Sabtu, 27 Agustus 2016

MOTIVASI DAKWAH



            Adalah suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bagi seorang muslim bahwa Agama Islam merupakan agama motivasi, dimana setiap muslim diwajibkan untuk menyeru dan berdakwah kepada Al Islam sesuai kemampuan dan potensi yang dimiliki masing-masing individu.  Sebab Islam bukanlah agama yang dikhususkan bagi sekelompok orang, tidak pula dibatasi untuk suatu tempat maupun waktu tertentu, tapi ia adalah agama bagi seluruh umat manusia.  Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:


“Katakanlahwahai sekalian manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada kalian semua”.  
Jadi Islam merupakan agama dakwah, dimana setiap muslim wajib dan berkepentingan untuk mendakwahkan Islam kepada manusia.
Dakwah seacara bahasa (etimologis) berarti jeritan, seruan atau permohonan.  Adapun menurut syara(istilah) ada beberapa definisi:
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan beriman kepada apa yang dibawa oleh para Rasul-Nya dengan cara membenarkan apa uang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan.
Menurut Syaikh Muhammad As Shawwaf,
dakwah adalah risalah langit yang diturunkan ke bumi, berupa hidayah Sang Khalik kepada makhluk, yaitu dien dan jalan-Nya yang lurus yang sengaja dipilih-Nya dan dijadikan sebagai jalan satu-satunya untuk bisa selamat kembali kepada-Nya.
“Sesungguhnya Agama yang diridhoi Allah adalah Agama Islam (QS. 3: 19).
Menurut Dr. Muhammad Al wakil,
dakwah adalah mengumpulkan manusia dalam kebaikan dan menunjukkan mereka jalan yang benar dengan cara amar ma’ruf dan nahi munkar.  Allah berfirman :
“Jadilah diantara kamu sebaik-baik ummat, yang mengajak kepada kebaikan, menyeru yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. 3 : 104).
Menurut Ustadz Fathi yakan,
dakwah adalah penghancuran dan pembinaan.  yaitu penghancuran jahiliyah dengan segala macam bentuknya, baik jahiliyah pola pikir, moral maupun jahiliyah perumdang-undangan dan hukum.  Setelah itu pembinaan masyarakat dengan landasan pijak keislaman, baik dalam wujud dan kandungannya, dalam bentk dan isinya, dalam perundang-undangan dan cara hidup, maupun dalam segi persepsi keyakinan terhadap alam, manusia dan kehidupan.
Dr. taufiq Al Wa’i,
menjelaskan makna yang terkandung dalam dakwah Islamiyah yaitu mengumpulkan manusia dalam kebaikan, menunjukkan mereka jalan yang benar dengan cara merealisasikan manhaj Allah di bumi dalam ucapan dan amalan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, membimbing manusia kepada shiratal mustaqim dan bersabar menghadapi ujian yang menghadang di perjalanan.  Hal ini sesuai dengan firman Allah:
“Hai anakku dirikanlah shalat, serulah manusia mengerjakan yang ma’ruf, mencegah mereka dari perbuatan munkar dan bersabarlah atas apa yang menimpa kamu.  Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (QS. Lukman: 17).
Kelima definisi dakwah tersebut kesemuanya berimpit pada satu titik temu, yaitu bahwa dakeah bukan hanya terbatas pada penjelasan dan penyampaian semata, namun juga menyentuh pada pembinaan dan takwin (pembentukan) pribadi, keluarga dan masyarakat Islam.
Perlu dibedakan bahwa dakwah dihadapan para pendosa, penentang dan pelaku kemaksiatan harus ditekankan kepada ta’rif (pengenalan) dan tabligh.  Sedangkan dakwah kepada orang-orang yang relatif masih mempunyai fitrah yang bersih maka dakwah dapat ditekankan pada pembinaan dan takwin.  Apabila kita melakukan pembinaan dan takwin kepada para pendosa, penentang dan pelaku kemaksiatan, maka kita telah melewati batas yang mengarah pada kesia-siaan.  Begitu pula apabila di hadapan mereka yang masih mempunyai fitrah yang bersih kemudian kita hanya terpaku kepada bentuk ta’rif dan tabligh saja, maka itu berarti kita telah membuang waktu dan memubadzirkan potensi.

PAHALA YANG BESAR BAGI PARA DA’I

            Berdakwah kepada Allah adalah amal yang paling mulia, taqarrub yang paling mendekatkan diri kepada Aallah dan amal yang paling diwajibkan.   Allah telah mengutus seorang ciptaan-Nya yang bersih diantara para Nabi dan Rasul, juga untuk berdakwah.  Allah telah menentukan bahwa dakwah adalah syiar para pengikut Rasulullah SAW.  Dakwah menghasilkan pahala yang besar bagi orang yang melakukannya, baik di dunia maupun akhirat.  Rasulullah bertekad mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dan alhamdulillah hingga saat ini masih ada sebagian manusia yang mengikuti jejaknya.
Seorang muslim terdeorong untuk berdakwah dan bersemangat untuk memberi petunjuk kepada manusia , karena Allah mengangkat derajat para da’i dan memberi mereka pahala, karomah, rahmat dan keridhaan, baik di dunia maupun di akhirat.  Hal ini telah ditetapkan dalam beberapa nash Al Quran dan Sunnah.
1.  Penyeru kepada Allah adalah sebaik-baik manusia dalam perkataan
Allah meninggikan derajat para da’i dan menjadikannya sebaik-baik manusia.  Allah SWT berfirman:


“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata: sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Fushilat: 33).

2.  Do’a Nabi kepada orang yang menyampaikan perkataannya
Diantara faktor yang mendorong seorang muslim untuk  bersemangat dalam menyebarkan Islam kepada manusia adalah doa nabi yang mulia bagi orang yang menyampaikan perkataan beliau kepada orang lain.  Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Jubair bin Muth’im r.a., dia berkata, rasulullah berdiri di dalam masjid Khalif di Mina seraya berkata:
“Allah membaguskan orang yang mendengarkan perkataanku, lalu menyampaikannya.  Betapa banyak orang yang menyampaikan ilmu tetapi tidak mengetahui dan berapa banyak orang yang menyampaikan ilmu kepada orang yang lebih pandai daripada dia”.

3.  Pahala yang besar bagi orang yang menjadi perantara bagi seseorang dalam mendapatkan petunjuk
Allah memberikan pahala yang besar bagi orang yang menjadi perantara bagi seseorang dalam mendapatkan petunjuk.  Imam Bukhari meriwayatkan, dari Sahl bin Sa’d r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW berkata kepada Ali r.a. ketika memberikan bendera kepadanya di perang Khaibar:
“Tembuslah bersama pasukanmu hingga kamu berada di halaman mereka, lalu serulah mereka kepada Islam dan kabarkanlah kepada mereka apa-apa yang wajib atas mereka dari hak-hak Allah.  Demi Allah ! dengan perantara kamu, Allah memberi prtunjuk satu orang, lebih baik bagimu daripada memliki onta yang paling bagus”.

4.  Pahala seorang da’i seperti pahala orang yang mengikutinya
Nabi Muhammad SAW menerangkan, orang yang menunjukkan suatu kebaikan maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya.  Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Mas’ud r.a, dia berkata, rasulullah SAW bersabda:


“Barang siapa menunjukkan suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya”.
Dalam hadits lain juga diterangkan:


“Barang siapa menyeru kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka” (HR. Muslim).

5. Rahmat Allah serta doa penghuni langit dan bumi bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia
Rasulullah SAW memberi kabar gembira bahwa Allah, malaikat, penghuni langit dan bumi mendoakan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.  Imam At Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Amamah Al Bahiliy r.a, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda:



“Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, para penghuni langit dan bumi mulai semut di dalam lubangnya sampai ikan paus, benar-benar mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”.

6.  Pahala seorang da’i tetap mengalir setelah meninggal dunia
Nabi yang mulia mengabarkan, barang siapa memberi manfaat kepada manusia dengan ilmunya, maka pahalanya akan terus mengalir hingga setelah ia kembali kepada Rabbnya.  Imam Muslim meriwayatkan dari Abu hurairah r.a , sesungguhnya Rasulullah SAW bersadba:
“Apabila manusia mati maka terputuslah amalnyam kecuali 3 perkara, sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya”.


Wallahu a’lam bisshawab

Rabu, 17 Agustus 2016

Tsabat (Teguh Pendirian)




Imam Syahid Hasan Al-Banna menyebutkan bahwa orang yang tsabat adalah orang yang senantiasa
bekerja  dan  berjuang  di  jalan  dakwah  yang  panjang  sampai  ia  kembali  kepada  Allah  dengan
kemenangan, baik kemenangan dunia maupun mati syahid. (QS. Al-Ahzab: 23, Ali Imran: 200)
Sesungguhnya  jalan  dakwah  yang  kita  tempuh  adalah  jalan  yang  panjang  dan  ditaburi  dengan
halangan  dan  rintangan,  rayuan  dan  godaan.  Karena  itu,  dakwah  memerlukan  orang-orang  yangmemiliki  muwashafat  ‘aliyah,  yaitu  orang-orang  yang  ikhlas  dan  itqan  dalam  bekerja,  berjuang  dan berkorban. 2:177 Di  antara  tabiat  dakwah  kita  akan  selalu  berhadapan  dengan musuh  dakwah  di  setiap  zaman. Di masa  awal  dakwah,  Rasulullah  dan  sahabat  berhadapan  dengan  kafir Quraisy. Di  tengah  perjalanan dakwah pertama, Rasulullah saw. dan sahabat berhadapan dengan Yahudi dan kafir Arab dan di akhir perjalanan  dakwahnya  menghadapi  demikian  pula..  Para  sahabat  setelah  Rasulullah  saw.  juga menghadapi  musuh  dakwah.  Para  salafus  shalih  juga  menghadapi  tantangan  dan  rintangan  dalam menerapkan ajaran Islam.
Kita  bisa melihat  ketsabatan Rasulullah  saw.  ketika  beliau mendapat  tawaran menggiurkan  untuk
meninggalkan  dakwah  Islam,  tentunya  dengan  beberapa  imbalan.  Imbalan  kekuasaan  atau  kekayaan atau  wanita.  Tetapi  dengan  tegar  beliau  bahkan  berkata  sebagai  ungkapan  keyakinan  penuh  kepada Allah Taala.

Wallahi, ya ‘ammu  lau wadha’us syamsa fie yamini wal qamara fie yasari ‘ala an atruka hadzal amra maa taraktuhu hatta yazh-harahullahu au ahluka dunahu.”
Artinya:  “Demi Allah, wahai  pamanku,  seandainya mereka meletakkan matahari  di  kananku  dan
rembulan  di  kiriku  agar  aku meninggalkan  dakwah, niscaya  aku  tidak  akan meninggalkan  perkara  ini (dakwah Islam) sebelum Allah memenangkannya atau semuanya akan binasa.”

Di Madinah Rasulullah saw. menjalin perjanjian dengan Yahudi, tetapi ketika mereka beberapa kali
melanggar  perjanjian  tersebut,  Rasulullah  saw.  memerangi  mereka  dan  mengusir  mereka  dari  kota Madinah. Rasulullah saw. tidak berfikir untuk mengadakan perjanjian ulang atau negosiasi ulang dengan Yahudi  sebagaimana  yang  dilakukan  oleh  pemimpin  otoritas  Palestina  sekarang  yang  selalu  ditipu mentah-mentah  berulang  kali  dengan  perjanjian  perdamaian  dan  perundingan  damai  dengan  Zionis Yahudi, la’natullah ‘alaihim.  khalifah Abu Bakar Siddiq r.a. ketika banyak muslimin Arab di sekitar Madinah murtad dari Islam

1 menyatakan  perang  kepada  mereka. Menurut  ahli  tarikh,  tercatat  sekitar  1200  orang  pejuang  yang syahid dalam peperangan melawan orang-orang murtad. Tetapi kaum muslimin tidak menyesali apa yang mereka  lakukan, meskipun mengorbankan  nyawa  yang  tidak  sedikit  karena  telah  berhasil mencegah meluasnya  gejala  kemurtadan  ini.  Mereka  telah  menyuburkan  dakwah  ini  dengan  darah  syuhada  mereka.  Betapa  sikap  tsabat mereka  di  jalan  Islam  bukan  hanya menjadi  simpanan  amal  mereka  di akhirat, tetapi juga menjadi pelajaran dan contoh yang baik bagi umat Islam hingga akhir zaman. Kita dapat saksikan juga peristiwa yang menimpa umat Islam pada masa khalifah Al-Mu’tashim Billah, yaitu fitnah atau cobaan “khalqul qur-an”

2. Imam Ahmad bin Hambal tegar berdiri menghadapi cobaan
tersebut  dengan  tegas  mengatakan  bahwa  Alquran  adalah  kalamullah,  bukan  makhluk  sebagaimana                                            

1 Ada dua kemurtadan yang terjadi pada masa Abu Bakar Siddiq. Pertama murtad kamilah, keluar dari Islam. Kedua adalah murtad dari menunaikan
kewajiban membayar zakat yang pernah mereka keluarkan ketika Rasulullah saw. masih hidup. Kedua jenis kemurtadan ini wajib diperangi oleh
khalifah dan pemerintahan Islam.

2 Doktrin yang menyatakan bahwa Alquran adalah makhluk. Dengan fitnah ini banyak kaum muslimin terfitnah, artinya mereka mengikuti doktrin
yang sesat ini, karena doktrin ini bertentangan dengan akidah Islam yang benar bahwa Alquran adalah kalamullah.

2yang didoktrin oleh khalifah dan orang-orang yang berada di sekitar beliau, terutama Ibnu Abu Da-ud. Dengan tuduhan sesat dan menyesatkan kaum muslimin, Imam Ahmad bin Hambal menerima hukum penjara dan cambuk sebanyak 30 lebih (riwayat lain mengatakan 80 cambukan). Kalaulah bukan karena sikap  tsabat  Imam  Ahmad  bin  Hambal,  tentunya  banyak  umat  Islam  yang  sesat  dan  kafir  karena mengakui bahwa Alquran adalah makhluk. Ketsabatan beliau telah menyelamatkan sebagian umat Islam dari kesesatan akidah.

Demikian  juga  kita masih  bisa merasakan  tegarnya  sikap  Imam  Syahid Hasan Al-Banna,  Syahid
Sayyid Quthb dan para dai  lainnya yang menolak  segala bentuk kejahiliyahan dan kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah yang berkuasa.

Ikhwati fillah….
Sekarang  ini  dakwah  memasuki  era  di  mana  tantangan  dan  peluang  sama-sama  terbuka.
Kebersamaan kita dengan dakwah  juga membuat kita berada pada  tantangan dan peluang  yang  sama. Kita dituntut untuk tsabat dalam kondisi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit. Karena di sisi Allah kita hanyalah seorang hamba yang dhaif pasti akan menemui-Nya.

Kita  hendaknya  tetap  berada  di  jalan-Nya  dengan  kesyukuran  ketika  mendapat  peluang  dan
kesempatan  dari  dakwah.  Tetap  di  jalan-Nya  dengan  kesabaran  ketika  menghadapi  rintangan  dan cobaan dalam perjuangan dan dakwah. (QS. Al Baqarah: 214)

Jangankan  diancam  dengan  kesusahan  dan  penderitaan,  ditawari  dengan  kemegahan  dan
kekuasaanpun,  tidak  membuat  Rasulullah  saw.  bergeming.  Hal  itu  karena  ketulusan  dan  keikhlasan

Rasulullah  saw.  dalam  berjuang  yang  tidak mengharap  kekuasaan,  jabatan,  kekayaan  dan kesenangan dunia. Kalaulah tujuan dakwah ini adalah kekuasaan, niscaya Rasulullah saw. sudah menerima tawaran kekuasaan dan jabatan dari kaum Quraisy. Kalaulah kita  berdakwah  ini  semata-mata hanya mengharapkan kekuasaan  dan  jabatan, maka  ruh dan  semangat  perjuangan  dakwah  ini  akan  sirna  ketika harapan  dan  cita-cita  kekuasaan  dan  jabatan  sudah  diraih. Motif  dakwah  yang  seperti  itu  tidak  akan mampu  bertahan  di  tiap  kondisi.  Ia mungkinbertahan dalam kondisi kesempitan, kesusahan dan penderitaan. Tetapi ketika mendapat peluang dan kesempatan, maka kerja dakwah akan ditinggalkan karena tujuan sudah diraih.
Betapa Umar  bin Abdul  Aziz  ketika  menjadi  khalifah  dapat  menjadi  suri  teladan,  Beliau  tidak
tergoda dengan gaya hidup para pejabat. Beliau bahkan mengadakan reformasi ke seluruh jajaran pejabat dengan memberantas KKN.

Ikhwah fillah!
Tsabat  tidak mengenal waktu dan tempat, di mana pun dan kapan pun kita berada kita harus tetap
mengusung  misi  dan  visi  dakwah,  menyelamatkan  umat  manusia  dengan  mengajak  mereka  kembali kepada ajaran-Nya. Karena  itu dakwah tidak dibatasi oleh usia seseorang atau oleh usia kita. Kita tidak dituntut untuk melihat  hasil  baiknya  ketika  kita  masih  hidup. Mungkin  anak  cucu  kita  yang  akan  mengecap  hasil perjuangan kita. Sikap tsabat dan keteguhan kita di  jalan-Nya dapat menjadi inspirasi ijabi (positif) bagi anak  cucu  kita. Kekeliruan  dan  kesalahan  kita  dalam  dakwah  ini  bisa menjadi  penyebab  tertundanya tegaknya khilafah Islamiyah di dunia ini.

Ketidakhadiran, dan ketakterlibatan kita dalam  setiap aksi yang dicanangkan dakwah bisa menjadi
penyebab  tertundanya  hasil  yang  sudah  ditargetkan. Marilah  kita  tingkatkan  kedekatan  kita  kepada dakwah ini dan bermujahadahlah untuk tsabat di jalan dakwah. Semoga Allah menjaga kita dan marilah kita syukuri nikmat ukhuwatul ‘amal di jalan-Nya dengan menyiapkan diri menjadi jundi, tentara dakwah di era apapun kita berada. Amien.

Rabu, 10 Agustus 2016

BERITA DUNIA ISLAM

Normalisasi Turki-Rusia, Putin Ingin Perluasan Ekonomi






LANGKAH normalisasi antara Turki-Rusia akhirnya benar-benar terjadi. Keputusan ini muncul setelah selama berbulan-bulan ketegangan terjadi antara kedua negara usai militer Turki menembak jatuh jet Rusia di dekat perbatasan Suriah.


Turki dan Rusia telah mencapai kesepakatan yang jelas tentang normalisasi hubungan, setelah kedua negara mengatakan hal tersebut dalam sebuah konferensi pers.



Menteri Kehakiman Turki: Gulen Tak Lagi ‘Berguna’ untuk Amerika

TURKI—Bekir Bozdag, Menteri Kehakiman Turki, mengatakan bahwa Fetullah Gulen tidak lagi menjadi “alat yang berguna” bagi Amerika, lansir World Bulletin, Selasa (9/8/2016).


Bozdag menambahkan bahwa masyarakat Turki, tidak akan mengizinkan pasukan asing untuk memutuskan masa depan negaranya.
Mengomentari upaya kudeta 15 Juli lalu, Bozdag mengatakan bahwa kemana arah Gulen menuju adalah “fakta yang diketahui oleh semua orang”.
KPU Palestina: Pemilu Daerah On Schedule, Hamas Kecam Upaya Penundaan


KPU Palestina Pusat menyatakan, pemilu daerah Palestina akan dilakukan pada jadwalnya 8 Oktober nanti.
Ketua KPU Pusat Palestina kemarin Selasa, Hisyam Kahel menegaskan situasi politik dan indikator dari pihak-pihak yang bersangkutan positif terkait dengan pelaksanaan pemilu pada jadwalnya dan tidak ada indikator dari pihak pelaksana di Tepi Barat atau Gaza untuk membatalkan dan menunda pemilu.
Kahil menegaskan, 91% keterlibatan dan partisipasi warga di Jalur Gaza menurut update pendaftaran pemilu. Dia memperkirakan Jalur Gaza akan lebih partisipatif atau lebih tinggi partisipiasinya dibanding Tepi Barat.
Kahel menegaskan, menegaskan hal ini setelah ada kesepakatan antara faksi-faksi Palestina dan tidak akan tunduk terhadap tekanan tekanan asin juga akan menjamin pelaksanaan pemilu dengan jurdil dan bersih. Karena itu yang menjamin keberhasilan pemilu kali ini kami juga akan siap bekerjasama dengan media massa dengan transparan dan kredibel.
Sementara itu ketua KPUD daerah jalur Gaza, Salamah Ma'ruf menyatakan, langkah-langkah yang sudah disepakati oleh pihak KPU terkait pelaksanaan Pemilukada sudah dilakukan.
Gerakan Perlawanan Islami Hamas di Palestina menyatakan terus mempersiapkan keikutsertaannya dalam Pemilukada Palestina pada Oktober mendatang dan komitmen untuk membela dan menjaganya. Juru bicara Hamas, Hasyim Qosim menegaskan dalam pernyataan khususnya kepada Pusat Informasi Palestina, Pemilu Palestina merupakan hak bangsa Palestina dan tidak boleh siapapun untuk merusak hak tersebut ia menambahkan kami sudah membuat kesepakatan bersama faksi-faksi Palestina lembaga-lembaga swasta dan HAM bahwasanya mereka akan menjalankan tanggung jawabnya dan mendesak serta menekan Otoritas Palestina agar tidak bermain bermain-main dalam proses pemilu atau mempengaruhi akhirnya hasilnya.
Sebelumnya sejumlah elit Otoritas Palestina dan Fatah menyatakan kemungkinan akan menunda pelaksanaan pemilu karena mereka tidak siap menghadapinya terutama juga karena kondisi perpecahan yang terjadi di internal Palestina. Akan tetapi juru bicara Hamas memperingatkan agar tidak ada pihak manapun yang anda mempermainkan Pemilu kali ini. (at/pip)


Selasa, 09 Agustus 2016

ITSAR, PUNCAK UKHUWAH




Mukadimah


“Innamal mukminuna ikhwah. Faaslihu baina akhawaikum” (QS 49 : 10)
“Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah orang-orang yang berselisih diantaramu”
“Innal muslim akhul muslim” (sesungguhnya muslim itu saudara bagi muslim lainnya)
Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan Islam adalah sarana efektif dalam dakwah fardhiyah, selain itu ia juga memberikan sekaligus manfaat duniawi, ukhrawi, dan diniyah.
Persatuan dan persaudaraan yang paling kekal adalah jika didasari kesamaan dan kesatuan aqidah. Jadi asas pemersatu yang paling kuat dan langsung adalah kesatuan aqidah.
Dalam QS 3 : 103 nampak jelas bahwa Allah yang mempersatukan hati-hati manusia dan menjadikan mereka bersaudara. Jadi ukhuwah Islamiyah, ta’liful qulub (persatuan hati) adalah kerja Allah dan bukan manusia.
Hanya saja manusia harus berikhtiar lebih dulu dengan sama-sama berpegang teguh kepada tali Allah (yakni Al Islam) dan berusaha menyelaraskan diri dengan Islam serta memperbaiki hubungan antar sesama manusia. (QS 8 : 1). Bila sudah demikian insya Allah ukhuwah Islamiyah akan terwujud dengan sendirinya.
Dalam harakah dikenal paduan antara iltizam yang sempurna dan ukhuwah Islamiyah. Bila yang ada hanya disiplin yang sempurna (iltizamul kamil), maka suasana akan terasa kaku, kering, gersang seperti di markas militer. Sedangkan bila hanya sibuk dengan masalah ukhuwah tetapi mengabaikan iltizam, disiplin maka akan seperti sekumpulan orang tanpa arahan dan bimbingan.
Pribadi-pribadi muslim yang shalih/shalihah yang memiliki iltizam yang baik namun tetap diwarnai ukhuwah, bila bersatu padu dan bekerja sama akan seperti bangunan yang kokoh.
1.      Ukhuwah Islamiyah dapat sekaligus memberi manfaat duniawiyah, diniyah, dan ukhrawiyah.
a.    Ditilik dari manfaat duniawiyah, ukhuwah Islamiyah dapat membuat seorang muslim dapat terkena imbas manfaat rizki dan kedudukan yang dimiliki saudaranya sepanjang tidak melenceng dari jalur kebenaran. Sikap seorang muslim yang baik, ia tidak akan pernah iri ataupun hasad terhadap kelebihan-kelebihan rezeki, kedudukan, keilmuwan dll yang dimiliki saudaranya. Bahkan seharusnya ia ikut merasa bersyukur karena ia pun dapat terkena efek positif dengan segala kelebihan yang dimiliki saudaranya. Kalau perlu dan mampu sebaiknya bahkan ia turut berpacu dalam kebaikan agar bermanfaat bagi orang lain.
Imbas manfaat memang tidak boleh menjadi tujuan utama dalam menjalin ukhuwah, tetapi sekedar efek samping yang harus disyukuri. Misalnya punya teman, saudara seaqidah yang pandai dalam bidang matematika kita bisa belajar darinya. Atau punya teman dokter, maka ia bisa menjadi konsultan kesehatan bagi kita, kapan saja kita butuh pertolongan medis, ia siap sedia menolong kita.
Jika imbas manfaat (intifa’) dijadikan tujuan utama, dikhawatirkan kita akan bersikap memilih-milih dalam berteman dan menda’wahi seseorang. Kemungkinan besar kita hanya mau berteman atau menda’wahi orang-orang yang kira-kira menguntungkan kita.
Manfaat duniawiyah yang kedua adalah kita akan memiliki soliditas dan kekompakan dalam hal kemaslahatan atau kebaikan. Kita akan tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa serta saling bercermin karena Rasulullah SAW. Juga besabda sesungguhnya, mukmin cermin bagi saudaranya yang lain kemudian Umar ra pernah mengatakan pula bahwa kalau bukan karena tiga hal, niscaya ia tidak akan betah hidup di dunia. Ketiga hal tersebut ialah:
-         Memiliki kuda perang terbaik yang digunakan untuk berperang di jalan Allah Taala.
-         Bersusah payah di waktu malam (qiamul lail)
-         dan bergaul dengan orang-orang yang sidiq (benar dalam sikap, lisan, dan perbuatannya).
b. Ditilik dari manfaat diniyah (dari segi agama) paling tidak ada lima hal yang dapat diperoleh seseorang bila ia senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah.
1.      Saling mencintai di jalan Allah Taala. Orang yang saling mencintai di jalan Allah Taala akan dapat merasakan manisnya iman, memperoleh naungan di hari kiamat (hadits 7 golongan, di antara orang-orang yang saling mencintai karena Allah Taala, menjadi sebaik-baiknya sahabat di sisi Allah Taala dan akhirnya akan memperoleh mimbar dari cahaya di hari kiamat)
2.      Tolong-menolong dalam ketaatan. Orang-orang yang berukhuwah akan selalu siap tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah Taala dan Rasul-Nya. Di jaman Rasulullah hal itu jelas terlihat seperti menolong biaya orang yang akan menikah, sesama muslimah meminjamkan pakaian bagus agar saudarinya juga bisa hadir di shalat Idul Fitri atau Idul Adha, meminjamkan uang tanpa bunga. Jadi bukan menolong orang karena ada maksud-maksud tertentu atau ingin meraih keuntungan yang lebih besar.
3.      Mensucikan, mengagungkan Al haqq atau kebenaran. Dalam QS 103:3 disebutkan bahwa hendaknya kita saling tolong-menolong mengingatkan untuk menepati kebenaran dan untuk bersabar. Orang yang berukhuwah akan bahu membahu menegakkan kebenaran. Persahabatan mereka tulus karena sama-sama mencintai kebenaran.
4.      Persamaan dan kesejajaran, Firman Allah Taala QS 49:13 “Inna akramakum ‘indallahu atqaakum” benar-benar diwujudkan oleh orang-orang yang berukhuwah. Mereka benar-benar sadar dan merasa bahwa manusia sama, sejajar, setara di hadapan Allah Taala. Yang membuat seseorang lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah Taala adalah jika kadar ketakwaannya lebih tinggi. Dalam hadits di tegaskan bahwa Allah Taala tidak melihat perbedaan fisik atau atribut-atribut duniawi melainkan langsung ke dalam hati manusia. Karena itu dalam Islam baik Abu Bakar yang bangsawan Arab berkulit putih maupun Bilal bekas budak berkulit hitam, kedua-duanya merupakan sahabat-sahabat yang wajib kita hormati dan kita teladani. Dan kedua-duanya sudah diketahui akan masuk surga, padahal mereka masih hidup saat itu.
5.      Saling menghormati. Sesama muslim yang berukhuwah akan saling menghormati satu sama lain. Mereka juga saling berlomba memberi salam lebih dulu. Dalam hadits dikatakan Rasulullah saw., “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang-orang yang lebih tua dan menyayangi orang-orang yang lebih muda”
6.      Itsar: Mementingkan saudara seaqidahnya lebih dari dirinya sendiri. Bisa dikatakan bahwa itsar adalah puncak ukhuwah Islamiyah. Bila bentuk minimal ukhuwah adalah “Salamatus Shodr”, kelapangan dada terhadap saudara seiman maka Itsar adalah bentuk maksimal ukhuwah itu sendiri.
c. Dan akhirnya manfaat tertinggi dan hakiki adalah manfaat ukhrawi yakni balasan optimal yang akan di peroleh di akhirat kelak. Ribathul Ukhuwah (ikatan ukhuwah) dan Ribathul Jamaah (ikatan jamaah) yang terjalin kuat di dunia insya Allah akan berlanjut di akhirat nanti.
Yang jelas tiga hal akan diterima orang-orang yang senantiasa menghidupkan ukhuwah, yakni:
1.      Mendapat mimbar dari cahaya pada saat menunggu dihisab.
2.      Mendapat pertolongan atau naungan Allah Taala di hari dimana tak ada pertolongan selain pertolongan-Nya.
3.      Mendapat Al-Jannah (surga)
1.      Itsar, puncak ukhuwah
a. Makna Itsar
Secara bahasa itsar berarti mementingkan orang lain lebih dari diri sendiri. Dari segi fitrah setiap manusia yang masih terjaga fitrah kemanusiaannya juga dapat berbuat mulia, mementingkan orang lain dan bukan diri sendiri serta menolong orang lain tanpa memikirkan diri sendiri. Di Inggris pernah terjadi kasus penyelamatan seorang anak yang jatuh di rel kereta api oleh seorang laki-laki. Alhamdulillah anak itu bisa diselamatkan, namun sebelah tangan laki-laki itu putus tersambar kereta api yang melaju kencang. Mungkin seumur hidupnya anak tersebut takkan bisa melupakan jasa seseorang yang rela mengorbankan sebelah tangannya untuk menyelamatkan nyawanya.
Dari segi istilah, itsar adalah salah satu manfaat diniyah (manfaat keagamaan) yang terwujud bila terjalin ukhuwah di antara orang-orang yang seaqidah. Ia juga dikatakan wujud maksimal ukhuwahIslamiyah yang dimiliki seseorang. Dalam rangka menggapai mardhatillah semata, seorang muslim bersedia berkorban mendahulukan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri.
b. Urgensi dan keutamaan Itsar
Dalam QS 9:128 digambarkan sifat-sifat Rasulullah saw. yang mudah berempati pada penderitaan orang lain, senantiasa menginginkan kebaikan bagi orang lain dan santun serta pengasih dan penyayang terhadap sesama mukmin.
Kehidupan di dunia yang jauh dari sifat-sifat mulia akan dipenuhi keserakahan dan keegoisan, nafsi-nafsi, lu-lu, gua-gua. Semuanya mementingkan diri dan keluarganya saja termasuk para pemimpinnya yang mengidap penyakit kronis berupa KKN. Kehidupan yang individualistis (nafsi-nafsi) egoistis (mementingkan diri sendiri) dan apatis (masa bodoh terhadap orang lain) adalah cerminan masyarakat yang tidak menegakkan ukhuwah Islamiyah.
Contohnya kehidupan di masyarakat metropolis atau kosmopolis ada seorang tunawisma yang meninggal di dekat tempat sampah lalu di bawa ke RSCM akhirnya dikuburkan tanpa kehadiran sanak saudaranya. Atau orang-orang tua yang ditaruh di panti-panti jompo. Jarang dijenguk dan menjalani proses sakaratul maut sendirian tanpa didampingi atau ditalkinkan anak-cucu. Benar-benar mengenaskan. Sulit kita membayangkan keridhaan dan keberkahan Allah Taala akan tercurah kepada masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kebaikan tersebut.
Rasulullah mengatakan bukan dari golongan kami orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan. Begitu pula di hadits lain “Bukan golongan kami orang yang tidak peduli pada urusan orang Islam
Jadi sifat itsar sangat penting untuk memerangi sifat-sifat buruk seperti egois, kikir, individualis dsb serta menumbuhsuburkan sifat-sifat mulia seperti peduli, empati, pemurah dll.
Keutamaan orang yang berbuat itsar di dunia ia akan dicintai oleh orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya dan mempererat ukhuwah serta di akhirat nanti akan mendapatkan mimbar terbuat dari cahaya, naungan dan lindungan Allah Taala serta Al-Jannah (surga)
c. Itsar generasi salafus shalih
Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.” Dan beliau dengan pujian Allah Taala dalam QS 68:4 dan QS 9:128 yang sudah dicantumkan di bagian terdahulu tulisan ini menggambarkan sosok beliau yang mudah berempati, peka dan peduli terhadap penderitaan orang lain. Kemudian selalu menginginkan kebaikan bagi orang lain dan bersifat santun serta kasih sayang terhadap mukmin.
Bukti kemampuan berempati beliau, terlihat saat beliau segera tahu bahwa Abu Hurairah kelaparan tanpa harus diberitahu, padahal sebelumnya Abu Bakar dan Umar pun tak bisa menangkap sinyal-sinyal Abu Hurairah butuh bantuan.
Beliau tidak pernah menolak siapa saja yang minta bantuan dan pertolongan beliau padahal beliau sendiri sering kelaparan seperti nampak pada kisah beliau, Abu Bakar dan Umar ra sama-sama lapar dan dijamu makan oleh Abu Ayyub Al Anshari. Beliau meneteskan air mata kemudian berucap, “Kelak kalian akan ditanya akan nikmat ini, ketika kalian pergi dari rumah dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”
Beliau hidup sangat sederhana dan tidur di atas tikar jerami sampai Umar menangis melihatnya dan Fatimah kelak bersyair di tepi kuburan bapaknya, “Ya ayahhandaku punggungnya penuh dengan bilur-bilur tikar”. Tetapi beliau tidak mau tikarnya itu dilipat terlalu banyak di bagian atasnya sebagai bantal karena takut tidurnya terlalu nyenyak bila terlalu empuk, sehingga khawatir tidak bisa bangun shalat malam.
Rasulullah juga menegaskan bahwa dunia bukan dari dan untuk keluarga Muhammad di saat Fatimah mendapat perhiasan, bagian dari rampasan perang hingga akhirnya putrinya mengembalikannya. Ia juga menasihati Fatimah dan Ali dengan bacaan-bacaan dzikir pada saat mereka minta khadimah dari tawanan perang. Rasulullah juga menghukum keras istri-istrinya yang meminta penghidupan (maisah) yang lebih dan perhiasan dengan cara mengasingkan diri selama sebulan hingga akhirnya Allah menawarkan opsi dalam wahyu-Nya di surat At Tahrim. Apakah istri-istri nabi tersebut memilih nabi dan kehidupan akhirat ataukah dunia. Tentu saja mereka memilih Rasulullah dan surga kelak walaupun kini hidup prihatin di dunia. Terlihat betapa Rasulullah lebih mementingkan yang lain ketimbang diri dan keluarganya karena pada saat yang bersamaan beliau ridha saja para sahabat dan istri-istrinya hidup berkecukupan dan memakai perhiasan hasil rampasan perang serta memiliki khadimah.
Bahkan sampai di saat-saat terakhir kehidupannya pun beliau tetap memikirkan umatnya dan bukan dirinya dan keluarganya sehingga ia tidak mewariskan apa-apa bagi keluarganya. Ucapan yang keluar dari mulut beliau di akhir kehidupannya adalah, “Ummati….Ummati….” (Umatku…Umatku…)
Keteladanan Rasulullah saw. dalam hal tersebut ternyata membias pula pada sahabat-sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Abu Thalhah atau istri-istri beliau seperti Khadijah, Aisyah dan Zainab binti Jahsy serta Saudah binti Zum’ah.
Suatu saat ketika terjadi pengumpulan dana untuk berjihad fisabilillah semua sahabat berlomba-lomba untuk menginfaqkan segala yang dimilikinya.Termasuk sahabat-sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Umar, “Bagitu banyak yang kau infaqkan Umar, adakah yang tersisa untuk keluargamu?” Umar pun lalu menjawab, “Sebanyak itu pula ya Rasulullah”. Jadi istilahnya fifty-fifty, atau separuh-separuh. Jawaban seperti itu pun meluncur pula dari lidah Utsman ketika ditanya juga oleh Rasulullah dengan pertanyaan yang sama. Namun tatkala pertanyaan tersebut diajukan kepada Abu Bakar As shidiq ra, jawabannya sungguh mencengangkan dan menimbulkan decak kagum.
“Untuk keluargaku kutinggalkan Allah dan Rasulnya” Artinya keseluruhannya (100%) diinfaqannya di jalan Allah, sedangkan urusan keluarganya ia pasrahkan kepada Allah. Umar sampai berucap, “Sungguh aku tak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selama-lamanya
Begitu pula, pada saat Abu Bakar pergi hijrah mendampingi Rasulullah. Dananya dihabiskan untuk membiayai kepergiannya hijrah bersama Rasulullah. Namun istri dan putri-putrinya memang luar biasa pula. Ketika kakek Asma atau ayah Abu Bakar yakni Abu Quhafah marah-marah kepada Abu Bakar yang dianggapnya tidak bertanggung jawab meninggalkan keluarganya begitu saja, maka Asma menenangkan kakeknya yang buta itu dengan memperdengarkan bunyi kerikil-kerikil seolah itu kepingan dirham yang banyak. “Tenang saja kek, ayah tidak menyia-nyiakan kami”, ujar Asma. Barulah Abu Quhafah menjadi tenang.
Ada lagi kisah itsar yang sangat indah dan diabadikan oleh Allah dalam QS Al-Hasyr ayat 8 dan 9. Dalam terjemah singkat tafsir Ibnu Katsier jilid 8 diungkap tentang itsar yang ditunjukkan orang-orang Anshar terhadap saudara-saudara mereka kaum muhajirin (QS 59:8)
Demi iman dan pembuktiannya kaum muhajirin meninggalkan sanak saudaranya, harta benda, dan kampung halamannya. Seperti Shuaib bin Sinan Ar Rumy yang dihadang dan dipaksa menyerahkan seluruh harta bendanya, dan Rasulullah saw. bersabda : ‘Beruntunglah Abu Yahya (Shuaib) dengan perniagaannya (artinya rela melepas harta benda dunia dengan keridhoan Allah da Rasul-Nya).
Ukhuwah Islamiyah yang dilandasi iman membuat suku Aus dan Khazraj di Yatsrib (kemudian menjadi Madinah) yang dahulunya bertikai menjadi damai dan bersaudara (QS 3:103) Kemudian, membuat kaum muhajirin yang datang dari Mekkah bersatu dengan kaum Anshar (penduduk asli Yatsrib) yang bersedia menolong dan menampung saudara-saudara seiman tersebut.
Ketika sahabat-sahabat Nabi saw. kaum muhajirin tiba di Yatsrib (Madinah), mereka segera dipersaudarakan dengan orang-orang Anshar. Di antaranya Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Raby yang kemudian menawarkan separuh hartanya dan 1 dari 2 istrinya untuk Abdurrahman bin Auf. Jika Sa’ad memiliki sifat itsar, maka kebalikannya Abdurrahman bin Auf memiliki sifat iffah (memelihara diri dari meminta-minta). Ia menolak halus tawaran Sa’ad bin Raby dan hanya minta ditunjukkan pasar. Ia pun berusaha sampai berhasil dalam perniagaannya bahkan merintis dan membangun pasar Ukaz yang menandingi pasarnya Yahudi.
Di ayat kesembilannya disebutkan ada orang Anshar yang tulus mencintai, tanpa pamrih dan dan mengutamakan kawan lebih dari diri sendiri, meskipun mereka merasa lapar. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, merekalah orang yang berbahagia dan beruntung.
Dalam hadits riwayat muslim dari Abu Hurairah, sepasang suami istri yang memenuhi perintah Rasulullah untuk memberi makan musafir yang kelaparan itu adalah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim/ Rumaisha binti Milhan. Mereka sendiri malam itu segera menidurkan anak-anak mereka yang lapar dan berpura-pura makan agar tamu mereka makan dengan tenang. Padahal yang sedang disantap oleh tamu mereka itu adalah saru porsi terakhir yang mereka miliki hari itu.
Di ayat 9 tersebut Allah menegaskan “Wa yu’ tsiruuna alaa anfusihim walau kana bihim khashan’shah” (mereka itsar terhadap orang lain dibanding ke diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri kelaparan)
Ketika keesokan hari Rasulullah berjumpa dengan Abu Thalhah, beliau bersabda, “Sungguh Allah sangat gembira (tersenyum) menyaksikan perbuatan Anda berdua
Hampir kesemua istri Nabi saw. menunjukkan sifat pemurah dan itsarnya. Istri pertama yang paling dicintainya, dan tak pernah dapat dilupakannya: Khadijah menunjukkan itsar saat Rasulullah meminta pembantu Kahdijah: Zaid bin Haritsah untuk menjadi pembantunya. Beliau juga menginfqkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan fisabilillah menyebarkan agama Islam.
Istri Rasulullah seperti Zainab binti Jahsy yang pandai berwiraniaga juga terkenal dermawan dan suka membantu orang lain. Saudah bunti Zum’ah istri Rasulullah yang walaupun hanya berjualan roti kuah ala Thaif pun ikut berinfaq dengan hasil dagangannya.
Ummul mukminin Aisyah ra yang terkenal kepandaiannya sekaligus juga kedermawanannya pernah mendapat uang 40.000 dirham dari baitul mal. Oleh Aisyah harta itu segera di bagi-bagikan kepada fakir miskin sampai-sampai lupa menyisihkan sedikit saja untuk dirinya. Sampai ditegur Ummu Burdah yang membantunya, “Ya Ummul mukminin kenapa tak kau sisihkan sedikit saja untuk membeli makanan berbuka, bukankah engkau sedang berpuasa,” “Ya Ummu Burdah, kenapa tadi tak kau ingatkan”, jawab Aisyah tenang.
Kisah itsar yang sangat heroik terjadi pada saat perang Yarmuk. Ikrimah bin Abu Jahl seorang mujahid bersama dua sahabat yang lain terbaring dengan luka-luka sangat parah. Ketika seorang sahabat hendak memberinya minum, ia menolak dan menyuruh air itu diberikan ke teman di sebelahnya. Ketika air itu akan diberikan kesebelahnya, orang tersebut juga menyuruh diberikan lagi ke sebelahnya pula. Ia memilih mengalah pula pada saat-saat yang penting tersebut. Namun orang ketiga yang dimaksud sudah meninggal, ketika kembali lagi si pemberi minum ke sahabat yang tengah, ternyata ia sudah syahid juga. Dan ketika beranjak ke Ikrimah, ia pun telah syahid. Subhanallah dalam detik-detik terakhir kehidupan atau di saat-saat kritis sekalipun mereka tetap menjaga itsar mereka.

Penutup
Hal yang sangat kontras terjadi pada kita, saat kita menoleh ke kondisi umat Islam saat ini yang terpecah-pecah, tercabik-cabik dan terkotak-kotak.
Doa Nabi saw. yang dikabulkan saat meminta umatnya diselamatkan dari bahaya banjir dan kelaparan dan tidak dikabulkan saat meminta umatnya diselamatkan dari bahaya perpecahan, seyogianya membuat kita berfikir bahwa kerja mempersatukan umat adalah kerja besar yang harus diikhtiarkan secara maksimal baru kemudian Allah berkenan membantu (QS 13:11)
Bila kita melihat QS 3:103, nyata jelas bahwa hanya dengan sama-sama I’tisham bi hablillah (berpegang teguh di jalan Allah) sajalah, persatuan hati dan persaudaraan akan terwujud.
Wallahu a’lam.

INVASI PEMIKIRAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP POLITIK UMMAT ISLAM INDONESIA


MAKNA  INVASI  PEMIKIRAN
( مَعْنىَ اْلغَزْوُ اْلفِكْرِيْ )

     Invasi/serangan pemikiran atau dalam bahasa Arab dinamakan غَزْوُاْلفِكْرِيْ dan dalam basaha Inggris disebut sebagai brain-washing, thought-control, menticide adalah istilah yang menunjuk kepada suatu program yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis oleh musuh2 Islam untuk melakukan pendangkalan pemikiran dan cuci otak kepada kaum muslimin, dengan tujuan agar kaum muslimin tunduk dan mengikuti cara hidup mereka sehingga melanggengkan kepentingan mereka untuk menjajah (baca : mengeksploitasi) sumberdaya milik kaum muslimin.
     Invasi pemikiran (atau  غَزْوُاْلفِكْرِيْ selanjutnya disingkat GF) dilakukan oleh para musuh Islam melalui berbagai iklan, teori, slogan, serta propaganda yang tidak benar dengan pertimbangan bahwa ia jauh lebih efektif dibandingkan dengan melakukan peperangan militer/fisik, kelebihan2 GF diantaranya adalah sbb :


ASPEK

PERANG  FISIK


INVASI  PEMIKIRAN
Ø  Biaya
Ø  Jangkauan
Ø  Obyek
Ø  Dampak
Ø  Persenjataan
Sangat mahal
Terbatas di front
Obyek merasakan
Mengadakan perlawanan
Senjata berat
Murah dan dikembalikan
Sampai ke rumah2
Sama sekali tidak merasa
Menjadikan idola
Slogan, teori, iklan

Sejarah GF sudah ada setua umur manusia, makhluk yang pertama kali melakukannya adalah Iblis la’natullah ketika berkata kepada Adam as : “Sesungguhnya Allah melarang kalian memakan buah ini supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat dan tidak dapat hidup abadi” (QS 7/20). Dalam perkataannya ini Iblis tidak menyatakan bahwa Allah tidak melarang kalian … karena itu akan bertentangan dengan informasi yang telah diterima oleh Adam as, tetapi Iblis mengemas dan menyimpangkan makna perintah Allah SWT sesuai dengan keinginannya, yaitu dengan menambahkan alasan pelarangan Allah yang dibuatnya sendiri melalui logikanya dimana ia tahu bahwa Adam as tidak punya pengetahuan tentang sebab tersebut. Demikianlah para murid2 Iblis dimasa kini selalu berusaha melakukan GF dengan menyimpangkan fakta dan informasi yang ada sesuai dengan maksud jahatnya, dan itu terjadi pada berbagai bidang seperti Pendidikan, Sejarah, Ilmu Pengetahuan, Media Massa, dsb. Tetapi serangan tsb dilakukan dengan cara yang sangat halus, sehingga hanya orang2 yang dirahmati Allah SWT yang mampu mengetahuinya. Adapun akar penyebab sehingga terjadinya penguasaan pemikiran terhadap ummat Islam tsb, diantaranya adalah sbb ;

 

PERSOALAN  INTERNAL/KEJIWAAN KEBODOHAN TERHADAP ISLAM

قَضِيَّةُ الَّنفْسُ اْلبَشَرِيَّةِ – اَلْجَهْلُ بِاْلإِسْلاَمِ

1.    Kecenderungan (مُيُوْلٌ). Yaitu kecendrungan manusia baik terhadap hal yg positif atau sebaliknya pada hal2 yg negatif, dan yg kedua ini yg berbahaya (QS 7/172).
2.    Watak (طَبِيْعَةٌ). Yaitu karakteristik dasar/bawaan seperti mudah tersinggung, pemarah, senang bercanda, yg berbeda untuk setiap suku & bangsa.
3.    Syahwat (شَهْوَاتٌ). Yaitu menuruti hawa nafsu yg senantiasa mengajak kepada kejahatan & kerendahan (QS 12/53).
4.    Instink (غَرَاإِزٌ). Yaitu naluri manusia, seperti kesenangan pd lawan jenis, pakaian bagus, makanan enak, dsb (QS 3/14).


PROBLEMATIKA  POLITIK  KONTEMPORER

قَضِيَّةُاْلمُعَاصِرَةِ


1.    Penyimpangan Dari Masa ke Masa Yg Menyebabkan Lemahnya Pemahaman Keislaman (  إِنْحِرَافُ اْلعُصُوْرِ – اَلْجَهْلُ بِاْلإِسْلاَمِ)
a.     Pemerintahan Tirani (مُلْكًا عَضُوْضًا). Dari generasi ke generasi pemerintahan yg tdk Islami cenderung menjadi tiran dan berbuat kerusakan (QS 27/34).
b.     Kebaikan Ditengah Kerusakan (خَيْرٌفِيْهِ دَخَنْ), artinya ada pembangunan & perbaikan, tetapi kerusakan yg ditimbulkan jauh lebih besar (QS 30/41).
c.      Para Propagandis ke Neraka (دُعَاةٌ عَلىَ أَبْوَابِ جَهَنَّمْ), para penyeru amoral, hedonis, dan berbagai kerusakan & kesesatan (QS 71/23).
d.     Pengabaian Terhadap Ikatan Islam نَقْضُ عُرَىاْلإِسْلاَمِ : اَلْحُكْمُ - اَلصَّلاَةُ)). Ditinggalkannya ikatan Islam, yg paling pertama lepas adalah hukum & yg paling terakhir adalah shalat.

2.    Penyimpangan Dampak Dari Penjajahan Yg Menyebabkan Penguasaan oleh Musuh Islam (  أَمْرَاضُ اْلإِحْتِلاَلِ - تَسَلُّطُ اْلأَعْدَاءِ  )
a.     Tumbuhnya Sarana2 & Lembaga Kekufuran dan Kemaksiatan (اَلْمُأَسَّسَاتُ اْلكَافِرَةِ), baik dibangun oleh kaum kafirin, maupun oleh para pengikutnya di negeri ini (QS 2/11-12).
b.     Ketertinggalan IPTEK (اَلتَّخَلُّفُ اْلمَادِيْ), demikianlah barangsiapa yg meninggalkan ilmu & bermalas2an maka akan dikalahkan oleh bangsa yg rajin (QS 8/60).
c.      Paradigma Berfikir Yg Salah (اَلتَّرْكِيْبُ اْلفِكْرِي اْلخَطَإِيْ), fikrah yg dikuasai oleh ghazwul fikri, sehingga memahami Islam secara parsial tdk komprehensif (QS 2/208).
d.     Kejiwaan Yg Menyimpang (اَلتَّرْكِيْبُ النَّفْسِ اْلخَطَإِيْ), baik dlm keinginan, cita2, hobbi yg jauh dari nilai Islam (QS 3/14).

3.    Kekuatan Yg Menghadang Yg Menyebabkan Penguasaan Yg Terorganisir (اَلْقُوَّى اْلُمَعَادِيَّةُ – اَلْجَهِلِيَّةُ الُمُنَظَّمَةِ)
a.     Dominasi Sistem Non Islam dg Perencanaan Yg Matang (أَلتَّخْطِيْطُ), lembaga kekafiran & kemunafikan didukung dg SDM yg hebat & terdidik (QS 20/85, 87-88, 95-96).
b.     Dg dukungan Struktural Yg Rapih (أَلتَّنْظِيْمُ), lembaga2 tsb tersusun & terorganisir secara baik didukung dg aliran dana internasional (QS 8/36).
c.      Dg fasilitas dan peralatan yg Canggih (اَلْوَسَاإِلُ), dilengkapi dg sarana2 canggih, seperti media massa, majalah, buku2, dsb (QS 8/73)

Ketiga hal ini menyebabkan kondisi ummat Islam yg seperti buih/اَلْغُثَاإِيَّةُ (tidak memiliki nilai dan mudah dibawa arus).
Diantara solusinya secara Islami adalah :

v  Peningkatan pemahaman keislaman yg benar (اَلإِمَانُ اْلأَمِيْقُ), artinya memahamai Islam secara komprehensif tidak parsial & tambal-sulam. Hal ini membutuhkan sistem pengkajian materi keislaman secara utuh (كَافَّةٌ) & intensif (إِسْتِمْرَارِيَّةٌ) (QS 62/2).
v  Penguasaan IPTEK (اَلْعِلْمُ الدَّقِيْقِ), yaitu agar Islam tdk hanya difahami sebatas ruanglingkup sempit seperti mesjid, pesantren, majlis ta’lim, dsb melainkan secara luas bahwa semua ilmu yg dipelajari asal berniat ikhlas dan sesuai dg tuntunan syari’at akan bernilai ibadah disisi Allah SWT (QS 47/19).
v  Melaksanakan Dakwah & Jihad secara berkelanjutan (اَلْعَمَلُ اْلمُتَوَاصِلُ), artinya bahwa perbaikan Islam tdk cukup sekedar baiknya pribadi2 (اَلشَّخْصِيَّةُ\اَلْفَرْدُاْلإِسْلاَمِيْ) tetapi juga harus terus dlm bentuk keluarga yg Islami (اَلأُسْرَةُ اْلإِسْلاَمِيَُّ), kemudian masyarakat (اَلْمُجْتَمَعُ الإِسْلاَمِيْ) sampai pada pemerintahan/politik yg islami pula (اَلْحُكُمَةُالإِسْلاَمِيُّ), bahkan sampai pada tingkat dunia yg Islami (أُسْتَا ذِيَّةُ اْلعَالَمِ) (QS 21/107, 34/28).


Allahumma a’izzal Islama wal muslimin, wakh dzul man khadzalal muslimin …