Senin, 05 Januari 2015

AL HILM



Hilm adalah sikap tenang dan lembut yang tidak menggampangkan timbulnya amarah jiwa. Bila ada seseorang yang marah kemudian ia mampu meredam dan menghentikan amarahnya maka orang tersebut belum mencapai derajat hilm.
Hilm adalah pengusaan akal sepenuhnya terhadap emosi, tidak menanggapi kebodohan dan aniaya orang lain dengan sikap yang justru kontra produktif. Sikap Hilm digambarkan oleh Allah dalam Al Qur’an surat Al Furqan 63 dan 72. Mu’awiyah berkata, “Seorang hamba tidak akan sampai pada pandangan yang optimal sehingga hilmnya menang dalam menghadapi kebodohan dirinya dan sabarnya juga menang dalam menghadapi dorongan syahwatnya.” Mu’awiyah bertanya kepada bawahannya, “Bagaimana kamu memimpin rakyatmu?” lalu ia menjawab, “Aku tidak emosi (hilm) menghadapi kebodohan mereka.”
Sikap hilm adalah membalas dengan sesuatu yang lebih baik dari keburukan orang lain, sebagaimana firman Allah Swt dalam QS Fushshilat : 34. Seorang mukmin untuk mencapai derajat hilm harus mengetahui keutamaan-keutamaannya secara menyeluruh dan memahami jalan-jalan untuk merealisirnya.

Ma’na Al-Hilm
Hilm adalah menahan diri dari gejolak amarah. Jadi seorang yang memiliki sifat hilm adalah orang yang bisa menguasai dirinya dan mengendalikan emosinya serta menjaga ketenangan jiwanya. Dimana semua ini membutuhkan adanya azam yang kuat dari seorang muslim.
Keutamaan Al-Hilm
Sikap hilm ini memiliki keutamaan yang sangat banyak, diantaranya :
1.   Seruan Islam untuk memiliki sifat hilm, sebagaimana sabda Rasul saw,
“Tuntutlah ilmu itu di samping ilmu itu tuntutlah juga sifat tenang dan hilm. Lemah lembutlah terhadap orang-orang yang kalian ajar dan kepada orang yang mengajar kalian.”
2.   Meraih cinta Allah dan Rasul-Nya
Dengan sifat hilm ini seseorang akan mendapatkan kecintaan Allah dan Rasul-Nya. Rasul saw bersabda kepada Asyja’ bin Qois : “Sesungguhnya pada dirimu pada dua sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya : sifat hilm dan kehati-hatian.”
3.   Hilm adalah salah satu sifat Allah yang Maha Sempurna.
Sebagaimana firman Allah, “Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf.” (Al Baqarah : 235).
4.   Do’a Nabi agar dikaruniai sifat hilm ini :
Salah satu bukti yang menunjukkan betapa besarnya keutamaan sifat ini adalah do’a Nabi saw yang memohon kepada Allah agar dikaruniai sifat ini. Dalam sebuah riwayat Rasul saw berdo’a,
“Ya Allah cukuplah aku dengan ilmu, hiasilah aku dengan sifat hilm, muliakanlah aku dengan taqwa dan baguskanlah rupaku dengan keselamatan fisik.”
5.   Dengan sifat hilm seseorang akan mendapatkan posisi terhormat di tengah masyarakat. Bahkan bisa dikatakan bahwa syarat seorang pemimpin adalah ia harus memiliki sifat hilm ini. Dalam sebuah atsar dikatakan,
“Barangsiapa memiliki sifat hilm niscaya ia akan memimpin dan barangsiapa memiliki kefahaman niscaya kepemimpinannya akan semakin bertambah.”
6.   Dengan sifat hilm ini seorang muslim akan mendapatkan pahala dan Allah sebagaimana firman-Nya, “Barangsiapa memaafkan dan memperbaiki hubungan, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah.” (Asy-Syura : 40).
Kiat-kiat menumbuhkan sifat hilm : 
Sifat hilm ini termasuk sifat muktasabah yang bisa ditumbuhkan oleh seseorang pada dirinya, dan berikut ini kami akan memaparkan kiat-kiat untuk menumbuhkan sifat ini pada diri kita :
A.  Mengetahui sebab-sebab Hilm
Langkah pertama adalah mengetahui hal-hal yang biasanya menjadikan seseorang bisa menahan amarahnya terhadap orang lain. Hal-hal itu sangat banyak diantaranya,
a.   Kasih sayang kepada orang yang jahil.
Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan, “Salah satu faktor terkuat yang menyebabkan seseorang memiliki sifat hilm adalah adalah kasih sayang terhadap orang-orang yang jahil.” Abu Darda’ pernah berkata kepada seorang lelaki yang mencaci maki beliau habis-habisan, “Hai Fulan, kamu jangan berlebih-lebihan dalam mencaci maki saya. Sisakanlah tempat untuk melakukan ishlah, karena kami tidak akan membalas kemaksiatan seseorang kepada Allah melainkan dengan memperbanyak ketaatan kepada-Nya.”
Kepada orang yang telah mencelanya Sya’bi berkata, “Bila aku seperti yang engkau katakan, maka semoga Allah mengampuniku. Dan bila aku tidak seperti yang engkau katakan maka semoga Allah mengampunimu.”
b.   Kemampuan untuk mengalahkan.
Kadang yang mendorong seseorang untuk bersifat hilm adalah karena ia memandang orang-orang yang mencaci atau menyakitinya adalah orang yang terlalu lemah untuk dilawan atau tak ada manfaatnya untuk membalas cacian atau perbuatan jahatnya. Rasul saw bersabda,
“Bila engkau bisa mengalahkan musuhmu maka jadikanlah maaf sebagai ungkapan rasa syukurmu atas kemenanganmu terhadapnya.”
Ahli hikmah berkata, “Kemuliaan yang paling baik adalah pemberian maaf dari orang yang mampu mengalahkan dan kedermawanan orang-orang fakir.” 
c.   Menjauhkan diri dari celaan
Kadang yang mendorong seseorang untuk bisa menahan diri dari marah adalah perasaan malu untuk meniru-niru perbuatan orang-orang yang bodoh. Jadi bersikap diam terhadap orang jahil jauh lebih baik daripada bersikap sebagaimana mereka. Tentang hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih Allah berfirman, “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al Furqan : 63).
Ada seorang berkata kepada Iskandar Agung, “Sesungguhnya Fulan bin Fulan telah mencaci maki Anda. Tidakkah Anda ingin memberi sanksi kepadanya?” Iskandar menjawab, “Kalau aku memberi sanksi maka mereka akan lebih memiliki alasan untuk mencaci-makiku.”
Sya’bi berkata, “Aku tidak sempat berbakti kepada ibuku. Hanya saja aku tidak akan mencela orang lain yang mengakibatkan ia mencela ibuku.”
d.   Karena takut akan siksa Allah
Balasan terhadap satu kejahatan seringkali lebih keras daripada kejahatan itu sendiri. Ketika seorang dicaci maki oleh orang lain, lalu ia membalasnya maka seringkali counter terhadap caci maki itu jauh lebih parah. Karenanya seseorang harus berhati-hati jangan sampai ia terjerumus dalam perbuatan dosa hanya karena ingin membalas celaan temannya. Bahkan kalau bisa ia harus diam dan tidak membalasnya sedikitpun.
Pernah suatu ketika Abu Bakar dicaci maki oleh seseorang di hadapan Rasulullah namun Abu Bakar hanya diam saja dan tidak membalasnya sehingga Rasulullah pun tersenyum melihat hal itu. Tetapi karena orang itu sudah keterlaluan maka Abu Bakar pun berusaha membantah sebagian dari apa yang dikatakan oleh orang itu. Pada saat itulah Rasulullah dengan wajah cemberut keluar dari ruang itu. Lalu Abu Bakar pun mendatangi Rasulullah seraya bertanya, “Ya Rasulullah mengapa ketika saya diam Anda kelihatan tersenyum, tetapi ketika saya membalas perkataan orang itu Anda justru cemberut dan lari dari majlis itu?” Rasulullah saw menjawab, “Ketika kamu diam ada malaikat yang di sampingmu, tetapi ketika kamu membalas malaikat itupun lari dan datanglah syetan, dimana aku tak ingin berada dalam satu majlis bersama syetan.” 
Kesimpulan
Hilm adalah bagian dari sifat sabar. Dimana sabar memiliki bentuk-bentuk yang sangat banyak. Sabar menahan syahwat adalah iffah. Sabar menghadapi kondisi kekurangan adalah qana’ah. Sabar dalam peperangan adalah syaja’ah. Sedangkan hilm adalah sabar dalam mengendalikan amarah.

0 komentar:

Posting Komentar