangkan persaingan kecuali dengan mengembangkan sikap kreatif dan inovatif. dengan bersikap kreatif dan inovatif, kita akan menjadi “beda” dengan yang lain, menjadi unik dan akan berpotensi menjadi yang terdepan dalam persaingan bisnis dan usaha yang semakin ketat. Sikap kreatif dan inovatif pada dasarnya dimiliki oleh setiap orang, namun tidak semua orang mampu mengembangkannya. Untuk bisa mengembangkan sikap kreatif dan inovatif diperlukan suatu kesungguhan dan ketekunan.


9. Action

Bila ditelusuri lebih dalam, etos kerja adalah respon yang dilakukan oleh seseorang, kelompok, atau masyarakat terhadap kehidupan sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Setiap keyakinan mempunyai sistem nilai dan setiap orang yang menerima keyakinan tertentu berusaha untuk bertindak sesuai dengan keyakinannya. Bila pengertian etos kerja re-definisikan, etos kerja adalah respon yang unik dari seseorang atau kelompok atau masyarakat terhadap kehidupan; respon atau tindakan yang muncul dari keyakinan yang diterima dan respon itu menjadi kebiasaan atau karakter pada diri seseorang atau kelompok atau masyarakat. Dengan kata lain, etika kerja merupakan produk dari sistem kepercayaan yang diterima seseorang atau kelompok atau masyarakat.

Selasa, 06 September 2022

JIWA MILITANSI ... PASTIKAN KITA SEMANGAT

 



Semangat, gairah, dan ketangguhan atau "jiwa militan" dalam sebuah perjuangan merupakan buah  dari proses Kaderisasi yang teratur, terukur dan  berkesinambungan. 

Karenanya militansi kader dakwah hanya akan didapat bila kader memiliki Keyakinan, Kecintaan, Pengorbanan, dan Kesabaran yang mumpuni dalam mengemban amanah da'wah. 


Apa itu keyakinan?

Keyakinan adalah suatu sikap alamiah manusia dalam mempercayai sesuatu.

Sedang kepercayaan adalah keadaan psikologis pada saat seseorang menganggap suatu premis itu benar. 


Ada beberapa keyakinan yang harus dimiliki: 


1. Keyakinan bahwa da'wah yang kita emban sejatinya merupakan estafet dari da'wah rasulullah. Hal ini bisa dikaitkan dengan sabda nabi saat haji wada':

“Alâ fal yuballighal syâhidu minkum ul ghâib….(ketahuilah! Agar hendaknya orang-orang yang hadir (mendengar) saat ini menyampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir!)”. 


2. Keyakinan akan kebenaran apa yang diperjuangkan yaitu agama Allah. Firman Allah: 

"Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang (harus) mereka amalkan, maka tidak sepantasnya mereka berbantahan dengan engkau dalam urusan (syariat) ini, dan serulah (mereka) kepada Tuhanmu. Sungguh, engkau (Muhammad) berada di jalan yang lurus." (al Haj: 67) 


3. Keyakinan bahwa kalimat dawah adalah kalimat yang paling mulia. Sebagaimana firman Allah:

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, "Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)." 

(Fushilat: 33) 


4. Keyakinan  bahwa kemenangan berasal 

dari Allah. Keyakinan ini sangat penting ditengah maraknya politik uang. Keyakinan ini akan mendorong kita untuk lebih bergantung pada Rabbul Asbab. Ketergantungan kepada Rabbul asbab akan  menjadikan asbab asbab kemenangan lain, menjadi kurang bernilai atau hanya menjadi suplemen saja. 


Janji Allah ini tertuang dalam firman Allah, diantaranya, surah Muhammad ayat 7:  


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ 


"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."  


Juga dengan ayat yang tiap hari kita wiridkan,

"Katakanlah: 'Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

(Ali ‘Imran Ayat 26) 


Boleh jadi, KH. Hasan meminta agar ayat ini dibaca setiap hari oagi dan sore, agar tertanam dalam hati sanubari kita bahwa pemilik dan pemberian kemenangan adalah Allah, maka bergantungkah kepada Allah, jangan bergantung kepada uangnya konglomerat apalagi cuma janji bantuan dana konglomerat...

Selain Keyakinan, untuk memupuk jiwa militan juga membutuhkan tumbuhnya rasa cinta dan pengorbanan. Dengan cinta, seseorang akan merasa ringan untuk berkorban. Bukan hanya berkorban waktu, tenaga dan harta, tetapi juga jiwa.

Jadi kalau sekarang ini kita susah menentukan waktu untuk pertemuan atau berkegiatan, boleh jadi jiwa tadhiyah kita sedang sangat rendah.

Tadhiyah menjadi tanda totalitas dan ketulusan dalam dakwah. Tadhiyah menuntut untuk mendahulukan kemaslahatan Islam dibanding kepentingan pribadi jika bertentangan.

KH. Hasan berkata barang siapa bersantai-santai saja ketika bersama kami, maka ia berdosa. Karema Allah telah berfirman: 


"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka." (At-Taubah: 111) 


Selanjutnya sabar dan tsabat. 

Apa itu sabar?

Ustadz Hilmi, menjelaskan sabar itu bukan nrimo sambil mengelus dada, tetapi sabar itu adalah kemampuan menahan fitnah, godaan dan tekanan sambil melihat atau mencari peluang untuk lepas dan membalasnya. 


Yang harus kita fahami bahwa

situasi yang kita hadapi sekarang adalah mata rantai dari ujian-ujian dakwah sebelumnya. Adalah sunatullah bahwa dakwah akan terus di rekayasa untuk dikerdilkan bahkan dilenyapkan kalau bisa. 

Begitulah sunatullah nya, tetapi yang penting bagi kita adalah bagaimana kita mampu membuktikan bahwa kita bisa mengatasinya dengan kerja nyata. 


Kita sebagai dai dan daiyah diperintahkan oleh Allah SWT jika menghadapi sesuatu yang sulit dan menghimpit, untuk cepat segera kembali kepada Allah (fafirruu ilallah..). Kemudian tuntaskan solusinya dengan mentadabburi konsep Allah. Sebagaimana perintahNya:

“Afala yatadabbarunal Qur’an am ‘ala quluubin aqfaluha.” 


Dengan men-tadabur ayat-ayat Allah ini, maka dalam menghadapi berbagai masalah, fitnah, ancaman dan makar, kita akan menemukan solusi dan bekal yang dibutuhkan, yaitu sabar dan tsabat. 


Sehingga kita bisa menjadi Atsbatu mauqifan (menjadi orang yang paling teguh pendirian/paling kokoh sikapnya) 


At-Tsabat (keteguhan) adalah tsamratus shabr atau buah dari kesabaran, yang juga harus kita miliki. 

Tsabat sebagai buah sabar ini mengingatkan kita akan sikap dan sifat orang-orang yang beriman yang dikisahkan dalam al Quran:  


{ وَكَأَیِّن مِّن نَّبِیࣲّ قَـٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّیُّونَ كَثِیرࣱ فَمَا وَهَنُوا۟ لِمَاۤ أَصَابَهُمۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا۟ وَمَا ٱسۡتَكَانُوا۟ۗ وَٱللَّهُ یُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِینَ }

(Ali 'Imran: 146) 


"Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." 


Bila sabar kita bisa membuahkan tsabat maka akan membuat kita tenang, rasional, obyektif dan mendatangkan kepercayaan Allah untuk memberikan kemenangan kepada kita. 

Hanya saja, kita perlu memahami bahwa sikap tsabat (keteguhan) ini kadang-kadang menimbulkan kekerasan (sikap keras) oleh karenanya perlu diimbangi dengan yang sikap arhabu shadran, berlapang dada.

Allah berfirman: 


“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. (QS. 16:127-128) 


 Dalam ayat yang lain:

"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka." (Qs. Al-Ahqaaf: 35) 


Wallahua'lam bi shawab

Kamis, 18 Agustus 2022

BAHAGIA ITU SEDERHANA

 




1. Bahagia itu Berbagi Cerita Bersama Teman


Mempunyai teman yang mendukung dan akrab dengan kamu bisa jadi anugrah paling indah yang ada di hidupmu. Kamu bisa menangis, tertawa, bercanda, dan riang bersama. Momen-momen bersama mereka sering kali kamu abadikan dalam foto dan video.


Biar begitu, tak banyak yang menyangka bahwa punya kawan merupakan kebahagiaan tersendiri dalam hidup. Kamu bisa dekat dengan seseorang yang mengerti kamu dan memahami serta menerima kamu apa adanya. Rasanya, tak ada kebahagiaan lain yang bisa diungkapkan jika sudah bersama kawan-kawan. Travelling jadi hal yang mengasyikan dan membahagiakan ketika dilakukan dengan mereka.


2. Bahagia itu Berkumpul Bersama Keluarga


Siapa yang selalu ada ketika kamu susah dan senang, guys? Yup, jawabannya keluarga. Tak ada harta yang lebih berharga selain keluarga, Untuk itulah, waktu-waktu bersama keluarga jadi hal paling bahagia untuk kamu buat dalam hidup. Keluarga jadi semangat untuk kamu bertahan dalam masalah silih berganti. 


Untuk itu, buatlah hidupmu semakin berbahagia dengan membuat keluargamu semakin bahagia. Tawa canda mereka tentu tawa candamu juga. Jadi, jangan biarkan waktu bahagia bersama keluarga lewat begitu saja tanpa kamu menyadari bahwa merekalah yang sudah mendukungmu apa adanya. 


3. Bahagia Itu tetap Produktif 


Banyak orang mendapatkan kebahagian ketika berhasil menghasilkan sebuah produktifitas yang bisa dinikmati oleh orang lain, mungkin salah satunya kamu. Apalagi, ketika karya itu dipuji dan diapresiasi sebagai sebuah karya yang bagus. Wah, perasaannya luar biasa bahagia!


Untuk itu, kamu juga harus mendorong dirimu untuk membuat karya dan diingat orang sebagai salah satu pembuat karya terbaik. Apapun dan dimanapun bidangmu, kamu bisa mendapat bahagia dengan membuahkan karya yang bisa dinikmati oleh orang lain. 


4. Bahagia itu Dicintai dan Dihargai


Siapa yang tak suka dicintai dan dihargai? Semua orang, termasuk kamu, akan berbahagia ketika merasa dicintai dan dihargai kehadirannya di suatu tempat atau komunitas. Perasaan itu bisa jadi 2x lipat ketika kamu bisa memberikan kontribusi yang maksimal untuk orang-orang di sekitar kamu. 



Biar begitu, definisi bahagia ini tak bisa kamu dapatkan serta merta. Kamu harus berjuang sehingga orang lain akan dengan sepenuh hati mencintai dan menghargai kehadiranmu di sana. Jika kedua hal dan perasaan ini sudah kamu dapat, hidupmu tentu akan semakin indah dan bahagia dengan definisi bahagia yang tepat.


5. Bahagia itu Belajar Dari Kesalahan


Sebagai seorang manusia, semua orang tak pernah luput dari kesalahan. Hal itu sudah menjadi suatu hal yang biasa. Namun, hal yang luar biasa jika kamu bisa belajar dari kesalahan itu dan memberikan efek positif dari hidupmu ke depannya.


Hidupmu tentu akan lebih berbagia ketika kamu bisa melakukan hal yang lebih baik lagi yang berawal dari kesalahan. Yang lebih membahagiakan adalah ketika hasil pembelajaran kamu itu mendapat pujian dari banyak orang. Pasti seneng banget deh!


6. Bahagia itu Memberi


Jika kamu mencari arti dan definisi dari bahagia, mulailah dengan sering memberi. Kamu pasti akan merasakan sebuah perasaan dimana bangga dan senang bahwa kamu bisa berguna bagi orang lain, terutama mereka yang hidup dalam kekurangan. 


Kamu tak perlu punya banyak uang atau harta dulu untuk memberi. Hal-hal kecil seperti berbagi makanan atau berbagi ilmu juga baik untuk kamu lakukan. Kebahagiaanmu tentu akan berlipat ganda ketika kamu melihat ilmu yang kamu berikan membantu orang lain untuk merubah hidupnya. 

7. Bahagia itu Menjadi Diri Sendiri


Definisi lain dari bahagia adalah menjadi diri sendiri dan bebas menjadi apa yang kamu mau. Kamu merasa bahwa semua yang kamu lakukan itu baik untuk mencapat life goals kamu. Kamu tidak merasa bahwa untuk disenangi orang lain, kamu perlu merubah bagaimana adanya dirimu. 


Kamu bebas mengatur hidupmu dengan arah dan tujuan hidupmu tanpa ada orang lain yang mencoba mencampuri dan mempengaruhi dirimu. Eitsss... jangan lupa. Kebebasanmu juga tetap dalam lingkaran aturan dan norma yang berlaku.  


8. Bahagia itu Sehat 


Last but not least, semua pasti akan setuju bahwa kebahagiaan hakiki didapat ketika kamu merasa sehat walafiat dalam menjalani hidup. Kamu bebas melompat, berlari, berjalan, atau melakukan hal yang kamu senangi. Kamu menikmati semuanya dengan kesehatan kamu. 


Jika tubuh kamu terjaga kesehatannya, kamupun bebas melakukan apapun, termasuk melakukan hal yang berat seperti hiking ataupun diving. Dengan tubuh yang sehat, kamu bisa menikmati segala yang orang mungkin tak bisa lakukan.

Selasa, 16 Agustus 2022

Kalimat Terlarang Bagi Pengusaha,

 




Jangan pernah Katakan 5 Hal ini.


1. SAYA TIDAK BISA

Ketika Kata Ini Di Ucapkan Kerja Otak Kita Menutup Untuk Mencari Jalan Keluar, Namun Sebaliknya Jika SAYA BISA Maka Otak Akan otomatis Bekerja Keras Mencari Jalan Keluar.


2. TIDAK MUNGKIN

Ketika Kata Ini Di Ucapkan Maka Kita Sudah Tidak Percaya Lagi Dengan Muk'zizat Tuhan. Karena Semua Hal Yang Ada Di Dunia Ini Berasal Dari Sesuatu Yg Belum Ada. (Contoh : Lampu, Pesawat, Terbang Ke Bulan dll)


3. SAYA SUDAH TAHU

Ketika Kata Ini Di Ucapkan Maka Ego Kita Akan Meningkat Dan Hati Kita Langsung Menutup Diri Untuk Belajar. Padahal Sejatinya Ilmu Yang Baru Itu Harus Dipelajari.


4. NANTI SAJA

Ketika Kata Ini Di Ucapkan Maka Akan Memicu Rasa Malas Dan Akhirnya Terjadilah Penundaan. Mereka Yang Menunda Akan Melemahkan Antusias Dan Akan Tersadar Ketika Baru Mendapat Musibah.


5. TAKUT RUGI

ketika kata ini diucapkan maka ini sama seperti tombak runcing menancap di dada anda. Anda akan selamanya dihantui oleh rasa takut untuk tidak berhasil. Anda tidak mampu memaksimalkan potensi yang ada pada diri anda. Maka selamanya hidup anda akan selalu berjalan di tempat

Kamis, 11 Agustus 2022

Ummat dan Kepemimpinan Global

 





Imam Shamsi Ali* 


Umat ini memang ditakdirkan untuk hadir dengan misi kepemimpinan. Dengan kata lain kepemimpinan adalah bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab keumatan. Sehingga dengan sendirinya umat harus mampu menampilkan diri sebagai pemimpin. 


Ada beberapa dasar keagamaan (religious basis) kenapa Umat ini hadir dengan tanggung jawab kepemimpinan itu. 


Pertama, karena Umat ini adalah “ummatan wasathan” atau Umat pertengahan. Kata wasathiyah tidak sekedar “imbang” di posisi pertengahan. Tapi minimal mencakup tiga karakter dasar: 


a. bahwa Umat ini adalah Ummah with excellence. Umat yang memiliki kelebihan dan keistimewaan. Tentu dalam arti positif. Bukan keangkuhan seperti keangkuhan rasial sebagian orang putih. 


b. bahwa Umat ini memiliki tunas yang kuat. “wisthus syajarah” juga bermakna tunas dari sebuah pohon. Umat ini tunasnya adalah iman yang tumbuh bagaikan pohon yang sehat dan kokoh. 


c. bahwa Umat ini adalah Umat dengan ketauladanan. Dan ketauladanan merupakan esensi kepemimpinan. Sebagimana Rasulullah sebagai “uswah” (juga dimaknai pemimpin) bagi Umat ini. 


Kedua, karena Umat ini adalah “Khaer Ummah” atau Umat terbaik. Kata “KhaerIyah” atau terbaik pada ayat ini sama dengan kata excellent pada ayat di atas. Bahwa Umat ini punya keistimewaan, kapasitas, potensi dan integritas untuk kepemimpinan itu.


Keadaan Umat di masa kini 


Melihat keadaan Umat masa kini tentu kita harus jujur bahwa posisi kepemimpinan itu telah lama hilang dari mereka. Realitanya Umat menjadi terpimpin (makmum) bagi orang lain, hampir dalam segala aspek kehidupan. 


Umat Muslim di negara-negara mayoritas Muslim pada umumnya bermental minoritas dan diperlakukan bagaikan minoritas. Seringkali justeru mereka yang di posisi minoritas mengontrol hampir semua lini kekuasaan. 


Umat Muslim di negara-negara minoritas Muslim masih menjadi bulan-bulanan mispersepsi bahkan phobia dari banyak pihak. Seringkali kesalah pahaman dan phobia itu menjadikan mereka menjadi target kekerasan, baik secara fisik maupun secara psikis.


Belum lagi tentang Umat yang memang jadi korban berbagai kezholiman di berbagai belahan dunia. Dari Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, hingga ke Myanmar dan Xingjian (Uighur) China, Kashmir dan India. Bahkan yang klasik dan semakin suram adalah Saudara-Saudara kita Palestina yang hingga detik ini masih menjadi target kezholiman penjajah Israel.


Secara umum Umat tidak saja menjadi makmum bagi Umat lain. Tapi menjadi korban dan mangsa bagi orang lain yang punya kepentingan. 


Faktor hilangnya kepemimpinan 


Tentu tidak mudah merincikan penyebab kenapa Umat ini kehilangan posisi kepemimpinan itu. Salah satunya karena Umat ini tidak monolith (bersifat tunggal). Umat ini sangat ragam dan memiliki kapasitas yang berbeda dan ragam pula. 


Namun secara ringkas dapat disebutkan beberapa faktor itu. 


Pertama, melemahnya akidah dan iman Umat ini. Sebuah pernyataan klasik dan umum. Tapi sesungguhnya memilki makna yang dalam. Dengan lemahnya akidah dan iman Umat, terporosot pula “izzah dzatiyah” atau self confidence (rasa bangga dan percaya diri) Umat. Akibatnya Umat merasa lemah dan terkalahkan sebelum dilemahkan dan dikalahkan oleh siapapun. 


Tragisnya hal itu terjadi dengan segala potensi Umat yang dahsyat. Baik itu potensi SDM (Umat beragama terbesar dunia), potensi SDA (potensi kekayaan alam dunia Islam) yang luar biasa, dan lain-lainnya. 


Kedua, kebekuan pemikiran Umat. Umat ini harusnya Umat yang berkarakter IQRA’. Yaitu Umat yang memiliki wawasan atau mindset yang luas (broaden). Sayangnya ciri keumatan yang mendasar ini melemah. Akibatnya Umat seringkali didominasi oleh tendensi sentimen atau emosi yang tidak terkontrol. Hal ini kerap melahirkan keadaan pahit Umat yang gampang menjadi mainan kepentingan orang lain. 


Ketiga, melemahnya karakter Umat yang bercirikan akhlakul karimah. Hal ini membawa kepada, tidak saja bahwa ketauladanan Umat melemah. Lebih buruk lagi Umat seringkali justeru menjadi hijab keindahan Islam di mata dunia.


Keempat, gagalnya Umat membangun shaf dalam kehidupan sosialnya. Membangun shaf bagi Umat ini  mendasar, baik pada sisi ritualnya maupun pada sisi kehidupan sosialnya. Secara ritual Umat hebat dalam membangun shaf. Masjid-masjid pun ramai. Haji antrian. Tapi secara sosial Umat ini tercabik-cabik bahkan saling merobek. 


Kelima, melemahnya semangat Dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar. Dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkar, menjadi salah satu “non official” pilar Islam. Sehingga kalau saja ada rukun Islam keenam, hal inilah yang menempatinya. Sekuat apapun Umat ini jika dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkin diabaikan pada akhirnya akan bertekuk lutut pada musuh-musuhnya. 


Tentu banyak faktor lainnya. Sebagai misal saja wawasan keagamaan yang terpenjara oleh aspek ritual. Saya menyebutnya dengan “ritual centric” dalam beragama. Juga ada kecenderungan “jalan pintas” masuk syurga. Banyak yang ingin mati di jalan Allah. Tapi tidak ingin hidup di jalanNya. 


Dua sisi kepemimpinan


Dan karenanya untuk Umat ini dapat meraih kembali kepemimpinan itu, baik kepemimpinan internal (imaman lil-muttaqin) maupun kepemimpinan global (imaaman linnas) Umat perlu mengembalikan semua Karakter utama Umat di atas.


Jika tidak maka Umat ini hanya akan mampu bahkan pintar bernostalgia dengan kegemilangan masa lalu. Sejarah pun menjadi kebanggaan. Tapi gagal mengembalikan kegemilangan sejarah itu. 


Wallahu Al-Musta’an wa ilahi at-tuklaan! 


Manhattan City, 10 Agustus 2022 


*Presiden Nusantara Foundation / NYCHHC Chaplain

Minggu, 07 Agustus 2022

AL-QUR'AN MEMBERIKAN SOLUSI TERILMIAH

 




BAYI TERTUKAR, AL-QUR'AN MEMBERIKAN SOLUSI TERILMIAH


Dua orang ibu di Amerika sama-sama melahirkan di waktu yang sama, yang satu melahirkan anak laki laki dan yang lain melahirkan anak perempuan.


Disebabkan kesalahan para perawat, mereka tidak tahu siapa yang melahirkan bayi laki laki, dan siapa yang melahirkan bayi perempuan.


Maka dilakukanlah cek darah untuk menentukan DNA, ternyata hasilnya begitu mirip (antara kedua ibu tadi). Hal ini membuat para dokter semakin bingung, sedang kedua ibu tadi terus ngotot masing-masing mengaku dialah yang melahirkan bayi laki laki, yang jelas para dokter memberi tahukan hal ini ke pihak yang bertanggung jawab di rumah sakit itu.


Sesampainya kabar itu pada pihak yang bertanggung jawab di RS itu, mereka langsung mengatakan: "Tidak ada yang bisa memecahkan masalah ini kecuali hanya orang-orang Islam", akhirnya mereka menghubungi salah satu ikhwah (saudara muslim) di Saudi yang mereka kenal dalam sebuah seminar, maka terjadilah dialog seperti ini:


Orang Amerika  "Bukankah Anda mengatakan bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya (di dalam Al-Qur'an)?"

Dokter Muslim : "Benar"

Maka dikisahkanlah kepada dokter Muslim tersebut tentang apa yang terjadi. Kemudian Dokter Muslim tadi berkata, "Jalan keluarnya sangat mudah...."


Ada yang tahu apa kira-kira solusi dari Al-Qur'an untuk masalah seperti ini???


Muslim : "Jalan keluarnya mudah, ambilah beberapa tetes air susu dari masing-masing ibu tersebut. Maka susu yang paling banyak mengandung nutrisi, itulah ibu yang melahirkan bayi laki-laki. Sedang susu yang mengandung lebih sedikit nutrisi, maka dialah ibu yg melahirkan bayi perempuan"


Maka para dokter pun mengambil sampel susu dari kedua ibu tersebut, mereka pun melakukan pengecekan. Dan benarlah ternyata mereka dapatkan perbedaan, dan akhirnya tahulah mereka siapakah ibu yang melahirkan bayi laki-laki, dan yang melahirkan bayi perempuan.


Hal ini sesuai dengan firman Allah:

"....Bagi seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan...."* 

(QS An-Nisaa: 11)


Masya Allah

Peristiwa ini juga memastikan bahwa sejak dlm kandungan laki2 dan perempuan itu berbeda dlm substansi nutrisinya, karena jumlahnya didalam air susu ibu saja jumlahnya 1 banding 2. Inilah bukti kebenaran Al-Qur'an. Selama ini pengertian dan pengetahuan kita hanya soal Warisan, ternyata lebih dari sekedar warisan. Maha benar Allah dengan segala FirmanNya.


Semoga bermanfaat.

Sabtu, 06 Agustus 2022

Motto perang di Jepang

 







Saat peperangan yang memanjang di Jepang, anak ini membawa adiknya yang telah mati di atas pundaknya untuk dimakamkan. Seorang tentara yang melihat keadaan ini seraya berkata: "Buang saja! Supaya kamu tidak capek". Si kecil menjawab: _*Dia tidak berat, dia adikku*_ 😭

Tentara mulai paham, lalu pecah tangisan. 

Sejak saat itu, gambar di atas menjadi simbol persatuan di Jepang. 

Alangkah indahnya itu bila menjadi motto kita semua:

*“Dia tidak berat, dia saudaraku”*

Jika dia jatuh, aku angkat...

Jika ia capek, aku tolong...

Jika ia lemah, aku kuatkan...

Jika dia salah, aku maafkan...

Jika seandainya saja semua meninggalkannya, akan aku bawa dia di atas pundakku, sungguh, dia tidak berat, ia saudaraku...

Jumat, 05 Agustus 2022

Memahami Generasi Z

 




Berdasarkan beberapa survei dan kajian, yang dirilis Kompas.com 17 agustus 2018, generasi yang lahir setelah tahun 1990 memiliki karakteristik sebagai berikut: 


1. Kecanduan Internet 


Pada perilaku ini, ARC (Alvara Research Center) membagi menjadi 2 kategori kecanduan internet yakni penetrasi pengguna internet di Indonesia dan pola penggunaan fitur-fitur smartphone. 


Di kategori penetrasi pengguna internet di Indonesia menunjukkan grafik paling tinggi sebesar 85,4 persen ada pada generasi milenial berumur 17-25 tahun. 


Sebaliknya responden berusia 46-65 tahun cenderung hanya menggunakan fitur telepon, wa dan SMS saja dalam smartphone nya. 


Sementara, responden berusia 17-25 tahun lebih memprioritaskan menggunakan fitur games, browsing, sosial media, dan messaging. 


Generasi milenial mengonsumsi internet rata-rata di atas 7 jam sehari. 


2. Mudah Berpaling ke Lain Hati 


Dalam perilaku ini,  tingkat loyalitas milenial kepada merek/perusahaan/institusi lebih rendah dibanding generasi lebih tua, mereka akan dengan mudah pindah ke merek lain. 


Dalam beberapa obrolan memang generasi ini tidak terlalu suka dengan keterikatan dan formalitas organisasi bahkan dalam batas tertentu mereka juga tidak suka terikat dengan agama formal, meskipun mereka tidak anti agama atau anti Tuhan. 


3. Dompet Tipis 


ARC juga melakukan survei mengenai perilaku pembayaran yang paling disukai oleh generasi milenial. 


Hasilnya, sebanyak 76,8 persen generasi milenial lebih menyukai transaksi secara nontunai yakni menggunakan kartu debit, internet banking atau yang sejenisnya. 


Jadi dompet milenial tidak tebal dipenuhi dengan uang cash karena semuanya bisa dilakukan melalui gawai. 


4. Kerja Cerdas dan Cepat 


menunjukkan generasi milenial tidak cocok pada pekerjaan yang mengutamakan kehadiran secara kuantitas. 


Generasi milenial lebih cocok dengan pekerjaan yang dominan dengan kecanggihan teknologi yang dikerjakan atau diselesaikan dimana saja selama ada jaringan internet. 


milenial bukan generasi pemalas, mereka pintar beradaptasi dan bisa bekerja lebih efektif dibanding generasi sebelumnya. 


5. Bisa Apa Saja 


Survei ARC juga menggali informasi seputar perilaku ini dengan melakukan riset tentang konsumsi media milenial di Indonesia. 


Diperoleh sebanyak 97,1 persen generasi milenial mengonsumsi televisi dan diikuti 83,4 persen memilih internet. 


Milenial bisa melakukan 2-3 aktivitas sekaligus, tercermin dari media yang diakses antara internet dan televisi, sama-sama tinggi.

Bahkan disaat bersamaan generasi milenial bisa menonton televisi sambil berselancar di internet.

Generasi ini bahkan bisa belajar dan mahir berenang melalui internet. 


6. Liburan? Kapan Saja dan Dimana Saja!


Dari survei juga diketahui, 1 dari 3 milenial Indonesia pasti melakukan liburan minimal sekali dalam setahun. 


ARC mengatakan, aku liburan maka aku ada. Itulah kredo generasi milenial, travelling seolah olah menjadi kebutuhan primer untuk menunjukkan jatidiri. 


7. Cuek dengan Politik 


ARC juga menemukan bahwa generasi milenial dan Gen Z menganggap politik adalah dunianya generasi yang lebih tua. Sehingga mereka acuh terhadap berbagai proses politik. 


Hal ini tergambar pada segmentasi pemilih di Indonesia yang terbagi menjadi empat, yakni rasional, konservatif, swing (belum menentukan pilihan), dan apatis. 


Diantara keempat segmen tadi, pemilih milenial paling banyak ada di pemilih apatis dan swing. 


Begitu juga dalam hal perbincangan yang dilakukan sehari-hari. Generasi milenial dan Gen Z cenderung lebih asyik mengobrol tentang musik/film, olahraga, dan teknologi informasi. 


Dalam hal ini, politik lebih digagas oleh generasi sebelumnya yakni responden yang berusia 35-49 tahun. 


8. Suka Berbagi 


Generasi milenial juga memiliki kemurahan hati untuk berbagi pada aktivitas sosial dan sharing, baik konten offline maupun online. 


ARC mengkategorikan perilaku ini menjadi 3 jenis: 


A. Two Faces of Solidarity

Mengindikasikan milenial dan Gen Z peduli dengan masalah-masalah sosial. Namun, sikap tersebut masih sebatas euforia dan belum masif. 


B. Sharing is Better 

Artinya milenial saat ini senang berbagi pengetahuan, ketrampilan, dan wawasan lainnya. 


C. Followers is Family 

Milenial dan Gen Z memiliki solidaritas yang tinggi, terutama pada pengikutnya. 


Nah, dengan memahami karakteristik diatas kita bisa menilai, apakah program yang kita buat sudah cocok dan menjawab kebutuhan mereka atau belum? Bagaimana juga approach nya? 


Apakah cara-cara lama yang dulu sukses merekrut generasi muda (Periode 1980 s/d 2010) masih akan sukses bila digunakan merekrut generasi milenial?


Juga pertanyaan, apakah nderek selling yang sukses tahun 2004 masih akan ampuh bila digunakan tahun 2024? 


Wallahua'lam bi shawab 

Jumat, 22 Juli 2022

IKHTIAR

 







Ikhtiar, membuat ibunda Musa menghanyutkan bayi mungil Musa ke sungai Nil, agar tidak dibunuh oleh tentara fir'aun,

Takdir Allah, justru bayi musa di temukan oleh Asiah binti Mazahim istri fir'aun, dan dibesarkan dalam istana fir'aun orang yg hendak membunuhnya.


Ikhtiar, membuat Nuh Alaihissalam menanam biji pohon, kemudian tumbuh di jadikan kapal bahtera,

Takdir Allah, air bah pun mulai menggenang menenggelamkan daratan, dan terselamatkan nabi Nuh dan kaumnya yg beriman dari banjir besar.


Ikhtiar, membuat bunda Hajar berlari sepanjang safa marwa mencari air demi anaknya dari kehausan.

Takdir Allah, air justru keluar dari balik kaki bayi mungilnya Ismail Alaihissalam.


Ikhtiar, membuat bunda Maryam binti Imran menggoyangkan pohon kurma meski dengan susah payah dan lemah.

Takdir Allah, Siapa sangka pohon itu menggugurkan buah kurma yang masak.


Ikhtiar, membuat Rasulullah bersama sahabat terkasih Abu Bakar radhiyallahu anhu bersembunyi didalam gua Tsur.

Takdir Allah, sarang merpati dan laba laba menutupi jejak mereka dari kejaran tentara Quraisy


Ikhtiar adalah tugas kita, sedangkan hasilnya akhir adalah ketentuan Allah ﷻ.


Untuk itu jangan pernah berputus asa dari Rahmat Allah ﷻ dalam setiap doa dan ikhtiar kita.


✍ Habibie Quotes

Rabu, 20 Juli 2022

Manfaat Silaturahmi

 






1. Merekatkan Tali Persaudaraan

2. Mendekatkan Diri dengan Allah SWT

3. Memperluas Rezeki

4. Memperpanjang Usia

5. Kunci Masuk Surga

6. Menunjukkan Iman kepada Allah SWT

7. Menggugurkan Dosa

8. Kesehatan Mental

9. Mengenal Orang 

10. Memperluas Ilmu dan Hikmah Hidup